
"A-aahhh!!? Kebakaran?! Mana?! Mana?!" Nisa langsung bangun dan berteriak histeris begitu Keyran membangunkannya. Dia yang masih setengah sadar mulai kebingungan memandang sekitarnya dengan tatapan linglung.
"Haha," Keyran terkekeh melihat ekspresi Nisa yang menurutnya menggemaskan. Bahkan dia dengan santainya mematikan jam alarm di ponselnya yang bernada dering sirene pemadam kebakaran.
Nisa mengucek mata, dia masih kebingungan karena mengira ada kebakaran sungguhan, namun yang dia lihat hanya api kecil dari lilin kue ulang tahun yang berada di atas meja.
Mendadak Keyran mendekat dengan membawa kue itu, dia duduk di pinggir ranjang lalu memasang senyum ceria pada Nisa. "Happy birthday, darling ..."
"U-ulang tahunku?" tanya Nisa seakan tidak percaya.
"Iya, aku sengaja membuat kejutan untukmu. Dan ... maaf membuatmu kaget, aku berbohong soal kebakaran untuk membangunkanmu. Tapi ngomong-ngomong reaksimu tadi lucu juga, hehe."
"Huh! Kau membuatku kaget setengah mati, bahkan aku sempat berpikir kalau aku sudah mati dan sekarang sedang merayakan ulang tahun di alam baka!"
"Aku kan sudah minta maaf ... Tapi sekarang, ayo tutup matamu dan buat permohonan lalu tiup lilinnya!"
"Bukannya kau harus menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku terlebih dulu? Baru setelah itu aku bisa meniup lilinnya."
"Ah, i-itu ..." Keyran tersenyum canggung.
Sialan, aku lupa tentang ini.
"Kenapa? Ayo menyanyi, aku tak masalah meskipun suaramu fals~"
"Hei, jangan mengejekku! Lagi pula menyanyi bukan bagian terpentingnya, sekarang sebutkan permohonanmu lalu tiup lilinnya! Setelah itu kau bisa potong kue lalu memakannya, ini kesukaanmu loh."
"Huft ... iya," Nisa menutup mata, pada detik berikutnya dia membuka mata dan langsung meniup lilin tersebut.
"Cepat sekali, memangnya apa permohonanmu?"
"Aku ingin istirahat!" Seketika Nisa kembali berbaring, lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya termasuk kepala.
"Apa-apaan kau?!" Keyran meletakkan kue lalu mengguncangkan tubuh Nisa serta menarik selimutnya. "Bangun! Ini peringatan hari ulang tahunmu tapi kau malah begini, kau gila!"
"Kau yang gila! Kau mau aku makan kue saat tengah malam?! Kalau kau benar-benar ingin aku bahagia di hari ulang tahunku, harusnya kau beri aku kejutan saat aku bangun tidur! Bukannya malah mengganggu waktu istirahatku! Bahkan kau bohong soal kebakaran, padahal aku sedang mimpi indah minum air kelapa di pinggir pantai!"
"K-kau ...!!"
"Humph, dasar pengganggu!" Sekali lagi Nisa memasang selimut lalu berbaring.
Keyran masih mencerna keadaan karena reaksi Nisa sangat jauh dari apa yang dia bayangkan. Beberapa saat kemudian mendadak dia naik ke atas ranjang, ikut masuk ke dalam selimut yang dipakai Nisa tapi dia berbaring dengan posisi membelakangi Nisa. Mereka berdua kini saling membelakangi, tapi Nisa masih bersikaplah masa bodoh dengan tindakan Keyran.
"Cih, padahal aku sudah menyiapkan kejutan untukmu dari jauh-jauh hari." ucap Keyran dengan nada menyindir.
"Terserah," jawab Nisa sambil menutup mata.
"Aku juga sudah mengaturnya sesuai kesukaanmu, kue cokelat dengan stroberi, bahkan aku sengaja menyuruh koki ternama untuk membuatnya."
