
Kelas dimulai, selama pelajaran Nisa hanya menatap papan tulis dengan tatapan kosong. Waktu pun berlalu dengan cepat, dan akhirnya kelas selesai. Seolah sedang mengumpulkan nyawa, Nisa masih terus duduk di bangku belakang bersama kedua temannya.
"Hah... akhirnya selesai juga! Habis ini ke tempatnya Dika enak kali ya?" Ucap Nisa.
"Cieee... yang baru putus langsung cari yang baru nih!" Ejek Jenny.
"Apaan sih Jen? Move on aja belum..."
"Terus... siapa Dika?" Tanya Jenny penuh penasaran.
"Dia yang punya kios roti sama minuman itu loh... Kan lo juga pernah kesana!"
"Iya juga. Maaf gue lupa..."
"Sania, kok lo bisa putus sih?" Tanya Isma terheran-heran.
"Yup! Biasanya kan kalian kelihatan uwu~ Btw, yang ngajak putus siapa?" Sahut Jenny.
"Ya... biasa lah, udah nggak cocok aja gitu. Terus... yang ngajak putus itu gue..." Ucap Nisa sambil berlinang air mata.
"Hah!? Serius lu!?" Ucap Jenny dan Isma bersamaan.
"Hiks! E-emangnya... gue kelihatan bohong apa?"
"Cup... cup... Saniaku sayang~ Kalau lo yang minta putus kok lo begini sih!?" Jenny lalu memeluk Nisa.
"Hiks! Namanya juga putus, gue udah terlanjur sayang sama dia... Masa gue mau ketawa haha hehe gitu!? Mana bisa...? NYESEK AJG!"
"L0 BEG0 ATAU T0L0L SIH!? Kalau lo sayang sama dia, ya pertahanin lah! Otak lo salto ya!?" Teriak Isma.
"Hiks! Nggak bisa... emang harus putus... itu udah takdir..."
"Hadehh... takdir dibawa-bawa! Gapapa, yang sabar ya!" Ucap Jenny sambil terus memeluk Nisa.
"Sania! Di luar ada yang sedang menunggumu!" Teriak seseorang.
"BAC0T! Siapa sih!? Ganggu banget, orang lagi curhat malah diganggu!" Teriak Nisa sambil melirik ke arah orang yang memanggilnya.
"Emmm... i-itu cowok! Bye... m-maaf mengganggumu..." Ucapnya ketakutan sambil berjalan pergi.
"Sania, jangan kasar dong! Kasihan loh, dia sampai takut begitu. Btw, tadi itu siapa?" Ucap Jenny.
"Nggak tahu, gue nggak kenal. Bye Jenny, Isma!" Nisa menggendong tasnya lalu berjalan pergi.
Siapa sih yang menungguku? Tadi orang itu bilang kalau itu cowok, jangan-jangan...
"Ricky!"
Nggak! Ricky nggak mungkin niat banget sampai-sampai nungguin aku selesai kelas. Tapi... kalau itu beneran Ricky, aku harus apa? Bodo amat lah, mau nggak mau emang harus kasih dia penjelasan. Aku nggak mau selamanya terus kabur kayak gini!
Nisa kemudian berusaha untuk terlihat tenang dan berjalan seperti biasa. Tapi, saat Nisa di luar dia kaget, karena orang yang sedang menunggunya bukanlah Ricky, melainkan orang lain.
"Kau...! Kenapa kau menungguku? Ada urusan apa kau mencariku?" Tanya Nisa dengan nada malas.
"Hng! Ayo kita bicara di tempat lain, tempat yang sedikit sepi!"
"Oke, ikuti aku!" Ucap Nisa dengan tidak sabar.
Nisa akhirnya menuju ke taman belakang kampus. Saat sampai, Nisa langsung bergegas duduk di bangku bersama orang itu.
"Nah, sekarang sudah sepi. Terry, kau bisa bicara!"
"Baiklah, aku langsung ke intinya. Ini... yang kau minta padaku sebelumnya!" Ucap Terry sambil menyerahkan beberapa lembar kertas pada Nisa.
"Wah... ternyata kau masih ingat! Biar aku lihat..." Nisa lalu bergegas meneliti isi kertas itu.
"Sebenarnya apa tujuanmu? Kenapa kau ingin sekali tahu tentang nama-nama orang yang punya otoritas di universitas ini?"
"Itu bukan urusanmu! Btw, bagaimana caramu mendapatkan semua informasi ini?" Ucap Nisa dengan nada ketus.
