
Pagi hari ini Nisa telah berpakaian rapi. Keyran merasa agak bingung karena melihat hari ini Nisa tampak berbeda. Nisa lalu menghampiri suaminya yang sedang duduk di pinggir ranjang sambil membawa sebuah kertas dan pena.
"Apa hari ini kau ada acara penting?" tanya Keyran dengan suara yang sedikit serak.
"Iya, sangat penting." Nisa lalu menyodorkan selembar kertas dan pena tersebut kepada Keyran.
"Tolong berikan tanda tanganmu di kertas ini!" pintanya sambil menunjuk ke bagian yang harus ditandatangani.
Keyran tertegun sejenak untuk membaca tulisan yang tertulis di kertas itu. Kemudian dia berkata, "Surat kuasa? Apa kau serius?"
"Aku serius, berikan persetujuanmu untuk mewakilkan jabatanmu padaku! Ini hanya untuk sementara, hanya saat kau masih sakit."
"Tapi, Nisa ... jika aku-"
"Aku mohon percayalah padaku! Aku janji akan melakukannya dengan sungguh-sungguh, aku janji tak akan membuat kesalahan satu pun! Perusahaanmu pasti tidak akan merugi!" ucap Nisa yang memotong ucapan Keyran.
"Bukan begitu, masalahnya bukan pada aku percaya atau tidak padamu. Jika soal itu aku sudah pasti percaya, hanya saja ... pekerjaanku itu tak semudah yang kau pikir. Aku yang mengambil semua keputusan dan menetapkan bagaimana jalannya perusahaan. Itu beban yang sangat besar Nisa, apa kau benar-benar yakin?"
Nisa menjawab dengan mengangguk.
"Hahh ... baiklah kalau begitu, tetapi ingat satu hal, kau juga tidak boleh memaksakan diri!" Keyran lalu menandatangani kertas itu dan langsung menyerahkannya pada Nisa.
Sorot mata Nisa langsung menjadi berbinar, dengan senyuman dia lalu berkata, "Terima kasih, aku janji tak akan bermain-main!"
"Ngomong-ngomong apa yang akan kau lakukan?" tanya Keyran.
"Aku akan terjun langsung ke lapangan, jadi aku bisa melihat masalah di departemen mana saja yang bekerja tidak semestinya. Kau tenang saja, ada Valen yang akan mendampingiku dan menjelaskan semua detail-detailnya padaku. Kau tak perlu khawatir jika nanti aku melakukan sesuatu yang berada di luar prosedur."
"Oh, seperti itu juga tidak apa-apa. Hanya saja ... aku masih sedikit heran."
"Heran soal apa?" tanya Nisa dengan ekspresi bingung.
Keyran tersenyum tipis. "Heran karena kau berinisiatif seperti ini, kau itu biasanya pemalas, bahkan tugas kuliahmu saja kadang masih memintaku untuk mengerjakan. Tapi sekarang kau tumben jadi rajin, malah mau menggantikan tugasku."
"Humph! Karena aku tak mau Valen terus menerus datang ke sini untuk mengganggumu soal pekerjaan. Kondisimu belum pulih, kau mengalami demam parah selama 3 hari, lalu pingsan 2 kali. Kau membuatku sangat takut ..." ucap Nisa dengan wajah cemberut.
"Haha, kemarilah ...." Keyran bergeser mendekat dan memeluk Nisa. Dia juga mencium pipi istrinya yang chubby itu.
"Nah, sudah kucium. Lakukan yang terbaik, darling!" ucap Keyran sambil meringis.
Nisa tersenyum dan mengangguk, kemudian dia memberikan kecupan di kening Keyran. "Untuk sekarang aku hanya bisa mencium keningmu, soalnya aku tidak mau ketularan hehe ...."
"Heh, kau ini ... awas nanti kalau aku sudah sembuh!"
***
Petang harinya, Keyran yang masih harus beristirahat untuk pemulihan kini sedang bersantai sambil membaca buku ilmiah di atas ranjang. Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
TOK TOK TOK!!