"Buang-buang uang," jawab Nisa dengan suara lirih namun dapat dipastikan bahwa Keyran mendengarnya.
"Masih ada hadiah istimewa khusus untukmu! Aku menyambutmu dengan senyuman tapi kau sama sekali tidak menanggapinya! Kita ini suami istri, tapi kau juga tidak menciumku! Jangankan mencium, ucapan terima kasih saja tidak ada! Coba kau lihat orang lain, diantara mereka bahkan ada yang lupa hari ulang tahun pasangannya, tapi lihatlah sikapmu ini! Padahal suamimu ini super perhatian, dasar istri tak tahu bersyukur!"
"..." seketika Nisa membuka matanya. Dan setelah itu Keyran tidak lagi mengatakan apa-apa, hanya ada keheningan di antara mereka. Kata-kata menusuk yang keluar dari mulut Keyran telah sepenuhnya membungkam Nisa.
Sialan, tiba-tiba aku merasa kalau aku sangat jahat.
Nisa berbalik dan menghadap ke arah Keyran yang memunggungi dirinya. Tangannya perlahan mencolek punggung Keyran, lalu dengan nada lembut dia berkata, "Key ..."
"..."
Menyadari Keyran yang kesal dan berbalik mengabaikannya, Nisa lalu bergeser lebih dekat dan memeluk Keyran dari belakang.
"Key ... kau marah, ya?"
"Sudah tahu masih tanya!"
"Maaf, tadi itu aku emosi sesaat karena aku sangat mengantuk dan lelah ..."
"Ya sudah, tidur sana!"
"Jangan marah begitu ... ini kan hari ulang tahunku. Ayo makan kue bersama, nanti aku akan menyuapimu. Kalau kau mau, aku bisa menciummu sebanyak yang kau minta. Jadi jangan marah, oke?"
"..."
"Key ... Darling ..."
"..."
"Sepertinya kau ingin dibujuk dengan cara lain," Nisa menyeringai, dia bergeser lebih dekat lagi hingga tubuhnya menempel pada Keyran. Sedangkan tangannya yang melingkar di pinggang, tangan itu mulai merayap dan menyentuh apa pun yang dia temukan dengan manja.
Keyran yang merasakan sengatan aneh di tubuhnya langsung menahan tangan Nisa untuk berhenti berulah. Kemudian dia berbalik dan menghadap ke arah Nisa. "Dasar nakal, tanganmu mau diikat?!"
"Habisnya kau marah, tapi ... bukannya kau suka? Hehe, adik kecilmu belum bangun, biasanya kita tidur berdua lalu pagi-pagi bangun bertiga~"
"Hei, kau pikir dengan seperti ini maka aku akan berhenti marah?"
"Memangnya aku salah?"
"Tidak, lagi pula aku tidak benar-benar marah, jika aku begitu maka sama saja dengan menghancurkan usahaku untuk memberimu kejutan. Tapi tindakanmu tadi terlalu agresif, memangnya kau mau menanggung akibatnya sekarang~" Keyran tersenyum lalu mencubit pipi Nisa.
"Heh, kita masih harus makan kue, jadi jangan terburu-buru ingin memakanku. Sekarang berhenti mencubitku, aku harus bangun lalu cuci muka dulu sebelum makan."
Nisa bangun lalu turun dari ranjang, dia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tak lama kemudian dia keluar, dia melihat ada buket bunga mawar di atas meja yang sebelumnya luput dari pandangannya. Kemudian dia mengambil buket itu dan tersenyum kepada Keyran.
"Ini juga untukku, kan?"
"Iya, semuanya untukmu, aku juga hanya untukmu." jawab Keyran dengan senyuman.
"Iihhh ... gombal," wajah Nisa memerah, lalu menyusul Keyran untuk duduk bersama di pinggir ranjang. Begitu dia duduk, tiba-tiba saja dia mencium pipi Keyran lalu berkata, "Terima kasih darling, hehe ... setelah sekian lama ini pertama kalinya aku kembali merayakan ulang tahun dengan kue."
