Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Bawalah Nisa Kembali!


Keyran semakin merasa gugup karena melihat raut wajah ayah mertuanya yang serius. Kemudian dia berkata, "Anu ... Ayah mertua, kira-kira penjelasan seperti apa yang Ayah mertua ingin katakan?"


Gilang tak menjawab, namun tiba-tiba saja dia malah melepaskan kancing kemejanya satu per satu. Dia membuka kemejanya hingga membuat Keyran melongo kebingungan.


"A-apa yang Ayah mertua lakukan? Kenapa tiba-tiba seperti-" Perkataan Keyran terhenti. Dia jadi lebih kaget lagi saat melihat badan ayah mertuanya dibalut oleh kain, dan di bagian yang tak tertutup oleh kain itu tampak banyak sekali tato.


"Inilah yang ingin aku jelaskan. Hal inilah yang selama ini aku dan putriku rahasiakan darimu. Aku akan langsung ke intinya, Nisa itu seorang gangster, sama sepertiku."


"A-apa?!" tanya Keyran seakan tidak percaya.


"Aku paham mengapa kau terkejut, kau mungkin mengenalku sebagai seorang direktur dari perusahaan department store, dan sekarang aku bilang jika aku adalah gangster. Tapi kau tak perlu cemas, aku sudah memutuskan untuk berhenti. Dulunya aku ini adalah Yakuza."


"Yakuza?! Mafia Jepang yang terkenal itu?!" Keyran lebih terkejut lagi.


"Ya, dan buktinya telah aku perlihatkan padamu sekarang. Yakuza membalut badannya dengan kain sebelum berperang, karena itu untuk mencegah organ dalam tubuh keluar saat tertusuk pedang. Meskipun aku sudah berhenti, tapi kebiasaan ini masih belum bisa hilang."


Pria itu membetulkan kembali kemejanya, dia lalu beralih menunjukkan jari tangannya kepada menantunya. Jari tangan itu terlahir dengan bentuk yang sempurna, tetapi jari kelingking nya tampak terpotong. "Inilah bukti lain."


"Ayah mertua pernah mengalami kecelakaan?" tanya Keyran.


"Ini bukan kecelakaan. Jari kelingkingku hilang karena aku mengikuti tradisi. Dulu aku pernah melakukan kesalahan, dan aku melakukan ritual ini sebagai bentuk penyesalan dan permintaan maaf kepada Oyaji."


^^^*Oyaji (ayah): sebutan untuk pemimpin Yakuza ^^^


"Dunia mafia seperti itu sangat keras. Aku melakukan semuanya dari bawah. Sebagai pendatang baru, aku sering mengalami serangan dari orang-orang lama. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menjadi seorang Oyabun dari sebuah kelompok."


^^^*Oyabun (bos): panggilan untuk pemimpin Yakuza^^^


"Aku menarik perhatian sebuah klan besar dari Yakuza, yaitu Klan Yamaguchi. Lalu aku kemudian bergabung dengan klan itu. Aku mendapat kepercayaan penuh dari Oyaji klan Yamaguchi, tapi kian lama aku jadi serakah. Suatu ketika aku membunuhnya, aku membunuh orang yang telah memberiku makan."


"Kesalahan itu sangat fatal, bagaimana Ayah mertua bisa selamat?" tanya Keyran penasaran.


"Kau benar, karena perbuatan itu aku sempat menjadi buronan. Banyak para Yakuza lain yang mengincarku untuk membunuhku. Aku bisa selamat karena melarikan diri lewat kapal penyelundup. Lalu takdir aneh terjadi lagi, aku malah berteman dengan kapten kapal yang menyelundupkan obat-obatan itu."


"Dia adalah Morgan, pria psikopat yang punya jaringan dengan mafia Meksiko. Aku berlayar bersamanya ke berbagai negara sebelum menetap di negara ini. Dan setelah aku pulang ke negara asliku, bersamanya aku mulai membuat organisasi gangster sendiri."


