
"Hehe, tentu saja sibuk bermimpi. Malam ini aku ingin bermimpi menjadi penguasa dunia, setelah itu aku akan memulai perang dunia ke-4! Lalu seluruh dunia akan menyebutku sebagai permaisuri!" ucap Nisa dengan antusias.
"Mengerikan, meskipun itu cuma mimpi tetap saja mengerikan. Tapi... jika kau adalah permaisuri, secara otomatis aku juga akan menjadi kaisar." ucap Keyran penuh percaya diri.
"Enak saja, kau hanya akan menjadi salah satu selirku. Bahkan jika kau membuat kesalahan sekecil apa pun, maka aku akan menurunkan pangkatmu menjadi penjaga kuda!"
"Heh, tidak tahu diri. Khayalanmu itu selamanya tidak akan pernah terjadi, mimpi saja sana!"
"Baiklah, selamat tidur~" Nisa langsung berbalik membelakangi Keyran.
"Cepat berbalik! Aku belum mengizinkanmu untuk tidur!" Keyran lalu menarik-narik lengan baju Nisa, tapi Nisa tidak bergeming sedikit pun. "Jangan membodohiku, aku tahu kau hanya berpura-pura! Aku akan hitung sampai tiga, jika kau masih belum berbalik maka aku akan bersikap kasar padamu! Satu, dua, dua setengah... Nisa, ini kesempatan terakhir! Jangan biarkan aku berkata tiga!" Nisa masih tidak bergeming.
"Tiga.. m-mmm...!?" Saat hitungan ketiga Nisa tiba-tiba berbalik, namun dia tidak menyangka kalau secara tidak sengaja akan berciuman dengan Keyran. Di sisi lain Keyran juga terkejut oleh ciuman yang mendadak itu. Mata mereka bertatapan dan membelalak menggambarkan rasa keterkejutan. Dan tanpa mereka sadari, mereka berdua akhirnya berciuman cukup lama.
Ciuman itu berakhir ketika Nisa mengedipkan matanya. Setelah ciuman itu lepas, kedua orang itu langsung berganti posisi membelakangi satu sama lain. Tak dapat dipungkiri, detak jantung mulai bertambah cepat serta rona wajah menjadi merah. Namun hal itu hanya berlaku untuk Keyran. Sementara Nisa malah menyalahkan dirinya sendiri karena telah berbalik. Bahkan dia juga menganggap ciuman itu sebagai kesialan.
Mereka berdua terus berdiam diri dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Namun tak lama kemudian akhirnya Keyran tersadar, dia tersadar bahwa dia masih harus menginterogasi Nisa. Keyran mengambil nafas panjang kemudian berbalik menghadap ke arah Nisa.
"Nisa..." ucap Keyran sambil mencolek punggung Nisa.
"A-ada apa? Apakah kau akan berhitung sampai sepuluh?" tanya Nisa tanpa berbalik badan.
"Lupakan soal hitungan, cepatlah berbalik! Jangan mencoba kabur dari interogasi! Anggap saja yang tadi itu tidak pernah terjadi! Cepat menghadap padaku!"
"Huft..." Nisa merubah posisinya menjadi terlentang dan hanya sedikit melirik ke arah Keyran. "Begini saja, kau bisa mulai bertanya." ucap Nisa dengan raut wajah datar.
"Baiklah," Keyran juga merubah posisinya menjadi terlentang dan hanya sedikit melirik ke arah Nisa. "Sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan padamu, aku sedikit bingung harus memulainya dari mana. Apa kau punya saran untukku?"
"Interogasi macam apa ini? Kau bingung dengan pertanyaan mana yang akan kau tanyakan. Saranku kau bisa memulainya dari awal, aku juga orang yang terbuka, aku akan menjawab semua pertanyaan darimu. Jadi jangan bingung, kau bisa bertanya apa saja."
"Kau mungkin akan menjawab semuanya, tapi apakah jawabanmu itu jujur?" tanya Keyran dengan nada ragu.
"Key, aku bahkan belum memberimu jawaban apa pun, tapi kau sudah meragukan aku. Jujur atau tidaknya itu tergantung padamu. Jika kau percaya padaku maka semua jawaban itu akan menjadi jujur, tapi jika kau sudah meragukan aku meskipun jawabanku jujur, maka kau akan tetap menganggapnya sebagai kebohongan."