"Jika bukan kue, biasanya kau merayakannya dengan apa? Jangan bilang dengan bir!"
"Haha, kurang tepat. Memang aku juga minum bir, tapi secukupnya. Setiap kali aku merayakan hari ulang tahunku ... Aku selalu melakukan semuanya sesukaku sendiri, misalnya aku ingin apa ya aku melakukannya. Sepanjang hari aku sangat bebas, tanpa dikekang oleh apa pun. Tapi ngomong-ngomong ... kenapa kau berpikir tentang bir?"
"Karena emm ... waktu itu kau ketahuan olehku pergi ke klub malam!"
"Haha, kau salah. Daripada ke klub malam, aku lebih suka menjelajah. Aku mengikuti suasana hati, terkadang aku naik bus, naik kereta bawah tanah, mengunjungi pantai, museum, teater, stadion, warnet, mal, pokoknya seperti itulah. Hari ulang tahunku aku jadikan sebagai hari khusus untuk diriku sendiri, tapi sekarang berbeda ... Sekarang aku tak sendirian, karena sudah ada kau."
"Kau benar, tapi apakah sebelumnya kau tak pernah merayakan bersama keluargamu?"
"Pernah kok, tapi itu pengalaman yang mengerikan. Mereka malah sengaja mengerjai dan menyusahkanku, dan setiap kali ada kue mereka selalu cari gara-gara seperti ini ...!" Tiba-tiba Nisa mencolek sedikit krim di kue lalu mengoleskannya ke pipi Keyran.
"Hei!!"
"Haha, kau juga kesal, kan? Tapi ini bukan seberapa, saat itu mereka menumpahkan semua permukaan kue di wajahku. Ya begitulah, makanya aku agak malas merayakan ulang tahun bersama mereka."
"Tapi biarpun begitu apa hubungannya dengan kau yang mengotori wajahku? Pokoknya bersihkan!"
"Baiklah," Nisa bergeser lebih dekat, tangannya membelai wajah Keyran, namun tiba-tiba dia mencium pipi Keyran serta menjilat krim cokelat tersebut.
"Nisa ...??" Wajah Keyran memerah, kemudian menatap Nisa dengan tatapan tidak percaya.
"Hehe, manis ... cream choco dengan campuran walnut, kue blackforest ini benar-benar spesial. Sayang jika dibuang begitu saja~"
Keyran tersenyum, mendadak dia meraih kue lalu mengoleskan sedikit krim di pinggir bibirnya. "Bagaimana dengan sekarang?"
"Cih, kau semakin pintar modus." Nisa kembali mengulangi perbuatannya tapi di tempat yang berbeda. Meskipun krim itu telah hilang, Nisa melanjutkannya dengan menciumi bibir Keyran. Ciuman itu serasa begitu nikmat, hingga tanpa sadar mereka mulai bermain lidah.
"Uhmmm ..."
Nisa semakin liar, dan itu membuatku semakin tergila-gila padanya. Tapi tunggu ... Aku harus mengakhiri ini sekarang, masih ada kejutan yang tak boleh terlewat.
Keyran mengakhiri ciuman itu, dan Nisa yang masih terbawa suasana tersenyum lalu merangkul Keyran. "Mau mengoleskan krim di bagian lain, ya?"
"Bukan, tapi lepaskan aku dulu!"
"Hm?"
"Aku mau ambil hadiahmu, sekarang tutup matamu dan jangan mengintip!"
"Oke ..." Nisa melepas rangkulan tangannya lalu menutup mata rapat-rapat.
Memangnya apa yang akan Keyran berikan padaku? Sekarang saja aku sudah punya segalanya.
Begitu memastikan bahwa Nisa telah menutup mata, Keyran langsung mengambil sesuatu di kolong tempat tidur, dan benda itu tidak lain adalah hadiah untuk Nisa.
