
"Hahh ..." Bibi Rinn menghela napas dan berekspresi lesu saat menatap meja makan yang semua hidangannya sama sekali tidak tersentuh.
Nyonya sebenarnya dari tadi sedang apa? Tadi katanya mau memanggil Tuan untuk makan malam, tapi sekarang sudah 1 jam lebih.
"Makanan juga sudah jadi dingin, apa sebaiknya aku bereskan saja sekarang?" gumamnya dengan tatapan tidak rela. Dirinya tidak rela jika makanan yang susah payah dia buat tapi sekarang menjadi dingin begitu saja.
Bibi Rinn yang masih menyayangkan makanan yang tak tersentuh itu dengan berat hati memutuskan untuk membereskan meja makan. Namun baru menyentuh sebuah piring saja tiba-tiba datanglah Nisa bersama dengan Keyran.
"Jangan dibereskan dulu, aku masih mau makan!" ucap Nisa yang buru-buru mendekati meja makan.
"Maaf, saya pikir Tuan dan Nyonya tidak makan malam." Bibi Rinn kemudian melihat rambut Nisa yang masih basah, saat berganti melihat Keyran dia juga melihat tanda merah yang berada di lehernya.
"Ah, saya paham. Selamat mengisi ulang tenaga yang terbuang~" Bibi Rinn tersenyum kecil dan langsung pergi meninggalkan ruang makan.
"Bibi Rinn peka sekali," gumam Nisa.
"Mungkin dia melihat bekas kekejaman yang kau tinggalkan." ucap Keyran dengan senyum nakal sambil memamerkan bekas kecupan di lehernya.
"Kekejaman apanya? Tapi kau suka, kan?"
"Haha, sudahlah. Ayo makan!"
Mereka berdua pun duduk dan mulai menyantap hidangan makan malam mereka yang telah dingin itu. Di tengah-tengah makan malam itu tiba-tiba Nisa teringat sesuatu dan berhenti makan untuk sejenak.
"Key, aku ingin memberitahumu sesuatu."
"Hm?" Keyran masih mengunyah namun memperhatikan.
Nisa lalu mengambil napas panjang dan berkata, "Aku mau mendaftar untuk mengikuti Event Dessert Week! Event itu akan berlangsung dalam 3 hari lagi, saat itu aku akan sangat sibuk dan tak punya waktu untukmu. Jadi ... bolehkah aku ikut?"
"Boleh." jawab Keyran secara spontan.
"Sungguh?" tanya Nisa yang ingin memastikannya sekali lagi.
"Iya, boleh."
"Terima kasih, darling!" Nisa tersenyum semringah lalu memberikan sebuah kecupan di pipi Keyran.
"Apa pun untuk istriku." ucap Keyran dengan senyum elegan. (jadi penurut setelah dapat jatah :v)
"Jika tidak ada perubahan, tempat berlangsungnya event itu adalah di Galaxy Square Hall. Kita dulu menikah di gedung aula itu, dan gedung itu juga aset milikmu, kan?"
"Iya, sungguh tempat yang penuh kenangan!"
"Haha iya kau benar ..." Nisa tersenyum canggung.
Kenangan apanya? Aku dulu bahkan sangat membenci tempat itu dan berniat kabur dari pernikahan.
"Aku memang menyewakan gedung itu, karena kau akan ikut serta dalam event yang akan diadakan di sana, nanti akan aku beritahukan ke penanggung jawab yang mengurus gedung itu agar mempersiapkan semuanya dengan baik."
"Baiklah, karena kau sudah tahu ... apa nanti kau akan datang?"
"Akan aku usahakan, semoga saja jadwalku saat itu tidak sesibuk biasanya."
"Hehe, datanglah dan aku akan memberikan kejutan untukmu!"
"Benarkah? Aku jadi tidak sabar." Keyran lalu mencubit pipi Nisa yang terlihat sangat menggemaskan baginya. "Sudah bicaranya, cepat habiskan makananmu!"
...3 hari kemudian, Galaxy Square Hall...
...•••••• ...
Di aula serbaguna yang disewakan oleh Keyran itu sekarang sedang berlangsung sebuah Event Dessert Week, dan istri tercintanya menjadi salah satu peserta yang ikut berpartisipasi.