"Hidupku berangsur berubah ketika mengenal seorang gadis, dia adalah istriku saat ini. Dulunya dia hanya seorang gadis polos yang jago beladiri, bahkan aku sampai berbohong soal pekerjaanku demi mendapatkan hatinya. Aku berbohong jika pekerjaanku adalah pembuat tato, lalu aku memutuskan untuk bergabung ke perusahaan milik keluargaku. Hal itu aku lakukan demi penyamaran dan demi Rika mau menikah denganku."


"Tapi ... identitas Ayah mertua sebelumnya bukankah jadi masalah?" tanya Keyran.


"Tentu saja, label sebagai mantan Yakuza tak akan bisa hilang. Dan aku akan dipandang rendah jika hal itu sampai diketahui oleh orang-orang. Bahkan istriku sendiri pernah mengancam akan bunuh diri jika aku tidak berhenti sebagai gangster. Aku hanya bisa menurutinya karena aku tak mau kehilangan ibu dari anak-anakku. Tapi sayangnya ... aku telah melakukan sebuah kesalahan besar."


"Apa kesalahan itu adalah Nisa?"


Gilang menghela napas. "Kau memang pintar. Nisa adalah satu-satunya anakku yang gagal aku kendalikan. Tapi itu masih tak luput dari kesalahanku sendiri, sejak Nisa masih balita aku sudah mengenalkannya pada dunia gelap seperti itu. Akibatnya dia melihat hal-hal yang harusnya tidak dia lihat, dia belajar hal-hal yang harusnya tidak dia pelajari. Sisi baiknya dia jadi lebih dewasa, tapi ... tetap saja tekanan yang dia terima jauh lebih besar. Itulah sebabnya mengapa dia menderita gangguan kecemasan umum."


"Sekarang harusnya kau tahu jika Nisa, istrimu itu adalah seorang kriminal. Dia sudah banyak membunuh dan menghancurkan kehidupan orang lain. Aku mengaku jika aku adalah orang yang licik, aku baru mengatakan semua ini setelah kau menikah dan jatuh cinta pada putriku. Aku minta maaf, harusnya aku menceritakan ini sebelum pernikahanmu."


Keyran terdiam sejenak, lalu dia berkata, "Kenapa menceritakan semua ini padaku? Padahal Ayah mertua bisa saja merahasiakan ini sampai mati."


"Di mata pebisnis, hal ini memang memalukan. Tapi aku sudah memilih keputusan ini demi putriku. Aku akui jika aku adalah ayah yang buruk, tapi aku tak menginginkan putriku tenggelam ke kegelapan yang lebih dalam lagi."


"Lihatlah keadaan yang terjadi sekarang, video tentang pengakuan adik tirimu sudah tersebar ke mana-mana. Dan pastinya ini adalah ulah Nisa! Cara Nisa memang seperti ini, dia sama sekali tidak takut mengorbankan apa pun demi balas dendam. Dia rela mempertaruhkan segala yang dia punya agar musuhnya ikut hancur bersamanya, bahkan nyawanya sendiri dia tidak peduli."


Gilang menarik napas panjang dan menatap Keyran lekat-lekat. "Tolong, bawalah Nisa kembali! Karena aku tahu hanya kau yang bisa melakukannya! Saat ini dia berada di Grizz Glory Casino."


"A-apa?! Kenapa Nisa ada di kasino?" tanya Keyran seakan tidak percaya.


"Karena tempat itu sebenarnya adalah markas utama. Rekan lamaku yang sampai saat ini mengelola tempat itu. Jika kau tidak percaya maka silakan kau bukalah internet, cari lokasi itu dan lihatlah keterangan yang tertulis di sana. Maka kau akan menemukan kejanggalan."


Keyran buru-buru mengambil ponselnya, dia mengecek apakah yang dibilang oleh ayah mertuanya adalah hal benar ataukah tidak. "B-benar, kasino yang biasanya buka 24 jam kini tutup. Jadi Nisa benar-benar ada di sana! Aku harus secepatnya pergi untuk menjemputnya!"


"Tunggu!" cegah Gilang.


"Ada apa lagi?!" tanya Keyran dengan tidak sabar.


