
Hari berganti, pagi ini Nisa sudah selesai melakukan rutinitasnya. Dia tidak berangkat ke kampus memang karena dia berniat membolos. Saat ini dia sedang bermalas-malasan dengan berbaring di ranjangnya yang super nyaman.
TING!
Sebuah suara notifikasi tiba-tiba terdengar dari ponsel milik Nisa yang berada di atas nakas.
Tsk! Kenapa setiap aku mau menikmati hidup selalu ada saja yang mengganggu?
Nisa dengan malas memeriksa ponselnya. Dia sangat terkejut saat mengetahui apa sebenarnya notifikasi itu.
"Eh? Ada balasan email dari perusahaan yang kemarin aku kirimi email lamaran! Semoga ini surat panggilan interview!"
Nisa dengan antusias langsung membuka email itu untuk memuaskan rasa penasarannya.
°°°
Yang terhormat kepada Saudari Nisa Sania Siwidharwa.
Berdasarkan dokumen CV dan surat lamaran kerja yang sudah kami terima, kami telah menimbang sesuai kualifikasi yang dicari untuk lowongan bagian keuangan.
Oleh karena itu, dengan ini kami mengirimkan informasi bahwa kami mengharap kehadiran saudari pada tanggal 9 Desember 20xx pukul 11:00 untuk keperluan wawancara. Untuk memenuhi panggilan ini, saudari diharapkan membawa berkas-berkas yang terlampir di bagian bawah email ini.
Demikian surat panggilan ini dibuat. Atas perhatian Saudari, saya ucapkan terima kasih. Tertanda, Manager Personalia, HW Group.
°°°
"Astaga! HW Group!" teriak Nisa seakan tidak percaya.
Ini ... tak kusangka malah perusahaan nomor satu yang memakan umpan. Kalau begini maka rencanaku jadi terlalu beresiko. Tapi masa bodoh, kalau rencanaku gagal paling juga akan dipecat saat itu juga. Itu nggak terlalu buruk, kan?
"Tanggal 9 ... sial, itu kan hari ini! Aku siap-siap dulu deh! Tapi bagaimana sama absensiku?" Sejenak Nisa tertegun.
Minta tolong sama Jenny atau Isma saja deh. Tapi kan mereka nggak tahu tentang urusan ini. Aku nggak mau hubungi nomor dosen langsung, itu bukan gayaku! Pilihan satu-satunya cuma minta tolong sama Terry, tapi nomornya juga nggak punya. Hah ... kalau ke kampus buat izin dulu nanti bisa-bisa aku telat interview. Duh, gimana nih?
"Ah, aku lupa kalau masih ada grup chat satu angkatan! Pasti nomornya Terry juga ada di sana!"
Nisa langsung tersenyum semringah begitu menemukan nomor Terry. Tanpa basa-basi lagi dia langsung menelepon ke nomor itu. Dan tak butuh waktu lama panggilan telepon tersebut akhirnya tersambung.
"Halo, Terry!" ucap Nisa dengan sedikit canggung.
"Ya halo, ini dengan Terry Bachtiar. Maaf sebelumnya ini dengan siapa?" tanya pemuda itu dengan nada sopan.
"Ini aku, Nisa Sania! Aku mau titip absen! Kamu bisa, kan?"
"Oh, Sania si Trouble Lady toh. Percuma saja tadi aku bicara sopan. Ngomong-ngomong kenapa harus titip absen sama aku? Kamu berencana bolos lagi, ya?"
"Bukan mau bolos, memang sebelumnya ada niatan begitu sih .... Tapi masih ingat soal proyek yang dikasih pak dekan, kan?"
"Ya, aku ingat. Jadi?"
"Nah, hari ini Aku dapat balasan email dan diminta interview! Cuma kamu yang bisa aku percaya, soalnya teman-temanku nggak ada yang tahu soal tugas proyek ini."
