Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Tempat yang Dilupakan


"Hahh.... hah.... Untung Ricky nggak ngejar aku! Berjalan tanpa arah seperti ini sangat melelahkan. Sebenarnya aku pergi ke tempat apa?" Ucap Nisa dengan napas yang terengah-engah.


Aku berjalan ke arah bukit, tapi ini tempat macam apa? Penerangan disini cukup bagus, suasananya pun menenangkan. Tapi, kenapa tempat sebagus ini sangat sepi? Aku penasaran, jalan ini sebenarnya menuju ke tempat apa?


Karena penasaran, Nisa akhirnya memutuskan untuk terus berjalan. Saat dia sampai, dia malah terkejut karena tempat yang dia datangi adalah tempat yang tidak asing baginya.


"Ini...!"


Ternyata yang aku tuju adalah tempat ini!


"Dulu tempat ini sangat ramai dikunjungi orang tapi, sekarang sudah dilupakan!"


Aku lelah.... Sebaiknya aku istirahat disini sebentar! Yah.... kenapa nggak? Suasana disini sangat bagus!


Nisa kemudian berjalan ke pinggiran untuk duduk dan istirahat. Dia lalu bersandar di pagar pembatas yang dibelakangnya ada sebuah tebing.


"Tempat ini terkenal karena bisa melihat bintang yang sangat jelas dari sini. Tapi, sekarang tempat ini ditutup karena berbagai alasan, menurutku sih itu cuma omong kosong! Tempat sebagus ini kan sayang banget kalau ditutup! Tapi, sepertinya aku datang di waktu yang salah, sekarang cuacanya mendung, jadi nggak bisa lihat bintang!"


Semoga saja nanti nggak turun hujan!


Tak lama kemudian hujan turun yang sangat deras.


"Sialan! Malah turun hujan! Ya Tuhan..... Kenapa keberuntunganku akhir-akhir ini sangat buruk? Biarin aja deh, sekalian mandi. Lagian cuma kehujanan juga nggak bakalan mati!"


Hmmm... kalau dipikir-pikir.... sepertinya sudah lama sekali terakhir kali aku kemari. Tapi, kenapa ya waktu itu aku kemari?


"Hahaha! Aku ingat sekarang! Terakhir kali aku kemari itu dua tahun lalu. Saat itu aku kemari karena ingin memastikan perasaanku pada Ricky! Tapi, sekarang saat hubunganku dengan Ricky berakhir, tanpa sadar aku juga berjalan kemari! Haha, ternyata Tuhan memang sudah merencanakan semua ini!"


Sial! Lagi-lagi aku teringat pada Ricky! Setiap kali aku ingat dia, hatiku hancur!


"Kenapa..... kenapa Tuhan!? Kenapa kamu menciptakan manusia dengan perasaan!? Untuk apa sebenarnya perasaan itu! Kenapa jatuh cinta terasa sangat menyakitkan? Aku salah apa? Kenapa kamu menyiksaku dengan cara seperti ini!?"


Nisa berteriak memaki Tuhan sambil menangis. Dia berpikir kalau semuanya adalah salah Tuhan yang telah membuatnya memiliki perasaan cinta yang mendalam pada Ricky.


Sialan! Bisa-bisanya aku menangis. Untunglah sekarang hujan, orang-orang tidak akan bisa melihatku menangis.


"Tuhan.... Kamu puas kan? Bukankah aku terlihat sangat menyedihkan sekarang? Hanya kamu yang bisa melihatku saat ini! Katakanlah padaku! Sekarang aku harus apa!? Apa pun yang kamu mau, kamu bisa lakukan sekarang. Aku akan menerimanya dengan sepenuh hati! Semuanya sudah jadi seperti ini, mau nggak mau aku hanya bisa menerima!"


Sekarang sudah malam, aku harus segera pulang!


Saat Nisa bersiap akan berdiri, tiba-tiba pagar yang dia jadikan sandaran patah. Dia akhirnya terjungkal kebelakang dan jatuh ke jurang yang berada di belakangnya.


"Kyaaaa...!"


Sial! Apa aku akan mati!?


...****************...


"Ibu.... apa makanannya apa sudah siap?" Tanya Reihan.


"Sudah dari tadi, hanya tinggal menunggu kakakmu!"


"Tapi aku sangat lapar!"


"Reihan, tunggulah sebentar lagi! Kakakmu pasti segera pulang"


"Untuk apa menunggu kakak? Dia pasti sudah makan makanan enak sama kakak ipar sekarang! Nggak usah ditunggu lagi!" Teriak Reihan.


