
Halo semuanya, saya Insan, Author dari novel "Usaha Pelarian Seorang Istri". Terima kasih sudah terus bersama sampai tamat. Dari 27 November 2020 saat pertama kali terbit di aplikasi sampai September 2022, sekitar hampir 2 tahun. (Nggak sangka bakal selama ini😅)
Akhirnya kita sampai ke waktu yang seperti tidak akan pernah datang. Para pembaca sudah sampai di akhir, selamat ya! Dan terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca karya saya. Kecuali kalau kalian termasuk tim yang lompat ke episode terakhir, saya sangat menganjurkan kalian membacanya dari awal.
Jujur saja, saya tidak pernah menyangka bisa menamatkan cerita ini. Cerita yang awalnya hanya sebuah ide acak yang terlintas di otak, akhirnya bisa saya rangkai dalam bentuk tulisan dengan alur yang sedemikian rupa.
Tahu-tahu sudah tamat, sebenarnya saya masih saja tidak merasa ini nyata. Saya merasa tetap harus menyelesaikan episode berikutnya setelah epilog ini selesai. Tetapi tamat ya tamat, novel ini tamat dengan jumlah bab 195, bab ini tidak dihitung ya karena isinya sebagian besar pengumuman.
Menamatkan novel pertama merupakan sebuah pencapaian spesial bagi saya. Saya kira hampir mustahil, mengingat kondisi kesehatan saya yang kadang kurang mendukung serta kesibukan yang lain. Saya juga pernah mengira jika novel ini tidak akan pernah tamat, itu ketika saya positif terjangkit omicron. Saya bersyukur Tuhan masih memberikan kesempatan kepada saya.
Mengingat jika novel ini tidak update secara terjadwal, dan akhirnya membutuhkan hampir 2 tahun untuk menggarapnya. Saya terharu kepada setiap pembaca yang terus menantikan kelanjutan cerita saya. Harus saya akui jika sabar kalian luar biasa. (Semua jempolku buat kalian, nanti aku pinjam jempol warga se-RT kalau masih kurang😂)
Waktu yang saya habiskan untuk membuat novel ini tidak sebentar. Hal itu membuat saya sangat menyayangi semua karakter (terfavorit Ricky🥰). Syukurlah saya bisa melepaskan mereka dengan happy ending. (Gak tau deh, pokoknya tokoh utama tersenyum berarti happy ending)
Saya bisa sampai di titik ini semuanya berkat dukungan dari kalian. Awalnya saya bermaksud menamatkan cerita ketika arc penentuan pasangan selesai, yaitu saat Nisa pulang dari rumah sakit karena insiden penusukan. Tetapi saya merasa akan menggantung jika ditamatkan hanya sampai situ.
Saya berani lanjut karena merasa senang. Ketika mengetahui cerita absurd saya ini dibaca dan disukai oleh orang lain, rasanya itu seperti melayang😂
Tujuan saya menulis cerita ini semata-mata untuk melampiaskan rasa bosan dan menghibur para pembaca. Menghibur orang lain dapat pahala, kan? (Awas aja kalau kalian bilang cerita ini nggak menghibur, aku sumpahin jodoh kalian mirip Keyran!)
Oke lah, karena tidak asik jika bab ini hanya diisi oleh kata-kata penutup yang membosankan. Author akan memberikan sedikit kisah pendek tentang pasutri aneh dan unik kesayangan kita~
***
Sebulan setelah ulang tahun pernikahan. Dalam waktu yang terhitung singkat ini, Nisa telah membuat keputusan besar dalam hidupnya. Dia akhirnya memantapkan diri untuk membuka toko roti miliknya sendiri.
Awalnya Nisa kekurangan dukungan, semua keluarganya menganggap jika Nisa hanya ingin bermain-main dan tidak serius menekuni bisnis itu. Bahkan rekan-rekannya tak terkecuali, mereka menganggap membuka toko roti hanya sebagai pencitraan untuk menutupi identitas Nisa yang aslinya gangster.
Namun, dukungan dari suaminya tercinta telah memperteguh tekat Nisa. Asalkan Keyran mendukungnya, maka pendapat dari orang lain seolah-olah tidak penting baginya.
Hari ini adalah hari yang sangat penting, karena toko roti milik Nisa akan resmi dibuka. Untuk membuat acara pembukaan menjadi sempurna, Nisa bersikeras untuk menyiapkan semuanya sendiri.
