
Rapat dewan yang dinanti akhirnya berlangsung sesuai jadwal pelaksaan yaitu pada hari ini. Keyran yang masih berpura-pura sakit sedari tadi hanya mondar-mandir di kamarnya. Dia merasa cemas dengan rapat yang dia percayakan kepada istrinya.
"Nisa tidak benar-benar menampar para dewan direksi, kan? Atau malah dewan direksi yang menampar Nisa? Sial, harusnya aku saja yang memimpin rapat itu, jadinya aku tidak akan khawatir begini," gumamnya.
"Ah, mungkin sebaiknya aku telepon Valen saja untuk menanyakan soal rapat itu! Tapi ... masih jam segini, rapatnya pasti masih berlangsung. Takutnya aku malah mengganggu."
Untuk sejenak Keyran terdiam, sejurus kemudian dia langsung mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
"Masa bodoh, yang penting aku tahu apa yang terjadi!"
Keyran langsung mencoba menghubungi Valen, tetapi kali ini berbeda dari biasanya. Valen yang biasanya selalu mengangkat telepon dalam sekali panggilan, kini Keyran butuh beberapa kali agar dia mengangkatnya.
"Maafkan saya Tuan karena baru angkat telepon sekarang, saya sangat sibuk." Suara Valen terdengar sedikit tersengal-sengal.
"Ya, tak apa. Aku paham jika kau masih mendampingi Nisa di rapat dewan. Aku meneleponmu karena ingin tahu, apakah rapatnya masih berjalan lancar?" tanya Keyran penasaran.
"Ah, soal itu sebenarnya ... rapat dewan sudah dari tadi selesai."
Keyran terkesiap. "Sudah selesai?! Bagaimana bisa secepat itu?! Rapat dewan kali ini membahas banyak masalah yang sedang berlangsung saat ini. Harusnya rapat ini berjalan lama. Apa Nisa memimpin rapat dan memutuskan secara asal-asalan?"
"Ehmm ... saya bingung harus menjelaskan dari mana," ucap Valen yang terdengar ragu.
"Jelaskan saja intinya secara singkat!" pinta Keyran.
"Baiklah. Intinya adalah rapat dewan ini terhitung berhasil karena nyonya Nisa bisa mengatasi masalah dengan caranya sendiri."
"Caranya sendiri? Maksudmu?"
"Maksud saya nyonya mengancam beberapa dewan direksi yang membantahnya. Lalu beliau juga mengerjakan semuanya tanpa melibatkan saya, nyonya menyelesaikan masalah ini dengan bantuan dari teman-temannya. Tetapi cara ini terhitung efektif."
"Memangnya siapa saja temannya Nisa? Bagaimana bisa orang luar membantu menyelesaikan masalah internal perusahaan?"
"Ehmm ... yang satu ini biar saya jelaskan secara rinci. Masalah serius yang perusahaan alami terdapat di tiga departemen, pemasaran, keuangan, dan perencanaan. Untuk departemen pemasaran, Tuan tahu sendiri bahwa hal ini berkaitan dengan bintang utama iklan kita, yaitu nona Anastasia Amanda."
^^^*Note: Anastasia Amanda adalah artis yang menyukai Keyran tapi bertepuk sebelah tangan [muncul di bab awal-awal. Author maklum jika para pembaca lupa, sudah lama banget sih😅]^^^
"Ya, lalu?" tanya Keyran.
"Nona Amanda telah menjalin kontrak yang lama dengan perusahaan kita. Tetapi masalahnya saat dia harus melakukan shooting perekam iklan untuk peluncuran produk terbaru, dia selalu menunda-nunda dengan berbagai alasan. Sakit lah, liburan ke Paris lah. Tetapi untungnya nyonya Nisa mendapatkan penggantinya yang tak kalah berpengaruh di dunia hiburan."
"Oh, jadi Nisa punya teman artis. Siapa dia?" tanya Keyran.
"David Damian, dia dijuluki sebagai aktor sejuta umat! Saya juga tak menyangka ternyata nyonya berteman dengannya. Masalah departemen pemasaran selesai dengan mendapatkan David sebagai pengganti Amanda. Tetapi saat selesai tanda tangan kontrak, tiba-tiba nona Amanda muncul di ruangan rapat. Dia protes dengan keputusan yang diambil oleh nyonya Nisa. Dia bilang hanya akan menerima jika Tuan sendiri yang membuat keputusan itu. Lalu semuanya semakin memanas karena dendam pribadi nyonya!" jelas Valen.
"Dendam pribadi?"
"Ya, nyonya menamparnya di depan semua orang! Lalu beliau juga mengatakan sesuatu seperti ini .... Jangan ganggu suamiku lagi! Aku tahu rencanamu membuat masalah seperti ini! Kau pasti ingin suamiku memohon kepadamu agar kau bisa merebutnya dariku! Perusahaan ini tidak butuh orang yang tidak profesional sepertimu! Dasar pelakor, perawan tua!"
