
3 menit telah berlalu. Waktu yang diberikan Nisa telah habis, tetapi Keyran masih belum memberikan jawaban atas keputusan yang dia ambil.
"3 menit 19 detik, sudah lewat 19 detik tapi kau belum memberiku jawaban. Mengecewakan, aku pikir kau datang ke sini dengan persiapan."
"..." Keyran masih membisu, dan hal itu membuat Nisa kehilangan kesabaran. Dia mengambil kembali flash drive yang semula berada di atas meja itu.
"Baiklah, ternyata kau memilih diam. Kalau begitu aku ambil kembali benda ini. Sangat disayangkan ... kau kehilangan kesempatan untuk memenjarakan seluruh petinggi sebuah kelompok gangster. Padahal kau bisa saja menyelamatkan banyak nyawa di masa depan."
Tiba-tiba Nisa beranjak dari kursinya, lalu berjalan ke arah pintu keluar. Tetapi sebelum itu dia menghentikan langkahnya saat ingin melewati Keyran. Dengan lirih dia berkata, "Kau bahkan tak bisa membuat keputusan, percuma saja aku menemuimu. Kedatanganmu semakin menambah rasa kecewaku."
Nisa melangkah melewati Keyran dan keluar dari private room itu. Di sisi lain Keyran masih mematung di sana, dia tak berkata apa-apa dan hanya mendengarkan suara langkah kaki Nisa yang semakin menjauh darinya.
Satu per satu rekan-rekan Nisa yang lain juga ikut keluar, kecuali satu orang yang tidak lain adalah Ivan. Setelah lewat beberapa saat tiba-tiba saja dia berjalan mendekat ke arah Keyran, lalu menyodorkan sebuah benda kepadanya.
"Hei, kau tampak menyedihkan. Mau rokok?"
"Terima kasih, tapi aku tidak merokok," jawab Keyran dengan tatapan kosong.
Ivan menyimpan rokoknya kembali, ekspresinya juga tampak sedikit masam. "Hahh ... sialan, padahal aku jarang punya niatan mau berbagi. Ternyata kau menolak bentuk rasa terima kasihku."
"Terima kasih soal apa?"
"Soal kau yang jadi pecundang. Tapi aku berterima kasih karena kau tidak mengambil keputusan yang salah. Sekarang aku tahu mengapa Nisa ingin kami semua berkumpul meskipun perbincangan kalian tergolong tidak bisa dicampuri. Dia ingin memberitahukan soal penyerahan dirinya, itu hal yang sangat gila. Untung saja kau tidak mengambil flash drive itu."
"Itu bukan apa-apa ..." jawab Keyran yang kemudian tertunduk lesu.
"Ngomong-ngomong kau betah sekali duduk di situ, kau tidak pergi?"
"Bagaimana aku bisa pergi? Aku datang ke sini karena ingin meminta maaf dan mengajak Nisa pulang. Tapi sebelum aku mengatakan apa maksudku, Nisa sudah memberi penegasan seakan-akan tidak mau bersamaku lagi. Dia bahkan lebih memilih sukarela dipenjara daripada terus bersamaku."
"Dan sebelumnya aku juga sudah meyakinkan ayah mertuaku jika aku pasti bisa membawa Nisa kembali. Jika aku kembali tanpa Nisa, maka aku juga akan mengecewakannya. Kau benar, mungkin aku seorang pecundang."
"..." Ivan langsung tertegun begitu mendengar jawaban Keyran.
Aku tidak habis pikir. Orang ini masih mau Nisa kembali walaupun sudah tahu semua keburukan yang ada padanya. Berbeda dengan pria itu, meskipun dia punya niat baik untuk mengubah Nisa, tapi tetap saja itu terkesan tidak menerima jati dirinya. Lalu pria yang satunya lagi, dia selalu mendukung Nisa. Secara logika sebenarnya itu hal yang sangat menguntungkan. Tapi pria ini ... mungkin aku harus mengujinya dulu.
"Kamar VVIP nomor 11."
"Apa?!" Seketika Keyran mendongak.
