Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Nasibku Sial Sekali


Hari berganti, Nisa yang dipenuhi semangat membara untuk move on memulai rutinitasnya seperti biasa. Dia berangkat kuliah diantar oleh ayahnya yang sekalian berangkat ke kantor.


"Dah ayah....!" Nisa membuka pintu mobil dan bersiap untuk turun.


"Ya, belajar yang benar sana!"


Brak....!


"Ajshdfw!" Nisa tiba-tiba naik mobil lagi sambil membanting pintu.


"Kenapa naik lagi!? Lalu apa yang kau bicarakan?" Teriak ayah karena kaget.


"Bukan apa-apa kok! Ayah... hari ini aku bolos ya?"


"Nggak boleh! Cepat turun sana!" Ucap ayah dengan tidak sabar.


"Kalau gitu, aku ikut ayah ke kantor ya? Boleh kan?"


"Nggak! Kalau kau ikut ayah ke kantor pasti cuma numpang wi-fi buat main game!"


"Ugh... kakiku sakit...! Ayah... anterin aku pulang!" Ucap Nisa seakan kesakitan.


"Jangan cari alasan! Kemarin waktu dansa aja nggak kenapa-kenapa! Kau itu cuma pura-pura! Kenapa sih kok bandel banget!?"


"T-tapi ayah...."


Di depan gerbang kampus ada Ricky! Ditambah.... mukanya keliatan marah banget! Dia pasti mau cari perhitungan sama aku! Aku harus apa.... Ya Tuhan, kenapa nasibku sial sekali!


"Cepat turun! Atau ayah sendiri yang menyeretmu!"


"I-iya...." Nisa lalu turun perlahan dari mobil.


Aku serahkan saja semuanya pada takdir....


Saat ayah meninggalkan Nisa, Ricky yang dari kejauhan langsung melihat Nisa. Bahkan saat Nisa menyeberang jalan Ricky terus menatapnya. Melihat hal itu, Nisa langsung menundukkan kepalanya dan berharap kalau Ricky tidak mengenalinya.


"....." Nisa berjalan melewati Ricky tanpa berkata apa pun.


"Tunggu! Apa seperti ini caramu padaku?" Ricky lalu menghadang di depan Nisa.


"....." Nisa diam dan tetap menunduk.


"Nisa! Aku sedang bicara denganmu! Lihat aku, ayo lihat aku!" Teriak Ricky.


Saat Ricky berteriak semua orang langsung memperhatikan mereka. Mereka semua mulai berkerumun dan mulai membicarakan tentang Nisa dan Ricky.


"Ohayo gozaimas..." Ucap Nisa dengan wajah polos.


(Selamat pagi dalam bahasa Jepang)


"N-Nisa... kamu masih bisa bercanda?" Tanya Ricky seakan tidak percaya.


"Aku nggak bercanda! Cepat minggir! Kamu menghalangi jalanku!"


"Nggak akan! Sebelum kamu beri penjelasan padaku, aku nggak akan minggir!"


"Semuanya sudah jelas, nggak ada yang perlu dijelasin!" Nisa berjalan dengan cepat meninggalkan Ricky.


"Tunggu.... Nisa!" Teriak Ricky.


"Ssstt... itu Sania kan? Tapi yang cowok itu siapa?" Ucap seseorang yang menonton.


"Masa nggak tahu, dia itu pacarnya. Namanya Ricky kalau nggak salah!"


"Yup, dia itu dokter. Dulu dia juga lulusan terbaik dari kampus ini!"


"Kira-kira mereka kenapa ya..."


Semua orang yang menonton langsung bergosip dan tidak sedikit juga yang mulai merekam. Melihat hal itu, Ricky mulai emosi dan merasa muak dengan mereka.


"Kalian semua! Apa kalian belum pernah ngeliat orang pacaran lagi berantem!? Pergi sana! Jangan ganggu urusan orang!" Teriak Ricky dengan tatapan mata yang sinis.


"Hush.... ayo pergi! Orang ini galak...."


"Galak banget... pantes diputusin..."


Setelah mendengar Ricky berteriak, semua orang-orang yang menonton langsung pergi. Tapi, Ricky masih berdiri di sana dan tidak berusaha untuk mengejar Nisa.


