Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Pemuja Iblis


Nisa berekspresi ragu. Dia lalu memegang tangan Keyran yang berada di atas meja makan.


"Perasaanmu baru saja membaik, jadi tak perlu terburu-buru. Sebaiknya lain hari saja, jangan memaksakan diri, oke?" ucap Nisa dengan senyum lembut.


"Sepertinya kau salah paham. Justru aku kebalikannya." Keyran terkekeh.


"Eh? Jadi sebelumnya kau sudah sering berkunjung ke pemakaman?"


"Iya, kau sendiri tahu kalau aku terlalu menyalahkan diri sendiri. Karena rasa bersalah itu aku bukannya tidak berani mengunjungi makam, tapi aku sering berkunjung dan selalu meminta maaf kepada almarhum ibuku."


Keyran tersenyum lembut lalu mengusap kepala Nisa.


"Tapi aku senang, ternyata kau khawatir tentangku. Aku kira ekspresimu tadi itu karena enggan menerima ajakanku. Jadi sekarang mulailah bersiap, kita berangkat pagi ini juga."


"Lalu sarapanmu?"


"Biar Bibi Rinn saja yang buatkan. Tapi ngomong-ngomong ... apa kau sendiri sudah sarapan? Biarpun diet harus tetap sarapan loh!"


"Sudah kok, aku sarapan madeleine. Tapi kali ini aku buat sendiri, diajari oleh Bibi. Aku makan banyak kok, meskipun sedikit kurang enak."


"Apa madeleine nya masih?"


"Masih, apa kau ingin memakannya?"


"Iya, lebih baik makan itu saja. Meskipun kau bilang kurang enak, tapi setidaknya itu lebih cocok dengan lidahku ketimbang yang kau sebut dengan seblak ini. Lagi pula itu buatan istriku, tentu saja aku harus menghargainya."


"Terima kasih atas pujiannya ... lain kali akan kubuat lebih enak lagi! Tapi ngomong-ngomong hari ini kan tanggal merah, kau hari ini free, kan?"


"Kenapa? Ingin mengajakku ke festival apa lagi?"


"Bukan! Mustahil setiap hari ada festival! Aku bertanya karena ingin mengajakmu menginap di rumah orang tuaku, mau ya?"


"Emm ... sepertinya di sana kurang aman." ucap Keyran sambil mengalihkan pandangannya.


"Aman kok, sampai sekarang rumahku belum pernah kemalingan. Bahkan ibuku yang terlihat lemah lembut saja bisa taekwondo, maling berani masuk ke rumah berarti dia cari mati!"


"Bukan itu maksudku, keluargamu itu ... terbilang spesial, menurutku hal apa pun bisa terjadi di sana. Kau harusnya tahu sendiri, saat itu belum ada satu jam aku di sana tapi kita berdua sudah kepergok oleh ibumu, bahkan semuanya juga menguping. Dan sebenarnya ... aku masih merasa bersalah, kau terluka demi aku, aku sedikit gugup saat berhadapan dengan kedua orang tuamu."


"Mereka itu orang yang santai, dulu saat aku kabur dari rumah selama 3 hari, mereka semua bilang kalau mereka bersyukur, katanya biar beras di rumah tidak cepat habis. Terlebih lagi ayahku, dia bilang lain kali kalau aku kabur lagi diusahakan ajak adik-adikku, dia tidak keberatan kalau buat anak lagi. Jadi, kau tak perlu gugup. Santai saja, soal aku terluka itu sudah berlalu."


"Tapi itulah sebabnya aku gugup, entah ini benar atau tidak ... sebenarnya aku merasa kalau keluargamu terkesan seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Apalagi ayahmu, mungkin menurut penjelasanmu dia cukup santai, tapi kau tidak tahu caranya menatapku. Dia selalu menatapku dengan tatapan dingin, mungkin saja sebenarnya dia masih menyalahkanku."


"Haha ... paling cuma perasaanmu, ayahku dari dulu memang begitu. Kalau kau gugup maka jangan tatap matanya, beres kan?"


"Entahlah Nisa, sepertinya sulit bagiku jika menginap di sana."