"Bosku ada di sana, kau bisa masuk ke kamar itu dan buktikan niatmu. Bahkan jika perlu cium kakinya agar dia memaafkanmu."
"Kau sungguh tidak berbohong?!" tanya Keyran seakan tidak percaya.
"Cih, lagi pula tidak ada gunanya aku membohongimu!"
"T-tapi ... kenapa kau membantuku?"
"Karena aku benci belajar bahasa Italia!" jawab Ivan dengan nada ketus.
"Bahasa Italia ..." Sejenak Keyran termenung, namun setelahnya dia langsung berdiri dan terlihat panik. "T-tunggu sebentar ... apakah maksudmu Jonathan pernah ke sini?!"
"Ya, dialah pria yang menghibur istrimu. Setiap hari!" ucap Ivan penuh penekanan.
"Sial, apa saja yang dia lakukan pada Nisa?!"
"Mana aku tahu, lagi pula apa masalahnya jika Nisa dekat dengan pria lain? Kau sendiri yang tidak mempercayainya dan beranggapan jika dia selingkuh. Seandainya jika dia benar-benar selingkuh itu bukan masalah, kan?" tanya Ivan dengan senyuman iblisnya untuk memprovokasi Keyran.
Keyran tersentak, ekspresinya semakin bertambah suram. Namun setelahnya dia tiba-tiba berteriak, "Cukup! Aku hanya akan percaya jika kalimat itu keluar dari mulut Nisa!"
Keyran langsung bergegas pergi dari ruangan itu. Sedangkan Ivan, dia tersenyum puas dan bersedekap.
Untunglah aku tidak salah memihak, dia pria yang pintar yang belajar dari kesalahan. Jika dia percaya kata-kataku barusan, maka aku akan memukulnya saat itu juga.
***
Keyran berlarian di lorong kasino yang luas itu, dia mencari-cari di mana kamar VVIP nomor 11 berada. Saat menemukan kamar itu, tanpa keraguan apa pun dia membuka pintu yang tak terkunci itu dan langsung melangkah masuk.
Langkah Keyran mendadak terhenti saat menyadari bahwa pintu balkon terbuka. Dari kejauhan dia melihat Nisa yang memakai dress piama putih sedang berdiri di sisi lain balkon itu. Sejenak dia merasa lega ketika melihat istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Keyran melangkah sedikit lebih dekat, dengan suara lembut juga memanggil nama istrinya. "Nisa ...."
"...?!" Nisa terkejut mendengar suara yang tidak asing lagi di telinganya, tetapi dia tak menoleh ataupun berkata apa-apa. Dia merindukan wajah pria ini setiap malam, tetapi sekarang dia merasa tidak ingin lagi melihatnya.
Perasaannya sekarang begitu rumit, dinginnya angin malam yang menerpa seakan-akan turut menusuk hingga ke dalam. Tangannya mencengkeram erat pagar balkon, kemudian mengambil napas dalam-dalam dan berkata, "Tinggalkan aku!"
"Tidak, aku tak akan meninggalkanmu!" ucap Keyran secara spontan.
"Pembohong."
Seketika Keyran membisu, dia juga menundukkan kepalanya dan mengepalkan kedua tangannya seerat mungkin.
"Nisa, kau istriku. Istri yang aku cintai dan istri yang pernah aku kecewakan ... Aku tahu bahwa aku bukan suami yang baik. Sebelum ini kita telah melewati banyak hal, aku selalu bilang akan menggenggammu dengan erat dan tak akan mengecewakanmu."
"Hingga hari ini ... aku melakukan kesalahan dan membuatmu kecewa lagi. Aku takut jika kau tidak akan tersenyum padaku lagi ...."
"Apa kau mengerti apa yang sudah terjadi?" tanya Nisa tanpa menoleh.
"Aku salah paham padamu. Tidak ada yang terjadi antara kau dengan adik tiriku. Saat aku melihat kejadian kesalahpahaman di depan mataku ... waktu itu aku goyah, dan aku bilang enyah. Meskipun begitu ... aku tidak pernah berpikir jika kau akan benar-benar pergi."
