Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Bazar


"M-mmm ...." Nisa perlahan membuka mata. Dia melonggarkan rangkulan tangannya dan pelan-pelan melepaskan tautan bibirnya.


Seketika Keyran juga membuka mata dan tersenyum lembut. Dia membelai wajah Nisa serta menatapnya dengan tatapan yang penuh kasih.


Wajah Nisa memerah, dia lalu menunduk menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu. "Sudah ya, nanti aku cegukan lagi ..." ucap Nisa dengan suara lirih.


Cup~


Keyran mencium kening Nisa dan setelah itu mengusap kepalanya. Dia tersenyum sambil berkata, "Baiklah, aku akan menunggu sebentar lagi. Tapi," Keyran lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik, "Kalau sudah siap langsung bilang saja, aku selalu menantikannya~"


"O-oke ..." Nisa lalu turun dari pangkuan Keyran. Namun setelah itu gerak geriknya masih terlihat canggung. "Anu ... tadi kau bilang kau lelah, jadi apakah kau butuh bantuan?"


"Tumben sekali, memangnya tugas kuliahmu sendiri sudah selesai?"


"Sudah kok, sebelumnya kau juga sering membantuku, sekarang giliranku untuk membantumu. Itu sih kalau kau setuju."


"Baiklah, toh kau sendiri juga mantan sekretarisku, harusnya aku tidak perlu menjelaskan lagi bagaimana caranya. Tapi nanti kau jangan sampai ceroboh, soalnya semua berkas-berkas ini penting!"


"Siap pak, percayakan pada saya! Saya pasti bisa membuat para dewan direksi puas." ucap Nisa dengan tangan yang memberi hormat.


"Haha ... mohon bantuannya yaa istriku."


***


Keesokan harinya. Sekitar pukul jam empat sore Nisa telah pulang dari kuliahnya. Tapi saat memasuki kamar, dia tampak sangat kesal dan melempar tas ranselnya begitu saja ke atas ranjang. Bahkan dia juga menjatuhkan tubuhnya secara tengkurap di atas ranjang dengan terburu-buru.


"Sebal! Sebal! Sebal!!" teriak Nisa sambil memukul-mukul kasur.


"Huh! Aku nggak mau batal ..." Nisa mendengus kesal dan berhenti memukul-mukul kasur.


Kenapa sih nasibku begini? Aku kan cuma ingin pergi ke bazar. Padahal aku sudah menyiapkan rencana, tapi ternyata temanku semuanya sibuk sendiri. Isma katanya meriang, kalau Jenny sudah ada janji mau pergi bareng Aslan.


Emang enak ya kalau punya pacar, Jenny nggak keberatan kalau aku bareng dia, tapi nantinya aku jadi nyamuk. Kalau aku berangkat sendiri, nanti pasti bakal plonga-plongo nggak jelas.


"Huuaaa ... pengen punya pacar!! Tapi ... aku kan sudah punya suami, dan Keyran itu sangat sibuk, kemarin dia bilang hari ini harus lembur. Ini gara-gara posisinya sebagai CEO. Mungkin aku adalah istri pertama di dunia yang berharap suaminya adalah pengangguran."


Nisa lalu mengambil ponselnya dan langsung melihat siapa saja yang bisa dia hubungi. "Hemm ..." gumam Nisa sambil mengerutkan dahi.


Pokoknya aku harus mengajak orang lain! Tapi siapa yang bisa aku ajak? Mungkin aku ajak adikku saja, kalau Dimas sih nggak mungkin mau, dia itu benci keramaian. Kalau Reihan ... dia pasti mau, tapi nanti pastinya bakalan pisah, dia itu hobinya cari cewek. Dua-duanya nggak bisa diharapkan.


Eh!? Ini ... Jerapah Itali. Mungkin saja aku bisa mengajak Jonathan, tapi dianya mau apa nggak ya? Aku nggak enak kalau dia merasa terganggu. Tapi dia pernah bilang kalau aku bebas untuk mencarinya kapan saja. Uuhh ... aku ragu.


Buzz Buzz ...


"Hah!?"


Ternyata Jonathan duluan yang meneleponku, hehe .. Tuhan pasti membantuku. Sebaiknya cepat angkat saja.


"Hallo ... Joe, ada apa meneleponku?"


"Apa hari ini kamu sibuk?" ucap Jonathan yang terdengar dengan nada ragu.


"Aku selalu sibuk, sibuk nggak ngapa-ngapain. Memangnya ada apa?"


"Malam ini ... jam 7, maukah kamu pergi ke bazar bersamaku?"


"Oke, dengan senang hati! Nanti kita ketemuan di sana saja. Kamu jangan repot-repot menjemputku."


"Kenapa percaya diri sekali kalau aku mau menjemputmu?"


"Hei hei, jika kamu seperti ini ... aku batalkan loh!"


"Haha ... baik-baik, cuma bercanda. Sampai ketemu nanti!"