"Bisa sih, tapi aku nggak sangka ternyata kamu gercep juga. Padahal kamu itu terkenal jadi mahasiswa paling pemalas di kampus, yang sukanya masuk kuliah seenaknya. Memangnya perusahaan apa yang mau interview denganmu?"
"Makasih ya! Soal perusahaan apa nanti kamu juga bakal tahu sendiri kok. Bye!"
"Heh, dasar sok misterius! Pasti ujung-ujungnya perusahaan itu adalah-"
TUT TUT ...
Nisa langsung mengakhiri panggilan telepon itu tanpa menunggu Terry menyelesaikan kalimatnya, sungguh tidak sopan.
***
Waktu dengan cepat berlalu, kini Nisa sudah berada di ruang tunggu interview, kantor utama HW Group. Di sekelilingnya ramai juga yang mendapatkan kesempatan untuk interview, tetapi semuanya gugup lantaran belum ada satu pun orang yang keluar dari ruang interview dengan raut wajah gembira.
Sial, belum apa-apa kok aku gugup sih? Semoga aja pewawancara nya nggak galak-galak banget!
"Eh!? ada yang keluar ..." Seketika semua orang termasuk Nisa memperhatikan seseorang yang barusan keluar dari ruang interview itu.
"Hiks ... hiks ... aku langsung ditolak. Padahal aku lulusan universitas luar negeri!" keluh seseorang yang baru saja keluar dari ruangan interview.
"...." Nisa melongo.
Bahkan lulusan universitas luar negeri ditolak. Bagaimana denganku yang masih kuliah dan sering bolos? Ah, lebih baik aku berpikir positif. Mungkin saja mungkin mereka lebih suka orang yang kuliah di dalam negeri. Dengan begitu aku ada peluang.
"Selanjutnya!"
"I-ya!" jawab Nisa kelabakan.
Nggak tau ah! Nanti jawab aja seadanya.
Setelah Nisa berada di dalam ruangan interview tersebut, dia menatap gugup beberapa orang yang menilainya.
"..."
"Coba ceritakan sedikit tentang diri Anda," ucap salah seorang pria yang mengagetkan Nisa.
"Emm ... Sebelumnya terima kasih telah memberikan kesempatan bagi saya untuk mengikuti interview. Nama saya Nisa Sania Siwidharwa, saat ini masih kuliah di Universitas Grand SC jurusan akuntansi. Saya memiliki semangat tinggi, mudah bergaul dan pekerja keras," ucap Nisa dengan senyuman ramah.
Bohong, sebenarnya aku ini pemalas nomor satu. Aku ini golongan kaum rebahan, bahkan cuci piring aku malas apalagi kerja.
"Kenapa anda tertarik melamar di perusahaan kami?" tanya pria itu lagi.
"Karena perusahaan ini adalah perusahaan nomor satu dan saya sangat butuh pekerjaan. Posisi yang saya lamar sangat cocok dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang saya miliki."
Bohong, aku berada di sini tentu saja karena uang! Alasan lain juga karena tugas proyek dari dekan kampret itu.
"Lalu apa keahlian anda?"
"Saya punya keahlian di bidang keuangan, perhitungan pajak, dan administrasi lainnya. Saya juga bisa melakukan editing dan saya menguasai 3 bahasa. Asalkan orang lain bisa melakukan, saya pasti juga bisa. Intinya saya bisa melakukan semua yang anda minta," ucap Nisa dengan penuh keyakinan.
Iya, itu semua benar. Asalkan nggak disuruh mencari kitab suci, aku pasti bisa melakukan semuanya.
"Melakukan semua yang diminta?" tanya pria itu seakan ingin memastikan sesuatu.
"Iya, saya bisa!"
"Nona Nisa, Saya selaku General Manager mengucapkan, selamat datang di perusahaan kami!"
"Ya!?" Nisa ternganga.
Ini sungguhan?! Apa interview memang semudah ini?! Tapi, nggak aku sangka General Manajer juga ikut interview, kukira cuma HRD saja yang mewawancarai.
