Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Teruslah Berpura-pura


Rintik hujan kini mulai reda, suasana percintaan antara Keyran dan Nisa yang panas kini juga telah reda. Mereka berdua tampak berpelukan di bawah selimut. Keyran tak bisa mengalihkan tatapan pada istrinya yang sedang mendekap di dadanya, dia tersenyum kecil dan mengusap kepala Nisa dengan lembut.


Di satu sisi Nisa masih mengatur napasnya, dia merasa sekujur tubuhnya kini terasa lemas. Keyran menyibakkan sedikit rambut yang menutupi wajah Nisa, lalu menyelipkan rambut itu di telinga sambil berkata, "Apakah tadi aku berlebihan?"


"Ya ... sedikit, tapi tidak apa-apa. Aku mengerti kenapa kau begitu, lagi pula aku menyukainya." Nisa langsung membenamkan wajahnya di dada Keyran.


"Baguslah jika kau menyukainya, dan terima kasih sudah mau mengerti."


"Untuk apa kau berterima kasih? Itu kan sudah tugasku sebagai istrimu. Aku mengerti jika fisik pria dan wanita itu berbeda, kebutuhannya pun juga berbeda."


"Haha, pokoknya aku sangat senang hari ini. Dan ngomong-ngomong ... kau hebat sekali, kau lebih mahir dari yang aku ingat terakhir kali."


"Key!" Nisa tersipu malu dan tiba-tiba saja dia bangkit.


"Hm, kenapa? Aku kan sedang memujimu ..." Keyran terkekeh.


"Humph, sudahlah!" Nisa menyibakkan selimut dan langsung turun dari ranjang, tetapi Keyran menahan tangannya.


"Tunggu! Kau mau ke mana?"


"Aku mau mandi."


"Mau mandi bersama?" tanya Keyran dengan senyuman.


"Tidak!" Seketika Nisa menarik tangannya, dia berlalu begitu saja menuju ke kamar mandi. Namun, saat dia mengambil langkah, dia tampak kesulitan untuk berjalan.


"Mau aku gendong?" tanya Keyran lagi.


"T-tidak perlu, aku baik-baik saja ..." jawab Nisa dengan senyum canggung.


Astaga, aku tak mengira rasanya akan nyeri seperti ini jika dibuat berjalan. Sepertinya suamiku itu benar-benar melampiaskan semua rindunya.


Nisa kembali melangkahkan kaki, tetapi dia berjalan seolah-olah biasa saja meskipun harus menahan nyeri. Sedangkan Keyran, dia hanya tersenyum dan terus memperhatikan istrinya hingga masuk ke kamar mandi.


"Hahh ... aku sungguh tergila-gila padanya," gumam Keyran dengan senyuman.


Keyran menoleh, perhatiannya beralih ke ponselnya yang ditaruh di atas meja kecil yang berada di samping tempat tidur. Dia ingat jika sejak tadi layar ponselnya itu hidup dan mati sendiri, bahkan masih berlangsung hingga sekarang. Dia lalu bangkit dan mengambil ponselnya, tetapi ekspresinya langsung berubah masam begitu melihat layar ponselnya.


"Ck, 26 panggilan tak terjawab. Sudah kuduga jika ayah tak akan diam saja dan menggangguku."


Meskipun kesal, Keyran memutuskan untuk menelepon balik ayahnya. Hanya selang beberapa detik kemudian panggilan telepon itu langsung tersambung.


"Akhirnya kau meneleponku juga!" bentak Tuan Muchtar yang terdengar sangat marah.


"Ada apa Ayah? Ingatlah kesehatan Ayah sendiri sebelum marah-marah," ucap Keyran dengan nada malas.


"Huh! Kau tidak usah pedulikan kesehatanku, jika kau memang peduli pada ayahmu ini, harusnya kau tidak membiarkan semua ini terjadi!"


"Akan kututup jika Ayah hanya ingin memarahiku."