"Permisi Tuan, ini saya Valen. Bolehkah saya masuk?" tanya Valen dari sebalik pintu.
"Ya, masuklah!"
Valen langsung masuk ke kamar setelah dipersilakan. Tetapi, Keyran agak bingung lantaran melihat Valen yang tak membawa apa pun bersamanya, terlihat seperti orang yang tidak berkepentingan.
"Ada apa?" tanya Keyran.
"Saya diminta oleh Nyonya Nisa untuk memastikan bahwa Tuan beristirahat dengan baik," jawab Valen.
"Itu saja?" tanya Keyran seakan tidak percaya.
"Iya." Valen mengangguk.
"Seperti yang kau lihat sekarang kalau aku beristirahat dengan baik, kau bisa pergi!"
"Baik." Valen berbalik dan bersiap untuk pergi, ketika baru selangkah dia melangkah tiba-tiba Keyran berteriak.
"Tunggu!"
"Ya? Apakah Tuan perlu sesuatu?" tanya Valen.
"Di mana Nisa? Harusnya sekarang dia sudah pulang."
"Nyonya memang sudah meninggalkan kantor, tapi beliau bilang ada keperluan untuk mendatangi suatu tempat. Nyonya tidak menjelaskan mau ke mana, tadinya saya berniat mengantar beliau, tapi saya malah disuruh untuk memeriksa keadaan Tuan."
Keyran menghela napas, dia menutup bukunya lalu meletakkan buku tersebut di atas nakas. "Ceritakan tentang apa saja Nisa lakukan selama di kantor!" pintanya dengan ekspresi serius.
"Nyonya melakukan inspeksi di semua departemen satu per satu, Nyonya melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan baik. Saya rasa tidak ada masalah dengan kinerja Nyonya, hanya saja ...."
"Hanya saja Nyonya sangat galak, dia lebih galak dibanding Tuan! Bahkan saya sendiri kaget dengan hal itu."
"Haha, aku tak menyangka dia akan begitu." Keyran terkekeh.
"Oh iya Tuan, apakah kira-kira besok Tuan akan kembali bekerja? Soalnya saya lihat keadaan Tuan sudah membaik, seperti orang sehat."
"Kau benar, sebenarnya aku memang sudah sembuh, tapi aku tidak akan masuk kerja untuk besok."
"Eh?! Tapi mengapa? Jangan-jangan Tuan sudah jadi pemalas yang seharian nyaman di ranjang! Saya ingatkan demi kebaikan Tuan, harga diri laki-laki itu adalah bekerja! Tuan jangan sampai memberikan jabatan CEO kepada Nyonya secara permanen!"
"Sembarangan! Aku mana mungkin melakukan itu! Aku juga tidak mau jika istriku yang harus menanggung semuanya sendiri! Aku cuma mau mengetahui sampai batas mana istriku bisa melakukan pekerjaan ini. Besok adalah rapat dewan, aku ingin tahu apakah Nisa bisa memimpin rapat itu dengan baik atau tidak."
"Tapi Tuan, itu terlalu berisiko! Nyonya belum pernah mengikuti apalagi memimpin rapat, sedangkan besok itu adalah rapat dewan yang sangat penting! Terlebih lagi dengan sifat yang dimiliki Nyonya, saya khawatir jika nantinya Nyonya bersikap tidak sopan kepada para dewan direksi."
"Biarkan saja, lagi pula para orang tua itu kadang memang pantas dibentak."
DRRTT DRRTT ...
DRRTT DRRTT ...
Ponsel Valen mendadak berdering, dia kemudian mengambil ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya. Dan ternyata itu adalah Nisa.
"Halo, Nyonya?" tanya Valen.
"Apa suamiku beristirahat dengan baik?"
Sekilas Valen menatap Keyran, lalu Keyran menganggukkan kepala. "Iya, Nyonya. Tuan sekarang sedang beristirahat."
Padahal aslinya sudah sembuh.