"Jika kau terburu-buru tanpa persiapan seperti ini maka kau akan mati. Kasino itu sekarang ditutup, artinya mereka sekarang sedang sibuk dan dalam posisi siaga. Area di sekitarnya pun tak terkecuali, mereka punya pos masing-masing untuk mengawasi setiap kendaraan yang mengarah ke sana."


"Haruskah aku ke sana bersama dengan Ayah mertua?"


"Tepat, itulah mengapa aku datang menemuimu. Berbahaya jika kau ke sana dengan mobilmu, tapi jika kau pergi dengan mobilku maka kau setidaknya akan bisa selamat menerobos pertahanan pertama. Aku akan membantumu memasuki kasino itu dengan mengecoh penjaga yang berjaga di depan. Lebih rinci lagi akan aku ceritakan di mobil. Kita berangkat sekarang!"


"Baik, mohon bantuannya!" jawab Keyran sambil mengangguk.


***


Di sisi lain dalam sebuah kamar VVIP nomor 11. Nisa saat ini dalam keadaan yang tidak bersemangat, dia duduk di pinggir ranjang dan ditemani oleh Jonathan. Tetapi di satu sisi Jonathan masih bersikeras membujuk Nisa untuk memakan makanan yang telah dia ulurkan.


"Ayolah Nisa, buka mulutmu ..." pinta Jonathan dengan nada lembut.


Nisa memalingkan wajahnya. "Sudah berapa kali aku bilang jika aku tidak lapar!"


"Makanlah sedikit saja, sudah 2 hari kau belum makan apa-apa. Setidaknya jangan menyiksa dirimu sendiri, kau bisa sakit jika seperti ini terus."


"Sakit?" Sejenak Nisa tertegun, kemudian dia tersenyum sinis. "Untuk apa kau peduli jika aku sakit?"


Nisa menoleh ke arah Jonathan, lalu menatap pria itu dengan tatapan sayu. "Apa kau tidak lelah, Joe? Aku tak pernah memberikan apa pun untukmu, tapi mengapa kau masih bersikap baik padaku?"


Jonathan menghela napas dan tersenyum tipis, dia juga mengusap kepala Nisa dengan lembut. "Aku tidak akan lelah. Meskipun ini berat bagiku dan kau terus menolakku ... tapi aku yakin, suatu saat kau pasti akan luluh padaku."


"..." Nisa diam seribu bahasa, lalu perlahan menyingkirkan tangan Jonathan dari kepalanya. "Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku tetap tidak mau makan. Berikan obatku sekarang!"


"Hahh ... baiklah." Jonathan hanya bisa menurut, dia mengembalikan sepiring hidangan itu kembali ke nampan. Lalu dia mengeluarkan obat milik Nisa yang sempat dia sembunyikan.


Nisa langsung merebut obat yang berada di dalam kantong berwarna hitam tersebut. Dia mengambil beberapa butir dan bersiap untuk menelannya.


"Hentikan Nisa!" teriak Jonathan yang tiba-tiba menepis tangan Nisa hingga obat itu terjatuh ke lantai.


"Apa yang kau lakukan?! Aku butuh obat itu!" bentak Nisa.


"Tidak boleh! Aku tahu betul jika obat itu adalah obat keras, bahkan termasuk psikotropika! Obat itu punya efek samping yang bisa membuatmu kecanduan! Tolong jangan gunakan obat itu lagi!" pinta Jonathan sambil mencengkeram pundak Nisa.


"Lantas kenapa?! Perasaanku sangat kacau sekarang! Aku perlu obat itu agar bisa membaik!" Nisa meronta sekuat mungkin, namun Jonathan juga bersikeras untuk menahannya.


"Lepaskan aku, Jonathan!!"


"Tidak! Aku punya cara lain agar perasaanmu membaik!"


"Cara seperti ap-" Perkataan Nisa langsung terhenti begitu Jonathan mendekapnya dengan erat.


"Tenanglah Nisa ... tak apa jika kau merasa cemas, ada aku di sini ..." ucap Jonathan sambil mengusap kepala Nisa, dia benar-benar ingin membuat gadis pujaan hatinya itu merasa tenang di dalam dekapnya.


