Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Pria yang Lebih Baik Darimu


"A-aku gugup karena kau membentakku ..." Nisa lalu memasang tampang memelas. "Kau tega sekali memarahiku di depan banyak orang ..."


"Hng! Kau jangan memasang tampang menyedihkan seperti itu, kali ini kau tidak akan berhasil membodohiku!" Keyran lalu menatap Nisa dengan tatapan sinis. "Jangan-jangan kau ini benar-benar berselingkuh dariku?"


"Key ... aku sudah bilang kalau aku nggak selingkuh! Coba kau lihat dulu aku baik-baik lalu berpikirlah, apakah mungkin ada yang mau atau tertarik padaku? Jawabannya adalah ... hanya orang bodoh yang tertarik padaku!"


"Kalau pria itu bukan selingkuhanmu, kenapa pria itu mengaku sebagai suamimu!?"


Sial, kau bilang hanya orang bodoh yang tertarik padamu. Lalu aku sebagai suamimu kau anggap apa? Apakah menurutmu aku super idiot?


"Dia itu cuma teman kok, lalu ... dia mengaku sebagai suamiku itu juga bercanda. Kenyataannya kan kau itu yang suamiku, hehe ..."


"Teman katamu? Apa pertemananmu itu tidak ada batasnya, kenapa temanmu itu berani mengaku ke orang-orang sebagai suamimu?"


"Yaa .. Kau tahu lah, teman kalau sudah akrab kadang bercandanya kelewatan."


"Bercanda kelewatan yaa ... Apa dia juga menyentuhmu? Dan kapan dia mengaku sebagai suamimu?"


"Dia nggak pernah menyentuhku, dia mengaku sebagai suamiku itu saat emmm ... sepertinya sudah lama ..." untuk sejenak Nisa terdiam. "Ah, aku ingat! Apa kau masih ingat saat kau menandatangani laporanku?"


"Ya, terus kenapa?"


"Waktu itu kau menandatangani laporanku saat malam hari. Nah, sore harinya dia menjemputku dan mengaku sebagai suamiku."


Ya ampun, rasanya seperti diinterogasi, tapi kali ini di depan banyak orang.


"Siapa nama temanmu itu?"


Untung saja pria yang entah siapa itu tidak menyentuh Nisa, dan kejadian itu terjadi sebelum aku dan Nisa melakukan itu. Tadinya aku sempat berpikir kalau bayi yang dikandung oleh Nisa bukanlah bayiku, tapi sekarang aku merasa sangat lega karena itu memang benar-benar bayiku.


"Namanya ... J-Jeki!"


"Jeki?" Keyran lalu mendekatkan wajahnya pada Nisa. "Waktu itu kau bilang kalau kau punya teman namanya Jaki. Sekarang aku curiga kalau kau itu berbohong~ Siapa Jeki dan siapa Jaki?"


"Aku mana ada bohong!? Jeki dan Jaki mereka berdua adalah temanku, m-mereka kembar identik! Jeki itu kakaknya, lalu Jaki adiknya, selisih mereka cuma lima menit."


"Tunggu sebentar ... katamu Jaki adalah seorang waria, apakah Jeki juga?"


"I-iya, Jeki juga seorang waria!"


"Bohong tuh!!" sahut Terry, "Orangnya saja berpenampilan modis, coll, gentle lagi ... Masa yang begitu dibilang waria!?"


BRAAK!!


Nisa menggebrak meja dan langsung berdiri, dia juga menatap Terry dengan tatapan sinis. "Hei petugas babi, memangnya kau tahu apa hah!?"


"Aku tahu!" Terry berjalan mendekat ke arah Nisa dan berkacak pinggang. "Temanmu yang namanya Jeki itu sama sekali bukanlah seorang waria! Sekarang yang sedang kau lakukan adalah membohongi suamimu~" ucap Terry sambil melirik ke arah Keyran.


"Nisa," Keyran juga berdiri dan mencengkeram pundak kiri Nisa dari belakang. "Apa yang dibilang oleh orang ini benar? Apa kau sedang membohongiku?"


"Key ..." Nisa lalu menyingkirkan tangan Keyran dari pundaknya dan berbalik badan menghadap ke arah Keyran. "Dengar ya, Terry itu nggak tahu apa-apa. Jadi kau jangan percaya pada apa pun yang dia katakan!"


