Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Apa Aku Hamil?


BRUGH ...


Keyran tumbang saat meminum cawan ke-8. Penglihatannya mulai menurun, alkohol yang dia minum mulai membuatnya merasa sangat mengantuk.


"Haha, dasar pria lemah!" ejek Nisa yang kemudian mengangkat cawan ke-9. "Mari ayah mertua, kita lanjutkan!"


"Gan bei!"


Pertandingan minum antara Nisa dan ayah mertuanya terus berlanjut. Hingga saat memasuki ronde cawan ke-11, pergerakan Tuan Muchtar kian terlihat melambat, sedangkan Nisa masih terlihat sangat bersemangat.


"Apa ayah mertua menyerah?" tanya Nisa dengan alis terangkat sebelah.


Tuan Muchtar menghela napas lalu meletakkan cawan ke-12. "Hei, aku ini sudah tua. Wajar jika aku seperti ini saat kebanyakan minum," ucapnya mencari pembelaan.


"Jadi ayah mertua ingin menyudahi sampai di sini saja?"


"Ya. Tapi jika kau masih belum puas, tak apa jika kau lanjut minum sendiri."


"Baiklah," Nisa tersenyum tipis lalu meneguk cawan ke-12 seorang diri. Tetapi, dia tiba-tiba tersedak saat menyadari kursi di sebelahnya kosong.


"Uhuk uhuk! D-di mana Keyran?!"


"Nisaaa~~" teriak Keyran yang tiba-tiba datang dari luar ruangan sambil berlari.


"Dari mana saja kau dalam keadaan mabuk begini?" tanya Nisa seraya bangkit dari kursinya.


"Lihat ini!" Keyran tersenyum sambil mengulurkan kedua tangannya. Terlihat banyak sekali kelopak bunga mawar merah, lalu dengan semangatnya dia menghamburkan kelopak bunga itu hingga berceceran di lantai.


"Apa yang kau lakukan pada bunga pajangan?!"


"Haha, bagus kan? Kalau kau mencintaiku, ayo pungut semua kelopak bunga ini dan berikan padaku!" pinta Keyran dengan senyuman polosnya.


Nisa hanya ternganga, di sisi lain Tuan Muchtar hanya geleng-geleng kepala, sedangkan para pelayan yang berada di sana menahan tawa saat melihat kelakuan Keyran.


"Haiss ... kau ini." Nisa mendadak berjongkok, dia memungut kelopak bunga itu satu per satu. Orang lain yang melihatnya melakukan itu hanya melongo, mereka tidak menyangka bahwa Nisa benar-benar akan melakukan permintaan Keyran yang sedang mabuk.


Tak lama kemudian Nisa berdiri, dia memperlihatkan kepada suaminya sebagian kelopak bunga yang telah dia pungut. "Ini, sudah aku pungut."


"Sedikit sekali, jadi cintamu juga sedikit." Keyran berekspresi cemberut.


"Kelopak bunga hanya sebatas kelopak bunga, kan?" tanya Nisa.


Sejenak Keyran tertegun, kemudian dia tersenyum semringah dan langsung memeluk erat tubuh Nisa. "Kau benar! Itu cuma kelopak bunga! Bahkan jika kau memungut semuanya juga tidak akan cukup untuk melambangkan cintamu! Haha, aku sangat mencintaimu!"


Keyran lalu beralih menatap Tuan Muchtar. "Ayah, nikahkan aku dengan wanita ini!"


"Haha, baiklah. Besok saja ya," jawabnya sambil tertawa.


"Yey ... pernikahan!" teriak Keyran penuh semangat sambil menghamburkan lagi bunga yang sempat dipungut oleh Nisa.


Nisa yang wajahnya sudah merona karena malu langsung mencubit pipi Keyran. "Sadarlah bodoh! Kita sudah lama menikah!"


"Sungguh? Jadi aku bebas jika ingin menciummu!"


"Bebas sih bebas, tapi tidak si sini juga!" teriak Nisa sambil menghalangi bibir Keyran yang sudah bersiap maju untuk menciumnya.


Astaga, ternyata seperti ini jika Keyran mabuk. Sungguh merepotkan.


