Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Tragedi Tak Diharapkan


KYAAAA!!


Suara teriakan panik dari orang-orang kian terdengar semakin keras. Mereka semua berlarian dan saling mendorong satu sama lain demi melewati pintu keluar dari gedung aula yang terbakar itu.


Kepulan asap yang tadinya sama sekali tak terlihat, sekarang telah memenuhi segala sisi ruangan itu yang membuat pernapasan menjadi sesak. Apalagi dengan adanya bermacam-macam hiasan dekorasi pesta yang mudah terbakar, akibatnya kobaran api semakin cepat menjalar ke mana-mana.


"Uhuk ... uhuk!!" Keyran menutup mulut dan hidungnya dengan sapu tangan yang dia bawa. Namun bukannya bergegas pergi ke pintu keluar terdekat, dia malah menuju ke lantai atas, tepat di mana arah timbulnya asap bermula.


Setibanya di lantai atas, Keyran menjumpai sebuah tabung pemadam kebakaran berwarna merah yang menempel di dinding. Dia mengambil alat pemadam api ringan tersebut dan terus lanjut berjalan menelusuri lorong di lantai atas itu.


"Nisa!! Kau di mana?!! Nisaaa!!"


Keyran menarik pin pengunci APAR tersebut lalu mengarahkan selang ke api yang menghalangi jalannya.


"Nisa!"


Sialan, aku punya firasat buruk tentang ini. Aku lupa ada beberapa ruangan di lantai ini yang belum aku cek sewaktu mencarimu tadi. Semoga kau baik-baik saja Nisa.


Keyran tetap nekat melanjutkan pencarian terhadap Nisa di lantai itu. Tak peduli seberapa besar dan panasnya api yang menghalangi langkahnya, dia tetap bersikukuh untuk terus menerjang api itu demi menemukan keberadaan istrinya.


Di satu sisi, orang-orang yang telah berhasil menyelamatkan diri juga cepat tanggap. Mereka segera menghubungi layanan darurat seperti pemadam kebakaran dan ambulans. Karena gedung itu berada di tengah kota dan mudah untuk dijangkau, bantuan yang diharapkan dengan cepat datang. Polisi setempat juga datang untuk memberikan bantuan.


Para korban yang sudah berada di luar area gedung juga menghitung jumlah anggota keluarga, maupun teman yang berhasil melarikan diri. Beberapa di antara mereka kembali panik saat orang yang penting bagi mereka masih terjebak di dalam. Sambil diiringi dengan tangisan dan teriakan, mereka memohon kepada petugas berwajib untuk menyelamatkan keluarga mereka.


"Key! Keyran! Di mana kakakmu?!" tanya Tuan Muchtar sambil menatap ke arah Daniel yang sudah berada di luar.


"Aku tak tahu," jawab Daniel sambil menggelengkan kepala.


"Sial! Dia mungkin masih di dalam."


"Key! Sayang! Darling! Kau di mana?!" teriak Nisa yang tiba-tiba muncul dari arah belakang kerumunan orang-orang.


Nisa lalu menghampiri ayah mertuanya. Kemudian dia berkata, "Syukurlah ayah mertua selamat. Apa Key bersamamu?" tanya Nisa dengan tatapan berharap.


"Sayangnya tidak," jawab Tuan Muchtar dengan nada menyesal.


"Apa?!" Seketika Nisa membelalak, sekejap kemudian dia berpaling memandang gedung aula yang sedang dilahap oleh si jago merah.


Tanpa peringatan apa pun tiba-tiba Nisa melangkah mendekati gedung aula itu. Namun saat dia semakin dekat, jalan di depannya dihadang oleh seorang petugas pemadam kebakaran.


"Minggir!" bentak Nisa.


"Maaf Nona, ini area berbahaya! Mohon untuk segera menjauh, ini demi keselamatan Anda." ucap si petugas pemadam kebakaran itu.


"Aku bilang minggir! Jangan coba-coba menghalangiku!" teriak Nisa yang bersikeras untuk tetap lewat. Namun sayang, lagi-lagi dia dihadang oleh petugas pemadam kebakaran.


"Tolong jangan mendekat, Nona! Di sini sangat berbahaya, tolong agar Nona segera menjauh!" imbau petugas kebakaran itu sambil memberikan isyarat kepada rekannya untuk membantu dirinya menghalangi Nisa.


"Benar Nona, mohon jangan mengganggu kami menjalankan tugas!" imbau petugas pemadam kebakaran yang satunya lagi.


"Persetan dengan tugas kalian berdua! Siapa juga yang mau mengganggu?! Sekali lagi aku katakan biarkan aku lewat! Suamiku ada di dalam sana! Aku harus segera menyelamatkannya, jadi jangan halangi aku!" teriak Nisa sambil terus mencoba untuk melewati kedua petugas pemadam kebakaran itu.