"Hahaha, Nisa benar-benar bicara begitu? Lalu apa yang terjadi setelahnya?" tanya Keyran yang semakin antusias.
"Nona Amanda tetap tidak terima dengan perlakuan Nyonya. Lalu sebelum dia pergi meninggalkan ruangan rapat, dia bilang besok akan datang lagi dengan manajernya. Ah, dan satu hal lagi ... perbuatan nona Amanda termasuk melanggar ketentuan kontrak, jadi nyonya juga meminta sanksi pembayaran atas pelanggaran tersebut. Nyonya melakukannya dengan bagus karena tidak membiarkan perusahaan merugi."
"Lalu bagaimana dengan departemen keuangan? Saat aku memeriksa laporan keuangan dari para akuntan itu, baru kali ini profit perusahaan menurun drastis dari bulan-bulan sebelumnya. Apa Nisa juga sudah memecahkan masalah ini?"
Valen terdengar menghela napas. "Soal itu memang sudah diselesaikan oleh nyonya, tapi ... saya tidak menyangka kalau di perusahaan ada seorang tikus. Parahnya lagi dia adalah salah satu anggota dewan direksi."
Keyran mengernyit. "Siapa? Apakah dia dewan Edwin? Aku sudah lama menaruh curiga padanya."
"Tidak, tapi dewan Aditya. Masalah ini bermula dari penyelewengan dana pajak. Ada selisih yang besar jika dibandingkan dengan keadaan yang sebenarnya, dan nyonya menemukan apa yang menyebabkan hal itu. Menurut aturan perpajakan, kegiatan amal dan sosial tidak dikenakan pajak. Tetapi ini justru sebaliknya, nyonya menangkap basah siapa akuntan yang membuat laporan keuangan palsu itu. Lalu akuntan itu mengaku bekerja atas perintah dewan Aditya."
"Yang paling mengejutkan, nyonya juga memberikan bukti-bukti lain. Dia tahu bagaimana jalannya uang itu diselewengkan dan digunakan. Nyonya blak-blakan menyebutkan bahwa dewan Aditya bermaksud terjun ke dunia politik bermodalkan uang itu. Beliau sangat yakin karena mengingat sebentar lagi pemilihan umum anggota dewan parlemen akan diadakan."
"Heh, ternyata dia belum puas menjadi dewan direksi perusahaan paling berpengaruh. Lalu dia bermaksud menjadi anggota dewan parlemen, menggelikan." Keyran tersenyum sinis.
"Ya, begitulah. Tetapi, masih ada bukti lain lagi! Nyonya mengetahui bahwa dewan Aditya mempunyai aset lain, sebuah apartemen mewah yang diduga juga dibeli menggunakan uang perusahaan. Tapi nyonya tidak bermaksud melaporkan itu ke Biro Pemberantasan Korupsi, tetapi malah mengancam akan melaporkan itu kepada istrinya."
"Hah?! Mengapa malah ke istrinya?" tanya Keyran kebingungan.
"Karena nyonya mengetahui bahwa apartemen itu atas nama dan ditempati oleh istri simpanan dewan Aditya. Nyonya mengancam akan melaporkan kepada istri sahnya, nyonya juga menjelaskan bahwa dia bisa mengenalnya karena istri sah dewan Aditya masuk ke dalam kelompok sosialita nyonya besar."
"Astaga, ternyata ada untungnya juga dia pernah mengakrabkan diri dengan ibu tiriku." Keyran geleng-geleng kepala.
"Pffttt ... emansipasi apanya? Dia pasti cuma ingin menampar orang untuk kesenangan, itu saja!" Keyran terkekeh.
"Entahlah Tuan, nyonya Nisa sangat luar biasa. Saya tidak habis pikir beliau punya banyak koneksi, entah di dunia hiburan ataupun politik. Benar-benar hal yang mustahil dimiliki wanita pada umumnya."
"Yang kau bicarakan itu istriku. Jelas dia harus luar biasa, itulah mengapa aku menikahi sosok wanita sepertinya!"
"Hah? Tapi, bukannya Tuan menikah dengannya karena dijodohkan?"
"Ehmm ... intinya sama saja kalau dia itu istriku! Sekarang jelaskan tentang departemen perencanaan! Aku ingat jelas kalau perusahaan diserang keamanan cyber nya, beberapa data penting serta informasi pelanggan dicuri. Apa masalah itu juga telah diselesaikan?"
"Iya, justru masalah itu diselesaikan sebelum rapat dewan dimulai. Nyonya juga membawa temannya untuk menyelesaikan masalah itu, temannya adalah seorang hacker. Dia dengan cepat memperbaiki sistem cyber security dan juga memulihkan data-data yang sempat terhapus dan dicuri."
"Dia pria atau wanita?" tanya Keyran penasaran.
"Dia seorang pria, tetapi saya tidak tahu identitasnya. Dia juga selalu memakai masker, saat saya memintanya untuk makan, dia juga meminta untuk ditinggal sendirian. Sepertinya dia memang tak mau seorang pun melihat wajahnya."