"Kau ini! Di mana empati mu?! Semalam Daniel menghilang, dan dalam waktu yang sama muncul pengakuannya yang telah menjebak Nisa! Lalu pagi dini hari Daniel dikabarkan terluka, sekarang dia baru saja selesai menjalani operasi! Ditambah media pers juga terus meminta klarifikasi soal berita yang beredar! Tapi lihatlah dirimu, di saat seperti ini kau ada di mana?!"


"Aku ada di rumah. Memangnya Ayah ingin aku melakukan apa?" tanya Keyran dengan nada datar.


"Astaga, kau ini ... apa kau benar-benar tidak peduli pada reputasi ayah? Pada reputasimu sendiri? Dan reputasi keluarga?! Cepat keluar dari rumah dan bantu ayah membereskan kekacauan ini!"


"Tidak mau."


"A-apa?! Kau berani membantahku?! Ayah tak pernah mendidikmu untuk jadi pembangkang seperti ini!" teriak Tuan Muchtar yang terdengar murka.


"Cukup Ayah! Aku mohon berhentilah mengaturku! Aku sudah dewasa, aku bebas memilih pilihanku sendiri dan melakukan apa yang aku mau! Daniel pun juga sama, dia juga sudah dewasa! Kekacauan ini sepenuhnya disebabkan olehnya, dia sendiri juga yang harus bertanggung jawab! Jadi jangan menyeretku!" teriak Keyran yang mulai kehilangan kesabaran.


"Tidak bisa, ini menyangkut reputasi keluarga! Dan Daniel juga adikmu, kau harus membantunya!"


"Dia bukan keluargaku! Aku tak pernah menganggapnya sebagai adikku! Adik macam apa yang berencana menghancurkan hidup kakaknya sendiri?! Daripada membela ayah dan adik tak berguna sepertinya, aku sepenuhnya lebih memilih istriku!"


"Ya, Nisa ada bersamaku! Menantu yang sempat Ayah minta untuk kuceraikan demi reputasi keluarga yang super penting itu, dia sekarang ada bersamaku! Semua yang tersebar ke publik itu adalah kebenaran! Kalian semua termasuk Ayah harus minta maaf pada Nisa! Datanglah kemari dan tunjukkan ketulusan kalian, selain demi hal itu aku tak akan mau mengangkat telepon dari Ayah lagi!"


TUT TUT ...


Perbincangan telepon yang cukup menguras emosi akhirnya berakhir. Keyran hanya menghela napas dengan kasar dan berekspresi kesal, suasana hatinya yang sebelumnya bahagia kini telah sepenuhnya berubah.


Di sisi lain tanpa sepengetahuan Keyran. Diam-diam di balik pintu kamar mandi, Nisa mendengar semua yang suaminya katakan. Ekspresinya tampak prihatin, untuk pertama kalinya dia mendengar Keyran membentak dan melawan ayahnya sendiri demi dirinya.


"Keyran ..." gumam Nisa sambil memegang gagang pintu dengan ragu.


Untuk saat seperti ini mustahil bagiku jika tidak melakukan apa-apa. Aku tidak bisa diam seperti orang bodoh dan membiarkan suamiku begitu saja, lebih baik aku pura-pura tidak tahu dan menghiburnya.


Nisa mengambil napas dalam-dalam, lalu memantapkan diri untuk membuka pintu. Dia lalu menghampiri Keyran yang sedang duduk di pinggir ranjang. Seketika Keyran mendongak, dia sedikit terkejut lantaran melihat istrinya yang hanya memakai sehelai handuk sedang berdiri di hadapannya.


"Eh? Kau sudah selesai mandi? Tumben cepat sekali ..." Keyran bertanya dengan senyuman, dia berusaha menutupi dari Nisa bahwa sekarang suasana hatinya sedang buruk.


"Belum selesai," jawab Nisa sambil menggeleng.


"Kalau belum selesai mandi kenapa kau keluar dari kamar mandi? Kau ingin membuat lantai jadi basah?"