"Baiklah, pertanyaan pertama akan menentukan bagaimana sikapku padamu. Selama ini aku terus merasa bahwa kau itu berubah-ubah, juga terkadang terkesan seperti orang lain. Tapi aku juga merasa kalau semua itu bukanlah dirimu yang asli. Yang mana wajahmu yang sesungguhnya?"
"Semua itu adalah aku. Untuk lebih jelasnya... apa kau pernah mendengar salah satu dari pepatah Jepang mengenai itu?"
"Aku belum pernah mendengarnya, coba jelaskan padaku."
"Pepatah itu mengatakan manusia memiliki tiga wajah. Pertama, wajah yang ditunjukkan ke publik. Kedua, wajah yang hanya diperlihatkan pada teman atau keluarga. Ketiga, wajah yang tak ditunjukkan pada siapa pun, hanya aku seorang yang tahu. Wajah ketiga adalah wajah yang mencerminkan diriku yang sebenarnya."
"Yang ingin aku ketahui adalah wajah yang ketiga, sebenarnya siapa dirimu?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.
"Ternyata kau belum mengerti." ucap Nisa dengan senyum meremehkan.
"Maksudmu?"
"Itu cuma pepatah, bukan berarti kalau aku benar-benar punya tiga wajah. Aku juga sudah bilang jika kau merasa bahwa aku terkadang terkesan seperti orang lain, sebenarnya itu bukanlah orang lain, itu tetaplah aku. Sikapku berubah-ubah juga bukan tanpa alasan, sikap yang aku tunjukkan tergantung pada suasana hati. Dan yang terpenting... kau adalah suamiku, keluargaku."
Nisa lalu tersenyum tipis, "Inilah diriku yang aku tunjukkan pada keluargaku."
"Keluarga yaa..." untuk sejenak Keyran terdiam, "Apa kau juga sering berkata kasar kepada keluargamu?"
"Haha... jangankan berkata kasar, di keluargaku perkelahian adalah hal wajar. Malah ibuku sendiri yang menjadi wasit dan ayahku menjadi juri. Bahkan... perkelahian itu juga dipicu oleh hal remeh, seperti perbedaan tim sepak bola, berebut remote TV, pokoknya semua hal remeh dapat menjadi pemicu."
"Berebut remote TV? Bukankah keluargamu cukup mampu untuk membeli lebih dari satu?"
"Keluargaku memang mampu membeli lebih dari satu. Tapi... jika di dalam rumah hanya ada satu, itu bisa memberikan banyak keuntungan. Misalnya hemat listrik, orang tua dapat mengontrol tontonan yang dilihat anaknya, dan yang terpenting bisa membuat keluarga menjadi semakin harmonis. Karena menonton TV bersama-sama itu lebih menyenangkan dibandingkan dengan menonton sendirian."
Nisa lalu melirik ke arah Keyran dan menyeringai. "Pertanyaan selanjutnya."
"Baiklah, pertanyaanku adalah kenapa kau betah sekali berada di DG Club? Apa sebelumnya kau sering datang kesana?"
"Iya, sejak club itu dibuka aku sering main kesana." jawab Nisa dengan wajah murung.
Sebenarnya aku sempat berhenti main ke club saat masih berpacaran dengan Ricky. Saat itu aku lebih mementingkan Ricky dibanding diri sendiri, melihat situasinya sekarang, bukankah aku terlihat sangat konyol? Selama dua tahun lebih aku telah diperbudak oleh cinta. Tapi ternyata imbalan yang aku dapatkan malah seperti ini, nggak ada harganya sama sekali!
"Apa alasanmu bermain kesana?"
Pantas saja Nisa menjadi tamu VIP, ternyata dia sering main kesana. Jangan-jangan dia ini sebenarnya punya rahasia tentang club itu, tapi rahasia macam apa yang disimpan oleh istriku yang barbar ini? Mungkin saja dugaanku selama ini benar, Nisa bukanlah orang yang sederhana.
"Aku nggak punya alasan khusus, aku datang kesana karena memang ingin main, sekalian mengobrol dengan teman-temanku."
"Bicara tentang temanmu... Siapa sebenarnya temanmu yang membuka kedai itu? Dia terlihat sedikit mencurigakan."
"Namanya Dika, kami adalah alumni dari SMP yang sama. Jika kau masih curiga kalau dia itu selingkuhanku. Aku beritahu ya, kami cuma teman, yaa.. bisa dibilang teman akrab lah."