"Nona, sudah saya bilang kalau di dalam sana berbahaya! Beberapa petugas yang lain sudah masuk ke gedung aula untuk mengevakuasi orang-orang yang masih terjebak. Jadi tolong agar Nona bertenang diri dan segera menjauh!"


"Memintaku agar aku tenang katamu!? Bagaimana aku bisa melakukannya sementara hidup dan mati suamiku sedang dipertaruhkan di dalam sana?! Aku mohon biarkan aku lewat!"


"Tolong jangan nekat! Nona hanya akan mengantar nyawa jika masuk ke dalam sana!"


"Kalau begitu biarkan saja! Jika suamiku tak selamat maka biarkan aku menyusulnya! Kau sama sekali tak punya hak untuk melarangku!!"


BUAKK!!


Tiba-tiba saja sebuah pukulan tinju yang keras melayang di muka petugas pemadam kebakaran itu. Tinju itu mendarat tepat di hidungnya hingga di terjatuh ke tanah, dan bahkan darah mimisan mengalir keluar begitu saja dari hidungnya.


Sementara petugas yang satunya lagi hanya bisa terdiam, dia masih kaget karena dia melihat seorang gadis kecil yang bahkan memakai gaun pesta itu telah memukul rekannya.


Nisa bersikap seakan-akan tidak peduli, tapi ketika dia hendak melangkah lagi, petugas yang lain seperti polisi malah yang berganti menahannya. Dua orang polisi dengan kompak menahan Nisa dari belakang.


"Mohon tenang, Nona! Tidak dibenarkan menggunakan kekerasan!" ucap salah seorang polisi yang menahan tangan Nisa.


"Lepaskan aku, sialan!! Kenapa kalian semua menghalangiku?! Aku cuma mau menemui suamiku!!" teriak Nisa sambil meronta.


Petugas yang tadinya terkena pukulan itu kemudian bangkit dengan dibantu oleh rekannya. Dia mengusap darah mimisan dari hidungnya dan menatap tajam ke arah Nisa.


"Dinginkan kepala Anda! Bersikaplah patuh dan mengikuti protokol seperti yang lain! Sudah saya bilang kalau ada personil pemadam kebakaran yang lain yang sudah masuk untuk mengevakuasi orang-orang yang masih terjebak! Suami Anda pasti juga akan diselamatkan!"


Nisa tak mau kalah, dia juga menatap petugas itu dengan tatapan tajam. "Apa kau bisa menjamin, hah?! Apa kau bisa menjamin jika suamiku selamat tanpa luka sedikit pun?!"


"Kebakaran juga merupakan bencana yang tak terduga, jumlah korban maupun jumlah yang selamat juga tak dapat diperhitungkan pasti. Tapi tetaplah tenang Nona, berdoa saja semoga suamimu selamat. Percayakan saja kepada tenaga profesional seperti kami."


"Heh, tenaga profesional katamu?! Lalu apa yang sedang kau lakukan sekarang?! Kau tidak memperbolehkan aku masuk! Kalau begitu kau saja yang masuk ke sana! Kau akan lebih berguna jika masuk ke dalam ketimbang mencegatku di sini! Selamatkan suamiku seperti yang kau janjikan barusan!"


Nisa masih meronta. "Polisi sialan! Lepaskan aku! Apa kau juga bisa menjamin kalau suamiku akan selamat, hah?!"


Kedua polisi itu membisu, begitu pula dengan kedua petugas pemadam kebakaran. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa seorang gadis yang berusaha mereka cepat malah menyuruh mereka untuk masuk ke dalam kobaran api yang semakin besar itu.


"Cepat masuk sana! Kalian semua yang menghalangiku, awas saja jika benar-benar terjadi sesuatu yang buruk kepada suamiku! Aku pastikan kalian akan menyesal! Akan kubunuh kalian semua! Aku bersumpah akan membunuh kalian jika suamiku tak selamat!!"


Keempat pria itu hanya mematung, mereka semua merasa gugup karena melihat sorot mata membunuh yang tergambar di kedua mata Nisa. Ditambah dengan ancaman pembunuhan secara terang-terangan yang diteriakkan oleh Nisa, mereka sama sekali tidak habis pikir dengan hal tersebut.


"B-baiklah, kami akan segera masuk. Tapi mohon agar Nona tetap berada di sini."


Astaga, aku tak pernah menyangka tangan sekurus itu bisa membuatku sampai mimisan.


