
Angin malam yang dingin berhembus kencang, membuat kobaran api semakin membesar. Asap hitam membumbung tinggi ke langit. Kebakaran itu kini semakin memburuk, para petugas pemadam kebakaran pun kewalahan memadamkan api.
"Laporkan ke kantor pusat! Kita butuh tambahan unit secepatnya!!"
"Tolong!! Di sini korban mengalami cedera parah!"
"Aku mohon selamatkan pacarku yang terjebak di dalam sana!!"
Situasi semakin di luar kendali, orang-orang yang baru saja diselamatkan semuanya mengalami luka ringan maupun berat. Ramainya situasi ini menyebabkan para warga sekitar berbondong-bondong datang demi menyaksikan kobaran api yang melahap segalanya itu. Pihak pers pun tak terkecuali, para reporter dari berbagai kantor berita juga meliput kejadian itu.
Orang lain yang sudah berada di luar tak henti-hentinya berteriak, menangis, dan berdoa agar orang terkasih yang terjebak bisa selamat dari kebakaran.
Seperti itulah yang terjadi halnya pada Tuan dan Nyonya keluarga Adinata. Mereka sangat berharap agar putri mereka yaitu Chelsea bisa selamat beserta dengan Samuel.
Daniel pun juga merasa gelisah, dia sangat frustrasi dengan keadaan yang menimpanya saat ini. Putra semata wayang nya saat ini masih terjebak dan tak tahu bagaimana keadaannya. Sedangkan Natasha, dirinya terkena serangan mental yang menyebabkan pingsan sampai sekarang.
"Aku tak menyangka akan jadi seperti ini," gumam Nisa dengan dahi yang berkerut saat memperhatikan seluruh keadaan yang terjadi di sekelilingnya. Dia kemudian mendekat ke arah Keyran dan memeluknya.
"Ada apa?" tanya Keyran.
"Aku bersyukur kau selamat," jawab Nisa dengan nada lirih.
"Ya, kita doakan agar semakin banyak yang selamat."
"Oke ...."
Selang beberapa waktu kemudian datanglah beberapa unit mobil kebakaran yang diminta untuk membantu. Saat ini jumlah personel pemadam kebakaran bertambah, namun mereka masih kewalahan untuk memadamkan si jago merah.
Setidaknya butuh waktu sampai kurang lebih 1 jam untuk memadamkan api yang telah membakar segalanya. Gedung aula yang megah itu kini telah berubah menjadi gedung yang dipenuhi oleh warna hitam di segala sisi permukaan temboknya.
Ketika api telah berhasil dipadamkan, para petugas pun kembali melanjutkan mengevakuasi para korban. Di antaranya terdapat korban dengan luka sangat parah segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
"Uuhhh ...." Natasha terbangun dari pingsannya. Begitu bangun dia melihat semua raut wajah orang yang tampak sangat cemas. Dengan tatapan berharap dia menatap ayahnya.
"Ayah, di mana kakak? Apa sekarang dia di bawa ke rumah sakit? Samuel bersamanya dan mereka berdua baik-baik saja, kan?"
Pria tua itu menghela napas dan mengusap wajah putrinya. "Chelsea sampai sekarang belum ditemukan, dan Samuel juga ...."
"T-tapi Ayah ... apinya sudah padam, kenapa mereka masih belum ditemukan? Mereka tidak mungkin tidak selamat ...."
Air mata Natasha kembali mengalir membanjir pipi, pikirannya lagi-lagi memikirkan bagaimana nasib putra dan kakaknya jika mereka berdua benar-benar tidak selamat.
Tiba-tiba dia berjalan mendekati gedung yang habis terbakar itu, namun dia ditahan oleh suaminya.
"Kau mau ke mana?!" tanya Daniel.
"Aku mau mencari Sammy dan kakak! Aku yakin mereka berdua selamat dan berlindung di suatu tempat!"
"Kau jangan gila! Gedung itu sekarang masih belum aman!"
"Lantas kenapa?! Kedua orang itu sangat penting bagiku! Kau jangan mencegahku! Apa kau tidak peduli pada anakmu sendiri?!"