"Oh, baiklah. Sekitar 5 menit lagi aku sampai rumah. Sekarang aku masih terjebak di lampu merah."
TUT TUT ...
"5 menit lagi?!" tanya Keyran dengan ekspresi panik.
"Iya," jawab Valen sambil mengangguk.
"Gawat!" Keyran langsung turun dari ranjang, dia menghampiri meja rias dan mencari-cari sesuatu di sana. Dia mencari hair dryer portable, begitu menemukannya Keyran langsung menyalakan hair dryer tersebut dan mengarahkan ke dahinya.
Valen yang kebingungan lalu berkata, "Apa yang sedang Tuan lakukan?"
"Memanaskan tubuh, aku harus pura-pura sakit di depan Nisa agar besok dia juga menggantikan aku bekerja!"
Keyran terus mengarahkan hair dryer itu ke dahinya, kemudian dia bercermin dan memastikan apakah wajahnya sudah memerah seperti orang sakit atau belum. Setelah dirasa sudah cukup merah, dia kembali berbaring di ranjang dan tak lupa memakai selimut.
Valen yang melihat semua itu hanya bisa diam dan ternganga. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Keyran melakukan semua itu demi berpura-pura sakit, baginya sekarang Keyran seperti orang lain.
"Kenapa kau masih di sini?! Pergi sana! Aku mau pura-pura sakit!" bentak Keyran.
"B-baik ...." Valen langsung bergegas keluar dari kamar. Benar saja saat di luar dia berpapasan dengan Nisa.
Nisa buru-buru masuk ke kamar. Dia langsung mendekat dan duduk di sebelah Keyran. Dahinya mengerut saat memandang wajah suaminya yang tampak kemerahan, pelan-pelan dia menyentuh dahinya agar tidak membuat Keyran terbangun.
"Masih panas," gumam Nisa.
Nisa menghela napas, dia lalu memalingkan wajahnya.
"Cepatlah sembuh Key ... cepatlah sembuh dan kembalilah bekerja. Aku pikir ini akan mudah, tapi orang-orang sialan itu menjengkelkan! Mentang-mentang aku istrimu, mereka menatapku dengan tatapan remeh, menganggap seolah-olah aku tak punya kemampuan dan hanya mengandalkan statusku!" gerutu Nisa.
"Tapi kondisimu ternyata masih saja sama, jadinya besok aku yang harus memimpin rapat dewan. Awas saja jika nanti para dewan direksi juga meremehkanku! Aku tak akan segan menampar mereka meskipun mereka lebih tua dibanding denganku!"
"Hei, jangan begitu ... Kau tidak boleh melakukan kekerasan." Keyran terkekeh.
"Eh?! Apa aku membangunkanmu?"
Keyran tersenyum tipis lalu bangun, dia duduk dan mengusap kepala Nisa dengan lembut. "Maaf, aku sebenarnya juga tidak mau sakit. Tak apa kalau kau kesusahan, jika begitu maka besok akan aku usahakan masuk bekerja."
Nisa menggeleng. "Tidak boleh! Kau masih sakit, aku tak mau jika sakitmu tambah parah. Aku bukannya kesusahan, aku cuma merasa sedikit tidak nyaman. Dan aku cuma bercanda soal akan mau menampar para dewan direksi, haha. Jadi jangan khawatir, oke?"
"Sungguh tidak apa-apa?" tanya Keyran.
"Iya, bagiku kesehatanmu yang paling penting. Sudah, kau jangan berpikir yang berat dulu, lanjut saja istirahat. Aku mau mandi dulu." Nisa beranjak dari ranjang dan langsung menuju ke kamar mandi.
Sedangkan Keyran, dia kembali berbaring dan diam-diam tersenyum bodoh sendiri. "Hehe ...."
Ckck, jangan pikir hanya kau yang bisa membodohi orang. Nisa ... Nisa ... aku benar-benar mencintaimu, jadi kau pasti memaafkan aku jika membohongimu.