Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Bab 13. Merasa Dipermainkan


BRAKK!


Nisa membanting pintu rumahnya dengan penuh emosi.


"Reihan! Bocah sialan! Berani-beraninya menipuku! Kau bilang ada kebakaran, tapi nyatanya rumah baik-baik saja!!" teriaknya sekencang mungkin.


"Akhirnya calon menantu sudah pulang," ucap seseorang dengan senyuman. Pria tersebut tampak sudah berumur, dia duduk tenang di sofa ruang tamu sambil memegang sebuah tongkat kayu bermotif unik.


"Anda siapa?" tanya Nisa dengan wajah bingung.


Siapa sih pria tua narsis ini? Tadi dia bilang apa? Calon menantu apa gitu ... Tunggu dulu! Aku nggak salah masuk rumah, kan?


Nisa langsung menoleh ke kanan kiri.


"Kak Nisa sudah pulang?" tanya Dimas yang tiba-tiba muncul.


"Eh!? Iya, aku baru saja pulang. Di mana Reihan? Aku mau buat perhitungan dengannya!"


Jadi aku nggak salah masuk rumah, buktinya ada Dimas di sini. Berarti yang bicara padaku tadi adalah tamu gila!


"Kau tak perlu mencari adikmu lagi, kau duduk saja di sini! Dimas, cepat panggil ibu dan Reihan kemari! Bilang pada mereka kalau Nisa sudah pulang!" pinta Gilang pada Dimas.


"Baik, Ayah."


Tak berselang lama kemudian Dimas kembali bersama ibunya dan Reihan. Mereka bertiga lalu bergabung dan berkumpul di ruang tamu. Namun suasana di ruangan itu menjadi canggung, tidak ada satu pun dari mereka yang bicara.


Nisa yang duduk bersebelahan dengan ayahnya tiba-tiba berbisik, "Ayah, pria tua ini siapa?"


"Nanti kau juga akan tahu. Kau diam saja!"


"Hmph!" Nisa memalingkan muka.


Sebenarnya apa sih yang mau dibicarakan? Ayah juga enggan menjawab, sementara pria tua itu dari tadi senyum-senyum ke arahku nggak jelas. Mengerikan.


TING TONG!


Bel rumah berbunyi, semua orang saling melihat satu sama lain.


"Biar aku saja yang membuka pintu," ucap ibunya Nisa yang kemudian segera meninggalkan ruang tamu.


Tak lama kemudian wanita itu kembali, tetapi dia datang bersama dengan seorang pria yang tak asing bagi Nisa. Pria berpenampilan rapi itu langsung menempatkan diri di samping si pria tua.


"Baiklah, sekarang semua orang sudah lengkap. Jadi kita bisa memulai pembicaraannya!" ucap pria tua itu.


"...." Nisa diam karena kaget, dia ternganga saat menatap pria yang baru datang itu.


Loh!? Pak CEO! Untuk apa dia ke sini? Jangan-jangan dia mau menagih hutang, tapi kan aku belum ada uang. Lagi pula aku berhutang juga baru kemarin, nggak mungkin kan kalau mau ditagih sekarang? Kalaupun iya, habislah aku! Lalu jangan-jangan pria tua ini pengacaranya.


Pria tua itu menarik napas panjang dan berkata, "Saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Muchtar Kartawijaya, dan yang disamping saya adalah putra sulung saya yang bernama Keyran Kartawijaya."


"A-apa?!" ucap Nisa pelan.


Ternyata mereka ayah dan anak! Nggak aku sangka, sulit dipercaya ternyata pak CEO itu tukang ngadu. Tapi aku nggak perlu takut, semua keluargaku juga ada di sini. Kalau mau keroyokan pasti yang menang aku!


"Keperluan saya di sini untuk membahas mengenai perjanjian lima tahun lalu. Pak Gilang Sutadharma seharusnya sudah tahu, kan?" tanya Tuan Muchtar.


"Iya, saya sudah tahu," jawab Gilang.


"Kalau begitu, apa keputusan yang Anda pilih?"


"Soal itu ... putri saya yang akan memutuskan," ucap Gilang sambil melihat ke arah putrinya.


"Loh? Kok aku? Tapi bukankah hutangnya sudah lunas?" tanya Nisa dengan tatapan bingung.


"Sepertinya Nona Nisa lupa, perjanjian itu atas nama keluarga. Jadi ... silakan simpulkan sendiri," ucap Tuan Muchtar sambil tersenyum tipis.


"...." Nisa kehilangan kata-kata.