"Iya ibu, nggak usah nunggu kakak lagi! Tapi, kakak ipar yang lo maksud siapa kak? Kak Nisa kan belum nikah!" Sahut Dimas.


"Maksudku itu calon kakak ipar. Tadi pagi kan dia antar kakak ke kampus, pasti pulangnya juga dia jemput. Jadi, kita nggak perlu nunggu kakak pulang!"


"Bener juga! Ibu.... ayo makan duluan!"


"Diam kalian! Ibu bilang tunggu ya tunggu! Kalau nggak sabar telepon kakakmu sana! Suruh dia cepat pulang!"


"Nggak bisa, terakhir kali aku sudah nipu kak Nisa. Jadi nomor-ku diblokir!" Ucap Reihan.


"Hah!? Itu salahmu sendiri! Kalau gitu biar Dimas aja deh!"


Dimas mencoba menelepon Nisa, tapi tidak tersambung karena berada di luar jangkauan. Dimas memberitahu hasilnya ke ibu, setelah ibu tahu dia menjadi sedikit khawatir. Akhirnya ibu mencoba meneleponnya sendiri, tapi hasilnya juga tidak ada jawaban.


"Sudahlah.... daripada khawatir nggak jelas begitu, mending kita makan duluan saja. Nggak usah nunggu Nisa pulang!" Ucap ayah dengan tidak sabar.


"Iya ayah...."


Pada akhirnya mereka memutuskan untuk makan tanpa menunggu Nisa pulang. Tapi, saat mereka selesai makan, Nisa belum juga pulang. Karena hal itu mereka semua menjadi kesal.


"Gadis nakal itu belum pulang juga! Sebenarnya dia pergi kemana saat hujan deras seperti ini! Apa dia berencana untuk kabur!?" Teriak ayah.


"Ayah sabar dulu.... mungkin Nisa masih bermain sampai lupa waktu. Kalau ayah khawatir Nisa kabur, ayah telepon saja! Dia nggak mungkin nggak jawab telepon dari ayah" Ucap ibu.


"Iya ayah, ibu benar! Kak Nisa kan paling nurut sama ayah!" Sahut Reihan.


"Baiklah, ayah coba telepon dia...."


Ayah mencoba untuk menelepon Nisa, tapi tidak ada jawaban. Lalu, ayah akhirnya mencobanya berkali-kali tapi hasilnya tetap saja sama.


"Bagaimana?" Tanya ibu.


"Dia nggak jawab...."


"Apa!? Masa sih kakak nggak jawab, dia pasti sudah bosan hidup!" Teriak Reihan karena kaget.


"Ayah.... coba telepon tuan muda Keyran, mungkin dia bersama Nisa!" Ucap ibu.


"Baiklah, akan aku coba!"


Ya Tuhan..... Kenapa aku bisa punya anak perempuan yang sulit diatur? Dia selalu saja membuat orang lain khawatir! Semoga saja Nisa sedang bersama dia!


"Halo paman, ada apa?"


"Nak, apa putriku sedang bersama denganmu? Dia belum pulang sampai sekarang, aku sedikit khawatir soal itu...."


"Apa!? Dia belum pulang? Tapi, tadi sebelum hari gelap aku sudah mengantar dia pulang"


"Oh.... kalau begitu terima kasih atas informasinya. Aku tutup ya...."


Tut.... tut....


"Dasar gadis nakal! Ternyata sudah diantar pulang, tapi masih sempat bermain sampai larut! Saat sampai rumah nanti, ayah pasti akan hukum kamu!" Teriak ayah dengan penuh amarah.


"Tenanglah ayah..... Nisa akan segera menikah. Jadi, biarkan dia bermain sampai puas. Ayah jangan hukum dia ya.... "


"Hah.... baiklah, ini juga karena keadaan"


...****************...


"Hah...." menghela napas.


Gadis gila itu ternyata belum pulang!? Tadi aku membiarkan dia turun di jalan sendirian, apa terjadi sesuatu padanya?


"Tunggu dulu! Kenapa aku khawatir padanya!? Dia hidup atau mati tidak ada hubungannya denganku!"


Tapi, dia itu calon istriku. Jadi.... apa aku harus mencarinya? Jika dia kabur aku juga nggak perlu menikah, itu hal yang sangat bagus!


"......"


Sial! Besok kan acara pertunangan. Kalau dia hilang, ayah pasti akan sangat murka. Aku harus mencarinya!


"Valen! Cepat kemari!"


"Iya tuan, ada apa?"


"Ayo pergi! Kita harus mencari seseorang!"


"Baik tuan..."