Sejenak Nisa termenung, dan setelahnya dia memasang tampang memelas. "Key ... aku mohon, hanya semalam saja kok. Aku merindukan mereka, terutama ibuku. Aku jadi introspeksi diri setelah melihatmu yang teramat sangat menyesali kepergian ibumu."


"Introspeksi?" tanya Keyran penasaran.


"Iya, aku juga belajar tentang hal penting. Selama ini aku sering membentak, menyepelekan, dan menganggap kalau perkataan ibuku adalah omong kosong. Dan yang lebih buruk, aku pernah berharap lebih baik kalau ibuku menghilang saja. Ternyata benar apa kata orang-orang, kita akan menghargai di saat dia sudah pergi. Dan aku tak mau mengalami itu, oleh karenanya aku ingin sebisa mungkin membalas semua kebaikan ibuku, meskipun aku tahu selamanya tak akan pernah cukup."


"Sebenarnya ... ayah pun tak terkecuali. Karena suatu alasan, aku pernah merasa benci karena aku harus punya ayah seperti dia. Seakan-akan aku lupa selama ini aku dibesarkan oleh siapa. Ayah yang sudah mencari nafkah, yang berusaha memenuhi apa saja keinginanku meskipun tidak langsung dituruti, dialah yang memperlakukanku selayaknya seorang puteri. Masih ada kedua adikku yang menyebalkan, aku selalu kesal dan marah terhadap perbuatan mereka. Tapi saat mereka tidak ada, aku kesepian, rasanya sangat membosankan. Dan pada akhirnya aku marah lagi saat mereka kembali."


"Seperti itu, rasanya hal-hal tadi terus terulang kembali. Mungkin sesekali kita akan marah dan bertengkar, tapi pada akhirnya kita akan tetap berusaha memperbaiki kesalahan dan berbaikan. Saat berjauhan pasti akan selalu terbayang dan berujung merindukan. Dan sekarang aku merindukan mereka semua. Tapi terlepas dari semua itu, tetap saja aku sudah menikah dan seterusnya akan tinggal bersamamu. Mungkin kau merasa sulit beradaptasi dengan keluargaku, tapi setidaknya cobalah untuk mengenal mereka lebih dekat, karena untuk seterusnya kita ini keluarga. Kita menginap semalam saja, esoknya pagi-pagi kita sudah boleh pergi."


"Benar semalam saja?" tanya Keyran sambil mengusap kepala Nisa. Lalu Nisa menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, selepas dari pemakaman kita langsung ke sana. Sebaiknya kau cepat bersiap, kau selalu lama dalam memilih baju!"


"Yey! Terima kasih darling ..." Nisa tersenyum lebar dan sebelum pergi dia mencium pipi Keyran.


Beberapa saat setelahnya, Keyran yang telah selesai sarapan langsung kembali menuju ke kamar untuk memanggil Nisa. Tapi saat dia masuk, dia sedikit kesal karena Nisa masih belum selesai juga berdandan.


Nisa langsung mempercepat kegiatannya begitu menyadari bahwa semakin lama ekspresinya Keyran terlihat bertambah kesal. Bahkan dia juga kelabakan saat menata barang-barang yang akan dia bawa. Dan begitu semua sudah siap, Keyran langsung mengajak Nisa untuk segera berangkat.


***


Tujuan pertama adalah pemakaman. Sebelum ke pemakaman, Keyran dan Nisa mampir terlebih dulu di sebuah toko bunga. Keyran bermaksud membeli bunga kesukaan almarhum ibunya, yaitu bunga lily.


Saat Keyran selesai memarkirkan mobil dan turun, dia kaget karena Nisa juga ikut turun. "Kenapa ikut turun? Aku kan sudah bilang kalau cuma sebentar."


"Aku juga mau beli bunga, terakhir kali saat aku bermain bersama adik-adikku di halaman, tanpa sengaja aku memecahkan pot bunga anggrek milik ibuku dengan bola voli sampai bunganya ikut rusak. Aku mau mengganti rugi, kau tahu sendiri lah, kedua adikku melempar semua kesalahan padaku."


"Baiklah, tapi jangan memilih terlalu lama!"


"Iya, aku tahu."


Nisa menggandeng tangan Keyran lalu mereka masuk bersama ke dalam toko bunga. Mereka segera berpisah setelah masuk, Nisa segera menuju tempat dimana bunga anggrek berada, sedangkan Keyran segera menghampiri salah seorang florist untuk menyiapkan bunga pesanannya.


