Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Takut


"Dokter!!" teriak Keyran sekeras mungkin.


Tiba-tiba saja seseorang masuk ke kamar rawat, orang itu tidak lain adalah Ricky. Keyran yang masih memegangi Nisa langsung menatapnya dengan sinis.


"Kenapa dokternya harus kau?" tanya Keyran.


"Aku kebetulan lewat." (orang yang sejak tadi menguping di luar)


"Lagi pula bukan hal penting siapa dokternya. Yang terpenting sekarang cepat baringkan Nisa secara terlentang!" pinta Ricky.


"Oke," Keyran lalu membaringkan Nisa, sedangkan Ricky berjalan ke arah sofa mengambil bantal yang digunakan untuk menunjang kaki Nisa.


"Mengapa kaki dipasangi bantal?" tanya Keyran terheran-heran.


"Supaya aliran darah kembali ke otak. Orang yang tahunya cuma bisnis sepertimu mana paham."


"Cih, kau juga kalau disuruh untuk mengurus operasional perusahaan pasti juga tidak bisa. Tapi, Nisa baik-baik saja, kan?"


Ricky menghela napas. "Tidak baik, mentalnya terlalu tertekan dan itu penyebab utamanya pingsan. Apalagi dia habis pendarahan, mencabut selang infus, dari pagi sampai sekarang belum makan apa-apa, akibatnya dia juga mengalami dehidrasi."


Ricky mengambil sebuah cairan antiseptik dari saku jasnya dan kemudian mengusapkannya ke kedua tangan. Dia juga mengambil peralatan infus lengkap dari lemari kabinet yang berada di samping ranjang. Ricky lalu memakai sarung tangan dan bersiap untuk menusukkan jarum ke tangan Nisa.


Mendadak Keyran berkata, "Tunggu!"


"Apa kau tidak lihat sekarang aku sibuk?" tanya Ricky dengan ekspresi kesal.


"Jangan sakiti Nisa!"


"Kau gila?! Lalu bagaimana caraku memasang infus jika tidak menusuknya? Apa kau mau mencobanya sendiri?! Kalau iya maka silakan, awas saja kalau kau salah tusuk peredaran darah lain!"


Keyran berdecak kesal. "Bukan begitu, tapi kenapa kau mau menusuk di tempat lain? Kenapa bukan bekas yang tadi?"


"Hah ... baik, akan aku jelaskan. Ukuran jarum itu bukan cuma satu, tapi harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Untuk orang dewasa dan anak-anak berbeda, tapi sekarang kasusnya Nisa itu sedang mengalami kondisi syok dan depresi. Cairan infus yang akan diberikan juga berbeda. Satu tambahan lagi, aku memang menyiapkan semua ini dari awal karena sudah mempertimbangkan jika kondisi terburuk terjadi. Nah sekarang aku tanya, kenapa kau selalu berprasangka buruk padaku?"


"Karena kau dokter gadungan, aku tahu kalau kau selalu ingin terlibat dengan apa pun yang berhubungan dengan Nisa karena kau mantan pacarnya. Kalau dokter lain ya aku percaya-percaya saja. Tapi untuk percaya kepadamu, aku harus penuh pertimbangan!"


"Ck, terserah apa pun alasanmu, yang penting jangan ganggu aku!"


Proses pemasangan infus berlangsung sekitar 5 menit, Ricky yang terganggu oleh tatapan Keyran merasa tak nyaman jika berada lebih lama lagi di sana.


"Aku pergi. Tapi sebelum itu, jika Nisa sadar nanti jangan biarkan dia langsung berdiri. Istirahat sekitar 15 menit atau lebih agar pingsan tak terulang kembali. Lalu jangan lupa bujuk Nisa agar mau makan. Kalau aku yang membujuknya, kau pasti akan marah."


"Tentu saja marah! Kalau kau keluar nanti, suruh orang untuk membersihkan kekacauan di tempat ini!" Untuk sejenak Keyran dan Ricky memandang seluruh ruangan yang tampak seperti kapal pecah. Lalu Keyran berkata, "Aku akan ganti rugi semuanya!"


"Hah ... cuma itu?"


"Oh iya, satu hal lagi! Kau jangan datang lagi ke sini, aku mau dokter lain!"


"..." Ricky langsung pergi tanpa berkata apa pun dan tanpa mengiyakan permintaan Keyran.


***


Keesokan harinya. Hari ini pakaian Nisa bukan lagi seragam pasien karena hari ini dia akan pulang. Kemarin setelah Nisa pingsan, dia bangun tak terlalu lama kemudian. Setelah dia bangun, dia melihat kamar rawatnya yang sudah dibersihkan.


Masih ada Keyran di sana, Keyran membujuk Nisa untuk makan dan berhasil. Meskipun Nisa tak banyak bicara, hanya sekedar mengangguk dan menggeleng kepala. Bukan cuma itu, Nisa juga tidak menangis lagi. Menyadari hal itu Keyran yakin kalau kondisi Nisa sudah aman untuk melakukan pemeriksaan ulang, dan hasil pemeriksaan tersebut mengatakan bahwa hari ini Nisa boleh pulang.


