Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Akan Aku Akhiri Semuanya Sekarang!


Nisa memalingkan wajahnya. "A-aku ... tidak bisa ikut bersamamu, Joe. Aku hargai tawaranmu, tapi maaf ... aku tidak bisa menerimanya."


"Kenapa? Apa kau masih betah berada di tempat yang sama sekali tidak ada yang menghargaimu?" tanya Jonathan dengan ekspresi sedikit kecewa. 


"Masih ada rekan-rekanku, mereka sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri. Kau salah besar jika mengira tak ada satu pun yang menghargai aku lagi. Aku punya tanggung jawab di sini, aku tak bisa mengabaikannya begitu saja dan pergi bersamamu ke Italia."


"..." Jonathan membisu, kemudian dia tiba-tiba berkata, "Apa sungguh hanya itu alasanmu? Jika iya maka kau tinggal bicarakan dengan mereka saja, katakan identitasku pada mereka yang mempunyai pengaruh besar di Italia. Mereka pasti mengerti apa untungnya jika kau punya hubungan denganku."


"Tapi ... letak geografis juga perlu dipertimbangkan, negara ini di Asia, sedangkan Italia ada di Eropa. Aku belum siap jika harus memulai kerja sama lintas benua ... Aku masih belum cukup mampu," jawab Nisa tanpa menatap ke arah Jonathan.


"Hei, kau jangan merendahkan dirimu sendiri. Aku percaya jika kau mampu, kau bisa mencobanya dulu! Jika kau masih tidak yakin setelah mencobanya, kau boleh berhenti."


"Tapi Jonathan ... bagaimana jika di awal aku sudah melakukan kesalahan?"


"Kau terlalu banyak tapi, Nisa! Kenapa kau selalu mencari-cari alasan?" tanya Jonathan dengan tidak sabar.


Sejenak Nisa terdiam, lalu dengan ekspresi murung dia berkata, "Kau egois, Joe ..."


"Egois dari mana? Aku melakukan ini juga demi kau, bukan semata-mata karena aku sendiri!"


"Tapi kau seakan-akan memaksaku untuk membuat pilihan, sedangkan aku tak mau memberi harapan kosong kepadamu. Tolong jangan buat situasiku jadi semakin sulit, sekarang yang aku butuhkan cuma waktu untuk berpikir tentang bagaimana aku nanti."


"Lagi-lagi aku dihadapkan dengan situasi menyebalkan ini. Meskipun aku ini orang yang buruk, tapi aku juga punya hati. Aku juga bisa merasa muak karena dipermainkan! Pertama Ricky, lalu Keyran, sekarang kau. Aku ini bukan barang yang bisa kalian oper seenaknya!"


Jonathan tertegun, dia mencoba meraih tangan Nisa tetapi Nisa sengaja menghindarinya. "Nisa ... dengarkan aku, mereka berdua mungkin mengecewakanmu, tapi aku tidak akan pernah melakukan itu."


Nisa tak berkata sepatah kata pun, Jonathan lalu kembali berucap, "Apa kau masih berharap jika hubunganmu dengan Keyran akan kembali seperti semula?"


"..."


"Nisa, berhentilah bersikap seperti orang bo-"


TOK TOK TOK!


Perkataan Jonathan terhenti karena suara ketukan pintu. Nisa lalu berkata, "Siapa?"


"Ini aku," jawab seseorang yang berada di balik pintu. Suara orang itu sangat akrab di telinga Nisa.


"Ah, paman Morgan! Sebentar paman!"


Nisa langsung beranjak meninggalkan balkon untuk membuka pintu itu, di sisi lain Jonathan yang penasaran juga mengikuti Nisa. Saat pintu itu dibuka, Jonathan terkejut saat melihat sosok pria paruh baya yang berada di atas sebuah kursi roda elektrik.


Pria itu adalah Morgan, dia adalah seseorang yang tak kalah berpengaruh dari ayah Nisa yang merupakan generasi pertama. Morgan juga kaget karena di dalam kamar Nisa ada seorang pria asing yang baru pertama kali dia lihat.


"Wah ... apa paman mengganggumu? Kau sepertinya sedang bersenang-senang," ucap Morgan sambil menyeringai seolah sedang menyindir Nisa.


"Paman jangan berpikir yang macam-macam! Dia ini temanku, kami hanya minum bersama!" bantah Nisa.


"Oh, jadi kau memulainya dengan minum~"


"Paman ...! Kami berdua cuma minum, itu saja! Memangnya ada urusan apa Paman Morgan mencariku?"


"Oh itu, aku hanya ingin memberitahu jika kau kedatangan tamu spesial. Seorang malaikat datang untuk menyucikan ratu iblis. Itu saja yang mau paman sampaikan, paman pergi dulu." Morgan langsung pergi dengan kursi rodanya.