"Huh! Aku belum menyerah! Kau lihat saja Nisa.... Aku pasti akan membuatmu kembali padaku!" Ricky berbalik dan berjalan pergi.


Dan hari-hari selanjutnya Ricky masih melakukan hal yang sama. Dia terus datang ke kampus untuk meminta penjelasan kepada Nisa. Tapi, Nisa masih terus menghindar dan tidak menjawab satu pun pertanyaan dari Ricky.


"Nisaa.... berhentilah! Berhenti bermain kucing-kucingan denganku! Kamu harus beri aku penjelasan!" Teriak Ricky sambil mengejar Nisa.


"Penjelasan apa!? Putus ya putus! Dan berhentilah mengejarku! Tiga hari kamu seperti ini, emangnya nggak capek apa!?" Teriak Nisa sambil terus berlari.


"Aku nggak akan berhenti sebelum kamu beri aku penjelasan! Aku nggak terima putus begitu aja!"


"Terserahhh!!" Nisa terus berlari.


Sialan! Penjelasan apanya!? Kalau terus begini.... gimana aku bisa move on!!


Ricky dan Nisa terus berteriak sambil berlari. Tentu saja orang-orang mulai memperhatikan mereka. Semua orang menganggap Nisa dan Ricky adalah pasangan yang aneh, karena mereka terus menerus berlari kejar-kejaran sambil berteriak tidak jelas.


Hiks! Aku mohon berhentilah Ricky!! Semua orang mulai menganggap kalau kita ini gila! Aku harus apa agar kamu cepat pergi? Eh!? Itu....


"Terry....! Selamatkan aku!" Nisa berlari dan bersembunyi di belakang Terry.


"Eh!? Sania.... kau kenapa? Selamatkan dari apa?" Tanya Terry dengan tatapan bingung.


"Itu loh.... orang yang sedang mengejarku kemari! Dia menggangguku! Kau kan petugas kedisiplinan, bantu aku mengusirnya!"


"Tunggu dulu.... kenapa bisa dia mengganggumu? Masalah apa yang sudah kau buat?"


"I-itu... bukan masalah sih, aku nggak ngapa-ngapain kok! Terry.... bantu aku dong!"


"Tsk! Dasar pembuat onar!" Keluh Terry.


Ricky akhirnya berhasil menyusul Nisa. Tapi, saat dia sampai, dia semakin marah karena melihat Nisa yang bersembunyi di belakang Terry.


"Hah... akhirnya kamu berhenti juga! Tapi, kenapa kamu sembunyi di belakang orang ini!? Jadi karena dia kamu minta putus denganku!" Teriak Ricky sambil menarik kerah baju Terry.


"Woo... woo... Aku nggak ada hubungannya dengan masalah kalian! Hei, Sania.... suruh pacarmu ini untuk melepaskan tangannya dariku!" Ucap Terry sambil melirik ke arah Nisa.


"Ricky! Lepaskan Terry! Dia nggak salah, jadi tolong lepaskan dia!" Nisa menarik tangan Ricky dan berusaha untuk melepaskannya dari kerah baju Terry.


"Nggak! Ini nggak ada hubungannya dengan Terry, alasanku minta putus sudah aku jelaskan semua saat itu! Jadi tolong.... pergilah Ricky! Kita sekarang cuma mantan! Dan jangan terus menggangguku lagi!" Teriak Nisa sambil bersembunyi lagi di belakang Terry.


"Aku nggak terima! Aku akan terus mengganggumu sampai kamu beri aku penjelasan!"


"Terry.... bantu aku usir dia dong! Aku nggak tahu harus bilang apa biar dia pergi!?" Ucap Nisa dengan lirih.


"Hng! Nggak mau! Ini masalahmu, kau urus saja sendiri!"


"Terry.... kau itu petugas babi! Waktu orang lain ada masalah kau membantunya, sekarang giliranku ada masalah, kau malah nggak sudi membantuku! Kau nggak adil, aku akan menyebarkan hal ini ke orang-orang!"


"Heh! Kau mengataiku babi, tapi masih ingin aku membantumu!? Apa ini caramu minta tolong ke orang?"


"Haha, maaf. Pliss Terry.... aku ada kelasnya Pak Erwin, bisa gawat kalau aku telat! Dia itu kan dosen killer!"


