Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Keinginan yang Segera Terwujud


"Uhh ...." Nisa perlahan membuka mata. Ketika melihat sekeliling, dia sadar bahwa dirinya telah bangun kesiangan. Kemudian dia menghela napas dan menatap langit-langit kamar.


"Aku terlambat kuliah lagi, mending bolos saja sekalian."


Ini semua gara-gara ulah si mesum Keyran itu! Semalam aku sudah berulang kali bilang kalau aku lelah, tapi dia malah minta tambah ronde terus. Aku baru tahu kalau stamina orang yang baru sembuh bisa sekuat itu.


"Nanti sore aku juga masih harus menghadiri kelas pastry, semoga aku tak tertinggal jauh dengan yang lain. Aku ingin lulus saat ujian praktik nanti, setelah ini dapat sertifikat dan aku bisa percaya diri membuka toko rotiku sendiri!"


"Oh iya, aku harus mengabari Keyran agar dia tidak bingung mencariku."


Nisa langsung bangkit dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Dia mulai mengetikkan pesan yang dia tujukan pada Keyran.


°°°


^^^Key, nanti sore aku ada kursus pastry. Jangan kaget jika nanti saat kau pulang aku tidak ada di rumah. [Nisa] ^^^


Baik darling. Jadi kau sudah bangun, mimpimu indah? [Keyran]


^^^Kenapa cepat sekali kau membalas? Apa kau sedang tidak ada pekerjaan? [Nisa] ^^^


Aku sedang rapat. [Keyran]


^^^CEO macam apa kau ini yang bermain ponsel saat rapat?! Sudahlah, aku akan berhenti mengirim pesan padamu! [Nisa] ^^^


Haha, sekarang rapatnya sedang heboh. Setelah aku membongkar bukti-bukti, para dewan direksi mulai saling menyalahkan satu sama lain. Dan alasan lain tentu saja karena aku tidak bisa mengabaikan istriku yang butuh perhatian~ [Keyran]


Nanti setelah kelasmu selesai, aku akan menjemputmu❤ [Keyran]


°°°


"Dasar ..." gumam Nisa sambil tersenyum saat melihat layar ponselnya.


"Lebih baik sekarang aku mandi, seluruh tubuhku rasanya lengket." Nisa kemudian langsung meletakkan ponselnya.


***


Sore harinya seperti yang telah Keyran merencanakan, dia sendiri menjemput Nisa pulang dari kursus pastry tepat pada waktunya. Seperti biasanya juga hari ini Nisa juga membawa pulang hasil praktiknya.


"Apa aku membuatmu menunggu lama?" tanya Nisa.


"Tidak juga, aku baru sampai 5 menit yang lalu," jawab Keyran sambil memasangkan sabuk pengaman untuk Nisa.


"Haha, baguslah. Oh iya, hari ini aku membawa pulang beef wellington. Chef bilang kalau percobaan pertamaku ini termasuk baik, daging sapi di dalamnya juga matang sempurna. Kita bisa makan ini untuk makan malam nanti!"


"Ah, soal itu ... sebenarnya malam ini aku ingin mengajakmu untuk makan malam di luar," ucap Keyran sambil memegang tengkuknya.


"Hm? Makan malam di luar?"


"Iya, aku sudah memesan sebuah ruangan VIP untuk kita. Tempatnya adalah restoran China, kau suka masakan China, kan?"


"S-suka! Aku suka makanan apa saja!"


"Haha, aku lupa kalau kau itu tukang makan." Keyran terkekeh. Setelahnya dia lalu menyalakan mobil dan melaju dengan kecepatan normal.


Sedangkan di sisi lain Nisa hanya diam, dia melihat ke arah kaca mobil yang tertutup itu sambil memasang senyum bodohnya.


Hehehe, akhirnya yang aku inginkan akan segera terwujud! Aku dan Keyran akan kencan untuk yang pertama kalinya! Ahh ... aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Hanya berdua saja, menghabiskan waktu bersama, suap-suapan, semua itu sangat romantis. Sialan, aku jadi tidak sabar!


Setelah mereka berdua sampai di rumah, Nisa langsung menyerahkan beef wellington kepada Bibi Rinn. Dia juga berpesan kepadanya agar tak perlu repot-repot memasak untuk hidangan makan malam.


Nisa langsung bergegas ke kamar untuk membersihkan diri, setelahnya dia juga menghabiskan waktu yang sangat lama untuk berdandan agar terlihat sempurna saat kencan. Bahkan Keyran saja yang bersiap diri belakangan sudah selesai lebih dulu dibanding dengan Nisa.


Keyran berdiri dan bersedekap di sebelah Nisa. "Hahh ... kapan kau akan selesai?" tanyanya yang sudah jenuh menunggu.