Tak asing namun berbeda, itulah yang dirasakan oleh Nisa. Terbesit kenangan jika sebelumnya dia selalu mendapatkan pelukan seperti ini di kala sedih ataupun cemas. Pelukan dari seseorang yang disayangi, pelukan hangat dari suami yang sebelumnya selalu menemani.


Keyran, sosok yang diingat olehnya saat ini. Setiap kali dirinya sedih, pelukan dari Keyran selalu dapat menghiburnya. Setiap kali dia terluka, pelukan Keyran selalu dapat menyembuhkannya. Setiap kali dia cemas seperti sekarang, pelukan Keyran selalu dapat menenangkan dirinya.


Namun, pelukan yang dia terima sekarang terasa berbeda. Orang yang memeluknya saat ini berbeda, bahkan pelukan itu pun memberikan kesan yang berbeda. Entah kenapa hatinya terasa teriris, rasa cemas yang dia derita tak kunjung berkurang, tangannya sekalipun juga tak mau berhenti gemetar.


"Joe ..." ucap Nisa dengan lirih. Dirinya seakan-akan terasa kosong, bahkan niatan untuk membalas pelukan itu pun tidak ada.


"Hm? Sudah merasa lebih baik?" tanya Jonathan yang hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh Nisa.


"Tak apa, aku akan terus memelukmu sampai kau merasa lebih baik." Jonathan terus memeluk erat tubuh Nisa dengan kehangatannya, dia sama sekali tidak peduli meskipun diperlakukan dingin oleh Nisa.


Ada yang bilang cinta itu buta dan tuli, mungkin itu benar. Jonathan telah menjadi buta dan tuli. Matanya menjadi buta melihat sikap penolakan. Telinganya menjadi tuli mendengar kalimat yang mengisyaratkan peringatan.


Padahal dia tahu, sangat-sangat tahu. Orang yang dipeluk adalah seseorang yang masih memiliki luka, yang masih mempunyai sisa air mata di pipi, yang masih berusaha memperbaiki kepingan hati.


Namun, dia terlalu angkuh. Menyangkal segalanya dan membiarkan hatinya jatuh, benar-benar jatuh ke dalam lubang tak berdasar yang bernama cinta.


"Kau aneh, untuk seseorang yang baru saja membalas dendam. Apa kau merasa cemas dengan apa yang sudah kau lakukan?" tanya Jonathan tanpa melepaskan pelukannya.


"Tidak. Aku hanya ... merasa cemas dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Aku takut ... aku takut jika yang terjadi di luar prediksiku ...."


Jonathan tiba-tiba melepaskan pelukannya dan memegang wajah Nisa dengan kedua tangannya. "Hei, kau tak perlu takut. Apa pun yang terjadi nanti, meskipun seluruh dunia memusuhimu, aku akan selalu berada di sisimu. Kau bisa memegang kata-kataku."


"Sungguh?" tanya Nisa.


"Tentu saja!" jawab Jonathan dengan senyum lembut. Pandangan matanya tak kunjung lepas dari pandangan manik mata berwarna cokelat yang indah itu. Dia sadar jika inilah saatnya peluang untuk semakin mendekat, terlebih lagi kali ini Nisa juga tak menghindar.


TOK TOK TOK!


"S-siapa?!" Suara ketukan pintu itu seketika membuat Nisa memalingkan wajahnya. Di satu sisi Jonathan juga menjauh, meskipun dia sedikit merasa kesal.


"Ini aku!" jawab seseorang yang berada di balik pintu.


"Oh, Marcell! Ada apa? Apakah Daniel sudah sadar dan bicara sesuatu yang penting?"


"Tidak, tapi ini lebih penting dari itu. Mobil dengan pelat nomor XX 777 GS datang kemari."


"A-ayah! Ayahku datang kemari!?" Nisa membelalak.


"Ya, itu benar. Tapi yang turun dari mobil itu bukan ayahmu, melainkan suamimu. Dia sekarang berdiri di depan pintu masuk, kau mau menemuinya atau tidak?"


"K-Keyran ke sini?!" Nisa lebih terkejut lagi, bahkan tangannya yang semula sudah berhenti gemetar kini gemetar kembali.







Maaf baru sempat update, dikarenakan hatiku sedang potek💔