"Bagus deh! Kau pantas mendapatkannya!"


"Hei, apa yang kalian berdua bicarakan!? Apa kalian mengabaikan aku!?" Teriak Ricky.


Gawat! Ricky marah lagi... satu-satunya cara yaitu kabuurrr!


"Bye semuanya, Pak Erwin lebih penting!" Teriak Nisa sambil berlari secepat mungkin.


"Lihat kan? Dia kabur, Sania.... Dia sepertinya benar-benar tidak ingin bicara denganmu. Sebaiknya kak senior segera pergi, lagipula kakak juga tidak urusan disini!" Ucap Terry.


"Tunggu dulu... kau menyebutku senior, apa kau mengenalku?" Tanya Ricky terheran-heran.


"Ya, aku mengenal kakak. Kakak juga salah satu lulusan terbaik dari universitas ini, juga bisa disebut sebagai jenius. Bahkan dengan umur yang terbilang cukup muda kakak sudah punya gelar Profesor. Dan pekerjaan kakak sekarang adalah dokter kan? Aku tahu semua itu karena kakak cukup dipandang oleh orang-orang penting di kota ini"


"Oh, kau tahu persis tentangku. Lalu, apa hubunganmu dengan Nisa? Apa kau yang merebutnya dariku!?" Tanya Ricky dengan nada kasar.


"Bukan, aku dan Sania tidak punya hubungan apa pun. Hanya saja.... dia selalu membuat masalah, dan dia selalu menyulitkan aku. Bahkan sebenarnya aku sangat ingin kalau dia menghilang. Tapi, aku selaku ketua kedisiplinan menyarankan kakak sebaiknya cari tempat lain saja kalau ingin bicara dengan Sania, kalau disini orang-orang akan menganggap kalian sebagai tontonan. Aku pergi..." Terry lalu berjalan pergi.


Terry kemudian pergi meninggalkan Ricky seorang diri. Ricky hanya diam dan masih memikirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Nisa. Tapi, tiba-tiba ada seseorang yang berjalan mendekat ke arah Ricky.


"Hallo kak Ricky~ Apa kakak ada waktu?" Ucap seseorang.


"Kau...!" Ricky terkaget.


Ada urusan apa orang ini menyapaku!? Orang ini selalu mencoba mengganggu hubunganku dengan Nisa. Huh! Aku nggak tertarik bicara dengan orang seperti ini!


"Kak Ricky ingat aku kan? Aku Natasha~ kalau kakak punya waktu, aku ingin bicara dengan kakak. Cuma sebentar kok~" Ucap Natasha dengan lembut.


"Aku tidak tertarik!" Ricky acuh tak acuh dan berjalan pergi.


"Tunggu! Ini tentang Sania! Aku tahu alasannya putus dengan kakak!" Teriak Natasha.


Ricky tiba-tiba berhenti dan berbalik "Cepat bicara, aku nggak punya banyak waktu!"


"I-itu sedikit tidak baik kalau dibicarakan disini. Bagaimana kalau kita pergi ke kedai kopi? Aku tahu kedai yang bagus dan dekat dari sini! Kak Ricky mau kan?"


"Tsk! Baiklah!" Ucap Ricky dengan tidak sabar.


Akhirnya Ricky dan Natasha pergi bersama menuju ke kedai kopi. Saat mereka sampai, mereka langsung memesan kopi dan duduk secara berhadapan. Ricky merasa tidak sabar ingin segera mengetahui alasan kenapa Nisa memutuskan hubungan dengannya. Sementara Natasha, dia hanya terus memandangi Ricky.


Hemm... Kak Ricky ganteng banget, udah mapan, cerdas, orangnya lembut lagi... tipe aku banget....! Seharusnya dari awal dia itu milikku! Kenapa orang sebaik ini malah suka sama Sania cewek barbar itu!? Padahal aku jauh lebih cantik, lebih populer dan aku juga berasal dari keluarga terpandang! Tapi, akhirnya mereka putus juga... sekarang aku punya kesempatan untuk mendekati kak Ricky!


"Cepat bicara! Kau bilang kau tahu alasan Nisa minta putus denganku!" Ucap Ricky dengan tidak sabar.