"Sebentar, 5 menit lagi!"


"1 jam yang lalu kau juga bilang begitu!"


"Sabar darling, aku tampil cantik juga untukmu."


"Ayolah Nisa ... kau itu sudah cantik! Pipimu sudah merona, alismu juga sudah bagus, lalu bulu matamu di kedua sisi jumlahnya juga sudah sama!" bentak Keyran yang mulai kehilangan kesabaran.


"Hah? Kau menghitung jumlah bulu mataku?"


"Bukan itu intinya! Intinya maksudku kau tidak perlu berdandan lebih lama lagi. Kau sudah sempurna, ayo berangkat sekarang! Jika kau kubiarkan berdandan lebih lama lagi takutnya nanti restorannya sudah tutup!"


"Aihh ... aku tahu kalau aku cantik, tapi kata sempurna sepertinya agak berlebihan meskipun hanya untuk memuji." Nisa malah tersipu.


Dia kemudian bangkit dan berputar di depan Keyran. "Apa aku sudah cantik jika dilihat dari segala sisi?


"Ya, bukan cuma dari segala sisi. Bahkan jika dilihat dari lubang sedotan pun kau juga tampak cantik! Apa sekarang kau puas, darling?" tanya Keyran dengan senyum terpaksa.


"Haha, baiklah! Ayo kita berangkat!" Nisa lalu menggandeng tangan Keyran sambil tersenyum. Hatinya saat ini sedang berbunga-bunga, kencan pertama dengan suaminya yang telah lama dia nantinya akhirnya akan segera terlaksana.


Bahkan dia berdandan dengan menyesuaikan tema. Dia memakai dress gaya cheongsam modern yang panjangnya di bawah lutut. Bahkan rambut indahnya yang biasanya dia biarkan terurai, kini dia menatanya seperti sanggul ala Cina. Nisa benar-benar berharap bahwa kencan pertama ini akan berjalan dengan sempurna.


***


Sekitar setengah jam kemudian, Keyran dan Nisa tiba di Shangri-La Restaurant. Dekorasi restoran itu sangat mengagumkan, pintu masuk yang menggunakan bahan kayu dan kaca dengan pola geometris serta kaligrafi China diatasnya. Lantainya yang cantik dengan motif bunga etnik dan gambar yang menghiasi sisi dinding.


Ciri khas dari restoran ini banyak bermain dengan material kayu dan warna coklat. Beberapa elemen interior di sini menghadirkan beragam unsur kayu yang diaplikasikan seperti penggunaan material kayu pada lantai, dinding hingga furnitur seperti meja dan kursi. 


Dekorasi yang dihadirkan di restoran adalah adanya aksesoris ruang khas China. Misalnya lukisan, guci, serta pajangan kaligrafi China. Selain itu, sebagai penerangan lampu-lampu lampion berwarna merah yang memiliki nilai artistik tersendiri juga dihadirkan.


Setibanya di ruangan yang telah Keyran pesan, ekspresi Nisa berubah total jika dibandingkan dengan di rumah tadi. Saat ini dia memegang sumpit dengan tangan gemetar, dan melotot ke arah Keyran yang justru sedang asyik menikmati makanan.


Bangs*t! Kenapa malah jadi begini?!


Nisa ingin sekali berteriak dan mengumpat, tetapi dia tak kuasa karena terhalang oleh keadaan. Dia sangat tidak terima karena saat ini di hadapannya ada seseorang yang tidak lain adalah ayah mertuanya.


Kenapa orang ini ada di sini? Mengganggu kencanku saja, dan saat di perjalanan Keyran juga tidak bilang kalau ayahnya akan ikut. Sialan, ini menghancurkan semua ekspektasiku.


"Ada apa Nisa? Mnegapa tidak makan? Apa makanannya tidak sesuai dengan seleramu?" tanya Keyran.


"Ahaha, semuanya sesuai." Nisa lalu sekilas melirik ke arah ayah mertuanya. "Aku ingin ke toilet sebentar."


"Baiklah," ucap Tuan Muchtar dan Keyran bersamaan.


Nisa kemudian meninggalkan ruangan VIP tersebut dan menuju ke toilet. Di dalam sana kebetulan hanya Nisa seorang diri, dia tak melakukan apa-apa selain mencuci tangan di wastafel dan bercermin.


"Huh, Keyran bodoh! Dengan santainya dia bilang ... Aku lupa mengatakan ini padamu Nisa, sebenarnya yang mengajak makan malam bersama adalah ayahku. Jadi jangan bingung kenapa dia ada di sini," ucapnya sambil menirukan gaya bicara Keyran.


"Akhh! Bisa-bisanya dia bilang begitu tanpa rasa bersalah! Dasar suami bodoh! Kenapa dia tidak paham kalau aku sejak dulu ingin kencan dengannya?!"