Sejak pagi-pagi buta dia sudah sibuk di dapur, mempersiapkan beberapa kue spesial untuk acara pembukaan. Bahkan hingga siang hari Nisa masih sibuk, padahal acara pembukaannya akan dilaksanakan sore hari nanti.
Keyran yang melihat istrinya begitu bekerja keras merasa sedikit khawatir. Dia menghampiri Nisa dan berkata, "Istirahatlah dulu. Kau belum makan, bukan?"
"Sebentar, hanya tinggal satu ini yang terakhir. Setelah ini siap aku akan makan. Aku juga sudah mempersiapkan kue andalanku, nanti akan aku bawakan untukmu. Kau cicipi dan berikan pendapat, anggap saja kau sebagai pelanggan pertamaku!" ucapnya dengan senyuman.
Keyran hanya membalas dengan senyuman. Dia merasa jika tidak bisa menasihati istrinya, meskipun sebenarnya dia khawatir lantaran wajah istrinya kini tampak pucat. "Baiklah, jangan paksakan dirimu."
Tak lama kemudian semua kue yang perlu disiapkan telah selesai. Seperti yang Nisa katakan tadi, dia lalu membawa sepotong kue untuk diberikan kepada Keyran yang sudah menunggu di meja makan.
Namun, begitu keluar dari dapur tiba-tiba saja Nisa merasa aneh. Kepalanya mendadak pusing, dia tidak bisa mendengar suara dengan jelas, pandangan matanya pun semakin lama semakin kabur.
PRANGG!
Suara pecahan piring mengagetkan Keyran. Dia mulai merasa panik dan segera menuju ke sumber suara. Saat dia tiba, dia menjumpai Nisa yang telah tergeletak tak sadarkan diri.
"Nisa!!" Teriaknya yang langsung membopong Nisa.
Tiba-tiba saja Bibi Rinn datang karena juga mendengar suara pecahan piring. "E-eh ... Apa yang terjadi pada Nyonya, Tuan?!"
"Sepertinya dia pingsan, aku akan membawanya ke kamar. Bibi cepat hubungi dokter untuk segera kemari!"
"B-baik Tuan ...."
***
"Uhh ..." Perlahan Nisa membuka mata. Penglihatannya yang semula kabur perlahan-lahan menjadi lebih jelas. Dia melihat Keyran dan Bibi Rinn tampak seperti mengkhawatirkannya, dan ada seorang wanita lagi yang memakai jas putih.
"Ada apa ini?" Nisa berusaha untuk bangkit, namun tak kuasa karena tubuhnya terasa lemas. Keyran yang menyadari hal itu langsung membantu dan mengambil bantal untuk Nisa bersandar.
"Tadi kau pingsan, aku memanggil dokter kemari untuk memeriksa kondisimu."
"Lalu hasilnya?"
"Saya belum bisa memastikan, ada beberapa hal yang saya ingin tanyakan sebelum membuat kesimpulan," sahut dokter itu.
"Baiklah, silakan tanya."
"Apakah akhir-akhir ini tubuh Nyonya sering mengalami gejala yang tidak biasa? Misalnya mual, mudah lelah dan selera makan berubah."
"Emm ... tidak ada jika mual. Belakangan ini sepertinya selera makanku jadi aneh. Biasanya aku sangat suka kue yang aku buat sendiri, tapi begitu mencicipinya rasanya jadi lain, padahal tidak ada yang salah dengan resep."
"Baik. Lalu apakah bulan ini Nyonya sudah datang bulan?"
"Benar, kemungkinan besar Nyonya hamil. Tetapi masih perlu dilakukan tes untuk memastikan, bisa memakai test pack untuk mengeceknya."
"Oke, aku akan beli dulu!" ucap Keyran penuh semangat.
"Tidak perlu, Key!"
"Kenapa?"
"Karena terkadang datang bulanku tidak teratur, jadi sebelumnya aku sudah membeli beberapa. Hanya saja aku terlalu sibuk memikirkan perihal pembukaan toko kue. Sehingga aku tidak sadar jika telat datang bulan, kalau begitu aku akan mengeceknya sekarang."
"Baiklah, mau aku bantu?"
"Aku bisa sendiri," jawab Nisa sambil meringis.
Waktu yang diperlukan oleh Nisa di kamar mandi lebih lama dari dugaan. Bahkan Keyran semakin dibuat harap-harap cemas memikirkan seperti apa hasil yang akan keluar nanti. Begitu kamar mandi dibuka, Keyran langsung mencegat istrinya itu di depan pintu.
"Kyaa! Apa-apaan kau ini?!" teriak Nisa karena terkejut.