"Itu juga bukan urusanmu! Aku mendapatkannya dengan caraku sendiri!"
"Terserah..." Nisa terus membolak-balik kertas itu.
Mana sih? Kok nggak ada... apa ini semua memang takdir?
"Hei, hal yang aku inginkan nggak ada di kertas ini! Ini sama sekali nggak guna. Terima kasih atas bantuanmu!" Nisa lalu menyerahkan kertas itu pada Terry.
"Sania, sebenarnya apa yang ingin kau ketahui? Apa kau lagi-lagi membuat masalah?" Tanya Terry penasaran.
"Ya ampun, kenapa kau selalu berpikir negatif tentangku? Yang ingin aku ketahui itu sesuatu yang berhubungan dengan HW!"
"Tunggu dulu, apa yang kau maksud itu HW Group? Perusahaan besar itu?"
"Yah... kira-kira seperti itu!" Ucap Nisa dengan enteng.
"Woii... Sania! Sadarlah! Kegilaanmu itu sudah melewati batas! Apa kau tahu masalah apa yang kau buat!?" Teriak Terry dengan panik.
"Kenapa panik banget sih? B aja dong~"
"Astaga... kenapa di kehidupan ini aku bisa bertemu dengan orang sepertimu!? Kau... gila! Kalau kau terlibat masalah dengan Group HW, kau sudah nggak punya harapan! Masa depanmu hilang sudah..."
"Masa sih?"
"Hng! Otaku sepertimu dijelaskan bagaimana pun juga nggak akan paham! Dari awal kau memang sudah nggak punya masa depan! Aku pergi....! Lain kali jangan menyeretku dalam masalahmu!" Terry kemudian pergi dengan perasaan marah.
"Cih! Malah menghujatku sebagai otaku. Kau saja yang terlalu payah!" Gerutu Nisa.
Tiba-tiba Terry berbalik dan berjalan mendekat ke arah Nisa "Hei, Sania! Aku bisa menceritakan semua yang aku tahu tentang Group HW padamu, asalkan kau juga cerita tentang masalah yang sudah kau buat" Ucap Terry dengan penasaran.
"Aneh! Kenapa kau berubah pikiran dan tertarik dengan masalahku?" Tanya Nisa terheran-heran.
"Itu... aku hanya penasaran, jarang sekali ada orang yang cari masalah dengan perusahaan besar seperti itu. Cuma kau yang cukup gila untuk melakukannya!"
"Heh! Baiklah, kau bicara lebih dulu!"
"Kau tahu kan kalau HW Group itu perusahaan milik keluarga Kartawijaya?"
"HW Group... perusahaan itu adalah sponsor universitas kita ini, bahkan kalau dihitung juga penyumbang dana terbesar. Lalu soal keluarga Kartawijaya itu, tuan besar dari keluarga itu juga pernah menjadi rektor universitas ini. Meskipun dia sekarang bukan rektor lagi, tapi rektor yang sekarang itu pasti bawahannya juga. Itu yang aku tahu..."
"Oh, ternyata begitu... Tapi, bagaimana kau bisa tahu semua tentang hal itu?"
"Soal itu, aku punya caraku sendiri! Oh iya, aku juga punya informasi baru! Soal tugas yang diberikan dekan itu, rencana awalnya bukan cuma peringkat tiga besar, tapi empat besar yang ikut. Untuk alasan kenapa itu berubah, aku nggak tahu..."
"Owh..."
Sialan! Ternyata memang sudah menargetkan aku! Biasanya aku di peringkat keempat, tapi ujian kali ini aku di peringkat ketiga, makanya rencana tugas itu diubah! Ini semua pasti rencana milik orang tua itu, dasar rubah tua! Di depanku bertingkah seolah-olah kau itu penyayang, tapi sebenarnya kau itu licik!
"Sania, giliranmu bercerita tentang masalah yang kau buat!" Tanya Terry penasaran.
"Itu bukan masalah serius kok. CEO Group HW... aku cuma mengancam akan menghancurkan hidupnya dan membunuhnya. Itu saja..." Ucap Nisa dengan enteng.
"What!?" Terry syok karena kaget.
"Kenapa? Apa itu aneh...?"
"Ikut aku!" Terry tiba-tiba menarik tangan Nisa.
"Apaan sih? Kemana?"
"Ikut aku! Tempatmu bukan disini, tapi di rumah sakit jiwa! Orang sepertimu berbahaya kalau nggak segera ditangani! Dunia bisa cepat kiamat gara-gara orang sepertimu!" Terry menarik tangan Nisa dengan paksa.