"Untuk lebih mendetail silakan ikuti saya!" pinta sang GM tersebut.
"Baik, Pak!" jawab Nisa dengan wajah berseri.
Setelah dinyatakan diterima, Nisa dengan perasaan tidak percaya dan bingung tanpa sadar berjalan mengikuti GM itu.
"Nona, saya akan menjelaskan sambil berjalan. Nona tidak keberatan, kan?"
"Tidak, tidak apa-apa kok!"
"Saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Valen, jabatan saya adalah sebagai General Manajer di perusahaan ini. Saya juga menjabat sebagai asisten pribadi dari CEO. Nah, pekerjaan Nona mulai sekarang adalah sebagai sekretaris CEO. Dan ini adalah ruangan nona, dan tepat disamping kanan itu adalah ruangannya Pak CEO," ucap Valen sambil menunjuk ke sebuah ruangan.
"Saya jadi ... Sekretaris CEO?" Nisa menatap linglung.
Orang ini kerja dalam kedaan mabuk, ya? Aku kan daftar buat jadi staf bagian keuangan, kenapa malah jadi sekretaris CEO? Tapi nggak masalah, daripada nggak diterima. Lagi pula gajinya pasti lebih besar.
"Iya. Setelah melihat CV serta dokumen-dokumen yang Nona berikan, Saya sangat percaya dengan kemampuan Nona. Dan saya berharap Nona akan menjalankan pekerjaan ini sebaik mungkin!"
"Terima kasih telah percaya kepada saya. Ke depannya kita kan rekan kerja, jadi jangan panggil saya dengan sebutan nona lagi. Sebut saja dengan nama saya langsung!"
Aku tak terbiasa dengan sebutan nona, tapi dulu terbiasa dengan sebutan bos. Nona itu sebutan untuk cewek manja, aku nggak mau dipanggil begitu.
"Iya rekan Nisa!" ucap Valen dengan senyuman.
"Nah, seperti itu saja. Oh iya, kapan aku mulai bekerja?"
"Besok. Kamu besok datang jam 7 tepat, dan besok pagi aku akan kenalkan kamu dengan pak CEO. Aku beri saran, sebaiknya kamu besok dandan yang cantik!"
"Maksudmu penampilanku yang sekarang jelek?" tanya Nisa seakan tidak percaya.
"Ah, bukan begitu! Cantik kok, tapi sebaiknya rambutmu yang indah itu jangan dibiarkan terurai lagi. Pak CEO sangat suka kerapian."
"Oh, oke ... besok akan aku kuncir rambutku. Tapi, bolehkan aku bertanya satu hal?"
"Ya, silakan saja."
"Jadi begini ... pak CEO yang kamu maksud kan sudah punya kamu sebagai asistennya, apakah seorang sekretaris masih diperlukan?"
"Tentu saja perlu, perusahaan tidak akan membayar seseorang yang tak diperlukan. Tapi belakangan ini pak CEO mulai memperhatikan masalah ini karena pekerjaannya yang semakin banyak, beliau berpikir ingin mengisi jabatan yang sebelumnya selalu kosong itu dengan seseorang yang baru," jelas Valen.
"Oh, sekarang aku paham!"
"Nah, ayo aku bawa kamu berkeliling. Biar besok kerjanya bisa lancar!" ucapnya sambil menarik tangan Nisa.
"Tunggu sebentar!"
"Ada apa?"
"Itu ... bolehkah aku minta nomor kamu? Nanti kalau aku ada yang ingin aku tanyakan, aku bisa bertanya padamu tau."
"Baiklah, sini ponselmu!" Valen lalu mengulurkan tangan.
"Ini, makasih ya ..." ucap Nisa sambil menyerahkan ponselnya.
Asik! Dapet nomor cowok ganteng! Terlebih lagi orang ini sesuai dengan seleranya Isma, jadi sebaiknya aku kenalkan saja Isma padanya. Biar si kompor itu berhenti mengeluh jomblo di depanku.