"Istriku, ayo cepat pulang agar aku bisa menciummu sepuasku!"


"Akhh! Aku mohon berhentilah mengucapkan kalimat yang memalukan!" teriak Nisa sambil berusaha membungkam mulut Keyran dengan kedua tangannya.


Nisa lalu beralih menatap ayah mertuanya. "Anu, mungkin sebaiknya aku dan Keyran segera pulang sekarang. Ayah mertua tidak keberatan, kan?"


"Ya, pulanglah. Tapi siapa yang akan menyetir? Keyran mabuk seperti itu dan kau sendiri juga sudah banyak minum arak. Saranku sebaiknya kau gunakan jasa sopir panggilan saja."


"Itu tidak perlu, aku masih sangat segar dan sadar. Aku juga bisa menyetir dengan baik. Aku permisi dulu ayah mertua." Nisa lalu menuntun Keyran untuk keluar dari ruangan itu.


Saat Nisa tiba di luar pintu masuk dan ingin menuju ke tempat parkir, tiba-tiba saja cuaca berubah. Angin bertiup agak kencang dan dingin, hujan langsung turun dengan deras.


"Ah, sialan!" keluh Nisa.


Keyran yang semula hampir terpejam karena sudah mengantuk tiba-tiba membuka matanya karena air hujan. Dia melepaskan diri dari rangkulan Nisa dan berlari dengan sempoyongan ke arah berlainan dari mobilnya berada.


"Hei, kau mau ke mana?!"


"Tangkap aku~" ucap Keyran yang terus berlari.


"Berhenti Key!!" teriak Nisa yang langsung berlari secepat mungkin mengejar suaminya itu.


"Ayo darling, kita main kejar-kejaran sampai basah kuyup~"


"Bahaya bodoh! Jangan lari ke jalan raya! Dasar kau pemabuk sinting!"


BRUK!


Tiba-tiba Nisa terjatuh, jalanan yang licin karena air hujan ditambah sepatu high heels yang dia pakai membuatnya kesusahan. Sedangkan Keyran, entah beruntung atau apa saat dia menyeberang jalan raya waktunya pas sekali saat lampu penyeberangan berubah warna jadi hijau.


"Huh, aku ingin sekali memukulmu!"


Nisa melepas high heels nya, dia langsung berlari secepat mungkin dan akhirnya berhasil menangkap Keyran yang berada di tengah jalan.


"Kena kau! Awas kalau lari lagi!" teriak Nisa sambil memegangi tubuh Keyran seerat mungkin.


"Wah ... aku tertangkap! Sekarang giliranmu, kau larilah lalu nanti aku yang menangkapmu!" ucap Keyran dengan tampang yang seolah-olah sangat menikmati permainan.


"Tidak! Ayo pulang sekarang! Kalau kau kehujanan lebih lama lagi bisa-bisa kau sakit demam lagi, kau baru saja sembuh Key!" teriak Nisa penuh emosi.


"Apa hak mu mengaturku? Kau bukan ibuku!"


"Aku istrimu, dasar bodoh!"


"Tidak mungkin, istriku Nisa itu wanita cantik! Bukan wanita jelek sepertimu!"


"Arghhh! Ini karena make up ku luntur dan berantakan! Aku ini Nisa! Nisa Sania Siwidharwa! Istrimu!"


TIN TIN!


Suara klakson mobil terdengar berulang kali. Di sana hanya terdapat satu kendaraan yaitu mobil pick up, sopir mobil itu terlihat geram dengan tingkah Nisa dan Keyran.


"Cepat menyingkir! Jalan ini dibuat untuk umum! Bukan untuk bermain permainan tidak jelas seperti yang kalian berdua lakukan!"


"Maaf! Kami akan segera menyingkir!" teriak Nisa yang kemudian menyeret Keyran untuk menepi ke trotoar.


Nisa lalu memungut high heels miliknya yang sempat dia lepas. Saat dia menyeret Keyran dan sudah semakin dekat dengan tempat parkir mobilnya, tiba-tiba terjadi sesuatu lagi pada Keyran.


"Hoekk ...."


"...." Nisa hanya diam dan melongo saat melihat Keyran muntah.


"Hoeek ...."