Event Dessert Week ini bukan yang pertama kali, tapi tahun ini lebih meriah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini terdapat 70 toko kue dan restoran yang ikut berpartisipasi, dengan lebih dari 100 varian menu pastry yang siap untuk dinikmati.
Event ini juga menjadi festival kuliner yang paling ditunggu-tunggu bagi para penggemar makanan manis. Terlebih lagi dengan konsep yang lebih segar yaitu seni, di mana chef dan seniman di dapur menghias kue-kue dengan cantik di depan pengunjung secara langsung.
70 toko dan peserta tentunya telah melalui proses seleksi yang dilakukan oleh para pendiri event. Ada banyak kategori dessert yang ditampilkan di event ini, para peserta ditantang memenuhi dessert mulai dari kategori cake, pudding, cookies, es krim, gelato, camilan sehat, minuman berupa teh buah dan masih banyak lagi.
Semua peserta yang ikut juga mendapatkan sertifikat, namun sertifikat khusus untuk pemenang event tentunya lebih istimewa lagi. Di event ini Nisa tidak sendiri, dia bekerja sama dengan teman kursusnya yang tidak lain adalah Lucas, tentu saja hal ini tidak diketahui oleh Keyran.
Tempat milik Nisa dan Lucas sejak tadi telah ramai dikunjungi oleh orang-orang yang tertarik pada menu pastry yang mereka sediakan. Mereka berdua kompak mengenakan seragam ala koki dan melayani pengunjung dengan ramah. Apalagi Lucas memiliki daya tarik tersendiri, itulah mengapa pengunjung yang datang lebih dominan perempuan. Lucas sibuk melayani, sedangkan Nisa tampak sibuk menghias cupcake dengan butter cream yang berwarna-warni.
Di tengah kesibukan yang semakin berkurang tiba-tiba saja Lucas berkata, "Nisa, apa suamimu jadi datang?"
"Entah, dia bilang akan berusaha datang. Tapi jika dia tidak datang, aku mengerti kalau dia sibuk." jawab Nisa dengan senyuman.
"Tapi ... dengan begitu bukannya kejutan yang kamu siapkan untuknya jadi sia-sia?"
"Haha, itu cuma sebuah cake. Aku bisa membuatnya lagi di lain waktu."
"..." Lucas membisu, dia menatap Nisa dengan tatapan mata yang sayu sambil tersenyum pahit.
"Hei-hei, jangan menatapku begitu! Aku bukan istri yang teraniaya, oke. Jadi jangan kasihan padaku!"
Pelanggan terakhir pergi, Lucas pun kembali berkata dengan suara pelan, "Ngomong-ngomong ... kenapa kamu bisa menikah?"
"Ah, panjang kalau diceritakan. Intinya aku dijodohkan. Tapi kenapa tumben pertanyaanmu begitu?"
"B-bukan apa-apa! Hanya saja ... kamu itu masih muda, kalau aku perhatikan kamu itu punya gaya wanita modern, kamu punya ambisi dan punya mimpi. Bahkan kamu juga bilang kalau kamu ingin membuka usaha toko roti sendiri. Aku cuma heran saja kalau kamu mau menikah di usia muda dan membuang masa mudamu seperti ini. Aku saja yang lebih tua 5 tahun dibanding kamu masih jomblo."
"Pffttt ... pemikiran itu tidak sepenuhnya salah. Menikah muda sebenarnya juga bukan pilihanku, sebelumnya aku memang beranggapan kalau masa mudaku akan terbuang. Tapi lihatlah sekarang, aku beruntung karena mendapatkan pasangan yang selalu mendukungku. Aku boleh melakukan hal yang aku sukai. Yahh ... meskipun tak sebebas dulu, tetapi suamiku tak pernah memberikan aturan yang melewati batas." Nisa lalu berucap pelan, "Meskipun terkadang dia posesif."
Bahkan sebenarnya masa mudaku memang sudah lama hilang, sejak diberi tanggung jawab sebagai penerus aku dipaksa jadi dewasa lebih cepat. Aku sadar kalau aku memang tidak tumbuh dengan normal seperti orang lain kebanyakan. Tapi setidaknya, dengan melakukan hal-hal seperti ini, seperti membuat kue dan berteman dengan orang lain, setidaknya aku dapat berbaur dan merasakan apa itu kesenangan yang normal.