Sedangkan Jonathan yang masih sedikit kebingungan lalu berkata, "Apa dia paman yang tadi kau maksud? Saat kau bercerita tadi, dia terdengar hebat. Kenapa dia bisa memakai kursi roda?"


"Itu perbuatan ayahku, entah karena apa mereka berseteru lalu paman Morgan berakhir dengan mengalami cedera di kakinya. Sebenarnya sekarang dia masih bisa berjalan, hanya saja kemampuannya jadi berkurang, lagi pula dia bilang jika lebih nyaman pakai kursi roda."


"Oh begitu ... Lalu, yang dia maksud dengan tamu spesial itu siapa?"


Nisa menghela napas. "Dia adalah orang yang memberikan kesan baik tentang YOLO. Dia pasti sudah gila karena datang ke sini, aku harus segera menemuinya!"


Nisa langsung keluar dari kamar dan pergi menuju ke area kasino, tepatnya di area Golden Eyes yang merupakan kawasan pertama untuk menerima para pengunjung. Jonathan yang masih penasaran lalu memutuskan untuk mengikuti Nisa, meskipun dia sedikit berada di belakang untuk menjaga jarak dengannya.


Sesampainya di area Golden Eyes, Nisa melihat banyak pegawai kasino yang berbaris dan membungkukkan badan untuk menyambut dirinya. Di sisi ujung dari barisan para pegawai itu, Nisa melihat Ricky berdiri seorang diri dengan berani.


Nisa mengabaikan sambutan yang ditujukan untuknya, dia memilih untuk langsung menghampiri Ricky.


Ricky tersenyum tipis saat Nisa telah berdiri tepat di hadapannya. "Syukurlah jika kau baik-baik saja."


"Untuk apa kau ke sini?!" tanya Nisa dengan nada kasar.


"Aku cuma ingin melihat keadaanmu. Dan juga ... meminta satu hal darimu," jawab Ricky dengan ekspresi tenang.


"Apa yang mau kau minta hah?! Memangnya aku punya hutang apa padamu? Atau kau mau memintaku untuk berhenti lagi?! Jika memang benar itu, maka jawabanku tidak!"


"Oh, jadi ternyata dia," gumam Jonathan dari kejauhan yang kemudian mendekat dan berdiri di belakang Nisa.


"Kau ... di sini?! Sejak kapan?!" Ricky tak percaya jika Jonathan lebih dulu bertemu dengan Nisa dibanding dengannya.


"Heh, aku datang sejak kapan memangnya apa hubungannya denganmu? Apa kau merasa jika aku mencuri start?" Jonathan lalu bersedekap, sekarang dia merasa jauh lebih unggul dibanding dengan Ricky.


"Ck, abaikan dia! Aku tanya sekali lagi untuk apa kau ke sini?!" tanya Nisa dengan tidak sabar.


Ricky menghela napas, lalu menatap mata Nisa lekat-lekat. "Kembalilah Nisa, jika kau terus begini maka tak ada satu pun hal baik yang akan terjadi."


Nisa tersentak dengan permintaan Ricky, dan tiba-tiba saja dia menarik sebelah tangan Ricky. "Ikut aku!"


"Hei, apa kau akan membawanya ke kamar sama sepertiku tadi?" sahut Jonathan yang seketika membuat Ricky melotot karena salah paham.


"I-itu sungguhan?" tanya Ricky seakan tidak percaya.


"Diamlah dan ikut aku!" bentak Nisa sambil menyeret Ricky bersamanya.


"Tapi kau mau membawaku ke mana?" tanya Ricky.


"Keluar dari sini! Akan kubuat semuanya jadi jelas! Akan aku akhiri semuanya sekarang! Akulah orang yang dulu membawamu ke sini, sekarang aku juga yang akan menyeretmu keluar dari sini!"


Nisa menyeret Ricky keluar dari kasino itu dengan kasar. Sedangkan para pengawal yang bertugas menjaga pintu masuk, mereka segera menutup pintu agar tak ada seorang pun yang melihat Nisa dengan Ricky.


"Cepat pergi dari sini!" teriak Nisa pada Ricky.


"Tidak! Aku hanya akan pergi jika kau juga pergi dari tempat ini! Aku mohon kembalilah Nisa!"


"Kembali ke mana maksudmu hah?! Keluargaku tak peduli lagi padaku, orang yang selalu aku bantu dan aku anggap sebagai teman memilih memutus hubungan denganku! Bahkan suamiku sendiri yang merupakan orang terdekatku menginginkan aku enyah! Aku harus kembali ke mana?! Kembali jadi Nisa yang polos yang mencintaimu dan rela melakukan apa pun demi bisa bersamamu, itukah yang kau inginkan?!"