"Nah, sekarang buka matamu!"
Nisa membuka matanya, dia agak terkejut saat melihat sebuah kotak hadiah berwarna merah, berbentuk hati dengan hiasan pita di atasnya. Lalu tanpa ragu Nisa langsung meraih kotak itu dari tangan Keyran.
"Boleh aku buka sekarang?"
Kok ringan? Padahal dari bentuknya terlihat seperti kotak cokelat. Tapi anehnya aku merasa kalau ini seakan-akan bukan merayakan ulang tahun, tapi valentine yang tertunda.
Nisa buru-buru membuka kotak itu, dan begitu isinya terlihat, dia kehabisan kata-kata. Sejenak dia berpikir, lalu mengangkat keluar benda itu dari dalam kotak.
"Brosur tour travel? Ini hadiahku??"
"Iya, coba baca! Garis besarnya saja!"
"Emm ... Liburan musim gugur, perayaan festival musim gugur, kuliner khas, halloween parade, rafting dan memetik anggur, Tokyo Tower, Kastel Himeji, Kuil Ise dan ... Tunggu sebentar, sekarang aku sedikit paham, apa kau bermaksud untuk mengajakku liburan ke Jepang?"
"Iya, lebih tepatnya bulan madu!"
"Hah?!" Nisa ternganga, dia sulit mempercayai apa yang barusan dia dengar. Tapi sesaat kemudian dia langsung termenung dan terlihat berpikir keras.
"Wah ... sepertinya kau kelewat senang sampai tak bisa berkata-kata. Tapi masih ada kejutan lagi untukmu, kita berangkat besok pagi!"
"B-besok?! Kau serius?"
"Serius, kau pernah bilang kalau kau suka segalanya yang berbau Jepang. Karena itu aku memilih Jepang sebagai destinasi kita!"
Nisa membisu, sama sekali tidak terlihat ada senyuman di bibirnya. Bahkan ketimbang senang, ekspresinya lebih cenderung terlihat panik.
"Kenapa? Apa kau ada sesuatu yang ingin dikatakan?"
"Haha, jadi itu ... a-anu ... bisa tidak rencana bulan madu nya dibatalkan? S-soalnya Hari ini dan besok aku masih harus kuliah ..." ucap Nisa dengan senyum canggung.
"Kau pikir aku bodoh? Mustahil aku tertipu, sejak 6 hari lalu kau sudah memasuki masa liburan semester! Jadi beberapa hari ini aku sengaja membiarkanmu keluyuran. Kenapa kau menolak bulan madu hah? Katakan!"
"Haha i-itu karena ... masa liburan semester itu singkat."
"Singkat katamu? Libur 1 bulan lebih itu singkat? Aku sangat paham memang ini masa-masa sibuk bagi yang mengikuti organisasi di universitas, tapi kau ... kau itu berbeda! Kau bilang ikut organisasi, tapi kau juga tidak hadir di pertemuan dan keluyuran entah ke mana!"
"B-bagaimana kau bisa tahu?"
"Tentu saja aku tahu, kau sepertinya telah meremehkan suamimu ini. Lagi pula waktu itu kau pernah bilang kalau ingin menikmati rasanya dunia serasa milik berdua, jadi aku memberimu bulan madu sebagai hadiah. Sekarang alasan apa lagi yang kau punya untuk menghindar?"
"..."
"Kenapa? Kehabisan bahan untuk buat alasan?"
"Bukan, tapi ... apa kau sudah mengatur semuanya jika kita pergi? Misalnya urusan perusahaan, kau itu kan gila kerja."
"Tentu saja sudah aku atur, lagi pula ada Valen."
"Lalu ... rencananya berapa lama kita bulan madu?"
"Entahlah, kita bisa coba dulu, terlebih lagi bulan madu itu sepertinya menyenangkan, mungkin saja kau yang nantinya tidak mau pulang."
