
Nisa telah memantapkan diri untuk pergi ke apartemen Ricky. Ketika dia sudah sampai di depan gedung apartemen itu, dia kembali menelepon Aslan.
Nisa menelepon berkali-kali namun tidak diangkat, hingga dia menelepon untuk yang ke-12 kali baru Aslan mengangkatnya.
"Apa?" tanya Aslan yang suaranya terdengar malas.
"Turun woii! Keluar sini! Aku sekarang di depan gedung!"
"Yang butuh siapa? Kalau memang butuh ya ke sini dong!"
TUT TUT ...
Lagi-lagi Aslan menutup panggilan, Nisa yang merasa geram setengah mati tidak ada pilihan lain selain benar-benar masuk ke gedung apartemen itu.
Ketika Nisa berada di dalam lift yang penuh dengan orang, tiba-tiba dia mendapat panggilan telepon dari Aslan. Tanpa ragu Nisa langsung mengangkatnya begitu saja.
"Masuk sendiri, oke? Password nya masih sama!" ucap Aslan yang seketika menutup panggilan.
"Sialan," gumam Nisa sambil melirik ke arah orang-orang yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
Aku ini mau bertamu, tapi kenapa Ricky belum mengganti password nya?! Password sebelumnya kan hari jadianku dengan Ricky. Gila! Padahal terakhir kali aku ke sini tujuanku untuk memastikan keadaan Ricky dan mengucapkan permintaan maaf. Ini di luar bayanganku jika aku harus datang lagi ke tempat ini.
TING!
Pintu lift terbuka, Nisa melangkahkan kaki keluar dari lift dengan penuh keraguan. Ketika dia sampai di depan pintu apartemen Ricky, dia juga ragu saat hendak menekan tombol password.
PIP-PIP-PIP-PIP-PIP-PIP
Nomor password yang dimasukkan oleh Nisa ternyata benar, dia benar-benar tidak habis pikir bahwa mantan pacarnya masih menggunakan password itu meskipun mereka telah berpisah cukup lama.
Nisa perlahan melangkah masuk. Saat dia melangkah lebih jauh, dia terkejut dengan apa yang sedang dia lihat. Yaitu adalah Ricky dan Aslan yang sedang bermain PS bersama, ditemani oleh 2 buah box pizza, kentang goreng dan beberapa kaleng minuman bersoda.
"Apa-apaan kalian?! Kalian ini dokter, kenapa gaya hidup kalian begini?! Makan makanan junk food segala!" teriak Nisa seakan tidak percaya.
"Santai dong, bukan makanan haram." jawab Aslan tanpa melirik ke arah Nisa. "Lihat nih, orang di sampingku ini Ketua Asosiasi Kedokteran, dia juga makan."
"Dih, situ yang ngajak!" jawab Ricky.
"Haha, situ diajak juga mau!"
"..." Nisa membisu, tangannya mengepal sekuat mungkin karena melihat Ricky dan Aslan yang cengengesan. Dia menghela napas lalu berkata, "Cukup! Hentikan dulu permainan kalian! Ayo bicara serius! Aku ada perlu denganmu, Aslan!!"
"Kalau mau bicara ya tinggal bicara, kok repot?" tanya Aslan tanpa memandang Nisa.
"Sialan, kalian yang memaksaku!" Nisa melangkah maju dan mendadak mencabut colokan yang terhubung ke televisi.
"Woi! Apa sih?! Mau ngajak ribut?!" bentak Aslan yang kemudian berdiri dan berkacak pinggang.
"Bukan, aku mau mengajakmu bicara serius. Tapi kalau diharuskan ribut dulu baru mau bicara, ayo sini aku ladeni!" Nisa lalu menggulung lengan bajunya ke atas.
"Kalau serius bisa mati loh ..." ucap Ricky yang menatap Aslan dengan tatapan keraguan. "Kalau mau mati jangan ajak aku."
Nisa lalu menoleh ke arah Ricky dan tersenyum miring. "Haha, aku janji paling parah dia hanya akan patah tulang."