"..." Ricky membisu, dia tak tahu harus memberikan jawaban seperti apa untuk pertanyaan dari Nisa. Dia tak bisa membohongi hatinya yang masih menginginkan dan mencintai Nisa. Dia ingin sekali mengakui hal itu dengan mulutnya, tetapi dia terhalang oleh status yang mereka miliki sekarang.


"..." Ricky tetap membisu. Nisa lalu tersenyum pahit dan melepaskan cengkeraman tangannya dari tubuh Ricky.


"Sudah aku duga, kau tak bisa menjawab ... Memang di dunia ini hanya tempat ini yang bisa menerimaku sepenuhnya! Tempat ini satu-satunya tempat yang bisa aku sebut sebagai rumah! Tapi kau memintaku kembali, apa kau ingin aku kembali ke tempat yang bukan rumahku?!"


"Nisa ... percayalah padaku jika ini bukan rumahmu, ini hanya tempat kau singgah saat lelah!" teriak Ricky yang berusaha meyakinkan Nisa.


"Lalu di mana rumahku?! Jika ini bukan rumahku artinya aku tak punya rumah!"


"Rumah adalah tempat di mana kau bisa merasa nyaman, tapi di tempat ini kau hanya merasakan kesenangan sebagai pelarianmu!"


Sejenak Nisa tertegun, kemudian dia menundukkan kepalanya. "Kau cuma bicara omong kosong Ricky. Terserah jika kau mau jadi manusia yang berpandangan bijak, anggap saja saat ini kau sedang ceramah di depan patung. Percuma saja jika kau masih bersikeras, sebaiknya kau pergi."


"Tidak! Kau pikir jika kau pergi maka masalah akan selesai begitu saja? Kau harus menghadapinya, Nisa!"


"5 menit," ucap Nisa dengan suara pelan.


"Kau bilang apa?" tanya Ricky yang ingin memastikan sekali lagi.


"Batas waktumu 5 menit. Jika kau masih di sini sampai batas waktunya habis, aku tak akan menjamin keselamatanmu. Bahkan jika hal yang terburuk terjadi padamu, aku hanya akan berpura-pura tidak tahu."


"Nisa, apa kau pikir cara ini bisa mengusirku?!" tanya Ricky seakan tidak percaya.


Nisa mengangkat wajahnya, dia memperlihatkan ekspresi datar. "4 menit 38 detik, waktu terus berjalan."


Setelah mengatakan itu Nisa langsung berpaling meninggalkan Ricky seorang diri di luar kasino. Sedangkan Ricky, akhirnya dia sadar jika sudah tidak ada harapan lagi untuk Nisa kembali jadi sepeti apa yang dia inginkan. Akhirnya dia pergi dengan penuh kekecewaan.


Di sisi lain Nisa yang telah kembali masuk ke dalam kasino untuk sejenak dia berhenti melangkah. Dia melirik ke salah seorang penjaga dan berkata, "Ikuti dia, pastikan jika dia baik-baik saja sampai rumah."


"Baik!" jawabnya sambil membungkuk.


Nisa kembali melangkah, saat dia kembali ternyata dia melihat Jonathan yang masih menunggunya di tempat yang sama.


"Oh, jadi akhirnya dia berhasil kau usir?" tanya Jonathan.


"Begitulah ... Ngomong-ngomong, apa kau mau menemaniku minum?"


"Ya, apa kau tertarik jika kita bertanding siapa yang paling kuat minum?"


"Seperti itu juga boleh, lagi pula aku belum pernah kalah dari siapa pun!" ucap Nisa dengan senyuman antusias.


"Haha, aku jadi tertantang!"


Mereka berdua lalu beralih menuju ke area bar. Nisa meminta para pelayan agar membawa bir sebanyak mungkin ke meja mereka. Saat gelas-gelas kaca itu terisi penuh dengan bir, Nisa yang melihat itu untuk sesaat tersenyum pahit. "..."


Tak masalah jika yang Ricky bilang adalah benar. Tak masalah jika aku tak punya rumah. Tak masalah jika aku lari dari masalah. Sekarang yang aku inginkan hanya minum bir sebanyak-banyaknya agar aku bisa melupakan masalahku. Walaupun hanya untuk sesaat, semua minuman beralkohol ini akan jadi pelarianku.


"Hei, kenapa kau melamun?" tanya Jonathan sambil menepuk bahu Nisa.


"Eh?! B-bukan apa-apa! Kalau begitu ayo kita mulai!"


Jonathan tersenyum. "Baiklah! Aku tidak akan mengalah!"


Nisa meminum segelas bir pertama begitu saja selayaknya air putih, begitu juga dengan Jonathan. Mereka berdua langsung lanjut ke gelas kedua. Untuk gelas ketiga dan berikutnya tetap saja mereka berdua sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda mabuk.