Nisa menunduk kemudian tersenyum kecil, "Kau perhatian sekali, padahal pernikahan kita sudah berbulan-bulan yang lalu, tapi kau bisa seromantis ini." Nisa lalu mendongak, "Maaf ya, karena tadi aku cari-cari alasan. Sebenarnya aku begitu karena sudah punya janji dengan teman-temanku, tapi itu bukan masalah, masih bisa diundur sewaktu-waktu kok."
"Apakah itu penting?"
"Penting, tapi barusan aku sadar apa prioritasku. Sangat jarang bagimu punya waktu senggang, jadi menghabiskan waktu bersamamu jauh lebih penting."
Tiba-tiba Nisa berdiri sambil membawa kue ulang tahunnya, "Kuenya dimakan nanti saja, ya? Sekarang masih tengah malam, aku punya penyakit maag, bisa-bisa nanti asam lambungku naik. Dan untukmu bisa saja kau terkena gangguan pencernaan."
"Hmm baiklah."
Nisa segera keluar dari kamar, dan beberapa saat kemudian dia kembali dari dapur. Saat dia kembali, Keyran masih menunggunya di tempat yang sama. Dia lalu berjalan mendekat, berdiri di hadapan Keyran lalu membelai wajahnya.
"Kau sudah menyiapkan banyak kejutan untukku, memangnya kau belum lelah atau mengantuk?"
"Sedikit, kalau kau?"
"Hehe, aku juga. Hari ini nanti kita akan sibuk, sibuk menyiapkan bulan madu~ Jadi kita lanjut tidur saja, oke?"
"Oke, ayo tidur."
Nisa mengambil buket bunga mawar yang masih di kasur lalu memindahkannya ke atas meja. Dia lalu berbaring bersama Keyran, saling berhadapan dan berpelukan di bawah selimut yang hangat.
"Key ... boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Nisa dengan suara lirih.
"Boleh, mau tanya soal apa?"
"Emm i-itu ... bulan madu nanti ... Ah, bagaimana ya mengatakannya ... I-intinya saat berhubungan ... uuhh aku malu mengatakannya!" Nisa tiba-tiba membenamkan wajahnya di dada Keyran.
"Hei, malu kenapa?" Keyran terkekeh.
"Lupakan! Anggap saja aku tak pernah bilang!"
"Ayolah Nisa, malu bertanya sesat di jalan loh~ Biar aku tebak ... kau pasti mau tanya soal gaya apa yang akan kita pakai!"
"Bukan! Kalau soal itu terserah yang mana, yang penting enak!"
"Haha, istriku barbar~"
"Ehmm ... Aku cuma mau tanya soal j-jadwal, kita nanti melakukannya sehari berapa kali?"
"Entahlah, jika suasananya mendukung kita bisa melakukannya kapan pun. Tapi karena kita membahas ini, mendadak aku jadi bersemangat, kita cicil sekarang bagaimana?"
"Sembarangan! Ini bukan hutang bank, kenapa mesti ada cicilan segala? Hari ini jatahmu kosong, simpan tenagamu untuk besok!"
"Pelit."
"Humph, lagi pula hadiah bulan madu darimu itu kurang adil. Kau juga diuntungkan, tapi kan ini hadiah ulang tahunku, harusnya hadiahnya juga benar-benar menguntungkan bagiku."
"Memangnya kau menginginkan sesuatu yang lain sebagai hadiahmu?"
"Iya, tapi aku belum terpikirkan apa yang benar-benar aku inginkan. Atau ... begini saja, nanti jika aku punya permintaan terhadapmu, pokoknya kau tidak boleh menolaknya! Cuma satu kok, kau bisa kan menyetujuinya?"
"Hmm ... ya, tapi nanti tergantung apa permintaanmu dulu. Sekarang kau puas?"
"Puas. Ayo tidur, selamat malam Key ..."
"Selamat malam, Nisa ..." Keyran tersenyum lalu mencium kening Nisa.