"Cukup, kau diamlah!" Keyran lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Terry. "Aku mengenalmu, kau berasal dari keluarga yang berpengaruh juga, kau adalah tuan muda dari keluarga Bachtiar. Harusnya kau paham dengan konsekuensi atas perkataanmu. Sekarang katakan semua yang kau tahu tentang pria yang mengaku sebagai suaminya istriku!"


"Wah ... saya tersanjung orang yang sangat disegani seperti Anda bisa mengenal saya. Tapi, apakah Anda sudah mempersiapkan diri untuk mendengar sebuah kebenaran yang menyakitkan?" Terry lalu menyeringai dan melirik ke arah Nisa.


Hehehe, Trouble Lady ... bersiaplah! Kebusukanmu akan aku bongkar semua di hadapan suamimu.


"Katakan saja!" Keyran lalu menatap Nisa dengan tatapan sinis. "Bahkan jika itu kenyataan yang menyakitkan, aku siap mendengarnya."


"Baiklah, akan saya jelaskan secara rinci. Saat itu, tanggal 18 jam 14:25 ada seorang pria tampan, bergaya modis, berpostur tinggi dan terlihat seumuran dengan Anda tiba-tiba datang ke kampus. Dia mengaku kalau dia itu adalah suaminya Nisa lalu bertanya kepada orang-orang kapan Nisa, yaitu istri Anda akan pulang. Tak lama kemudian Nisa ini mendatanginya dengan penuh kebahagiaan. Setelah itu, mereka berdua masuk ke dalam sebuah mobil lamborghini aventador berwarna hitam."


Terry lalu berjalan selangkah lebih dekat kepada Nisa. "Trouble Lady ini ... dijemput oleh pria kaya, dan pergi berdua saja dengannya. Mungkin saja istri Anda ini karena terlalu bosan akhirnya telah menjadi seorang sugar baby~"


PLAAK!!


Sebuah tamparan keras melayang di pipi Terry hingga dia tak berkutik lagi. Semua orang yang berada di kantin, teman-teman Nisa dan Keyran seketika tercengang melihat tindakan Nisa.


Saat ini Nisa terlihat sangat marah dan pandangan matanya seakan ingin membunuh orang. Dengan kedua tangannya dia kemudian menarik dan mencengkeram kerah baju Terry.


"Hei babi! Jaga bicaramu! Sekali lagi kau bilang kalau aku adalah sugar baby maka aku akan langsung membunuhmu!"


Mendengar perkataan Nisa tentu saja membuat Terry merinding. Karena Nisa mengucapkan kalimat itu dengan keras, beberapa mahasiswa lain mulai merasa panik dan ada juga yang segera meninggalkan kantin untuk melapor ke dosen. Namun tiba-tiba saja Nisa berteriak, "Berhenti!! Jika ada yang berniat melapor, maka nasibnya akan sama dengan cecunguk ini!"


Seketika orang yang tadinya ingin melapor langsung mematung. Dan di sisi lain Keyran lalu mendekat ke arah Nisa dan menyentuh pundaknya. "Nisa ... sudahlah, kendalikan emosimu. Lepaskan dia ..."


"Memangnya kenapa!? Bukankah kau tadi sepihak dengannya!? Bukankah kau juga lebih mempercayai cecunguk ini dibanding aku!?" Nisa semakin kuat mencengkeram kerah baju Terry.


"Aku mohon tenanglah, aku percaya padamu ..."


"Cih, sialan!" Nisa lalu melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah baju Terry, bahkan dia juga mendorongnya menjauh hingga mundur beberapa langkah. "Dia sudah aku lepaskan, sekarang kau ingin aku berbuat apa lagi hah!?"


"Aku mohon tenanglah ..."


Harusnya aku tidak menanggapi omongan orang itu. Aku lupa kalau Nisa sedang hamil, emosinya sekarang sangatlah labil, terlebih lagi itu pasti akan mempengaruhi kondisi janin.


"Tenang katamu!? Apa aku harus diam saja saat ada orang yang menghinaku!?" Nisa lalu menunjuk ke arah Terry. "Bajing*n ini! Dia sejak dulu memang suka mencari-cari kesalahanku, bahkan sekarang dia telah berani menuduhku sebagai seorang sugar baby. Memangnya bukti apa yang kau punya bangs*t!?"