"Sabar dong kak Ricky~ Nikmati saja kopinya~"


"Berhenti memanggilku kakak! Kita sama sekali tidak dekat! Kalau ingin bicara cepat bicara, jangan menguji kesabaranku!"


"O-oke..." Ucap Natasha terbata-bata.


Sialan! Kak Ricky kasar sekali padaku, tapi saat bersama Sania dia sangat lembut! Huh! Sania... aku akan menghancurkan harga dirimu di hadapan kak Ricky!


"Soal itu... Sania... dia... minta putus dari senior karena dia jadi simpanan pria kaya..." Ucap Natasha seolah-olah merasa iba.


Brak...!


"Itu nggak mungkin! Kau jangan mencoba untuk menghasutku! Pacarku bukan orang yang seperti itu!" Ricky menggebrak meja sampai-sampai kopinya tumpah.


"Emmm... kalau senior nggak percaya, senior tanya saja ke orang-orang. Sania sendiri yang mengakui kalau dia diantar jemput dengan mobil mewah, lalu setelah itu kalian yang biasanya kelihatan mesra tiba-tiba putus. Bukankah artinya semua itu benar?" Ucap Natasha dengan penuh keyakinan.


"Hng! Kalau aku bertanya pada orang-orang pasti jawabannya sama denganmu! Apa kau pikir aku nggak tahu? Kau pasti mempengaruhi orang-orang kan!"


"Kak Ricky maksudku senior.... Coba senior pikir, kenapa dia terus menghindar dan tidak menjawab satu pun pertanyaan dari senior? Itu karena dia sendiri malu dengan apa yang dia perbuat, dan dia pasti bingung ingin bicara apa dengan senior...."


"....." Ricky tiba-tiba menjadi tenang.


Nisa nggak mungkin orang yang seperti itu, tapi apa yang dia bilang ada benarnya juga. Mungkin bukan aku yang membuat kesalahan, tapi sebaliknya Nisa yang buat kesalahan. Mungkin Nisa takut kalau aku nggak maafin kesalahannya, makanya dia minta putus dariku.


"Senior...? Apa yang sedang senior pikirkan?"


"Kapan kau melihat Nisa diantar oleh mobil itu?"


"Itu... sekitar lima hari yang lalu, saat itu juga beredar rumor buruk tentangnya. Tapi, saat Sania ditanya dia menjawab kalau itu bukan urusan orang-orang, dia bilang kalau orang-orang terlalu ikut campur pada urusannya"


"Oh...."


Hari itu Nisa malamnya juga minta putus denganku. Apa yang dibilang orang ini benar? Tapi, aku mengenal Nisa. Dia bukan orang yang mata duitan sampai-sampai mau jadi simpanan orang! Untuk masalah seperti ini aku harus mendengar dari mulut Nisa sendiri!


"Hmmm... senior! Senior sudah mengambil keputusan yang tepat kok! Orang sebaik senior memang nggak pantas dengan cewek barbar seperti Sania!"


"Hei, maksudmu apa bicara seperti itu!?" Ucap Ricky dengan tatapan mata sinis.


"Maksudku, senior kan orang yang baik, jadi senior pantas mendapatkan orang yang jauh lebih baik dari Sania itu! Lagipula... senior juga termasuk populer, banyak kok yang tertarik dengan senior~"


"Tutup mulutmu! Yang aku cintai itu Nisa Sania! Aku cuma ingin dia! Jadi jangan sembarangan bicara!" Teriak Ricky.


"M-maaf...."


Huh! Kak Ricky memang sudah buta! Bahkan sampai bilang cinta ke cewek barbar itu!


"Apa masih ada hal lain yang ingin kau bicarakan?" Tanya Ricky dengan nada dingin.


"T-tidak ada, itu saja...."


"Kalau begitu aku pergi, tagihannya aku yang bayar!" Ricky berdiri lalu berjalan pergi.


"I-iya, Terima kasih...."


Aku gugup banget saat bicara dengan kak Ricky! Meskipun dia berkali-kali membentakku, setidaknya... dia masih mentraktirku kopi, aku masih ada harapan untuk dekat dengannya! Hehe, ini bisa aku ceritakan ke orang-orang, saat Sania barbar itu tahu pasti dia akan merasa hancur!