Seorang perempuan yang bekerja sebagai florist itu menyambut Keyran dengan senyuman ramah. Bahkan dia sedikit kelabakan saat merapikan pakaiannya karena dia mengetahui identitas Keyran.


"Selamat datang Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya florist itu sambil memberi penghormatan dengan sedikit membungkukkan badan.


"Tolong satu buket bunga lily."


"Emm ... bunga lily ya, itu romantis. Bunga lily bermakna kesucian dan ketulusan. Dan tadi orang yang masuk bersama Tuan pasti istri Tuan. Saran saya, jika ingin memberikan bunga untuk pasangan, sebaiknya beri bunga mawar."


"..."


Orang ini mengira kalau bunga itu untuk Nisa. Tapi kalau aku ingat-ingat ... aku belum pernah memberi Nisa bunga. Mungkin aku belikan saja Nisa bunga mawar seperti yang florist ini bilang, pasti Nisa akan semakin mencintaiku.


Keyran tersenyum kecil, dia melangkah lebih dekat dan memperhatikan seluruh bunga-bunga mawar yang tertata rapi dengan bermacam-macam warna yang berada di sebelahnya. Namun lama-kelamaan senyumnya menghilang, dia juga mengerutkan dahinya.


Mawar mana yang harus aku pilih? Saat aku bertanya apa warna kesukaan Nisa, jawabannya malah warna bening. Semua bunga ini tampak indah, tapi kalau aku beli semuanya nanti Nisa akan marah.


Florist itu menahan tawa karena melihat Keyran yang kebingungan. Lalu dia pun sedikit mendekat ke arah Keyran lalu mengambil setangkai bunga mawar merah.


"Tuan sepertinya kebingungan karena bunga mawar punya warna yang beragam, jika kesulitan memilih berdasarkan warna maka pilih berdasarkan maknanya. Sekarang coba lihat mawar merah ini, kelopaknya indah dan tergolong klasik. Selain bermakna pengakuan cinta, juga bermakna harapan kebahagiaan dalam pernikahan, saling menghargai dan respek pada pasangan. Saat menyerahkan mawar merah, tolong sertakan ungkapan ... Aku mencintaimu. Saya jamin pasti klepek-klepek!"


Florist itu menaruh kembali bunga mawar merah, lalu dia berganti mengambil setangkai mawar putih.


"Yang ini mawar putih, bunga yang satu ini erat kaitannya dengan cinta yang murni dan kesetiaan abadi. Simbol lain dari mawar putih adalah awal dari cinta abadi."


Florist itu berganti mengambil setangkai mawar berwarna ungu.


"Yang ini mawar lavender, sering dikaitkan dengan pesona, keajaiban, kemeriahan sekaligus misteri. Mawar lavender juga punya makna khusus yang romantis, yaitu cinta pada pandangan pertama. Jika Tuan menikah karena cinta pada pandangan pertama, maka bunga ini yang paling cocok!"


"Bukan, dulu aku membencinya. Apa ada mawar yang cocok?" tanya Keyran dengan ekspresi datar.


"K-kalau begitu ... saya tahu!" ucapnya dengan senyum canggung, lalu setelahnya dia kembali mengambil setangkai bunga mawar berwarna pink.


"Mawar merah muda! Mawar yang satu ini bermakna keanggunan, feminitas, kelembutan dan perilaku yang manis. Tuan jatuh cinta pasti karena luluh dengan kelembutan istri Tuan, jadi mawar merah muda yang cocok."


"..."


Justru Nisa kebalikan dari semua itu, memang terkadang dia bertingkah manis, tapi itu pun kalau ada maunya. Nisa adalah orang yang berisik, suka mengomel, heboh sendiri, mulutnya tidak punya filter, bahkan dia juga sering sembrono. Apakah mungkin bunga bangkai yang cocok dengannya?


Keyran masih terus menatap florist itu, dia masih berharap ada bunga yang cocok dengan Nisa. Namun florist itu malah gugup, dia khawatir akan kehilangan pelanggan berpengaruh seperti Keyran.