"Kampret! Dasar cewek sadis," gumam Aslan yang kemudian berjalan angkuh ke arah sofa.
Gara-gara emosi aku sampai lupa kalau dia itu gangster.
Nisa mengambil napas panjang dan kemudian menyusul Aslan untuk duduk di sofa. Sedangkan Aslan yang merasa sangat malas tiba-tiba berkata, "Mau bicara soal apa?"
"Soal Jenny," jawab Nisa.
"Ck! Dengar baik-baik ya Nisa Sania Siwidharwa, Jenny dan aku sudah putus, sekarang aku dan dia itu cuma sebatas orang asing. Nah, sudah kujawab. Silakan Nyonya Muda Kartawijaya pergi!" ucap Aslan penuh penekanan sambil menunjuk ke arah pintu.
"Ini yang aku mau tanyakan, Aslan! Kenapa kalian berdua bisa putus?! Harusnya saat ini bertahanlah dengan Jenny, kuatkan dia di saat dia sedang ada masalah di keluarganya!" teriak Nisa.
"Dih, sok ngatur! Aku putus itu karena sudah lelah! Aku lelah dengan orang gila sepertinya!"
"Gila bagaimana maksudmu?" tanya Nisa kebingungan.
"Kita sama-sama tahu kalau Jenny ada masalah dengan orang tuanya yang katanya mau cerai. Jenny juga sempat kabur, aku tahu itu! Aku menasihatinya agar pulang ke rumah dan bicara baik-baik, tapi dia malah menolak! Sebelum aku putus, dia datang menemuiku untuk mengajakku kawin lari lalu hidup di luar negeri! Bahkan dia juga membawa uang hasil menggadaikan rumahnya!"
"Itu hal gila! Mana mungkin aku mau?! Aku punya karier sebagai dokter di sini, terlebih lagi hubunganku dengan keluargaku juga baik-baik saja! Memangnya siapa yang mau mengorbankan semuanya cuma demi yang namanya pacar?! Aku bilang ke Jenny agar kembali ke rumahnya, tapi dia justru menuduhku kalau aku ini egois! Aku menyerah jika punya pacar sepertinya, sekarang aku nggak mau tahu apa pun lagi soal dia."
Nisa terkesiap mendengar penjelasan dari Aslan. Sejenak dia tertegun, kemudian dia berkata, "Aslan, Jenny hilang."
"Kalau hilang lapor ke polisi sana! Buat apa bilang ke aku?"
"Huft ... Maksudku itu begini, ada kemungkinan juga kalau Jenny cuma kabur dan bukan hilang. Mungkin saja dia ingin menyendiri untuk sementara waktu. Tapi, di mana rasa pedulimu, As? Mungkin sekarang Jenny ada di suatu tempat dan menunggumu! Pikirkanlah, sebuah tempat yang menyimpan kenangan kalian. Meskipun hubunganmu dengan Jenny berakhir, aku yakin rasa sayangmu dan khawatir tentangnya masih ada. Jadi ayo cari Jenny bersama!"
"Ogah! Aku nggak peduli!!"
"A-apa?!" Nisa sulit untuk percaya bahwa Aslan menolak ajakannya mentah-mentah. "Tapi kenapa?"
"Dasar naif!"
"Apa katamu?!"
"Aku bilang naif!" Aslan lalu berdiri dan menuding ke arah Ricky. "Jangan pikir kalau semua cowok itu se bucin dan se gila dia! Aku ini beda Nisa! Aku masih waras, aku tahu betul yang mana yang merupakan prioritasku! Hubunganku dengan Jenny sudah berakhir, artinya hidupnya adalah urusannya sendiri! Aku juga punya hidupku sendiri yang harus aku urus!"
"Tapi Aslan ... tolong bantu aku cari Jenny, aku butuh informasi darimu!"
"Informasi apa hah?! Aku nggak tahu apa-apa! Sewa saja detektif swasta! Dan aku beri saran untukmu, tetap dalam batasanmu! Kau itu cuma teman kuliahnya, jangan ikut campur masalah internal keluarga orang lain!"