"Bukan begitu, tapi ... aku ingin mengajakmu mandi bersama," pinta Nisa dengan tatapan berharap.


"Heh, bukankah tadi kau tidak mau?"


"Itu benar, tapi aku kesulitan menggosok punggungku sendiri, jadi bantulah aku ...."


Sejenak Keyran tertegun, dan setelahnya dia menundukkan kepala. Sambil tersenyum tipis dia berkata, "Lagi-lagi kau berpura-pura."


"A-aku tidak pura-pura! Memang benar jika aku kesulitan, entah kenapa tanganku jadi kaku dan sakit kalau bergerak berlebihan."


"Dasar konyol, bukan itu yang aku maksud."


"Eh? Lalu soal apa?" Tanya Nisa kebingungan.


"Pertama, tadi kau berpura-pura bisa berjalan dengan benar. Lalu sekarang, kau berpura-pura jika kau tak tahu apa-apa. Padahal aku sadar jika tadi aku berteriak keras, jadi kau pasti mendengarnya. Kau tahu jika suasana hatiku tidak baik, dan kau bertingkah seperti ini demi menghiburku."


"Aku benci saat melihat orang berpura-pura di depanku. Tapi kau berbeda, kau berpura-pura demi menjaga perasaanku. Jika seperti ini maka teruslah berpura-pura, aku menyukainya dan aku juga akan berpura-pura tidak menyadarinya. Terima kasih telah berusaha menghiburku."


Nisa terdiam, tetapi setelahnya dia berpindah duduk di sebelah Keyran. "Tidak seru lagi, sekarang tidak ada gunanya karena kau sadar aku pura-pura."


"Haha, mau bagaimana lagi? Sekarang aku sudah tahu identitasmu, dulu kau selalu berhasil mengelabuhiku karena aku berpikir kau memang polos. Dan sekarang aku tahu jika kau itu super licik, tapi aku menyukainya jika kau masih berpura-pura polos."


Nisa tersenyum lembut, lalu menggapai sebelah tangan Keyran yang berada di dekatnya. "Key, aku minta maaf ... Gara-gara aku, demi membelaku kau sampai menentang ayahmu."


"Kau tak perlu minta maaf, kau tidak salah. Dan sudah kewajibanku sebagai suamimu untuk membelamu."


"Tapi di akhir perbincanganmu tadi ... aku mendengar kalau kau menuntut permintaan maaf dari ayahmu. Sebaiknya itu tidak usah, lagi pula aku tidak memerlukan itu. Dengan kau berada di pihakku itu sudah cukup bagiku."


"Tidak bisa! Mereka juga bersalah padamu, kau berhak mendapat permintaan maaf dari mereka! Bahkan kau juga berhak jika seandainya tidak memaafkan mereka!"


Keyran lalu menarik tangan Nisa dan mendekap erat tubuhnya. "Percayalah padaku Nisa, aku akan membersihkan namamu. Akan kubuat orang berpikir ratusan kali sebelum berniat menyakitimu. Akan aku tunjukkan pada dunia apa akibatnya jika berani mengganggu istriku!"


Nisa tersenyum lalu membalas pelukan Keyran. "Aku percaya padamu, akan kunantikan semua yang kau janjikan."


Keyran semakin mengeratkan pelukannya, lalu dia menyeringai. "Oh iya, darling ... apa tawaranmu tadi untuk mandi bersama masih berlaku?"


"Emm ... aku tidak ingat pernah mengatakan itu sebelumnya. Pasti darling salah dengar."


"Tapi aku ingat jika kau memintaku untuk membantumu menggosok punggung. Kau ingin punggungmu di gosok di sini atau di tempat lain?"


"Baik-baik, aku sudah ingat! Ayo mandi bersama!"


Sial, permainan pura-pura polos sungguh membawa keuntungan bagi Keyran. Pantas saja dia menyukainya.