"Aku peduli dan aku juga khawatir! Samuel juga anakku, aku juga ingin agar dia selamat! Dan kau jangan membuat semuanya jadi tambah runyam! Kau tenangkan dirimu dulu dan jangan melakukan tindakan bodoh!"
"Ukhh ... a-aku tak tahu harus bagaimana lagi ...."
Natasha mencoba untuk menenangkan diri, orang lain pun turut mencoba menghiburnya agar dia tidak patah semangat. Tentu saja hal ini menjadi pukulan besar bagi semua orang, sebuah pesta yang digelar untuk penyambutan bayi, namun sekarang bayi tersebut masih belum diketahui keadaannya.
Di sisi lain Nisa tak melakukan apa pun selain memperhatikan kondisi sekitar. Dia menatap miris ketika para petugas mengevakuasi beberapa orang-orang yang tewas. Korban-korban yang tewas itu ditemukan dengan luka bakar di sekujur tubuhnya. Bahkan beberapa di antaranya telah terbakar hingga sulit untuk dikenali.
Meskipun begitu, Nisa sama sekali tidak memberikan pendapat apa pun. Baginya entah kenapa yang dia lihat saat ini terasa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan semua kengerian yang pernah dia lihat sebelumnya.
Proses evakuasi korban cukup memakan waktu, namun tidak selama seperti proses pemadaman api tadi. Saat ini jumlah personel petugas pemadam kebakaran terlihat semakin berkurang.
Tiba-tiba saja beberapa orang polisi dan pemadam kebakaran terlihat mendekati Tuan Muchtar.
"Selamat malam, Tuan. Saya ingin menyampaikan hasil evakuasi terkini kepada Anda." ucap polisi itu.
"Baik, jadi bagaimana hasilnya?" tanya Tuan Muchtar dengan tatapan berharap.
"Bagaimana dengan bayiku?! Kakakku juga! Mereka berdua selamat, kan?!" sahut Natasha.
"Sabar Nona, mohon dengarkan dulu keterangan dari kami." Polisi itu lalu melirik ke polisi lain, dia memberi isyarat agar rekannya itu yang giliran berbicara.
"Ehem, baiklah. Kami menerima laporan dari kalian jika bayi berusia kurang lebih 2 minggu atas nama Samuel, dan gadis berusia 23 tahun atas nama Chelsea terjebak di dalam gedung saat kebakaran. Setelah kami melakukan proses evakuasi, kami menyatakan bahwa kedua orang itu telah tewas."
Semua orang yang mendengar hal itu langsung terkejut, air mata kesedihan langsung mengalir begitu derasnya. Terlebih lagi Natasha, dia sangat syok dengan perkataan polisi barusan. Dia masih tidak terima lalu tiba-tiba menarik kerah baju polisi itu.
"Kau bohong!! Bayiku tidak mungkin mati! Kakakku bersamanya! Aku sangat mengenal kakakku dan dia adalah orang yang bisa diandalkan! Aku yakin mereka berdua selamat!"
Polisi itu lalu menyingkirkan tangan Natasha dari dirinya. "Maafkan kami, Nona! Memang kesimpulan kami saat ini sementara adalah itu. Tapi memang ada kemungkinan kecil jika mereka berdua selamat, karena kami tidak bisa menemukan jasad mereka."
"Lalu kenapa kau menyimpulkan bahwa mereka berdua tewas?! Kau bisa bilang kalau mereka hilang!" bantah Natasha lagi.
"Dengarkan penjelasan kami terlebih dulu! Kalian melaporkan bahwa sebelum kebakaran terjadi, mereka berdua berada di lantai 2 di salah satu kamar yang di dalamnya terdapat keranjang bayi."
"Iya, itu benar." jawab Daniel.
Tiba-tiba salah satu pemadam kebakaran memperlihatkan sebuah benda, itu adalah sebuah kantong plastik yang berisi sebuah benda yang tampak indah. Benda berkilau itu adalah sebuah batu berlian.
"I-itu ... adalah kalung berlian milik putriku, aku memberikan padanya ketika dia berulang tahun," ucap ibunya Natasha dengan nada gemetar.