"Saat aku menyadari kalau aku salah paham padamu, hatiku rasanya sangat sakit. Aku ingin segera meminta maaf, tapi takdir bekerja secara misterius. Kesalahpahaman baru muncul sebelum aku bisa menemukanmu ..."
"Aku diberitahu kebenaran apa saja yang selama ini kau sembunyikan dariku. Semuanya yang terjadi seolah-olah bertujuan untuk mendorongku berpisah darimu. Lagi-lagi aku diuji ... tapi itu tetaplah kesalahanku. Aku yang tak cukup mempercayaimu ..."
"Maafkan aku ... Aku sangat marah saat memikirkanmu bersama orang lain. Aku tak bisa mengendalikan emosiku karena terlalu peduli padamu, karena aku mencintaimu. Aku terlalu mencintaimu!"
Semua kata-kata yang diucapkan olehnya sendiri tanpa sadar membuat air matanya jatuh mengalir. Rasa penyesalan yang amat besar seakan-akan telah keluar dari lubuk hatinya yang terdalam.
Sedangkan di satu sisi Nisa masih berdiam diri, tak ada reaksi apa pun yang dia tunjukkan. Dan tiba-tiba saja dia berkata, "Aku sudah memaafkanmu, sekarang pergilah!"
"Tidak Nisa! Aku datang ke sini bukan cuma demi meminta maaf, tapi aku juga ingin membawamu kembali! Kembalilah Nisa ... aku mohon, aku mencintaimu."
Nisa termenung sejenak, sesaat kemudian dia tersenyum sinis. "Cinta? Apa kau pikir aku akan kembali dengan alasan sesederhana itu? Kenapa kau begitu naif? Kau pikir cuma kau seorang di dunia ini yang bisa memberiku cinta?"
BRUGH ...
Tiba-tiba saja Keyran berlutut, lalu menyatukan kedua tangannya tepat di depan wajahnya.
"Jangan tinggalkan aku, aku mohon ... tetaplah bersamaku. Kesalahanku memang sangat buruk, aku tak cukup mempercayaimu. Aku janji akan lebih mempercayaimu, jadi tolong kembalilah Nisa ..."
Nisa semakin erat mencengkeram pagar itu, dengan nada suara yang gemetar dia pun berkata, "Untuk apa aku kembali? Aku sudah mengakui segalanya, dan aku bukan wanita yang baik. Identitasku sangat buruk, masih maukah kau menerima istri seburuk diriku?"
"Persetan dengan identitasmu! Biarpun kau gangster, biarpun kau penjahat, biarpun kau wanita terburuk sedunia pun aku tidak peduli! Yang aku tahu kau itu istriku, identitasmu sudah jelas kalau kau adalah istriku! Aku ingin istriku kembali ..."
"Berikan aku kesempatan sekali lagi, jika memang kau sudah tidak mencintaiku lagi ... aku mohon jatuh cintalah padaku sekali lagi. Aku sangat butuh kau di sisiku. Maafkan aku, jangan tinggalkan aku. Aku mohon, kembalilah ...."
Mulut Nisa terasa kelu setelah mendengar semua permintaan maaf dan penyesalan suaminya. Untuk kesekian kalinya air mata tiba-tiba jatuh dan mengalir.
Aku benci mengakuinya, tapi kata-katanya berhasil membuat hatiku luluh.
Nisa tiba-tiba berbalik, menampakkan sebuah senyuman yang terukir tipis di sudut bibirnya. Kemudian berlari menghampiri Keyran yang masih berlutut dan langsung memeluknya dengan erat.
"N-Nisa ...?!"
"Dasar suami bodoh!" bentak Nisa dalam tangisnya.
Di satu sisi Keyran langsung membalas pelukan itu, bahkan jauh lebih erat. Tangisnya menjadi lebih deras dari sebelumnya, namun dia bahagia. "M-maaf ... aku sadar apa salahku, aku mohon jangan pergi dariku lagi ... Pulanglah bersamaku, kita pulang ke rumah ...."
Nisa merespons dengan anggukan cepat.
"Terima kasih ... aku sangat berterima kasih kau mau mempercayaiku sekali lagi. A-aku janji setelah ini tidak akan mengecewakanmu lagi ... Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu ..."