"Lepasin woi! Aku nggak gila! Lagipula apa pengaruhku pada akhir dunia!? Santai aja dong, jangan main tarik-tarik begini!" Nisa lalu menepis tangan Terry.
"Kau yang terlalu santai! Kau bisa hidup sampai sekarang itu keajaiban! Sialan, nggak seharusnya aku mengenalmu!" Teriak Terry.
"Hng! Kau yang terlalu payah! Bye! Aku pulang..." Nisa lalu bergegas pergi.
"Ya... pulang sana! Jangan pernah kuliah lagi! Aku akan bilang ke dosen kalau kau sedang merawat penyakit gilamu itu!"
"Sialan kau! Dasar petugas babi!" Teriak Nisa dari kejauhan.
"Dasar cewek barbar! Gila! Psikopat!" Teriak Terry.
Hah... bisa-bisanya di dunia ini ada orang sepertinya! Tapi, setelah dia pergi kenapa aku merasa kalau ada sesuatu yang salah? Apa aku melupakan sesuatu?
"Nggak tahu ah! Lebih baik aku ke perpustakaan!" Ucap Terry sambil berjalan pergi.
Saat Nisa sampai rumah, dia langsung menuju ke kamarnya dan berbaring di lantai. Pikirannya sangat kacau karena dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan, dia bertanya-tanya kenapa harus dia yang mengalami semua permasalahan itu.
"Aaahh.... emang paling enak itu di lantai, jiwaku serasa jadi lebih dingin..."
Buzz... Buzz...
"Eh!? Nomor nggak dikenal! Pasti ujung-ujungnya penipuan atau nawarin kartu kredit! Nggak usah angkat lah..."
Buzz... Buzz...
Buzz... Buzz...
Buzz... Buzz...
Buzz... Buzz...
AJG! Ngotot banget sih mau nipu orang? Harus dibentak nih! Nisa mengangkat telepon dan berteriak "Woiii! Aku nggak tertarik sama kartu kredit! Kalau mau nipu, cari aja orang lain! B@ngsat! Ganggu orang aja!"
"Ini aku, begitukah caramu bicara pada calon suamimu?"
"Idiihh... malah ngaku-ngaku lagi!"
"Aku Keyran! Tunanganmu!" Teriak Keyran seakan terdengar sangat marah.
"....."
Hah!? Ini beneran!? Dia kedengeran marah banget! Tamat riwayatku, sekarang aku harus apa? Tutup aja kali ya?
"Kenapa diam? Kau jangan mencoba menutup telepon dariku!"
"Haha, mana mungkin aku berani~ Tapi, dari mana kau dapat nomorku?"
"Dari ayahmu. Aku ingin membahas tentang sesuatu padamu!"
"Silakan, katakan saja...."
"Ini soal foto prewedding dan surat undangan! Kapan kau siap?"
"Haha, aku rasa itu nggak perlu. Kita foto aja sendiri-sendiri, fotomu yang halaman depan, lalu aku yang halaman belakang. Gampang kan?"
"Kau...! Mana ada foto prewedding seperti itu!? Keputusanku besok! Pokoknya besok kau harus siap!"
Tut... tut...
"Hah.... beginilah hidupku T_T"
Sialan! Sebenarnya kesalahan apa yang sudah aku lakukan? Hidupku jadi berantakan gara-gara perjanjian itu! Kenapa yang harus menanggung semua ini adalah aku!?
"Iya juga! Anak perempuan dari keluargaku kan nggak cuma aku! Masih ada kakak, seharusnya dia yang nikah!" Nisa tiba-tiba berdiri dan bersemangat.
Yes! Akhirnya aku masih punya harapan!
Dengan suasana hati yang gembira, Nisa lalu bergegas pergi dan meminta izin pada ayahnya.
"Ayah! Aku pinjam mobil ya? Aku mau ke rumah paman!"
"Ya, jangan lupa membawa sesuatu untuk pamanmu! Di dalam mobil ada uang. Lalu jangan keluyuran sampai malam!" Ucap ayah.
"Siap, komandan!" Teriak Nisa sambil memberi hormat pada ayahnya.
"Aku pergi ya... jangan rindu padaku!" Nisa lalu berjalan pergi.
"Huh! Dasar bocah nakal!" Ucap ayah sambil geleng-geleng kepala.
Nisa... apa yang sebenarnya kau pikirkan nak? Tapi apa pun itu, selama kau merasa bahagia, ayah pasti akan selalu mendukungmu!