Lama-kelamaan florist itu mulai kehilangan rasa percaya diri, dan Keyran juga mulai jenuh. Namun tiba-tiba saja Keyran mengambil setangkai bunga mawar yang sebelumnya belum dijelaskan oleh sang florist.


"Bagaimana dengan yang satu ini? Apa maknanya?" tanya Keyran tanpa melepaskan pandangan pada mawar itu.


"Ah itu! Mawar hitam ya ... untuk mawar yang satu ini sering dikaitkan dengan kematian dan kondisi berkabung. Sehingga banyak orang yang beranggapan bahwa mawar hitam menimbulkan kesan negatif. Padahal maknanya juga bisa positif, yaitu menandai hal baru yang membawa harapan dan keberanian. Yang paling menonjol yaitu menimbulkan kesan misterius. Jika Tuan menyerahkan bunga ini kepada istri Tuan, bisa disertai dengan ungkapan ... Kamu adalah iblis, dan kamu adalah milikku!"


"Iblis ...?" Keyran menyeringai.


Keyran tersenyum puas, dan tiba-tiba dia menyodorkan bunga mawar hitam itu tepat di depan wajah sang florist.


"Aku mau bunga mawar hitam dan bunga lily! Masing-masing satu buket!"


"B-baik, segera saya siapkan." wajahnya memerah lalu dia kelabakan saat merangkai bunga pesanan Keyran.


Astaga, jantungku!! Aku pikir tadi bunga itu untukku, memang pesona orang sepertinya bukan main. Padahal dia membentakku, tapi aku masih bisa terpesona. Dia dingin pada orang lain tapi sangat romantis pada istri. Aku hanya bisa berharap akan mendapat jodoh sepertinya, biarpun duda juga boleh-boleh saja.


Tak butuh waktu lama bagi florist itu menyelesaikan pesanan Keyran. Tapi sampai saat ini juga Nisa masih belum selesai memilih bunga anggrek mana yang akan dihadiahkan kepada ibunya. Keyran yang merasa yakin kalau Nisa masih lama, akhirnya dia memutuskan kembali ke mobil terlebih dulu untuk menyembunyikan buket bunga mawar hitam itu.


Nisa masih belum selesai memilih juga saat Keyran kembali masuk ke toko. Keyran mulai merasa kesal, pada akhirnya dia memilih untuk memborong semua bunga anggrek yang sempat dilirik oleh Nisa.


Nisa marah, sedangkan Keyran kesal karena sudah banyak waktu yang terbuang. Itu sebabnya sempat terjadi cekcok di antara mereka, dan pada akhirnya Keyran yang menang. Nisa hanya sudi membawa satu bunga bersamanya, dan untuk bunga lainnya, karena terlalu banyak akhirnya Keyran menggunakan jasa pengiriman yang disediakan oleh toko bunga.


Tentu saja Keyran puas, bukan karena menghamburkan uangnya dengan gaya, tapi karena dia tidak sabar mendengar pujian dari ibu mertuanya. Dia yakin kalau ibu mertuanya akan senang karena dia membelikan bunga anggrek yang begitu banyak.


***


Perjalanan menuju ke pemakaman pun berlanjut. Tapi selama di perjalanan, Nisa tidak berkata sepatah kata pun karena masih kesal. Dan di sisi lain Keyran juga diam, dia terus berpikir kapan saat yang tepat menyerahkan bunga mawar hitam yang masih dia sembunyikan. Karena terus berpikir tanpa dia sadari dia sudah tiba di pemakaman.


Selepas memarkirkan mobil, mereka berdua turun. Keyran tak lupa untuk membawa buket bunga lily putih bersamanya. Namun saat di depan gerbang pemakaman tiba-tiba dia berhenti untuk menggandeng tangan Nisa.


Mereka berdua masuk dan tetap bergandengan. Pemakaman itu tergolong tempat yang bersih, suasana yang sepi dan hening juga membuat pemakaman sedikit terasa menyeramkan.


Sesampainya Keyran di makam ibunya, dia langsung berjongkok di samping batu nisan lalu diikuti oleh Nisa yang juga berjongkok di sebelahnya. Tapi di makam tersebut ternyata sudah ada buket bunga lily lainnya.


"Bunga ini ..." gumam Nisa.