"Tak apa, keluarkan semuanya agar kau merasa nyaman. Nanti saat di rumah akan aku buatkan sup agar kau mendingan," ucap Nisa sambil menepuk-nepuk pelan punggung Keyran.


Hiks ... apa-apaan semua ini? Tapi sudahlah, semua yang dimuntahkan Keyran nanti juga akan bersih sendiri karena air hujan. Untung saja saat ini sudah malam dan hujan deras, setidaknya tidak ada banyak orang yang melihat.


Beberapa saat kemudian Keyran terlihat seperti sudah cukup memuntahkan semua alkohol yang dia minum. Nisa yang menyadari hal itu langsung kembali menuntun Keyran ke mobil untuk secepatnya berteduh.


Keyran yang masih setengah sadar tiba-tiba berkata, "Ughh ... Aku muntah-muntah ... apa aku hamil?"


"Bicara melantur apa kau ini?! Kau itu seorang pria! Parah sekali kau ini sampai melupakan jenis kelaminmu sendiri!" teriak Nisa yang mulai frustrasi.


Keyran terdiam, tetapi tangannya bergerak dan meraba juniornya sendiri. "Kau benar, aku punya sesuatu yang menonjol di bawah sini. Dan hmm ... cukup besar."


"Tutup mulutmu itu! Aku tidak sanggup lagi jika kau terus bicara yang aneh-aneh!"


"Ini tidak aneh karena punyaku asli, apa kau mau melihatnya jika tidak percaya?"


"Arghh!! Hentikan, aku mohon! Jangan bicara apa pun lagi dan jadilah suami yang baik! Mengerti?"


"...." Keyran tak menjawab.


"Kau mengerti atau tidak? Cepat jawab aku!"


"Tadi kau bilang jangan bicara apa pun, jadi aku tidak menjawab."


"Baguslah, akan aku anggap jawabanmu itu berarti mengerti!" Nisa menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan menuntun Keyran untuk menuju ke mobil.


Setibanya di mobil, Nisa langsung mengunci semua pintu dan memasangkan sabuk pengaman untuk Keyran. Setidaknya sekarang dia sudah agak lega karena Keyran tak akan bisa ke mana-mana lagi. Meskipun dia sedikit menyayangkan saat bagian dalam dari mobil mewah itu ikut basah.


Karena hujan yang semakin deras, Nisa mengendarai mobil dengan kecepatan pelan. Di sisi lain Keyran sudah tertidur lelap meskipun pakaiannya masih dalam keadaan basah.


Nisa akhirnya bisa bernapas dengan lega saat dia tiba di rumah dalam keadaan selamat. Tetapi, dia masih bingung bagaimana membawa Keyran yang dalam keadaan tertidur untuk masuk ke dalam rumah.


"Hahh ... berat badanmu saja hampir dua kali lipat berat badanku, jika dalam pertarungan judo mungkin aku bisa mengangkat dan membantingmu. Tapi aku tidak kuat jika harus menggendongmu, apalagi kamar kita ada di lantai atas."


"Maaf ya darling, aku terpaksa harus membangunkanmu." Nisa kemudian mencubit pipi Keyran, tetapi tidak ada reaksi apa pun darinya.


"Darling, bangun!!" teriak Nisa sekeras mungkin.


"Aahhh! Ada apa?!" tanya Keyran spontan.


"Kita sudah sampai di rumah, ayo turun dari mobil. Kau tidak ingin tidur semalaman di sini, kan?"


"Emm ... baiklah."


Nisa kembali menuntun Keyran berjalan menuju ke kamar, dan Keyran langsung kembali tidur tepat setelah Nisa selesai menggantikan pakaian yang kering dan hangat untuknya.


Sedangkan Nisa, dia yang belum mengganti bajunya sendiri segera masuk ke kamar mandi. Di dalam sana dia bercermin, saat melihat penampilannya yang acak-acakan, dia tiba-tiba meneteskan air mata.


"Kencan macam apa ini? Pokoknya aku tak akan menerima ajakan Keyran untuk makan malam di luar lagi, selamanya!"


"Makan malam, makan malam yang berujung penyiksaan jiwa dan ragaku ...."