"Memangnya apa yang harus aku buktikan!? Tadi itu aku hanya bilang mungkin, cuma mungkin! Itu tadi hanya sebuah spekulasi, toh jika kau memang bukan seorang sugar baby kenapa kau harus marah dan tersinggung!?"


"Tentu saja aku tersinggung! Memangnya aku salah jika punya seorang teman yang kaya!? Memangnya aku salah jika aku naik mobilnya!? Kau jangan mencoba untuk ikut campur, urus saja urusanmu sendiri!"


"Siapa juga yang tertarik ikut campur dengan urusanmu!? Aku mengatakan semua itu karena suamimu bertanya kepadaku, itu artinya suamimu sendiri juga meragukanmu!"


Nisa langsung menyerobot tas ransel miliknya yang ada di bangku. Dia lalu bergegas untuk pergi meninggalkan kantin sambil berteriak, "Persetan dengan kalian semua!!" Saat Nisa hendak melangkah, seketika tangannya ditahan oleh Keyran. Nisa bahkan menatap Keyran dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Kau ingin pergi kemana?" tanya Keyran yang masih menggenggam tangan Nisa dengan erat.


"Tentu saja mencari sugar daddy! Memangnya mau kemana lagi!?"


"Cukup, tolong hentikan kegilaanmu. Kau bersikap seperti ini tidak baik untuk kondisimu. Kau tenanglah, anggap saja semua yang tadi itu tidak pernah terjadi."


"Cih, mudah sekali bicaramu? Untuk apa kau peduli padaku hah!? Kau jangan bersikap seperti seorang suami yang baik, kau itu juga bajing*n! Kau bajing*n! Aku membencimu! Lepaskan aku sialan!!"


Nisa terus meronta untuk melepaskan cengkeraman Keyran dari tangannya. Namun Keyran malah mencengkeramnya semakin kuat, dan tiba-tiba saja dia memeluk Nisa dengan begitu erat.


"Tenanglah ... aku mengaku salah karena telah meragukanmu. Kendalikan dirimu ... kau tidak salah, kau juga bukanlah seorang sugar baby, kau itu adalah istriku. Maafkan aku, oke?"


BRUGH...


Seketika badan Nisa menjadi lemas dan ransel yang dia pegang terjatuh ke lantai. Nisa tidak berkata sepatah kata pun, bahkan dia juga tidak membalas pelukan dari Keyran.


"Maafkan aku yaa?"


Nisa mengangguk perlahan, lalu dengan suara lirih dia berkata, "Oke, aku memaafkanmu ... Apa kau masih curiga jika aku selingkuh?"


"Tidak, aku percaya padamu. Sekarang kalau aku pikir-pikir ... jika kau selingkuh pasti selingkuhanmu itu lebih baik dariku, dan kenyataannya di dunia ini tidak ada yang lebih baik dariku. Benar kan darling~"


"Iiihh narsis ..." Nisa lalu membalas pelukan dari Keyran. "Ada kok pria yang lebih baik darimu, dia bahkan cinta pertamaku ..."


"Siapa!?" bentak Keyran.


Pasti yang kau maksud adalah mantanmu.


"Tentu saja ayahku, dia yang sudah membesarkanku. Apa kau juga akan cemburu kepadanya?"


"Jika aku bersaing dengannya, bukankah sudah pasti aku akan kalah?"


"Haha ... pesimis sekali, tapi kenyataannya sekarang kau berhasil merebutku darinya. Ini artinya kau adalah pemenangnya~"


"Pintar sekali bicaramu ..."


Keyran dan Nisa masih terus berpelukan dan melanjutkan kemesraan mereka. Namun di sisi lain masih ada Terry yang sibuk menulis pelanggaran yang telah Nisa buat di sebuah catatan kecil yang khusus dibuat untuk Nisa.


"Ckck ..." ucap Terry sambil geleng-geleng kepala.


Sania .. Sania .. pelanggaran hari ini, pertama kau membuat kerumunan yang mengganggu, kau melakukan tindak kekerasan dan bicara kasar di depan umum, dan sekarang kau juga bermesraan di hadapan para kaum yang sebagian besar jomblo. Untung saja suamimu adalah sponsor dari universitas ini, jika bukan maka kau sudah pasti akan mampuus.