Bangs*t! Sialan! Ternyata selama ini yang aku lakukan sia-sia, ini semua karena aku ceroboh tidak menanyakan ayah berhutang pada siapa dan berasal dari keluarga mana. Ayah berhutang pada ayahnya, sementara aku berhutang pada anaknya untuk melunasi hutang ayah pada ayahnya. Ini sama saja dengan aku menyerahkan diri sendiri. Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa aku bisa melakukan kesalahan sefatal ini?


"Nona, apa pilihanmu?" tanya tuan Muchtar dengan tidak sabar.


"T0L0L!!" teriak Nisa secara spontan.


"...."


Seketika semua orang kaget dan jadi diam setelah mendengar jawaban dari Nisa. Mereka semua hanya menatap Nisa dengan wajah bingung. Mereka tak habis pikir dengan jawaban yang baru saja Nisa katakan.


"Beri aku waktu untuk berpikir!" teriak Nisa yang kemudian bergegas pergi meninggalkan ruang tamu.


"Mohon maafkan kata-kata putri saya, sepertinya dia masih kaget." ucap Gilang dengan senyum canggung.


Nisa, bocah nakal itu dari dulu tidak berubah. Bisa-bisanya dia berkata sepeti itu di situasi sekarang. Membuatku sebagai ayahnya menanggung malu saja.


"Tidak masalah, saya bisa mengerti," jawab Tuan Muchtar.


Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, mereka semua sudah menunggu Nisa selama satu jam lebih. Rasa khawatir mulai dirasakan oleh ayah dan ibunya Nisa, mereka khawatir kalau Nisa akan kabur dari rumah.


"Rei, cepat cari kakakmu dan bawa dia kemari!" pintanya dengan ekspresi memaksa.


"Iya ayah!" jawab Reihan yang segera meninggalkan ruang tamu.


Tak berselang lama kemudian Reihan kembali, tetapi dia kembali hanya seorang diri.


"Reihan, di mana kakakmu?"


"Dia duduk di taman belakang!"


"Lalu kenapa kau tidak membawanya kemari?"


Mendekat saja aku nggak berani, aku bisa merasakan kalau Kak Nisa sangat marah. Dan aku merasa ... aura membunuhnya yang sudah lama hilang juga muncul kembali. Seakan-akan darah gangster di dalam tubuhnya sudah mendidih.


"Dimas, kau saja!"


"Aku juga takut, ayah jemput saja sendiri. Paling tidak jika ayah yang ke sana mungkin kakak akan menahan sedikit pukulannya. Ayah sendiri kan yang mengajari kak Nisa cara berkelahi!" jawab Dimas.


"Aku saja yang ke sana!" Sahut Keyran.


"Eh?" Seketika semua anggota keluarga Nisa menatap Keyran dengan tatapan tidak percaya.


"Baiklah jika kau bersedia, Reihan akan menunjukkan jalannya."


"Baik, Ayah."


Gawat! Jika orang ini menemui kakak sekarang, mungkin kakak akan memukulnya sampai mati. Semoga saja kakak dapat menahan emosinya, aku nggak mau sampai terjadi pembunuhan!


Beberapa saat kemudian Keyran dan Reihan sampai di taman belakang. Reihan sangat ketakutan sehingga ingin buru-buru meninggalkan Keyran sendirian.


"Sudah sampai, aku pergi dulu!" ucap Reihan yang langsung berlari secepat mungkin.


"...." Keyran mengernyit.


Apa gadis ini sebegitu menakutkan? Sampai-sampai membuat adiknya sendiri bertingkah seperti itu. Padahal dia hanya duduk di bangku tanpa bersuara.


Setelah Reihan pergi, Keyran hanya berdiri dan menatap Nisa selama beberapa saat. Dia sadar bahwa kini Nisa diselimuti oleh aura yang suram. Tak lama kemudian dia berjalan mendekat lalu duduk di bangku bersama Nisa.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Keyran.


"Aku merasa dipermainkan," jawab Nisa tanpa menoleh.


"Oleh siapa?"


"Semua orang. Pertama ayah, dekan kampus, Valen, pak tua itu termasuk ... kau!" ucap Nisa sambil melotot ke arah keyran.


"Bukan hanya kau, aku juga merasa dipermainkan." Keyran berekspresi dingin.


"Heh! Apa kau berani bersumpah? Jika berbohong maka ibumu akan tiada!"


"Ibuku memang sudah lama tiada."


"...." Seketika Nisa terdiam, atmosfer di sana juga langsung berubah menjadi canggung.