"Tapi Jenny bisa saja dalam bahaya! Aku yakin kalau di hatimu itu sebenarnya masih ada rasa khawatir!"
"Berpikir itu pakai otak, bukan pakai hati! Toh dia sendiri bukan anak kecil! Aku sudah bilang kalau aku beda dengan Ricky! Ricky mungkin masih peduli dan tergila-gila padamu setelah hubungan kalian berakhir! Ricky itu cowok tol*l, gila! Tapi aku ini beda! Jangan pernah ungkit lagi soal Jenny di hadapanku! Persetan kalian semua!!"
Sekarang aku harus apa? Ucapkan permisi lalu pergi? Tapi mau bicara rasanya sungkan, terakhir kali bertemu dengan Ricky itu di rumah saat aku mau pulang, aku menangis dan sebelum dijemput Valen aku sempat memeluknya. Sialan, aku sangat malu! Rasanya ingin menghilang.
Mendadak Ricky mengambil sebuah box pizza dan berjalan mendekat, lalu ikut duduk di sofa panjang yang juga diduduki oleh Nisa. Nisa yang menyadari hal itu langsung bergeser ke ujung.
"Mau?" tanya Ricky sambil menyodorkan box pizza tersebut. Namun Nisa seketika menjawabnya dengan gelengan kepala.
Ricky menghela napas lalu meletakkan box pizza itu di meja yang berada di depannya. "Haha, padahal ini pizza sosis kesukaanmu. Mau minum?"
Sekali lagi Nisa menggeleng.
"Ehmm ... maaf," ucap Ricky tiba-tiba.
"Maaf soal apa?" tanya Nisa kebingungan.
"Soal kata-kata Aslan tadi, dia begitu juga karena stres. Mungkin dia terguncang gara-gara baru tahu sifatnya Jenny yang sebenarnya. Dia bahkan ambil cuti di hari dia putus dengan Jenny. Aslan juga butuh waktu untuk sendirian. Tapi, ini juga salahmu sih ..."
"Salahku??"
"Iya, salahmu yang terlalu memaksa Aslan untuk memberi penjelasan. Bahkan aku yang diam saja juga kena, aku dikatai tol*l. Haha ... padahal aku ini Ketua Asosiasi Kedokteran, tapi dia berani bilang begitu dan masih numpang di apartemenku. Untung saja aku orangnya baik, haha ..."
"Ahaha iya," jawab Nisa dengan senyum canggung.
"Ini sudah sore, ke sini juga bawa tas ransel. Baru pulang kuliah? Tapi bukannya ini masih masa liburan semester?"
"Aku ambil semester pendek."
"Semester pendek? Pffttt ... hahaha! Sulit dipercaya kalau tukang bolos sepertimu ambil semester pendek! Bahkan aku yakin kalau skripsi mu pasti suamimu yang buat!"
"Jangan mengejekku! Ah sudahlah, keperluanku di sini sudah terpenuhi. Aku permisi!"
Sesaat setelah Nisa berdiri tiba-tiba Ricky berkata, "Tunggu!"
Nisa lalu menoleh dan menatap dengan tatapan dingin. "Apa?"
"Jangan bertindak sembrono. Aku tahu kebiasaanmu itu yang sering berpikir negatif, jangan ambil tindakan apa pun tentang Jenny. Dia sudah bukan anak kecil lagi, besar kemungkinannya dia cuma butuh waktu untuk sendiri atau mengalihkan pikirannya yang frustrasi."
"Terima kasih sarannya, tapi pemikiran negatif itu cenderung lebih benar. Sekali lagi aku permisi!" Nisa segera melangkah pergi meninggalkan Ricky seorang diri.
"Hah ..." Ricky menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya pada sofa.
Nisa masih saja sama, tapi aku bisa memastikan bahwa perasaannya untukku benar-benar sudah berubah. Dia bahkan menatapku dengan dingin, kembali menatapku seperti tatapan yang dulu.