"Oh, itu memang hal wajar. Identitas seorang hacker memang sangat berharga, bisa saja dia bekerja untuk keperluan ilegal atau legal seperti membantu para polisi. Oh iya, jika memang rapatnya sudah selesai dari tadi, kenapa Nisa belum pulang? Padahal aku ingin memberinya kejutan kalau aku sudah sembuh!"
"Anda ini ada-ada saja ... Tadi nyonya berpesan, dia bersama dengan kedua temannya pergi ke suatu tempat untuk mengurus beberapa hal, beliau bilang mungkin akan memakan waktu lama. Dan yang paling penting, nyonya meminta agar besok diadakan rapat dewan ulang. Karena nyonya menyerahkan segala keputusan akhir terhadap Tuan, selaku CEO yang sebenarnya. Lalu ... saya juga minta maaf!"
"Minta maaf kenapa?" tanya Keyran dengan nada malas.
"Saya tadinya sudah menyiapkan CV saya untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain. Saya sangat pesimis dan mengira bahwa nyonya akan membuat perusahaan bangkrut. Ternyata nyonya mengerjakan semuanya dengan baik, saya bersalah ...."
"Haiss ... sudahlah, masalah juga sudah selesai. Mulai besok aku akan kembali masuk ke kantor."
"T-tunggu sebentar, Tuan! Jangan ditutup dulu!" ucap Valen yang terdengar panik.
"Hm? Kau mau bicara soal apa lagi?"
"Saya tidak akan tenang jika tidak menceritakan ini kepada Anda. Saat mengawasi teman nyonya yang hacker tadi, saya melihat sesuatu yang sulit untuk dipercaya."
"Cepat ceritakan!" bentak Keyran dengan tidak sabar.
"Ehmm ... setiap hacker mempunyai pola khusus yang selalu mereka gunakan tiap mengakses ataupun meretas sesuatu. Tadi saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, pola yang dia gunakan sama persis dengan pola milik hacker yang terakhir kali menyerang perusahaan."
"Maksudmu?" tanya Keyran dengan dahi berkerut.
"Terakhir kali, tepat saat sebelum nyonya mengalami keguguran!"
Deg!
Untuk sesaat detak jantung Keyran serasa berhenti. Dia sangat kaget, kini dia tertegun dan diam seribu bahasa.
"Halo, Tuan! Ini masih tersambung, kan?" tanya Valen.
"Y-ya masih, ada yang mau kau sampaikan lagi?"
"Anu ... apakah saya perlu melakukan penyelidikan? Maksud saya tentang bagaimana hubungan nyonya dengan teman-temannya."
"Jangan lakukan apa pun! Kau fokus saja mengurusi departemen lain!"
TUT TUT ...
Perbincangan panjang itu berakhir. Tetapi, Keyran yang tadinya merasa cemas kini malah terjebak kebingungan dan dilema. Dia duduk di pinggir ranjang dengan tubuh lesu, pandangannya melihat sebuah foto pernikahannya yang digantung di dinding.
"Yakinlah, yang aku lakukan ini sudah benar," gumam Keyran.
Hacker yang menyerang perusahaan dan yang menyelamatkan perusahaan adalah orang yang sama. Tapi orang itu adalah temanmu atau bahkan bawahanmu, Nisa. Artinya semua yang dia lakukan berdasarkan perintahmu.
Saat itu perusahaan diserang tepat sebelum kau keguguran. Dan dokter bilang alasanmu keguguran bisa saja karena kau kelelahan. Malam itu ... aku tak yakin tapi aku bisa membuat kesimpulan, bahwa kau sendirilah yang mengatur semuanya. Kau berusaha menyerang perusahaan untuk membuatku tetap sibuk. Agar aku tak pulang dan tak tahu apa yang kau lakukan malam itu.
Dugaanku semakin kuat karena penyerangan itu sama sekali tidak merugikan perusahaan, mungkin saja kau memang berniat tidak ingin perusahaan suamimu sendiri merugi. Lalu kau bisa tenang dan bebas melakukan aksimu, yang bahkan tak aku ketahui pada malam itu. Tetapi, siapa sangka setelah itu kau keguguran.
"Hahh ... pantas saja kau selalu menyalahkan dirimu sendiri soal keguguran itu. Sekarang aku mengerti."
Aku tak mau menyelidiki bukan karena aku tak mau mengetahui rahasiamu. Tetapi, karena aku belum siap untuk mengetahuinya. Aku takut dengan kebenaran tentangmu jika aku menyelidikimu lebih jauh.
Semakin aku mengenalmu, semakin banyak juga rahasiamu yang aku ketahui. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi seperti saat aku mengorek informasi di Violent Zone, hubungan kita sempat renggang karena itu. Jadi aku ingin mengetahui semuanya dari mulutmu sendiri. Meskipun aku harus menunggu lama, tapi aku bersedia.