Hah ... kejutan ini sedikit menyimpang dari perkiraanku, tapi untungnya Nisa suka. Dan besok, hari-hari bahagiaku akan dimulai! Ah sial, aku sudah tidak sabar! Cepat tidur dan waktu pasti akan cepat berlalu.
***
Pagi harinya, seperti hari-hari sebelumnya saat ini Keyran berangkat ke kantor. Sedangkan Nisa, dia di rumah saja karena sudah kehabisan alasan untuk keluyuran.
Namun pagi ini lagi-lagi Nisa mendapat kejutan. Pertama dari Bibi Rinn yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk yang ke-20, dan Bibi Rinn juga memberikan sebuah kue tart buatan sendiri sebagai hadiahnya kepada Nisa. Kedua dari Valen, Valen juga mengucapkan selamat untuk Nisa saat datang menjemput Keyran, dan Valen juga memberikan sebuah kue sebagai hadiah.
"Ini gila, 1 kue saja aku ragu untuk menghabiskannya, sekarang malah ada 3." gumam Nisa yang menatap ketiga kue tersebut di atas meja makan.
"Apa aku bagikan ke orang lain saja, ya? Tapi jika Bibi Rinn atau Valen tahu, nanti bisa-bisa aku dikira kurang menghargai pemberian mereka. Uuhh ... semua kue ini tampak enak, tapi jika aku makan maka berat badanku terancam."
"Apa aku undang temanku saja untuk bantu menghabiskan kue? Tapi ... nanti mereka juga akan kepikiran untuk bawa hadiah, huaaa ... ini merepotkan!"
Nisa melihat ke kanan kiri, dia merasa hampa karena tak ada seorang pun kecuali dia di rumah. Lalu dia iseng mencicipi buah ceri dari kue pemberian Valen.
Bibi Rinn ke mana? Biasanya di waktu seperti ini dia senggang dan menemaniku mengobrol.
TING TONG!
Bel rumah berbunyi, karena Nisa kurang kerjaan akhirnya dia berinisiatif untuk keluar dan menyambut siapa yang menekan bel. Saat dia membuka gerbang, ternyata ada seorang kurir pengantar paket.
"Selamat pagi Nyonya, ini ada kiriman untuk Nisa Sania. Perumahan Elite OO Nomor 28." ucap kurir dengan ramah.
"Itu saya sendiri, paket dari siapa?"
"Dari ... Ardian Ricky Pam ..."
"Ricky?! Dimana aku harus tanda tangan?! Cepat!"
Kurir itu hanya bisa menuruti Nisa yang terlihat panik yang bahkan juga menyela omongannya. Dengan cepat Nisa mengambil paket itu lalu menutup gerbang rapat-rapat tanpa memedulikan si kurir yang kebingungan di luar gerbang.
"Hmmm ... orang aneh, tapi kenapa dia panik? Jangan-jangan paket itu isinya narkoba! Astagfirullah, tidak baik su'udzon. Mungkin isinya kado dari mantan, canda mantan." (Tanpa sadar benar)
Di sisi lain Nisa yang panik akhirnya berlari sambil membawa paket itu ke kamar, dia bahkan juga menutup pintu kamar rapat-rapat. Nisa kebingungan harus berbuat apa pada paket dari Ricky, dia mengguncangkan paket dan masih bimbang ingin membukanya atau tidak.
BUZZ BUZZ ...
BUZZ BUZZ ...
BUZZ BUZZ ...
Tiba-tiba ponsel Nisa berdering, Nisa semakin bertambah panik lalu tanpa pikir panjang menyembunyikan paket itu di kolong tempat tidur. Setelah itu dia segera mengambil ponselnya yang berada di atas meja dekat ranjang.
"Eh? Dari Ivan, tumben dia telepon ..." Nisa sedikit agak rileks begitu mengetahui bahwa itu telepon dari Ivan, lalu dia mengangkat telepon tersebut.
"Boss! Gawat!!" suara Ivan terdengar keras meskipun Nisa tidak mengaktifkan speaker.