"Aku tahu kalau dia bukan selingkuhanmu. Lagipula yang aku maksud mencurigakan bukan soal itu."
Huh! Siapa yang peduli kau selingkuh atau tidak!? Kau itu cuma barang bekas dari mantanmu, dan yang lebih membuatku muak adalah, saat kau tidur bahkan mengigau menyebut namanya. Saat itu aku ingin sekali menyumbat mulutmu yang mengesalkan itu!
"Lalu kau curiga soal apa?"
"Eh!? I-itu..."
Jika aku bertanya mengenai temannya yang punya hubungan dengan Violent Zone, Nisa bisa curiga kalau aku telah memata-matai dirinya. Tapi, sebenarnya aku sangat ingin tahu tentang hal itu! Lalu... bagaimana jadinya jika ternyata Nisa sama sekali tidak tahu tentang Violent Zone? Jika memang begitu, maka jadinya malah aku yang terkesan mencurigakan.
"Kenapa diam? Aku sudah bilang kalau aku akan menjawab semua pertanyaanmu, jadi jangan ragu."
Nisa tiba-tiba menghadap ke arah Keyran dan tersenyum sinis kepadanya. "Heh, darling jangan sungkan. Apa darling masih kepikiran tentang kegagalan para agen itu~ Aku tahu semuanya loh~"
"K-kau!? Ternyata..."
Keyran sangat terkejut karena ternyata Nisa mengetahui bahwa dia telah dimata-matai oleh agen suruhannya. Saat itu juga Keyran langsung terbangun, dan tentu saja Nisa juga ikut-ikutan terbangun.
Kedua orang itu saling menatap satu sama lain tanpa berkata sepatah kata pun. Keyran menatap Nisa dengan sorot mata yang tajam, namun Nisa malah tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya. Tentu saja sikap yang ditunjukkan oleh Nisa merupakan sebuah tantangan yang ditujukan untuk Keyran.
Di sisi lain Keyran juga menangkap isyarat tantangan itu. Keyran menggertakkan giginya dan menatap Nisa dengan tatapan membunuh sambil berkata, "Sebenarnya siapa kau ini hah!?"
"Hehe... masa nggak kenal istri sendiri?" Nisa lalu dengan santainya kembali berbaring dan menekuk kedua tangannya di atas kepala.
"Berbaringlah... aku katakan sekali lagi, aku akan menjawab semua pertanyaanmu, dan jawaban atas pertanyaanmu barusan adalah... Aku Nisa, istrimu. Mengenai biodata lain, seharusnya kau sudah melihatnya di CV yang aku ajukan waktu aku interview dulu."
"Bukan itu maksudku! Aku ingin tahu dirimu yang sebenarnya, ini seperti kembali ke pertanyaan pertama, yang mana wajahmu yang asli!?"
"Aku menolak menjawab semua pertanyaanmu sebelum kau berbaring, jika kau masih mau jawaban dariku maka berbaringlah!"
Nisa hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Keyran.
"Tsk! Baiklah, aku berbaring." Keyran lalu terpaksa berbaring dan kemudian menatap Nisa dengan tatapan sinis.
"Kau terus menghindar saat aku bertanya tentang siapa dirimu, jadi aku tidak akan basa-basi lagi. Apa hubunganmu dengan Violent Zone? Aku sangat yakin bahwa kau tahu sesuatu tentang hal itu, jadi jangan mencoba untuk menipuku!"
"Violent Zone yang mana yang kau maksud? Apakah yang berhubungan dengan terbakarnya sebuah kapal pesiar 3 tahun lalu?" tanya Nisa sambil tersenyum.
"Kau... ternyata mengetahuinya, dari mana kau tahu tentang hal itu?" Raut wajah Keyran menjadi semakin terkejut.
"Heh, bukan hal penting aku tahu dari mana. Toh kau sendiri juga tahu tentang itu, kenapa aku nggak boleh tahu? Lagipula... Violent Zone yang sekarang sudah berbeda, aku juga tahu dari mana kau bisa mengetahui informasi tentang Violent Zone, itu karena kau sendiri pernah kesana. Aku benar, kan?"
"K-kau... s-siapa yang..." ucap Keyran terbata-bata.
"Hahaha... betapa beruntungnya dirimu, kau sangat beruntung karena waktu kapal itu terbakar kau sedang nggak ada disana. Padahal waktu itu bertepatan dengan malam tahun baru, itu menjadi malam tahun baru yang meriah."