"Wah ... pasti berat melalui semua ini." ucap Lucas.
"Aku tidak dengar ..." ucap Lucas sambil menutup kedua telinganya dengan tangan.
"Kenapa? Kesal, ya? Kalau begitu cepat cari istri juga dong~"
Di saat Nisa tengah asyik menggoda Lucas tiba-tiba datanglah lagi pengunjung, pengunjung kali ini berpakaian formal rapi dan ditemani oleh seorang ajudan pribadi. Saat menyadari kehadirannya yang tiba-tiba, Nisa hanya bisa ternganga.
"A-ayah mertua ...?!!" seketika Nisa menjadi gugup, dia kemudian menunduk melihat apron miliknya yang telah kotor karena bermacam-macam noda cream roti itu. Dia gugup karena ayah mertuanya melihat penampilannya yang berantakan.
"Kau mengikuti event ini?" tanya Tuan Muchtar dengan ekspresi dingin.
"Iya, apa ayah mertua mau kue? A-aku akan siapkan brownies yang rendah gula."
"Tidak, terima kasih. Bisakah kita bicara secara pribadi? Aku ada hal penting untuk dikatakan padamu."
"Baik ..." jawab Nisa sambil mengangguk. Sebelum pergi Nisa tak lupa meminta maaf kepada Lucas karena membuatnya menjaga tempat seorang diri.
Di sebuah private room Nisa duduk berhadapan dengan ayah mertuanya, pelayan datang dan menyajikan minuman berupa teh, suasana kembali canggung dan hening saat pelayan itu pergi.
Tuan Muchtar masih tak berkata sepatah kata pun, Nisa yang menyadari hal itu langsung tertunduk dan berkata, "Maaf ... Aku lalai dalam menjaga citraku sebagai menantu. Acara kecil seperti ini memang tak pantas jika itu memandang status ayah mertua. Maaf membuat ayah mertua menanggung malu. Aku janji setelah ini akan langsung pulang."
"Apa suamimu tahu?"
"Iya, aku sudah meminta izin kepadanya. Aku yang membujuknya, ini salahku."
"Hahh ... sepertinya Keyran sangat memanjakanmu."
"..." Nisa membisu, dia menatap lutut dan mengepalkan tangan sekuat mungkin.
"Suamimu sangat memanjakanmu, tapi itu membuatku tidak bisa memanjakanmu sebagai menantuku juga."
"Eh?!" seketika Nisa mendongak. "Ayah mertua tidak marah?"
"Untuk apa aku marah? Lagi pula suamimu sudah memberikanmu izin. Terlebih lagi tujuanku datang ke sini bukan untuk memarahimu ataupun mengkritik apa yang kau lakukan. Aku ke sini karena untuk meminta maaf."
"Minta maaf untuk apa?" tanya Nisa kebingungan.
"Untuk sikapku yang sebelumnya selalu memaksamu untuk segera membuatkan cucu. Keguguran yang kau alami telah menyadarkanku, sikapku salah karena terlalu menuntut. Mungkin memang terlambat jika meminta maaf sekarang, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?"
"Ayah mertua tak perlu meminta maaf, lagi pula tidak ada salahnya juga jika ayah mengharapkan cucu dariku. Yang gagal adalah aku, bahkan untuk berhadapan seperti ini saja butuh keberanian yang besar untukku. Jadi, ayah mertua jangan menyalahkan diri." ucap Nisa dengan senyuman.
"Tetap saja menaruh harapan besar sampai membuatmu terbebani adalah salah. Kau bahkan sampai jatuh ke dalam fase depresi. Harusnya masalah tentang anak itu menjadi urusan kalian secara pribadi, bahkan sebenarnya aku tak berhak ikut campur. Lihat saja sekarang, saat ini saja kau menjadi sungkan untuk bicara denganku. Kau mau memaafkan orang tua ini, kan?"
"A-ayah mertua ... sudah kubilang ini bukan salahmu. Aku sangat berterima kasih karena ayah mertua sama sekali tidak menyalahkanku dan memberiku pengertian. Aku sungguh berterima kasih telah menerima menantu yang banyak kurang nya seperti aku."
