
Celaka! Aku kehilangan kendali. Aku bahkan tidak berani membuka mata, aku tidak ingin tahu seperti apa ekspresinya Nisa. Sekarang dia pasti sedang mencari alasan-alasan bodoh untuk menghindar.
Benar dugaan Keyran, Nisa sekarang sangat panik dan perlahan melepaskan ciumannya, dan Keyran membuka matanya setelah ciuman itu lepas. Wajahnya memerah, dia hanya bisa diam dan tersenyum canggung kepada Nisa.
Di sisi lain Nisa juga diam, dia enggan bergerak karena jika bergerak maka akan menyenggol benda itu lagi. Nisa juga memasang senyum canggung sembari bola matanya bergerak ke kanan kiri.
Aaahhh! Imanku goyah! Padahal sebelumnya selalu biasa-biasa saja. Lalu Keyran ini dari tadi diam terus, sebenarnya apa yang dia pikirkan?
"Key ..."
"Apa?" jawab Keyran dengan suara lirih. Dan wajahnya semakin terlihat merah, bahkan setelah itu dia menundukkan kepalanya.
"..."
Iiihhh! Gemes aku, dia malah malu-malu kucing. Mungkin ... ini saatnya untuk berhenti menghindar. Tapi ... nanti sakit. Bodo amat lah! Los doll! Aku ini Nisa Sania, aku cewek paling barbar.
"Key~"
"Apa?" seketika Keyran mendongak.
Nisa ini kenapa suaranya begitu? Mungkin dia sedang menggodaku lalu nanti malah menolakku. Jangan terlalu berharap, Nisa ini suka mempermainkan orang, sebaiknya jangan terpancing.
"Ayo bermain! Nanti aku kasih hadiah, mau yaa?"
"Hah!? Bermain?"
Dia gila ya? Situasi seperti ini masa mau mengajakku bermain?
"Iya, ayo main tebak-tebakan. Jika jawabanmu benar, nanti ada hadiah istimewa untukmu." jari telunjuk Nisa tiba-tiba menahan dagu Keyran. "Apa darling tertarik untuk bermain?"
"Baiklah, silakan mulai."
Dugaanku benar, dia memanggilku darling, itu artinya dia hanya ingin bermain-main.
"Emm ... ada yang berdiri tegak tapi bukan keadilan dan juga bukan tiang. Hayoo apa? Ayo darling, cepat jawab!"
"I-itu ..." wajah Keyran semakin memerah.
Pertanyaan konyol macam apa ini!? Padahal jawabannya sudah jelas, Nisa ini benar-benar ...
"Ayo jawab, pertanyaan ini mudah loh, lebih mudah dibanding pertanyaan alam kubur. Jika jawabanmu benar, aku janji akan ada hadiahnya. Hadiahnya adalah ... aku!"
"Sungguh!?" tanya Keyran dengan senyum semringah.
"Iya, sungguh. Memangnya aku pernah berbohong?"
"Hmph! Kau selalu berbohong. Tapi ..." Keyran tiba-tiba kembali menunduk. "J-jawabannya ... itu adalah milikku! Sudah kan?"
"Kurang tepat, milikmu itu banyak loh ... ada bajumu, rumahmu, hartamu, aku juga termasuk milikmu. Ayo jawab, jangan sampai hadiahnya hangus! Kalau begitu aku beri petunjuk deh, jawabannya diawali dari huruf ... K, T, P juga bisa, banyak kok istilahnya."
"Nisaaa!!" Keyran lalu mengatur napasnya. "Huft ... awas saja nanti. Jawabannya adalah ... i-itu junior kecilku. Apa kau puas?"
"Puas." ucap Nisa dengan senyuman.
"Emmm ... jadi, apa kau sudah siap?"
"Heh," Nisa menyeringai. Dia tiba-tiba berdiri lalu melangkahi Keyran dari samping, setelah itu dia tersenyum licik pada Keyran. "Peraturan permainannya sedikit berubah, permainan ditambah lomba lari. Jika kau bisa menangkapku sebelum masuk kamar, maka kau bisa melakukan apa pun kepadaku. Tapi jika kau gagal menangkapku, maka kau harus tidur di luar. Aku akan hitung sampai 3. 1, 2, masih 2, 2 lagi ..."