"Kurang ajar! Aku bahkan sampai menghabiskan waktu 4 jam hanya untuk berdandan, tapi kencanku malah gagal!"


Nisa mengatur napasnya, sekali lagi dia menatap bayangannya lekat-lekat pada cermin. "Huft ... tak apa, memang begini jika punya suami yang gila kerja." ucapnya dengan senyum terpaksa.


Sial, aku masih tidak rela.


Nisa kembali ke ruangan itu dalam keadaan lesu. Dia duduk dan menyantap makanan China yang tampak menarik itu dengan perlahan. Selera makannya kini telah hilang, hilang bersama keinginan kencannya yang tak terwujud.


"Oh ya, Nisa. Apa kau tahu alasanku mengajakmu makan malam?" tanya Tuan Muchtar.


"Eh? Jadi makan malam ini ada tujuannya? Aku kira cuma makan malam biasa." Nisa sedikit bingung.


"Keyran, jadi kau belum menjelaskannya ke istrimu!"


"Huh, lagi pula sekarang Nisa ada di sini. Jadi ayah bisa sampaikan sendiri apa maksud ayah," jawab Keyran.


"Memangnya apa yang mau ayah mertua bicarakan denganku?" tanya Nisa.


"Sebenarnya ... aku mengajakmu untuk makan malam karena ingin menyampaikan rasa terima kasih. Kontribusimu di perusahaan tidak main-main, aku juga tidak menyangka kau bisa melakukannya sebaik itu. Kau bahkan mampu membongkar hal kotor yang dilakukan oleh dewan direksi."


"Ah, soal dewan direksi memang agak menyulitkanku. Aku dipandang seperti bocah yang tak tahu apa-apa tentang perusahaan, ada yang merendahkanku dengan alasan aku istrinya Keyran. Menganggapku hanya mahir dalam urusan rumah tangga, berteriak padaku agar aku di dapur saja. Ada juga yang merendahkanku dengan alasan aku belum lulus kuliah. Macam-macam alasan sudah aku dengar dari mulut mereka yang tak suka padaku. Tapi itu bukan masalah, sebatas kata-kata seperti itu tak akan bisa membuatku menyerah."


"Iya, aku juga tahu bagaimana cara pikir mereka. Mereka semua memang orang yang keras kepala karena merasa punya jabatan tinggi. Untung saja mereka yang sudah tak pantas lagi menduduki jabatan itu sudah diusir dari perusahaan, itu diputuskan di rapat dewan ulang yang dipimpin oleh Keyran hari ini. Semua itu juga tak lepas dari usahamu sebelumnya, aku benar-benar berterima kasih atas semua yang kau lakukan."


"Itu bukan apa-apa, jadi sudah cukup ayah mertua berterima kasih. Aku melakukannya semata-mata karena Keyran sakit. Jadi agar dia cepat sembuh maka aku yang mengambil alih tugasnya. Jika saja Keyran yang melakukannya, aku yakin dia akan melakukan lebih baik dari yang aku lakukan!" ucap Nisa dengan senyuman sambil memandang ke arah Keyran.


Keyran tersenyum tipis, dia menggenggam sebelah tangan Nisa yang berada di atas meja makan. "Kau memang pantas mendapat pujian. Kau sudah menggantikan tugasku dengan baik di perusahaan, dan sisi lain kau juga mengurusku yang sedang sakit. Tapi ... sepertinya kau masih belum paham maksud dari ayahku."


"Hm?"


"Haha, ternyata benar. Ayahku mengisyaratkan kau sudah berkontribusi banyak, jadi atas kerja kerasmu ... kau bisa minta hadiah padanya."


"Eh?!" Seketika Nisa beralih menatap ayah mertuanya. "Apakah yang keyran bilang itu benar?"


"Dia benar, kau bisa minta apa saja," ucap Tuan Muchtar penuh keyakinan.


"Aku boleh minta apa saja?" tanya Nisa seakan tidak percaya.


"Ya, bahkan jika kau menginginkan saham perusahaan, aku akan berikan beberapa persen untukmu."


"Enyah!" ucap Nisa tanpa sadar.


"A-apa?!" Tuan Muchtar dan Keyran menatap Nisa dengan tatapan tidak percaya.


Sedangkan Nisa, dia yang sudah tersadar jika ucapannya salah langsung berekspresi panik. "M-maksudku enyah itu adalah ... ayah mertua harus mengenyahkan orang-orang seperti itu dari perusahaan sampai tuntas. Soalnya aku tidak mau Keyran membuang-buang tenaganya untuk berurusan dengan orang seperti itu," ucapnya dengan senyum canggung.