"Bagaimana hasilnya? Biarkan aku lihat! Aku mau lihat! Ayo berikan padaku!"
"Haiss ... Ini, lihat baik-baik!" Dengan tangan yang gemetar, Nisa menunjuk hasil dari test pack itu.
Keyran ternganga, dia tidak percaya jika apa yang selalu dia inginkan kini terjadi. 2 buah garis itu berhasil membuatnya bahagia dan memeluk erat istrinya. "Akhirnya aku akan jadi ayah!"
"Pelan-pelan Key ..."
"E-eh? Maaf, maafkan aku." Keyran melepaskan pelukannya setelah sadar jika dirinya terlalu erat memeluk Nisa. Lalu tanpa peringatan apa pun langsung menggendong Nisa dan menurunkannya ke ranjang.
"Pokoknya kau harus beristirahat! Kalau butuh apa pun minta tolong saja padaku. Nah, sekarang kau mau apa? Aku pasti akan memenuhinya!"
"Kendalikan dirimu dasar bodoh, dokter masih ada di sini!" bentak Nisa yang wajahnya merona.
"Haha, tidak apa-apa Nyonya, saya mengerti. Selamat atas kehamilan Anda. Sekarang saya bisa menarik kesimpulan jika tadi Nyonya pingsan karena kondisi kehamilan. Sebisa mungkin berusahalah mengurangi aktivitas berat, karena berbahaya jika kelelahan saat hamil. Untunglah Nyonya hanya pingsan dan tidak sampai pendarahan."
"Jika ingin mengetahui usia janin dan yang lain dengan lebih pasti, saya sarankan untuk melakukan USG. Jika Tuan dan Nyonya memiliki pertanyaan lain, saya juga menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis."
"Baik dokter." Nisa lalu beralih menatap Keyran. "Lalu bagaimana dengan acara pembukaan toko? Tidak bisakah tetap dilakukan hari ini?"
Keyran membisu, senyuman bahagianya menghilang saat melihat ekspresi murung istrinya. Dia menatap Bibi Rinn dan berkata, "Tolong Bibi antarkan dokter pulang!"
"Baik Tuan."
Begitu tinggal mereka berdua di kamar itu, Keyran lalu duduk di samping Nisa dan merangkulnya dengan lembut.
"Nisa, aku tahu jika hari ini sangat penting untukmu. Tetapi, kondisimu juga harus kau perhatikan. Kau tidak boleh memaksakan diri. Soal pembukaan toko bisa diatur, begitu kau pulih, kau bisa melakukannya."
"Tapi ... kemarin aku sudah memberitahu ke orang-orang, bahkan dengan sombongnya aku bilang jika tokoku akan sukses di hari pertama. Lalu sekarang ... kenyataannya diundur, bagaimana jika nanti mereka mengejekku?"
"Tidak ada yang akan mengejekmu, aku tidak akan memperbolehkan siapa pun melakukannya. Kau harus beristirahat dengan baik, ingat jika sekarang tubuhmu bukan cuma milikmu."
Nisa menunduk dan mengusap perutnya. Lalu menatap Keyran sambil berkata, "Baiklah, aku akan menurut. Aku tak mau kejadian yang dulu terulang kembali, aku akan menjaga anak kita sebaik mungkin. Aku janji akan melahirkan anak yang sehat untukmu."
"Nah, ini baru Nisa-ku!" Keyran tersenyum dan mencubit pelan hidung istrinya. Kemudian dia juga mengusap perut istrinya dengan lembut.
"Hei, Keyran junior! Tumbuhlah baik-baik di dalam sana, asalkan kau menurut maka ayah pasti akan memberikan semua yang kau minta! Jika kau ingin sesuatu katakanlah lewat Bunda."
"Hah? Apa?! Kau ingin Bunda makan nasi 5 piring! Hei Nisa, barusan anakku bicara lewat telepati padaku! Ayo cepat makan, jangan buat dia sedih!"
"Pfftt ... Kau ini ada-ada saja, anakmu baru sebesar kacang. Telepati dari mana?" Nisa terkekeh.
"Entahlah, aku terlalu bahagia sampai hampir gila." Keyran lalu merangkul Nisa lebih erat dan mencium keningnya. "Aku mencintaimu, Nisa."
"Aku juga mencintaimu, Key."
...TAMAT...
...-◇-<◇>-◇-...
...Never Ending. Saya menyebutnya demikian karena meskipun kisah pelarian Nisa telah berakhir, namun kisah cinta mereka tidak akan pernah berakhir. ...
...Sampai jumpa di karya saya yang lainnya♡...