"Bagaimana kau bisa tahu semua itu dengan begitu rinci?" tanya Keyran dengan tatapan seakan tidak percaya.
"Hanya itu yang aku tahu, aku nggak tahu berapa jumlah orang yang tewas. Tapi, aku juga nggak nyangka organisasi yang sudah mendapat kerugian cukup besar, ternyata masih belum kapok. Violent Zone sampai sekarang masih ada, dan... apakah kau masih pergi kesana?"
"Bukan urusanmu aku pergi kesana atau tidak!" ucap Keyran dengan nada ketus.
"Iya sih... memang bukan urusanku. Para konglomerat seperti kalian pantas-pantas saja jika mengunjungi tempat itu. Tapi aku sedikit kurang suka, bisa-bisanya kalian menikmati acara perjuangan hidup dan mati. Coba bayangkan seandainya kau berada di posisi para petarung itu, mereka semua terkesan seperti diperas."
Nisa lalu mengerutkan dahi, "Sungguh kasihan..."
"Hei Nisa, kau tahu kalau Violent Zone itu adalah tempat arena tarung gelap. Aku akui kalau aku pernah kesana, tapi aku merasa sepertinya aku tidak pernah menjumpaimu. Sekarang aku curiga kalau kau punya hubungan dengan organisasi gelap itu. Tapi yang membuatku heran, kenapa kau terbuka sekali dengan hal penting semacam itu?"
"Kau salah, aku sama sekali nggak punya hubungan dengan organisasi gelap itu. Itulah sebabnya aku terbuka."
Organisasi itu sebenarnya adalah sebuah geng mafia, namanya Fire Shoot. Dan yang aku ketahui ketua mafia itu sudah mati, itulah alasan utama bisnis Violent Zone sempat terpuruk. Tapi yang membuatku heran, dari mana mafia yang sekarat itu punya modal untuk bangkit? Apakah ketua mereka yang baru sangat kaya?
Waktu itu aku sudah membuat perjanjian dengan petinggi Fire Shoot bahwa aku nggak akan mencampuri urusan mereka lagi. Mereka juga sudah berjanji akan melindungi semua informasi yang berhubungan denganku. Tapi kenapa Keyran bisa tahu?
Aaahh sialan, aku lengah! Pasti Keyran menyelidiki tentang Dika, seharusnya waktu itu aku sendiri yang menghabisi 3 agen itu. Tapi anehnya... Keyran belum tahu seandainya Dika juga terlibat, mungkin yang dia tahu sebatas Dika pernah kesana. Untunglah orang-orang dari mafia itu masih ingat dengan janji mereka. Awas saja jika mereka ingkar, sekali lagi aku akan buat perhitungan dengan mereka!
"Keyran, interogasinya sudah selesai kan? Aku mau tidur, besok masih harus kuliah..." ucap Nisa dengan mata yang terlihat meredup.
"Hah!? Serius besok mau kuliah? Kau kerasukan setan jenis apa?" tanya Keyran terheran-heran.
"Sembarangan! Aku mana ada kerasukan setan, besok aku masih harus mengumpulkan laporanku yang kau tandatangani itu. Nah, jadi sudah selesai kan?"
Juga... aku sangat penasaran bagaimana ekspresinya petugas babi nanti ketika aku mengumpulkan laporanku, pasti akan sangat seru!
"Belum selesai, aku masih ingin menanyakan soal Daniel. Rencana kotor apa yang kalian buat?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.
"Huft... sebelum aku menjawabnya, cobalah tatap mataku dulu!" pinta Nisa dengan wajah serius.
"Untuk apa aku melakukannya?" tanya Keyran dengan wajah bingung.
"Apa kau masih mau jawaban dariku?"
"Cih, permintaanmu selalu saja aneh-aneh. Tapi demi jawaban, akan aku lakukan." Keyran lalu mencoba untuk menatap mata Nisa dengan saksama. Sebenarnya dia sendiri juga bingung dengan permintaan istrinya itu.
Mereka berdua bertatapan mata cukup lama, hingga pada akhirnya Nisa berkata, "Apa kau melihat sesuatu? Jika iya maka katakanlah itu!" ucap Nisa yang masih bertatapan mata dengan Keyran.
"Aku melihat bahwa di matamu ada... kornea, iris, pupil, sklera, dan konjungtiva." ucap Keyran dengan serius.