"Kalau kau memang bersungguh-sungguh ... maka sekali-kali datanglah berkunjung ke kediaman utama. Ajak Keyran bersamamu agar kau merasa lebih nyaman. Kau bisa datang kapan pun, aku akan selalu siap menyambutmu. Nanti jika kau berkunjung, aku akan berikan wine tahun 1984 sebagai hadiah untuk menunjukkan kelulusanku."
"Ehmm ... baik, nanti akan aku sampaikan pada Keyran. Ngomong-ngomong ... apakah ayah mertua masih lama di sini?"
"Tidak, mendapatkan maaf darimu sudah cukup untukku. Aku akan segera pergi."
"Sebelum pergi, tidakkah ayah mertua mau mencicipi kue buatanku terlebih dulu? Kalau ayah mau, aku bisa bungkuskan beberapa untuk dibawa pulang. Ibu mertua juga bisa merasakan kue buatanku."
"Baiklah, bungkuskan secukupnya saja."
Kedatangan ayah mertua secara mendadak memang di luar dugaan dari Nisa. Namun dia senang karena bukan sesuatu yang buruk yang terjadi. Dia pun memilah kue-kue buatannya yang terbaik untuk diberikan kepada ayah mertuanya sebagai oleh-oleh.
Acara event itu kembali berlangsung seperti seharusnya, Nisa kembali ke tempatnya dan membantu Lucas hingga kue dessert yang mereka buat tinggal tersisa sedikit. Terukir senyuman bahagia di wajah mereka karena banyak pengunjung yang menyukai kue buatanku mereka.
Di tengah-tengah kebahagiaan itu tiba-tiba Lucas meminta izin kepada Nisa untuk menepi sebentar karena ingin menerima panggilan telepon.
"Nisa, aku tinggal sebentar, ya?"
"Baiklah."
Lucas pun segera menepi, namun dia tidak berbincang lama di telepon. Dia segera kembali dan ekspresinya tampak campur aduk, ada kepanikan sekaligus kesedihan yang tergambar di sana.
"Ada apa?" tanya Nisa penasaran.
"Maaf Nisa, sepertinya aku tidak bisa mengikuti acara ini sampai akhir." jawab Lucas dengan nada putus asa.
"Tapi kenapa? Tinggal sebentar lagi acara ini selesai."
"Kamu ingat kan kalau aku pernah cerita bahwa aku hanya tinggal punya seorang kakak dan ayah?"
Nisa mengangguk. "Bukannya katamu mereka ada di Amerika?"
"Iya, dan aku baru saja dapat kabar dari kakakku, ayahku kecelakaan dan sekarang dalam kondisi kritis."
"A-apa?!" Nisa terkesiap.
"Aku harus segera ke sana sekarang, aku tak tahu kapan aku akan kembali ke sini. Tentu saja aku juga tidak akan mengikuti kursus lagi, aku akan merindukan teman-teman yang lain. Aku mohon agar nanti kamu bisa menjelaskan ini pada mereka."
"I-iya, terima kasih atas bantuanmu selama ini, Lucas. Semoga ayahmu baik-baik saja." ucap Nisa dengan nada khawatir.
Lucas kemudian melepaskan apron dan topi koki yang dia kenakan. Dia berdiri dan menatap Nisa dengan tatapan tidak rela. "Aku akan merindukanmu Nisa, sampai jumpa entah kapan."
Sejenak Nisa termenung, mendadak dia merentangkan kedua tangan. Lucas yang mengerti langsung memeluk Nisa dengan erat, sedangkan Nisa sendiri juga memeluk Lucas dan menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan. Berharap agar Lucas tak terlalu panik dan jadi lebih tenang.
"Tak apa, berangkatlah ... Aku yakin ayahmu akan baik-baik saja ..."
"I-iya ..." ucap Lucas dengan nada gemetar.
"Ehem! Jadi ini kejutan yang kau maksud!!"
"K-Key!??" seketika Nisa menoleh ke arah orang yang barusan bicara barusan. Dia melihat seseorang yang tidak lain adalah suaminya sendiri yang saat ini raut mukanya tampak sangat marah.