"Iya, sampai ketemu."


Tut tut ...


Nisa langsung meletakkan ponselnya setelah menutup panggilan telepon dari Jonathan. Dia juga terlihat bersemangat dan tersenyum semringah. "Yes! Yes! Yes! Pasti nanti bakal seru! Tapi ..."


Jonathan itu orangnya modis, nanti aku harus dandan supaya nggak kebanting. Ternyata perkataan Jonathan benar, dia telah membuktikan kalau dialah yang terlebih dulu mencariku jika aku membutuhkannya. Orang seperti ini aku harus mempertahankannya, sebisa mungkin jangan sampai membuatnya kecewa.


"Jonathan adalah temanku yang berharga."


...Pukul 19:00, bazar di pusat kota...


...•••••• ...


Nisa telah berdandan dengan begitu cantik. Dia memakai setelan celana jeans dan atasan cardigan berwarna abu-abu. Dia menggerai rambutnya dan menggunakan bando berpita yang terlihat sangat manis. Dia juga membawa tas kecil yang digendong di punggungnya.


Saat Nisa sampai di gerbang masuk bazar, dia melihat Jonathan yang telah menunggunya. Jonathan juga tampak sangat menarik perhatian, banyak gadis-gadis yang sempat melirik ke arahnya.


Begitu menyadari Nisa telah sampai, Jonathan langsung melambai kepadanya. Nisa pun segera menghampiri Jonathan dan langsung menarik tangannya untuk segera pergi masuk.


"Ayo Joe, kita nikmati bazar ini! Banyak camilan yang sudah menanti untuk dibeli!!"


"Oke-oke ... kamu semangat sekali. Ayo beli sepuasnya!"


Acara bazar lebih ramai dibandingkan dengan dua hari sebelumnya. Semua orang sangat menanti-nanti puncak acara yang ditandai dengan pertunjukan kembang api. Suasana semakin indah karena dihiasi oleh lampu kelap-kelip yang berwarna-warni.


Makanan yang disajikan dalam bazar juga beraneka ragam, terutama makanan yang digemari oleh anak muda. Misalnya sosis telur gulung, minuman boba, takoyaki, kebab, taiwan chicken street, pizza goreng, cilok, tahu bulat, churros, stik keju mozarella, dan masih banyak lagi.


Nisa dan Jonathan sangat bersenang-senang dalam bazar itu. Mereka mencoba semua yang menurutnya terkesan menarik. Namun, tanpa mereka sadari ternyata ada seseorang yang telah menguntit mereka dari kejauhan. Penguntit itu mengambil beberapa gambar kebersamaan Nisa dan Jonathan.


Setelah dirasa cukup dengan mengambil beberapa gambar, penguntit itu pun langsung pergi meninggalkan acara bazar dan segera menyerahkan hasilnya kepada orang yang telah menyuruhnya.


...Pukul 19:45, kantor HW Group...


...•••••• ...


Keyran tengah sibuk mengerjakan dokumen-dokumen penting. Di dalam ruangannya hanya terdapat dirinya sendiri yang ditemani oleh secangkir kopi. Suara yang terdengar hanyalah suara ketikan dari keyboard laptop.


Tanpa disangka-sangka di tengah kesunyian itu tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


Tok tok tok ...


"Siapa?" tanya Keyran yang masih sibuk mengetik. Namun beberapa saat kemudian masih tidak ada jawaban dari orang yang mengetuk pintu.


Tok tok tok ...


"Tsk! Siapa!? Cepat masuk!!" teriak Keyran dengan tidak sabar.


"Apa ini?" tanya Keyran seakan tidak tertarik.


"Bukalah, itu kejutan untukmu." jawab Amanda sambil tersenyum.


Keyran membuka amplop itu dengan tergesa-gesa. Dan saat dia membukanya, dia menemukan beberapa lembar foto. Ketika melihat foto-foto itu Keyran sangat terkejut, namun dia tidak berkata apa pun.


"...." Keyran menggenggam foto-foto itu hingga kertasnya menjadi sedikit kusut.


"Key ... lihatlah kelakuan istrimu, istri pilihan ayahmu. Dia sama sekali tidak punya etika, dia berani berkencan dengan pria lain di belakangmu. Istri seburuk itu sebaiknya dibuang ke laut saja~"


"Manda, apa kau mengenal pria ini?"


Gambar ini diambil dari belakang, tapi aku bisa memastikan kalau perempuan ini adalah Nisa. Tapi pria ini ... dia terkesan sedikit tidak asing.


"Tidak, aku tidak tahu siapa namanya. Tapi aku tahu statusnya, statusnya adalah selingkuhan istrimu. Coba perhatikan kedekatan mereka, mereka terus bergandengan tangan. Istrimu itu kurang ajar, dia sama sekali tidak menghargaimu. Padahal kamu bekerja begitu keras sampai lembur, tapi istrimu malah bersenang-senang dengan pria lain."