Saat ini, Nisa sendirian duduk di pinggir ranjang rumah sakit, dia diam menatap udara kosong. Dia menanti kedatangan Keyran yang akan mengajaknya untuk melakukan pemeriksaan sekali lagi sebelum pulang.


KLAKK!


Pintu terbuka, Keyran melangkah masuk dengan senyuman begitu menyadari kondisi Nisa masih sama seperti sebelum dia tinggalkan. Dia mendekati Nisa lalu duduk di sebelahnya.


"Aku sudah dapat nomor antrean, dan syukurlah dapat nomor kecil." ucap Keyran yang kemudian mendapat respons senyuman kecil dari Nisa. Tentu saja Nisa paham betul bahwa nomor antrean kecil itu didapatkan dengan jalur lain, yaitu uang.


Mendadak Nisa menunduk, sebelah tangannya menggenggam punggung tangan Keyran. "Key, maaf ..." ucapnya dengan suara lirih.


"Maaf soal apa?" tanya Keyran yang kemudian merangkul tubuh Nisa serta menyandarkan kepala Nisa pada bahunya.


"Maaf atas sifatku, setelah berpikir akhirnya aku sadar kalau aku terlalu egois ... Padahal yang kehilangan bukan cuma aku, tapi aku bersikap seakan aku yang paling tersakiti. Kau juga sama halnya kehilangan sepertiku, aku tahu kalau kau sedih, tapi aku membuatmu lebih sedih lagi dengan tindakanku yang egois."


"Hem, akhirnya sadar juga kalau tindakanmu itu salah! Jangan sedih sampai berlarut-larut, aku yakin kalau kita bisa melewati ini bersama. Terlebih lagi kau jangan berpikir macam-macam, aku sama sekali tidak menyalahkanmu." Keyran lalu berdiri dan memegang kedua pundak Nisa. "Ayo darling, pemeriksaan sebentar lagi!"


"Key, aku takut ..."


"Takut apa? Ada aku yang selalu bersamamu. Aku akan menemanimu menjalani pemeriksaan." ucap Keyran sambil mengusap wajah Nisa.


"Bukan begitu, aku takut pada hasilnya nanti. Bagaimana jika nanti aku divonis tidak bisa hamil lagi?"


"Hei, berhenti berpikir negatif begitu! Kalau kau masih begitu maka aku akan marah!"


"Maaf ..." Nisa tertunduk lesu, menyadari hal itu Keyran langsung memeluknya dengan mengusap kepala Nisa dengan lembut.


"Semua akan baik-baik saja, aku yakin itu!"


Pemeriksaan Nisa berlangsung cukup lama. Setelah melewati berbagai macam pemeriksaan oleh dokter spesialis kandungan, kini Nisa dan Keyran sama-sama duduk secara berhadapan dengan dokter perempuan tersebut. Dokter itu kemudian menyerahkan selembar kertas ke atas meja.


"Ini resep obatnya," ucap dokter tersebut.


"Baik," Keyran menyimpan kertas resep itu. Di sisi lain Nisa masih gugup, dia seperti ingin mengatakan sesuatu dan hal tersebut disadari oleh Keyran. "Hm? Apa ada yang ingin kau tanyakan?"


"Ehmm ... dokter, aku ingin bertanya sesuatu." ucap Nisa dengan nada ragu.


"Silakan," jawab dokter tersebut dengan senyuman ramah.


"Kira-kira, berapa usia kandunganku? Soalnya aku bahkan tidak sadar kalau aku hamil."


"5 minggu."


"5 minggu?! Tapi jika dihitung ... saat itu aku masih datang bulan, bagaimana aku bisa hamil?" tanya Nisa seakan tidak percaya.


"Menghitung usia kehamilan bukan dari kapan saat berhubungan, tetapi hari pertama haid terakhir atau HPHT, dianggap sebagai hari pertama usia kehamilan. Sebenarnya hal ini penting untuk diketahui pasangan sebelum menikah. Banyak kasus seperti menikah baru 2 minggu, tetapi usia kehamilan sudah 1 bulan. Orang-orang ada yang berpikir bahwa sang istri sudah bukan perawan sebelum menikah, tetapi pola pikir seperti itu salah."


"Tapi dokter, beberapa hari sebelum aku keguguran, muncul bercak darah. Apa saat itu aku sudah mengalami tanda-tanda keguguran?" tanya Nisa lagi.


"Bukan, itu disebut pendarahan implantasi. Salah satu penyebab utama flek saat hamil adalah menempelnya embrio pada dinding rahim. Saat embrio menempel, prosesnya bisa membuat dinding rahim terkikis sehingga mengakibatkan keluarnya bercak darah. Kondisi ini normal dan biasanya terjadi pada 6 sampai 12 hari setelah proses pembuahan. Ini termasuk tanda-tanda awal kehamilan. Banyak juga wanita yang keliru menganggap bahwa ini adalah siklus menstruasi baru."


"Aku juga tidak mengalami mual atau pusing seperti gejala kehamilan yang sering terjadi. Apa itu berarti janinku bermasalah?"