Terkadang aku iri pada orang lain. Nisa bisa menghapus perasaannya padaku hanya dalam waktu beberapa bulan. Aslan juga baru beberapa hari putus, tapi dia bisa berhenti peduli. Mungkin Aslan ada benarnya juga kalau aku ini tol*l.
Ricky lalu beranjak dari sofa. "Dasar manusia sialan itu! Yang pesan makanan junk food dia, yang mengajak main PS juga dia, dia juga sudah numpang gratis di tempatku. Tapi aku yang malah harus bersih-bersih!"
***
Nisa yang telah pergi dari apartemen Ricky di sepanjang perjalanan pulang terus menggerutu karena tidak mendapatkan petunjuk yang dia inginkan. Justru dia kaget dan masih sulit mempercayai fakta yang dijelaskan oleh Aslan.
Ketika dia sampai di penyeberangan jalan, saat lampu berganti dia langsung saja berjalan dan menyeberang. Begitu sampai di seberang jalan, saat baru melangkah di trotoar dia terkejut karena menabrak seseorang yang sedang membawa segelas kopi, kopi itu tumpah dan mengotori jaket orang tersebut.
"Eh?!" Nisa terkejut dan langsung mendongak menatap orang yang bertabrakan dengannya.
Orang yang bertabrakan dengan Nisa adalah seorang laki-laki berperawakan tinggi yang terlihat seumuran dengan ayahnya. Laki-laki itu berambut pirang, bermata biru dan berkulit putih, tampak jelas bahwa dia adalah orang asing.
"I am sorry!" ucap Nisa secara spontan.
"No problem, you didn't mean to. Lagi pula saya tidak sedang dalam acara penting." jawab laki-laki bule itu dengan senyuman.
"Eh?! Anda bisa ... Ah lupakan, saya akan mengganti kopi Anda dan membayar biaya binatu!"
Pria asing itu menggeleng dan melepaskan jaketnya yang terkena tumpahan kopi, kemudian dia berkata, "Untuk biaya binatu tidak perlu, tapi ... Mungkin Nona tahu di mana kafe yang menyajikan kopi paling enak di sekitar sini."
"Baiklah, tapi jaket Anda ..."
"Tidak apa-apa, jaket saya tidak mahal." jawab laki-laki itu dengan senyuman.
"Ohh ... oke,"
Padahal jaketnya bermerk sama seperti yang suamiku punya. Dia kaya tapi dia memilih merendah, tapi kalau dia kaya kok minta ganti rugi kopi? Ini aneh.
Nisa lalu mengajak pria asing tersebut ke sebuah kafe terdekat. Kafe itu ramai dikunjungi oleh orang. Nisa lalu mempersilahkan laki-laki asing itu memesan kopi sesukanya. Namun laki-laki itu malah memesan kopi untuk di minum di tempat. Bahkan dia juga meminta Nisa untuk menemaninya minum di kafe tersebut.
Karena merasa sungkan, Nisa tidak menolak permintaan itu. Dia lalu memesan sebuah hot chocolate untuk dirinya. Saat ini Nisa duduk berhadapan dengan laki-laki asing itu.
Nisa merasa sangat tidak nyaman, dia ingin sekali segera pulang. Ketika Nisa tengah meneguk minumannya, tiba-tiba pria asing itu berkata, "Akhirnya kita bertemu, Nona Nisa. Atau ... harus kusebut Nyonya Muda Kartawijaya?"
"Uhuk! Uhuk!" Nisa tersedak karena kaget, lalu setelah merasa lebih baik dia berkata. "Anda mengenalku? Anda ini siapa? Jadi Anda sengaja menabrak saya dan menumpahkan kopi Anda sendiri?!"
"Haha, ternyata langsung membombardir dengan pertanyaan. Saya akan langsung saja ke intinya. Di mana Jonathan?"
"Jonathan? Maksudnya?" tanya Nisa kebingungan.
"Jonathan menghilang."
"A-apa?!"
•
•
•
Jangan lupa kasih dukungan berupa like ya😉