Selain Terry, masih ada Isma dan Jenny yang juga sibuk sendiri. Tanpa sepengetahuan dari siapa pun, sedari tadi ternyata Jenny sibuk merekam adegan kemesraan Nisa dan Keyran. Isma yang berada di sampingnya juga dibuat bingung. Dan akhirnya kedua orang itu mulai berbisik-bisik satu sama lain.


"Lo ngapain sih Jen? Buat apa orang lagi pelukan divideo? Kurang kerjaan amat, cuma ngabisin ruang penyimpanan aja."


"Ssstt ... ini penting banget, nanti aku bakal kirim video ini ke Aslan."


"Dihh ... mentang-mentang sekarang lo resmi pacaran sama Aslan, lo kirim video itu buat nanti praktek sama dia kan? Hayoo ngaku~"


"Ya ampun zeyenk, bukan begitu Isma chantiq ... Video ini nanti bakalan diliatin ke Ricky. Aslan tuh cerita kalau sampai sekarang Ricky itu belum bisa move on dari Sania. Bahkan yaa ... Aslan pernah mergokin Ricky waktu makan siang tuh dia terus ngeliatin fotonya Sania!"


"Njiirrr ... kok sampai segitunya sih?"


"Nggak cuma itu, Ricky bahkan minum sampai mabok berkali-kali, otomatis Aslan juga kan yang repot. Padahal Aslan juga udah ngasih banyak banget nasihat suci buat bisa move on, tapi tetep aja gagal. Yang nggak bisa move on Ricky, tapi Aslan juga ikut stress."


"Ya ampun, bahaya banget tuh. Coba deh bayangin kalau Ricky tiba-tiba kepikiran Sania pas lagi operasi, kan bisa gawaaat!"


"Ya gawat lah. Tapi sekarang Ricky udah nggak sesering dulu operasi. Sekarang dia itu kan udah jadi ketua Asosiasi Kedokteran satu negara, otomatis sekarang dia sering bolak-balik ke luar kota. Yang paling bahaya seandainya dia keingetan sama Sania pas waktu nyetir mobil, bisa-bisa rawan kecelakaan."


"Jadi, tujuan video ini nantinya buat Ricky bisa cepet move on gitu?"


"Yup! Aslan pengen Ricky sadar kalau Sania itu sekarang udah bahagia tanpa dia. Jadi semoga aja deh Ricky bisa cepet move on, kasihan tau kalau terus-terusan terjebak di masa lalu."


"Iya, bener banget. Btw, bukannya Ricky deket ya sama Natasha?"


"Kalau soal itu sih gue juga nggak paham. Setelah Aslan tau kalau Natasha periksa ke dokter kandungan, mulai saat itu juga Natasha seakan-akan hilang ditelan bumi. Toh pihak keluarganya juga udah ngasih tau ke pihak kampus kalau Natasha berhenti kuliah. Menurutku sih sayang banget, meskipun gue ogah ngakuin, tapi Natasha itu termasuk pinter juga kan?"


"Pinter sih pinter, tapi dia dapat peringkatnya itu cuma hoki!"


"Hoki?"


"Ya hoki lah, bahkan Terry si peringkat 1 juga hoki."


"Maksud lo?"


"Maksud gue tuh harusnya peringkat 1 itu Sania, cuma ... gara-gara Sania males masuk, kebanyakan bolos, makanya nilainya dipotong. Lo sadar nggak sih? Selama ini gue ngerasa kalau Sania itu sedikit gimana gitu ..."


"Gimana apanya? Bukannya udah jelas ya kalau dia itu barbar?"


"Bukan itu yang gue maksud. Selama ini waktu ujian, nilainya Sania pasti mepet banget, cuma salah satu nomor. Dan itu pastinya nomor 28, bukannya itu aneh?"


"Maksudnya dia sengaja nggak dapat seratus, begitu? Tapi motifnya apa coba?"


"Gue nggak tau. Dia itu memang susah ditebak. Sekarang cuss lanjut video aja!"


"Oke."


"WTF! Betah banget masih pelukan!?" teriak Jenny dan Isma bersamaan.