"Kami menemukan ini di lantai dekat dengan pintu kamar tersebut. Di kamar tersebut kami tidak menemukan apa-apa selain benda ini. Bahkan sebuah jasad saja tidak ditemukan."
"Itu mungkin saja, itulah alasan mengapa kami menyimpulkan bahwa kedua korban telah tewas." sahut salah seorang polisi.
"Tapi menurutku itu kurang logis!" bantah Daniel. "Proses kremasi jenazah saja perlu waktu berjam-jam. Apa mungkin Chelsea bisa terbakar jadi abu hanya dalam waktu satu jam?"
"Saya juga paham akan hal itu, tapi kemungkinannya tetap saja sama bahwa dia telah tewas. Dan terlebih lagi ada beberapa korban yang sulit dikenali, setelah tim forensik melakukan proses identifikasi mungkin saja hasilnya salah satu di antara mereka adalah nona Chelsea."
"Lalu bagaimana dengan anakku?!" tanya Natasha yang mentalnya semakin terguncang.
"Dilihat dari kondisinya dan usia bayi yang baru 2 minggu, kemungkinan besar sudah jadi abu sehingga jasadnya tidak mungkin ditemukan. Bayi di usia seperti itu belum memiliki tulang yang keras, ini berbeda dengan orang dewasa. Kemungkinan lain, bayi berada di ranjang saat kebakaran dan kini ranjang tersebut hanya tinggal per besinya saja. Bayinya mungkin sudah ikut terbakar jadi abu bersama busa dari kasur."
Tubuh Natasha sepenuhnya gemetar, dia menangis dan merengek sambil mendekap erat ke pelukan Daniel.
"Hik ... hik ... ini tidak mungkin! Aku mohon lakukan sesuatu, Daniel! Aku tidak mau berpisah dengan bayiku secepat ini!"
Daniel mengusap air matanya sendiri lalu menepuk-nepuk punggung Natasha. "Aku juga tidak rela anak kita pergi seperti ini .... Tapi aku janji, aku akan memberikan keadilan baginya. Jika ini perbuatan seseorang maka aku berjanji akan mengusutnya sampai tuntas!"
"Perbuatan seseorang? A-aku tahu siapa pelakunya!" Mendadak Natasha melepaskan pelukannya dan beralih menuding tepat ke arah Nisa yang juga berada tidak jauh dari sana.
"Kau pelakunya! Aku tahu kalau semua ini ulahmu! Kau pasti penyebab dari semua ini!"
Seketika pandangan mata semua orang tertuju kepada Nisa.
"Apa?! Bisa-bisanya kau menuduhku tanpa bukti!" seru Nisa.
"Memangnya aku perlu bukti apa lagi untuk menuduhmu?! Di antara semua orang di dunia ini sudah jelas-jelas kau yang paling tidak suka denganku! Sebelum ini kau juga berdebat denganku, lalu beberapa saat setelahnya alarm peringatan kebakaran berbunyi!"
"Apakah itu benar?" tanya salah seorang polisi pada Natasha.
"Benar, Pak! Kami berdebat tentang bayi, dia marah karena aku menyinggung soal keguguran yang dialaminya, lalu dia berbalik menghina bayiku! Aku ingat jelas kalau dia juga mengancamku akan membuatku menyesal! Jadi kebakaran ini pastilah ulahnya!"
"Apa itu benar, Nisa?" tanya Keyran.
"Y-ya ... memang benar adanya kalau aku dan dia sempat berdebat. Tapi bukan aku yang menyebabkan kebakaran ini! Aku tidak mungkin segila itu sampai membakar gedung sedangkan kau masih terjebak di dalamnya!" ucap Nisa yang berusaha meyakinkan semua orang.
"Itu mungkin saja kau lakukan! Kau bisa membuatnya seolah-olah sebagai alibi untuk terbebas dari tuduhan! Tapi aku mengenalmu, kau bisa melakukan apa pun asalkan kau mendapatkan apa yang kau mau! Kau bisa saja menumbalkan suamimu agar rencana jahatmu berjalan dengan lancar!" teriak Natasha yang bersikeras.