"Itu dari ayahku." Sahut Keyran yang juga menaruh buket bunga lily yang dia bawa di sebelah buket itu.


"Sebelumnya aku yang selalu datang lebih awal dibanding ayahku, tapi kali ini aku terlambat gara-gara istriku tersayang ini ..." ucap Keyran dengan nada menyindir sambil tersenyum kepada Nisa.


"Haha ... maaf," Nisa tersenyum canggung.


Memang apa sih pengaruhnya siapa yang datang lebih awal? Lagi pula yang penting kan tetap mengunjungi makam.


Keyran memalingkan pandangan dari Nisa. Lalu dia mengusap batu nisan ibunya sambil tersenyum, bukan senyum pahit ataupun penyesalan yang sebelumnya selalu diperlihatkan, tapi senyumnya kali ini adalah senyum lega dan penuh keikhlasan.


"Ibu, aku tidak pernah mengunjungimu sejak pernikahanku, sekarang kami di sini bersama untuk memberikan penghormatan." Keyran tersenyum lalu tangannya kembali menggenggam tangan Nisa.


"Ini Nisa, kami menikah awal tahun ini. Dia gadis manis dan menggemaskan, meskipun dia pemarah, kasar, dan suka berbuat seenaknya, tapi setidaknya dia pintar memasak. Terlebih lagi saat dia memasak omelet, rasanya persis dengan buatan ibu."


"J-jadi ..." gumam Nisa dengan mata yang membelalak. Sekarang dia tahu alasan mengapa Keyran sangat suka terhadap omelet buatannya. Dia lalu bertatapan dengan Keyran, dan setelahnya Keyran membalas dengan senyuman lembut kepadanya.


"Nisa gadis yang istimewa, awalnya kami ini bermusuhan, tapi lambat laun ... di dalam pernikahan kami mulai tumbuh rasa cinta. Ibu, aku hanya ingin memberitahumu kalau aku sangat, sangat mencintainya."


"Aku selalu menganggap bahwa ibu adalah duniaku, tapi dunia yang aku miliki ini ternyata adalah dunia kosong yang penuh dengan kehampaan. Tapi setelah aku bertemu dengan Nisa, duniaku mulai berubah, dialah yang telah mengisi kekosongan itu. Jika ibu adalah dunia, maka Nisa adalah isinya. Hidupku terasa lebih berwarna karena adanya Nisa, bagiku Nisa adalah segalanya."


Ucapan dari Keyran membuat Nisa tersipu malu, dia memalingkan wajahnya yang memerah.


"S-salam, ibu mertua. Walaupun kita tidak bisa bertemu langsung, tapi percayalah padaku bahwa aku akan selalu mengutamakan keluarga kami dalam semua yang kulakukan."


"Tadi anakmu Keyran ini menceritakan keburukanku, tidak adil jika aku tidak membalas menceritakan keburukannya."


"Hei, apa yang kau katakan? Aku mana ada bersikap buruk? Aku ini sempurna! Aku selalu melakukan hal-hal baik!" bentak Keyran dengan suara pelan.


"Yaa ... mustahil ada manusia yang sempurna. Tapi untuk Keyran ... bisa dibilang kalau dia nyaris sempurna. Sikap buruknya yaitu dia selalu boros, aku akui kalau dia kaya, tapi tidak ada salahnya juga orang kaya berhemat. Meskipun begitu aku memakluminya, aku tahu alasannya berbuat begitu. Dia mencintaiku dan ingin membahagiakanku, tapi cintanya bisa dibilang sudah meluap-luap dan dia terlalu ekstrem dalam mengekspresikan cintanya. Padahal kebahagiaan yang sederhana saja sudah cukup untukku. Dan kenyataannya aku mendapat Keyran sebagai suamiku, bagiku Keyran adalah sebuah berkah yang sangat berharga."


"Sebagai menantumu, aku juga ingin mengakui kesalahanku. Aku pernah secara sengaja menyakitinya dan membuat hatinya terluka. Tapi aku janji aku tak akan pernah melakukannya lagi, aku sudah belajar dari kesalahanku. Mungkin Anda sudah terlalu jauh, tapi semoga saja Anda mendengar semua ucapanku. Yang aku minta cukup satu, jika Anda mendengar maka tolong berikan restu Anda untuk kami. Restui pernikahan kami agar menjadi pernikahan yang abadi."