Bahkan para pelayan di sana tak bisa menghitung dengan benar berapa jumlah gelas bir yang telah dihabiskan oleh mereka berdua. Bagi para pengunjung lain ini merupakan sebuah tontonan yang menarik. Namun, mereka semua tak tahu jika ini adalah pertarungan antara bos gangster lokal dan bos mafia Italia.


Jonathan terus menemani tiap teguk bir yang Nisa minum. Dia bersikap seolah-olah seimbang dengan Nisa. Hingga saat mereka mengambil gelas yang entah ke berapa, tiba-tiba saja Nisa jadi melambat.


Untuk pertama kalinya Nisa mengalami kekalahan dalam bertanding minum, saat ini dia sudah tak sadar apa pun. Dia menutup matanya dengan nyaman, bersandar pada sofa empuk yang sedang dia duduki.


"Cukup, kalian bereskan saja sisanya!" pinta Jonathan kepada pelayan.


"Baik Tuan," jawab pelayan itu sambil mengangguk.


Tiba-tiba seorang pria datang, dia adalah Casino Manager dari Grizz Glory Casino saat ini. Tanpa basa basi lagi dia langsung membopong Nisa yang tak sadarkan diri.


"Tunggu! Kau siapa?" tanya Jonathan sambil mencegah pria itu membawa Nisa pergi.


"Aku Marcell," jawabnya dengan ekspresi datar.


"Oh, aku tahu kau! Nisa pernah menyebutmu. Tapi, kau mau membanya ke mana?"


"Ke kamarnya, dia harus istirahat."


"Aku tahu kamarnya, VVIP nomor 11. Kau bisa percayakan Nisa padaku, jadi biarkan aku yang menggendongnya!"


Sejenak Marcell tertegun, dengan tatapan sinis kepada Jonathan lalu berkata, "Langit harus diperlakukan selayaknya langit. Jangan berpikir bisa memeluk langit."


"Langit?" tanya Jonathan dengan wajah bingung.


"Nisa adalah langitku. Jika langit menginginkan apa pun, maka aku harus memenuhinya. Langit selalu berada di atas segalanya, jadi jangan pernah merendahkan langit. Saat ini langitku sedang mendung, aku rela melakukan apa pun agar langitku bisa cerah kembali."


"..." Jonathan membisu, dia akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh Marcell.


Ah, sekarang aku paham. Orang ini rela mengorbankan segalanya demi Nisa, tapi dia menyebut Nisa sebagai langit. Bisa diartikan jika ini bukan rasa cinta, tapi pengabdian. Haha, Nisa memang luar biasa karena mempunyai orang seperti ini di sisinya.


"Baiklah, aku mengerti. Tapi apa salahnya mencoba? Mungkin saja akulah seseorang yang bisa membuat langitmu cerah kembali," ucap Jonathan dengan senyuman.


"Aku akan mencoba percaya padamu. Orang yang diperhatikan oleh langit tak pernah sembarangan."


Jonathan akhirnya merasa puas karena berhasil meyakinkan Marcell. Saat ini Nisa telah berada di dalam dekapnya. Dia lalu membopong Nisa untuk menuju ke kamar VVIP nomor 11 yang sebelumnya telah dia masuki.


Sesampainya di kamar itu, Jonathan langsung menurunkan Nisa di atas ranjang dengan hati-hati. Sejenak dia tertegun saat melihat wajah polos Nisa yang tertidur lelap.


"Manis sekali," gumam Jonathan.


Namun, sekeras apa pun mencoba Jonathan tetap gagal mengalihkan perhatiannya pada Nisa. Dia seolah-olah telah terhipnotis oleh wanita yang selama ini menjadi pujaan hatinya.


Jonathan merapikan rambut yang sedikit menghalangi wajah Nisa. Dia menatap bibir ranum yang terlihat menggoda itu. Perlahan dia mendekat, juga meredupkan pandangan matanya. Hanya tinggal sedikit lagi dia akhirnya dapat memberikan kecupan penuh kelembutan di bibir itu.


"Keyran ..."


Jonathan seketika membelalak saat mendengar apa yang dikatakan oleh Nisa. Dia sudah kehilangan niatnya semula, kemudian dia memalingkan wajahnya sambil tersenyum pahit. "Bahkan saat kau tidak sadar, ternyata yang kau sebut adalah dia."


Kau benar Nisa, aku adalah orang yang egois. Padahal kau sudah menunjukkan secara jelas jika kau tak membalas perasaanku, tapi aku masih bersikeras untuk tetap berada di dekatmu. Maafkan aku yang terlalu egois, maafkan aku yang terlalu menginginkanmu ...