"Ayahku baru menjelaskan tentang hal ini padaku tadi siang. Jadi saat kau berhutang padaku kemarin, aku belum tahu hal ini sama sekali. Itulah mengapa hari ini aku tak memberikanmu tugas ataupun memanggilmu ke ruanganku. Tapi ini semua juga tergantung pilihanmu apakah ingin menerima perjodohan ini atau tidak."


"Kenapa tergantung padaku? Apa kau sama sekali tidak keberatan jika aku menikah denganmu?" tanya Nisa dengan ekspresi heran.


"Tidak," jawab Keyran tanpa ragu.


"Kenapa? Jangan-jangan kau tertarik padaku! Astaga ... apa aku spesial di matamu?" tanya Nisa seakan tidak percaya.


"Jangan menyimpulkan seenaknya! Mana mungkin aku tertarik padamu! Aku menerima semua ini karena aku sudah lelah. Ayahku selalu memaksaku untuk segera menikah, aku sudah berkali-kali membawa wanita untuk dikenalkan ke ayah. Tapi mereka semua ditolak karena ayahku bilang mereka semua tidak cocok menjadi nyonya Kartawijaya."


"Lalu, apa aku cocok? Kau lihatlah aku baik-baik! Aku hanya seorang gadis barbar atau urakan yang berumur 19 tahun, cara bicaraku juga kasar. Apa kau berpikir kalau aku cocok menjadi seorang nyonya?"


"Tidak, aku pikir juga tidak cocok. Tapi ayahku berpikir kalau kau cocok, jadi aku akan menuruti perintah ayahku."


"Coba dengarkan aku! Kau dan aku sama-sama berpikir kalau kita tidak cocok, kenapa kau tidak mencoba untuk membangkang perintah ayahmu sekali saja?"


"Kau menyuruhku untuk durhaka pada ayahku sendiri?"


"Bukan begitu! Maksudku itu pernikahan bukanlah hal main-main, sedangkan di antara kita sama sekali tidak ada rasa suka. Aku beritahu padamu, kau sebaiknya menikah saja dengan orang yang kau sukai!"


"Tidak ada wanita yang aku sukai," jawab Keyran secara spontan.


"Apa kau hidup sebagai seorang pria yang kesepian? Setidaknya menikahlah dengan orang yang suka padamu, nona artis misalnya ...."


"Aku juga sudah mencoba membawa Amanda, tapi tetap saja ditolak oleh ayahku."


"Ayahmu itu orang seperti apa sih? Bahkan artis papan atas juga dia tolak. Berapa umurmu? Kenapa ayahmu memaksa sekali ingin kau cepat-cepat menikah?"


"Umurku 27 tahun."


"Oh."


Ya ampun ... padahal sebenarnya dia terhitung masih muda, tapi saat aku berhutang padanya aku mengarang kalau yang akan aku nikahi itu pria tua. Untunglah sekarang dia tidak marah, tapi kalau dipikir-pikir selisih 8 tahun itu juga termasuk banyak, jadi tidak salah kan kalau aku memanggilnya pria tua?


"Ehem, di umur 27 tahun memang sudah sepantasnya menikah, tapi kenapa harus dipaksakan sekali? Apa kau duda? Punya anak berapa?"


"Hei! Jaga bicaramu! Aku ini belum pernah menikah, apalagi punya anak!" teriak Keyran yang merasa tersinggung.


"Maaf kalau tersinggung, aku hanya penasaran. Lagi pula aku juga bingung, dari sekian banyak perempuan yang suka padamu kenapa harus aku yang sama sekali tidak tertarik padamu?"


"Aku juga tidak tahu. Yang jelas sekarang kau harus kembali bersamaku! Mereka semua sudah lama menunggu keputusan yang akan kau ambil!"


"Baiklah," jawab Nisa dengan pasrah.


Tak lama kemudian Nisa dan Keyran tiba di ruang tamu. Nisa langsung duduk tanpa mengatakan apa pun. Semua orang sudah tidak sabar ingin mengetahui keputusan yang akan Nisa ambil.


"Kau sudah diberikan waktu untuk berpikir. Jadi apa pilihanmu?" tanya tuan Muchtar.


"...." Nisa membisu.


Jika aku menerima maka aku akan dianggap sebagai penyelamat bagi keluargaku, tapi jika aku menolak maka aku akan dianggap sebagai beban. Dan di sisi lain aku mencintai Ricky. Ya Tuhan ... semoga pilihan yang akan aku ambil tidak salah.


"Nisa, Tuan Besar Kartawijaya sedang bertanya padamu!" ucap ayah sambil menyenggol tangan Nisa.


"A-aku memilih ..."