Keyran diam-diam tersenyum saat mendengar ucapan dari Nisa. Dan setelahnya dia mengelus kepala Nisa dengan lembut.


"Ibuku pasti mendengar ucapanmu, dan pastinya dia sudah tahu kenapa aku bisa mencintaimu."


"Iya. Ngomong-ngomong ... apa kau masih ingin di sini lebih lama lagi?"


"Tidak, kita harus bergegas ke rumah orang tuamu. Tapi mengapa kau bertanya begitu?"


"Emmm ..." Nisa melirik ke samping kiri. Dia bermaksud memberi isyarat pada Keyran agar melihat seorang penjaga makam sedang menyapu yang berjarak agak jauh dari mereka.


"Lihat dia, penjaga makam itu dari tadi terus senyum-senyum sendiri semenjak kita datang. Jangan-jangan dia indigo dan dia melihat arwah ibumu, makanya dia tersenyum!"


"Sembarangan! Yang bermasalah itu kau, daya imajinasimu terlalu tinggi!"


"Ya sudahlah, ayo pergi sekarang!"


Mereka berdua akhirnya berdiri dan pergi meninggalkan area pemakaman. Tapi sebelum mereka pergi, Keyran sempat menghampiri penjaga makam itu dan memberikan sebuah amplop berisikan uang kepadanya. Dan jangan tanya isinya berapa.


Mereka berdua kembali menaiki mobil dan melanjutkan perjalanan. Tapi saat mobil baru berjalan sebentar, mendadak Keyran menepi dan memberhentikan mobilnya.


Nisa kebingungan karena merasa tidak ada yang salah dengan mobil yang dia naiki. Di sisi lain Keyran juga tidak memberikan penjelasan mengapa dia memberhentikan mobilnya. Namun mendadak Keyran bergeser dan mendekatkan dirinya pada Nisa.


"K-kau mau apa? Apa kau ..."


"Ssttt ... diamlah!"


Keyran menggunakan telunjuknya untuk membungkam bibir Nisa. Sejenak mereka berdua bertatapan, dan lama-kelamaan Keyran semakin mendekat yang membuat Nisa sampai menutup mata karena gugup.


Kedua tangan Keyran maju, dengan cepat dia segera memasangkan sabuk pengaman pada Nisa. Seketika Nisa membuka matanya, dia terkejut karena ternyata Keyran cuma ingin memasang sabuk pengaman.


"Kau berhenti hanya untuk ini? Padahal kau hanya tinggal mengatakannya saja!"


Cih, sia-sia saja aku deg-degan.


"Memangnya kau berharap apa?"


"Hmph! Terserah!"


"Oke-oke ... jangan marah lagi, sebenarnya aku punya kejutan untukmu. Tutup matamu dulu!"


"Sungguh?!" tanya Nisa dengan antusias.


"Iya, jadi cepat tutup matamu! Jangan mengintip! Kalau kau mengintip, aku doakan semoga berat badanmu naik!"


"Iyaa ..."


Nisa segera menutup mata rapat-rapat, dan Keyran bertindak secepat mungkin untuk mengambil buket bunga mawar hitam yang dia sembunyikan.


"Sekarang buka matamu!"


Nisa segera membuka mata, dia sangat terkejut sampai tidak bisa berkata-kata saat melihat buket bunga mawar hitam di depan wajahnya.


"Nisa, kau adalah iblis, dan kau hanya milikku!"


Nisa menyeringai saat menerima buket itu, tiba-tiba dia melepas sabuk pengaman lalu duduk di pangkuan Keyran. Jari-jemarinya dengan nakal membelai wajah Keyran.


"Hmmm ... iblis, lalu bagaimana denganmu wahai pemuja iblis?"


Keyran tersenyum, dia meraih tangan Nisa lalu mencium tangan itu.


"Aku rela melakukan apa saja asalkan iblis itu adalah dirimu."


"Terima kasih, aku suka bunga ini ... Imbalan apa yang kau minta?"


"Heh, soal itu jangan ditanya!" Keyran langsung menarik Nisa lebih dekat ke pelukannya, lalu mencium bibir Nisa yang selalu terasa manis baginya.