Sialan, aku keceplosan. Yang aku inginkan adalah ayah mertua segara pergi dari sini agar aku dan Keyran bisa kencan.


Keyran tersenyum dan mengusap kepala Nisa dengan lembut. "Haha, mintalah sesuatu yang lain. Kau membuat permintaan untukku, buatlah permintaan untukmu sendiri."


"Tapi, aku sudah punya kau. Mempunyaimu artinya aku sudah punya segalanya."


"K-kau ini ..." Wajah Keyran memerah.


"Haha, menantuku ini ternyata polos. Kalau kau bingung ingin meminta apa, kau bisa pikirkan baik-baik. Anggap saja aku berhutang padamu," Tuan Muchtar terkekeh.


"Ehmm ... baiklah," jawab Nisa sambil mengangguk.


"Oh iya Nisa, aku ada satu hal yang membutuhkan persetujuanmu!"


"Tunggu sebentar ayah! Sebelumnya ayah tidak bilang soal ini padaku! Memangnya ayah mau meminta apa dari istriku?!" tanya Keyran.


"Tenanglah Key, dengarkan dulu penjelasan ayahmu," ucap Nisa sambil memegang tangan Keyran.


"Jadi begini, sebentar lagi acara tahunan peringatan hari jadi perusahaan akan diadakan. Dan aku ingin acara tahun ini diurus olehmu, Nisa. Apa kau bersedia?" tanyanya dengan tatapan berharap.


"Jangan membebani Nisa, Ayah! Itu tugas yang biasanya dikerjakan Valen dan kepala pelayan, tahun ini biar mereka saja yang mengerjakan lagi!" bentak Keyran.


"Masalahnya konsep yang mereka pilih setiap tahun tetap sama. Memang berjalan dengan baik, tapi aku bosan. Jika aku sebagai tuan rumah saja bosan, apalagi dengan para tamu?"


"Ehmm ... kenapa ayah mertua menunjukku? Apakah aku memenuhi kualifikasi untuk mengurus hal sepenting itu?" tanya Nisa.


"Ya, aku percaya padamu!" jawabnya penuh keyakinan.


Nisa menundukkan kepala dan tersenyum tipis. "Aku terkesan jika ayah mertua begitu percaya padaku. Bukannya aku tidak mau, tapi jika aku mengurus hal itu artinya aku akan punya kesibukan di kediaman utama. Sedangkan di sana ada Natasha, ayah mertua tahu sendiri dia bagaimana terhadapku ..."


"Kau jangan memikirkan tentang itu. Natasha sudah berubah, dia sudah bisa menerima kepergian Samuel. Dia menjadi rajin pergi ke gereja, aku yakin jika hatinya sudah melunak. Jadi bagaimana keputusanmu?"


"...." Nisa membisu, kemudian menatap Keyran seakan-akan meminta pendapatnya.


"Jangan menatapku. Tak ada seorang pun yang memaksamu, kau bebas memutuskannya sendiri. Apa pun yang kau pilih aku akan mendukungmu."


Nisa tersenyum saat mendengar jawaban dari suaminya. Dia lalu mengambil napas dalam-dalam dan berkata, "Baiklah, aku setuju!"


"Hahaha, baguslah! Kau itu menantuku yang selalu membuat orang lain terkejut, aku menunggu kejutan apa yang kau buat nanti!"


"Anu ... soal yang ayah mertua tawarkan kepadaku tadi, aku sudah tahu apa yang aku inginkan!"


"Benarkah? Ayo katakan saja!"


"Aku dengar restoran ini menyediakan arak khas China terbaik. Aku menginginkan itu!"


"Hei, serius yang kau minta itu?" tanya Keyran seakan tak percaya.


"Iya!"


"Pelayan! Bawakan semua jenis arak ke sini!" teriak Tuan Muchtar.


Tak berselang lama kemudian para pelayan datang, mereka menyediakan berbagai macam arak. Ada yang memabukkan dan ada yang tidak, ada yang terbuat dari buah dan ada yang terbuat dari herbal seperti ginseng. Para pelayan juga menuangkan arak ke cawan untuk ketiga orang itu.


"Gan bei!" teriak Nisa sambil mengangkat cawan.


"Apa kau menantang kemampuan orang tua ini?"


"Ya, jika ayah mertua bersedia!"


"Hei, apa-apaan kalian berdua ini!" teriak Keyran.


"Apa kau takut?" tanya Nisa dan Tuan Muchtar bersamaan.


"Heh, aku sama sekali tidak takut!"


Karena menjaga harga dirinya, akhirnya Keyran bergabung dengan permainan istri dan ayahnya. Kencan yang semula diinginkan oleh Nisa tak terlaksana, dan kini dia terhibur karena semua orang bergabung dalam permainan minum arak tersebut.