Sesuai dengan permintaan Nisa tadi, kini kedua petugas pemadam itu telah memakai baju tahan api dan masuk ke dalam gedung aula yang terbakar itu. Sedangkan Nisa, dirinya masih diawasi oleh polisi agar tidak bertindak sembrono. Dia juga diminta untuk menjauh, namun Nisa bersikeras tetap diam di tempat sampai melihat suaminya keluar dengan selamat.


***


Di dalam aula gedung yang terbakar itu hawa yang dirasakan semakin panas, asap tebal yang perih di mata menyelimuti seluruh ruangan. Orang-orang yang merasa terjebak juga berteriak histeris meminta pertolongan, beberapa dari mereka telah ditemukan dalam keadaan pingsan oleh petugas pemadam kebakaran.


Namun berbeda dengan keadaan Keyran. Saat ini dia masih berada di lantai atas, dia terjebak di dalam lingkaran api yang membara. Situasinya semakin tidak menguntungkan karena isi dari tabung APAR telah habis.


"Hahh ... haah ...."


Asap kebakaran yang pekat itu membuat dada semakin terasa sesak. Pandangan yang bisa terlihat oleh mata pun juga terbatas, semuanya tidak jelas dan hanya dipenuhi oleh asap.


Terdengar suara derap langkah yang mendekat ke arah Keyran. Lalu tampaklah seorang petugas pemadam kebakaran yang kemudian menepuk pundak Keyran dari belakang.


"Ternyata Tuan di sini, mari cepat tinggalkan gedung!!" ajak petugas pemadam itu.


Seketika Keyran menepis tangan yang berada di pundaknya. "Lepas! Aku masih harus mencari istriku! Aku sudah mencari di seluruh ruangan di lantai ini, dan ruangan di depanku ini yang terakhir! Aku yakin istriku ada di dalam sini!"


Keyran tetap berniat membuka pintu itu, ketika baru memegang gagang pintu sekejap kemudian dia langsung menarik tangannya kembali.


"Sshhh ... panas." Keyran mendesis sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


"Jangan bertindak sembarangan, Tuan! Jika gagang pintu panas maka kemungkinan besar di balik pintu ini nyala api nya semakin besar." ucap petugas pemadam itu.


"Aku tidak peduli! Aku sangat yakin kalau istriku ada di dalam sana! Aku harus cepat-cepat menyelamatkannya! "


"Mohon dengarkan saya, Tuan! Istrimu sudah berada di luar dan dia selamat tanpa luka sedikit pun! Jadi mari keluar dari gedung bersama saya sekarang juga!"


"Sungguh?! Kau tidak membohongiku agar aku menurut keluar, kan?"


"Benar, saya tidak berbohong!"


"Gaun warna apa yang dipakai istriku?"


"Emmm ... merah muda."


"Istriku pakai gaun biru! Jadi kau pasti bohong!" teriak Keyran penuh amarah.


"Astaga, mohon percayalah kepada saya! Saya lupa warna gaun nya seperti apa! Tapi yang jelas dia sudah selamat dan memakai gaun mewah! Jika Tuan masih tidak percaya, silakan perhatian bagian atas bibir saya!"


Petugas pemadam kebakaran itu lalu melepaskan maskernya, sedangkan Keyran dengan tatapan heran memperhatikan apa yang ingin ditunjukkan oleh orang itu. "Apa yang merah-merah itu? Apa maksudmu itu bekas lipstick istriku?!"


"Bukan!! Tidak ada yang seperti itu! Merah-merah itu adalah darah saya, tadi saya dipukul sampai mimisan oleh istrimu karena sempat menghalanginya untuk menyelamatkanmu! Ini bukan lipstick, jangankan dicium, saya malah kena pukul!"


"Oh, kalau begitu maka benar dia adalah istriku. Istriku orangnya memang barbar, aku selalu memanjakannya sehingga dia memang suka seenaknya, jadi harap maklum!"


"...."


Benar-benar pasangan yang serasi, sama-sama bersikap seenaknya sendiri.


Keyran yang sudah percaya bahwa Nisa telah selamat akhirnya menurut untuk diajak keluar dari gedung. Ketika dia sudah berada di luar, dia langsung disambut oleh pelukan erat dari Nisa.


"Syukurlah kau selamat! A-aku takut terjadi apa-apa denganmu ... aku pikir tak akan bisa melihatmu lagi ...." ucap Nisa dengan nada gemetar.


Keyran tersenyum tipis dan membalas pelukan dari istrinya itu. "Haha, kalau begitu maka lihatlah aku sekarang~"


"Huh, malah menggodaku! Aku khawatir setengah mati padamu!" Nisa melepaskan pelukannya, dia kembali dikejutkan karena melihat ada darah di punggung tangan Keyran.