"Apakah hanya itu?" tanya Nisa seakan tidak percaya.
"Oh, satu lagi... ada bayangan diriku. Di matamu ada bayangan diriku!"
"W-what...!?" Nisa langsung mengucek matanya. Dan setelah itu langsung berbalik membelakangi Keyran.
Ternyata Keyran sama sekali nggak paham dengan maksudku. Aku pikir dia akan melihat kebencian sama seperti Daniel. Hah... jika seperti ini, sebaiknya aku jujur saja kepadanya.
"Nisa, kenapa kau membelakangi aku lagi? Matamu baik-baik saja, semuanya normal. Sekarang cepat berbalik dan jawab pertanyaanku!" Keyran lalu mencubit punggung Nisa.
"Aaawww...! L-lepaskan dulu, baru aku mau berbalik!" Setelah Keyran melepaskan cubitannya dari punggung Nisa, seketika Nisa langsung berbalik ke arahnya.
"Huh! Iya iya... aku jawab, kau mau jawaban seperti apa? Secara rinci atau garis besar saja?"
"Aku mau secara rinci." tegas Keyran.
"Baiklah, awal mula aku sulit tertidur, setelah berpikir cukup lama... lama sekali... hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke halaman. Di halaman aku memandang langit malam, rembulan seakan tersenyum kepadaku, cahaya bintang juga sangat gemerlap, suara angin berdesir bagaikan melodi di telingaku. Dan se...."
"Cukup! Secara garis besar saja!"
Kenapa istriku ini aneh sekali? Terkadang bersikap seperti politikus, pelawak, penyanyi, dan sekarang penyair. Sebenarnya dia pernah minum racun jenis apa? Apakah mungkin sianida?
"Baiklah, awalnya aku hanya sendirian, tapi tiba-tiba Daniel datang. Dia mengajakku untuk bekerjasama menghancurkan hidupmu. Dan aku menolaknya. Selesai... sekarang aku boleh tidur?"
"Belum, tunggu sebentar! Daniel mengajakmu bekerjasama untuk menghancurkan hidupku, namun kau menolaknya. Apa alasanmu menolaknya?"
"Lah...? Ternyata kau ingin hidupmu sendiri hancur. Apa kau sudah kehilangan akal?"
"Bukan begitu, dasar bodoh! Selama ini kau selalu melawanku, jadi aku mengira kalau kau membenciku. Kau juga pernah mengatakannya dengan mulutmu sendiri. Sebab inilah aku ingin mengetahui alasanmu menolak tawaran Daniel."
"Alasanku sederhana, karena kau adalah suamiku, bukan Daniel. Mungkin jika aku menikah dengan Daniel, aku akan bekerjasama dengannya untuk menghancurkanmu. Nah, sekarang coba pikir, apakah mungkin bagi seorang istri untuk menghancurkan hidup suaminya sendiri? Lagipula... jika hidupmu hancur maka aku juga terkena imbasnya, aku akan kehilangan ATM berjalan dari bank pria sempurna. Hehe... aku benar kan?"
"Jadi... seandainya aku jatuh miskin atau perusahaanku bangkrut, apakah saat itu kau akan meninggalkanku?"
"Iya, aku akan langsung meninggalkanmu." jawab Nisa secara spontan.
"Wah... kejam sekali. Padahal kau sudah bersumpah untuk setia kepadaku, dalam kelimpahan ataupun kekurangan. Apa kau sudah melupakan sumpah pernikahan yang kau ucapkan?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.
"Mana mungkin aku lupa. Saat itu sumpahku adalah menikahi Keyran Kartawijaya, dan Keyran adalah seorang CEO yang berkemampuan dan bijaksana, jadi mustahil baginya jatuh miskin. Dan seandainya suamiku jatuh miskin, sudah dipastikan bahwa itu bukanlah Keyran! Dan tentu saja aku akan meninggalkannya."
Nisa menjawab pertanyaan itu dengan senyum yang polos. Namun yang tak disangka saat itu juga wajah Keyran menjadi memerah. Dia kemudian langsung berbalik membelakangi Nisa, dan setelah itu dia berkata, "Interogasinya selesai, kau bisa tidur!"
"Selamat malam Key... semoga kau bermimpi jadi penjaga kuda~" Nisa juga ikut-ikutan berbalik membelakangi Keyran.
"Hng! Semoga kau menjadi penguasa dunia, dunia mimpi!"
Selamat malam juga Nisa...