Dokter tersebut menghela napas. "Tidak merasakan tanda kehamilan walau sedang hamil adalah hal yang normal. Beberapa wanita berpegang pada pendapat umum, bahwa saat hamil akan mengalami gejala seperti mual, pusing, hingga muntah-muntah. Tapi, banyak yang tidak tahu, bahwa kehamilan juga memiliki gejala yang tidak umum, namun tetap normal. Ini dikarenakan hormon kehamilan memiliki reaksi berbeda pada tubuh wanita. Ada yang mual parah, ada pula yang tak mengalaminya sama sekali seperti halnya Nyonya."


"Oh, ternyata semuanya normal. Aku saja yang bodoh tidak bisa menjaga janinku," ucap Nisa dengan ekspresi penyesalan.


"Nyonya jangan berkecil hati. Wajar saja jika di kehamilan pertama banyak yang belum dimengerti. Menurut riset, 80 persen keguguran terjadi dalam trimester pertama. Lalu 50 persen kehamilan gugur saat wanita tersebut belum menyadari kehamilannya."


Nisa kemudian mengambil napas panjang dan berkata, "Dokter, apakah aku masih bisa hamil lagi?"


Tangan Nisa gemetar saat mengajukan pertanyaan tersebut, Keyran yang menyadari hal itu langsung menggenggam tangan Nisa dan tersenyum lembut kepadanya. "Tenanglah, semua akan baik-baik saja."


"Keguguran tidak mempengaruhi kesuburan wanita, kecuali jika 3 kali berturut-turut maka perlu pemeriksaan lebih lanjut. Keputusan untuk hamil kembali perlu disepakati bersama, terlebih lagi bagi Tuan."


"Aku?" tanya Keyran dengan tatapan aneh.


"Benar, setiap pria mempunyai kebutuhan batin yang pastinya selalu ingin dipuaskan. Tetapi Tuan harus memperhatikan kondisi pasangan, berikanlah waktu untuk pulih secara fisik dan emosional. Saat berhubungan intim bisa menggunakan pengaman untuk sementara waktu."


"Iya, aku tahu. Lagi pula aku buka pria yang suka memaksa istriku!" ucap Keyran dengan tampang cemberut.


Nisa yang menyadari itu langsung menepuk pelan bahu Keyran. "Haha, yang sabar ya. Emm ... dokter, lalu kapan jangka waktu yang baik untuk hamil lagi?"


"Untuk itu saya sarankan setelah melewati 2 sampai 3 kali periode menstruasi. Tubuh membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi rahim. Yang terpenting, pastikan agar kondisi kesehatan dalam keadaan optimal. Karena jika tubuh belum siap, risiko mengalami keguguran lagi justru meningkat. Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi?"


"Sepertinya cukup itu saja." Nisa lalu menepuk jidat. "Ah, hampir lupa! Satu pertanyaan lagi. Kira-kira kapan pendarahan setelah keguguran akan berhenti?"


"Perdarahan sebagai tanda rahim sudah bersih setelah keguguran merupakan hal yang normal. Umumnya, perdarahan akan terjadi hingga beberapa hari ke depan. Jika perdarahan berhenti, ini menjadi pertanda kalau rahim sudah bersih setelah keguguran yang dialami. Jika darah belum berhenti hingga dua minggu dengan jumlah yang masih signifikan, sebaiknya segera melakukan konsultasi lagi."


"Begitu ya. Sudah, itu saja yang ingin aku tanyakan." Nisa lalu menoleh ke arah Keyran. "Darling, ayo kita pulang!"


"Iya, mari pulang!"


Keyran dan Nisa lalu keluar dari ruang pemeriksaan, juga membawa resep obat dan catatan rekam medis bersamanya. Keyran juga tak melepaskan genggaman tangannya dari Nisa, dia terus menggandeng tangan istrinya itu ketika berjalan di lorong.


Saat mereka akan menaiki lift, mendadak ponsel milik Keyran berdering.


DRRTT DRRTT ...


DRRTT DRRTT ...


DRRTT DRRTT ...


"Tunggu sebentar ya, Nisa?"


"Baiklah," jawab Nisa sambil mengangguk.


Keyran merogoh saku jas blazer nya untuk mengambil ponsel, dia lalu melihat siapa yang meneleponnya saat ini.


"Hm, dari Valen." Keyran lalu menjawab panggilan telepon itu. "Halo Valen, apa kau sudah sampai di rumah sakit untuk menjemputku?"


"Sudah Tuan, saya sudah di area parkir. Tapi ... keadaan di sini buruk!" ucap Valen yang terdengar panik.


"Buruk bagaimana maksudnya?"


"Ada banyak reporter di sini! Mereka masih belum menyerah juga, sepertinya publik kurang puas hanya dengan artikel tertulis, kemungkinan besar mereka menginginkan klarifikasi langsung dan mengambil potret Tuan dan Nyonya sebagai berita eksklusif!"


"A-apa?! Jadi berita soal keguguranku sudah tersebar sampai ke publik!" ucap Nisa seakan tidak percaya.


"Bukan begitu Nisa, aku bisa jelaskan!" ucap Keyran dengan ekspresi panik.