"Jaga kata-katamu! Dan aku bukanlah orang yang serendah itu! Aku tidak sudi membunuh bayi yang tak tahu apa-apa demi membuat ibu sepertimu menyesal!"
"Tunggu sebentar!" sahut Daniel.
"Kalau aku ingat-ingat ... aku sepertinya tak pernah melihatmu berlari keluar dari gedung saat kebakaran. Terlebih lagi, pakaianmu juga tampak tidak berantakan selayaknya seseorang yang habis berlari karena panik. Lalu tiba-tiba saja kau muncul dari belakang kerumunan orang-orang yang selamat. Sebenarnya sebelum kebakaran terjadi ada di mana kau, kakak ipar?" tanya Daniel dengan tatapan curiga.
"Aku memang sudah ada di luar, aku cari angin setelah berdebat dengan Natasha!" jawab Nisa dengan nada ketus.
"Katakan di mana tempatnya!"
"Masih di sekitar area gedung!"
Mendadak salah satu polisi mendekat ke arah Nisa. Dia kemudian berkata, "Tolong beritahu ada di mana, kapan, dan apa yang sedang kau lakukan pada saat itu!"
Sejenak Nisa terdiam dan memandang Keyran, namun setelahnya dia memalingkan pandangannya ke arah lain. "Aku tidak bisa mengatakannya."
Jika aku bilang di depan Keyran, aku takut dia akan marah.
"Alasannya?" Polisi itu semakin curiga.
"Aku punya alasan tersendiri," jawab Nisa yang berbalik menatap tajam kepada polisi itu.
"Tahan dia!!"
"Baik!"
Kedua polisi lainnya langsung mendekat dan menahan Nisa, bahkan juga memasangkan borgol secara paksa.
"Apa-apaan ini?! Kenapa pakai borgol segala?!" tanya Nisa seakan tidak terima.
"Diamlah Nyonya! Ini supaya kau tidak memberontak ataupun melakukan kekerasan lagi! Aku tahu kalau kau sudah memukul salah satu petugas pemadam kebakaran sampai hidungnya patah!"
"Lepaskan istriku! Aku yakin kalau ini ada kesalahpahaman! Dia tidak bersalah!" teriak Keyran yang juga tidak terima saat melihat Nisa diborgol.
"Tapi dia terlihat mencurigakan. Sudah jadi kewajiban bagi kami untuk mengamankan tersangka!" Polisi itu lalu beralih menatap Nisa. "Cepat bawa dia ke mobil! Kita lanjutkan semuanya di kantor polisi!"
"Baik!"
Nisa langsung digiring untuk menuju ke mobil, dia sama sekali tidak ada niatan untuk melawan. Sedangkan Keyran, dia berusaha untuk menghalangi polisi itu membawa istrinya. Namun dia gagal.
"Nisa, dengarkan aku! Kau tenang saja, aku pasti akan mencari pengacara terbaik untukmu!"
Nisa mendadak berhenti melangkah, polisi yang menyadari itu langsung mendorongnya agar dia mau berjalan. Namun Nisa malah meringis sambil menoleh ke belakang.
"Maaf, darling ... aku minta maaf karena malam ini kau harus tidur sendiri. Tapi aku janji hanya untuk malam ini!"
"Cepat jalan!" bentak polisi itu.
Nisa telah masuk ke dalam mobil yang segera menuju ke kantor polisi. Di sisi lain tatapan Keyran berubah saat melihat bagaikan belakang mobil polisi itu yang semakin menjauh.
"Nisa ...." gumamnya.
Kenapa kau begitu? Kenapa kau menganggap remeh hal ini? Jika kau terbukti bersalah maka kau harus bertanggung jawab atas semua korban yang tewas. Terlebih lagi Daniel, aku yakin dia akan berusaha membuatmu dijatuhi hukuman paling berat.
Aku tahu kalau kau punya latar belakang yang tidak biasa. Tapi di saat seperti ini kau masih bisa tersenyum, bahkan aku tak melihat sedikit pun ketakutan di matamu. Aku tak tahu sampai batas mana kemampuanmu yang gila itu.