"Manda."


"Yaa?"


"Kenapa masih di sini? Cepat pergi sana!"


"A-apa!? Kenapa kamu tidak marah? Padahal istrimu dekat dengan pria lain."


Ini berbeda dengan tujuanku, aku berhasil menangkap kebusukan gadis kampungan itu. Seharusnya Keyran marah kepadanya, dan aku harap Keyran akan menceraikan dia.


"Istriku memang menarik, wajar saja jika banyak yang tertarik kepadanya. Memangnya apa urusanmu?"


"Key, aku berhasil membuktikan kalau istrimu adalah wanita jal*ng! Kenapa kamu malah bersikap biasa saja?"


"Tutup mulutmu! Kau yang jal*ng! Cepat pergi sana! Apa kau mau aku panggilkan staf keamanan untuk menyeretmu pergi!?"


"K-kamu!!" Raut wajah Amanda langsung berubah masam. "Humph! Baiklah, aku pergi! Kamu pasti akan menyesal karena telah mengabaikan aku!" Amanda langsung pergi meninggalkan ruangan Keyran dengan langkah kesal.


Setelah Amanda pergi, Keyran masih diam saja dan terus menatap foto-foto itu.


"Nisa ... Nisa ... kau pandai sekali mengarang nama, Jenny ternyata adalah nama bagi seorang pria. Sungguh ... aku kehabisan kata-kata untukmu." ucap Keyran penuh kekesalan.


Padahal belum ada 24 jam setelah aku menyatakan perasaanku. Tapi kau bisa-bisanya berkencan dengan pria lain. Tentu saja aku tidak bisa terima semua ini.


Keyran lalu mengambil sesuatu dari laci mejanya. Dia kemudian menyeringai sambil memandangi benda tersebut. "Ini cukup, sebuah pistol berisi 6 peluru sudah cukup untuk berjaga-jaga. Nisa ... tunggulah aku, suamimu ini akan menemanimu bersenang-senang di bazar. Ini sesuai dengan permintaanmu."


...Pada saat yang sama, bazar...


...•••••• ...


Nisa dan Jonathan tengah sibuk menikmati camilan di sebuah stan sosis bakar. Keduanya juga tampak sangat bahagia saat bersenang-senang berdua.


"Huff ... panas ... panas!!" ucap Nisa sambil meniup sosis di depan mulutnya.


"Hei, bersabarlah. Tidak ada yang mau berebut denganmu." ucap Jonathan sambil tersenyum.


Ya ampun, Nisa terlihat manis sekali.


"Haha ... ini paling enak saat masih sedikit panas. Ngomong-ngomong ini jam berapa?"


"Emmm ..." Jonathan lalu melihat arloji di tangan kirinya. "Jam 7 lebih 45 menit."


"Hah!? Ternyata sebentar lagi." Nisa tiba-tiba meletakkan sosisnya kembali lalu menarik tangan Jonathan. "Ayo ikut aku! Aku ajak kamu ke tempat yang bagus!"


"O-oke ..." Jonathan pasrah saja mengikuti Nisa pergi.


Tempat yang dituju oleh Nisa adalah tempat yang lebih tinggi, dan tempat itu sangat sepi namun suasananya menenangkan.


"Nah, kita sudah sampai." Nisa langsung melepaskan tangannya dari Jonathan. "Melihat kembang api dari atas sini jauh lebih indah. Menurutmu juga begitu kan Joe?"


"Iya, jauh lebih indah."


"Nah, kalau begitu sekarang waktunya hitung mundur! Ayo hitung bersamaku, mulai dari 10!"


"Baik," Jonathan lalu ikut Nisa menghadap ke arah kembang api akan ditembakkan.


[10]


[9]


[8]


[7]


[6]


[5]


[4]


[3]


[2]


[1]


DUARR! DUAR! DUAAR!


Kembang api meletus dan terlihat sangat indah di langit malam. Dan pandangan mata Nisa hanya tertuju ke langit, dia tersenyum bahagia sekaligus kagum dengan letusan kembang api yang begitu berwarna-warni.


Sedangkan Jonathan, dia terus memandang Nisa. Tapi meskipun begitu, dia juga menampakkan senyum bahagia.


Ternyata kebahagiaanmu begitu sederhana. Kamu adalah orang yang terkesan rumit namun sebenarnya sederhana.


Ketika pertunjukan kembang api sudah selesai, Jonathan lalu berjalan lebih dekat ke arah Nisa dan berdiri tepat di sebelahnya.


"Nisa, lihat ke arahku."


Secara refleks Nisa langsung menengok. "Ya, ada ap ... wuupp ...!?"


Nisa mematung dan sangat terkejut ketika menyadari bahwa Jonathan tiba-tiba menciumnya. Ketika Jonathan melepas ciumannya, Nisa masih terdiam dan tak berkedip maupun berkata apa-apa.


"Nisa, aku sangat menyukaimu. Jadilah pacarku!"