"Tanganmu kenapa?! Bagaimana bisa kau terluka?!" tanya Nisa dengan ekspresi panik.


"Ah, ini ... tadi asapnya sangat tebal lalu aku tanpa sengaja terjatuh. Tak apa, ini cuma luka kecil."


"Meskipun luka kecil juga perlu dirawat! Sini, ikut aku!"


Nisa lalu menggandeng tangan Keyran dan menyeretnya untuk mendekat ke mobil ambulans. Dia juga meminta sebuah kotak P3K kepada salah seorang kru ambulans.


Mereka berdua menepi dari kerumunan orang untuk segera merawat luka di tangan Keyran. Nisa sendiri yang merawat luka itu penuh hati-hati, mulai dari membersihkan luka sampai dengan memasangkan perban.


"Akhirnya selesai, kau tidak terluka di bagian lain lagi, kan?" tanya Nisa.


"Tidak, tapi ngomong-ngomong ... perban yang kau pasang sangat rapi. Aku tak tahu kau punya kemampuan yang baik dalam merawat luka, aku kira kau cuma bisa menyakit orang."


"Haha, jangan menyindirku. Hal-hal semacam ini sudah tidak asing lagi bagiku." ucap sambil tersenyum tipis.


"Ah iya, benar juga ...." Keyran langsung termenung sambil menatap tangannya yang telah dibalut oleh perban.


Entah hal-hal seperti apa yang telah dilalui oleh Nisa. Memasang perban saja dia sudah cukup ahli, aku tak bisa membayangkan sudah berapa banyak luka yang pernah dia alami dan rawat sendiri.


Dan sekarang mungkin aku sudah tahu alasan kenapa mantan pacarnya seorang dokter, Nisa pasti juga memanfaatkannya untuk menangani hal-hal semacam ini. Di tubuh Nisa bagian mana pun aku tak melihat adanya bekas luka, mungkin karena dia yang membantu merawat luka yang dialami Nisa. Aku tak tahu harus berterima kasih atau tidak.


"Darling, bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Eh?! Kau bilang apa?" tanya Keyran yang sadar dari lamunannya.


"Aku tanya bagaimana perasaanmu sekarang? Kau sudah merasa lebih baik, kan? Di dalam sana kau pasti sudah menghirup banyak asap."


"Yaa ... sekarang sudah merasa lebih baik, karena kau yang merawatku!" jawab Keyran sambil meringis.


"Hei, aku serius! Dan kenapa kau bisa-bisanya terjebak di dalam?! Orang-orang lain yang berada di lantai yang sama semuanya sudah keluar. Tapi kau yang bahkan adalah pemilik gedung, harusnya kau sudah hafal di mana saja pintu keluarnya!"


"Aku tak kunjung keluar karena mencarimu, tadi kau bilang padaku kalau kau mau pergi ke lantai atas. Niatnya aku mau mengajakmu pulang lebih awal, tapi aku tak menemukanmu di mana pun! Dan tiba-tiba saja malah ada kebakaran! Aku kebingungan mencarimu, sebenarnya ke mana kau pergi?"


"Emm ... sebenarnya aku sejak tadi ada di luar gedung. Aku merasa agak muak dengan pesta ini, karena itulah aku lebih memilih untuk mencari angin segar di luar."


Maaf, lagi-lagi aku bohong. Tapi kalau aku cerita yang sebenarnya, aku takut kau akan marah.


"Oh iya, kau istirahat dulu di sini. Aku mau mengembalikan kotak P3K ke kru ambulans dulu."


"Baiklah," jawab Keyran sambil mengangguk.


Nisa hendak mengembalikan kotak P3K itu, ketika baru selangkah dia melangkah, dia terkejut dengan apa yang dilihatnya dari kejauhan. "Eh?! Bukankah itu Natasha?! Tapi kenapa dia pingsan dan dibawa ke ambulans?"


"Ada apa, Nisa?"


"Itu adik iparmu, dia pingsan. Daniel, juga semuanya sepertinya terlihat panik dan mengikuti Natasha. Aku cuma heran kenapa dia bisa pingsan, padahal dia tidak terjebak di dalam kebakaran."


"Sepertinya ini serius, mari kita lihat!"


Keyran dan Nisa lalu menghampiri mobil ambulans yang dipakai untuk merawat Natasha. Mereka berdua kebingungan karena melihat raut wajah semua orang seakan-akan pucat dan putus apa.


"Apa yang terjadi, Ayah?" tanya Keyran.


"Ah, syukurlah kau selamat dan baik-baik saja. Hanya saja ... Chelsea masih terjebak di dalam, dan Samuel bersamanya." jawab Tuan Muchtar dengan nada putus asa.


"Apa?!"