"Kau!!"
"3!" Nisa langsung berlari.
"Hei! Curang!!"
Seketika Keyran juga berdiri dan kemudian berlari menaiki tangga secepat mungkin untuk mengejar Nisa. Selama berlari Nisa terus tertawa terbahak-bahak. Dan ketika kurang selangkah lagi memasuki kamar, ternyata dirinya tertangkap oleh Keyran.
"Kena kau!!" teriak Keyran penuh kepuasan sambil terus memegangi tubuh Nisa erat-erat.
"Uuuhh ..."
Selesai sudah, aku kalah.
"Haha ... padahal kau sudah curang, tapi tetap saja kalah. Jadi kita ..."
Tunggu sebentar ... ini sungguhan? Nisa sungguh menurut! Jika tahu seperti ini, harusnya dari dulu aku berguru kepada master. Sekarang adalah saatnya untukku kembali jadi dewasa.
"...."
Tenang ... tenang ... tenanglah Nisa ...
Perlahan tapi pasti tangan Nisa meraih tangan Keyran yang berada di perutnya. Dia mulai gelisah saat merasakan benda keras milik Keyran yang menempel di belakangnya.
Keyran tersenyum, pelan-pelan dia merendahkan kepalanya untuk didekatkan ke telinga Nisa. "Hadiahku, aku bebas melakukan apa pun kepadamu. Benar?"
Tanpa peringatan apa pun Nisa berbalik, merangkul leher Keyran dan langsung mencium bibirnya. Saat melepaskan ciuman dia tersenyum sambil berkata, "Ini jawabanku ..."
Nisa melangkah lebih dekat dan mengeratkan rangkulan tangannya. Keyran menurunkan tangannya lalu menaikkan tubuh Nisa, dia menggendong Nisa di depan, sedangkan Nisa mendekap di dadanya.
Keyran melangkah pelan-pelan memasuki kamar. Dia duduk di ranjang dan masih terus memegangi Nisa di atas pangkuannya. Dia membelai wajah Nisa lalu menyelipkan rambut yang tergerai itu di telinga.
Wajah Nisa memerah, dia tersipu malu dan kembali mendekap ke dada Keyran. "Key ... nanti pelan-pelan ya?"
"Iya, nanti tidak akan sakit."
Uuhh ... terasa lembut, dia sedang tidak memakai bra.
Nisa kembali duduk tegap. Tangan kanannya membelai wajah Keyran. Keduanya sudah tak tahan lagi untuk saling mendekat, menempelkan bibir mereka yang sama-sama bergetar karena deburan gairah yang meningkat.
Sebelah tangan Keyran menekan tengkuk Nisa, membuat ciuman semakin dalam. Pandangan mata keduanya meredup, mereka juga mulai bermain lidah, menyesap dengan rakus hingga terdengar decapan dari kedua bibir yang haus akan sentuhan itu.
Sembari terus berciuman, Keyran melakukan serangan pertama. Tangan yang satunya lagi diam-diam menyelinap masuk ke piama dari bawah, perlahan meraba paha dan terus menyentuh apa pun yang dia temukan.
Tubuh Nisa mulai gemetar, dia merasakan sengatan aneh yang menjalari tubuhnya saat tangan Keyran lolos bergerak di balik piama yang dia kenakan. Dan reaksi itulah yang membuat Nisa melepas ciumannya.
Saat Nisa masih terengah-engah, Keyran tak berhenti sampai di situ. Kedua tangannya menahan pinggang Nisa, sedangkan mulutnya langsung meraup leher. Dia memang suka di bagian itu, apalagi aroma wangi vanilla yang selalu membuatnya mabuk kian menambah hasratnya.
"Aahnn ..." Nisa mendesah saat Keyran mengisap dan menggigit lehernya. Diam-diam Keyran mulai melepas kancing piama Nisa, dia menurunkannya hingga bagian atas tubuh Nisa terlihat. Kecupan yang terus dilakukan olehnya kini menjalar ke pundak. Sedangkan tangannya meremas benda yang lembut nan empuk itu.
Kancing piama Nisa yang telah terlepas semua kini membuat piama itu lepas dari tubuhnya, sekarang hanya tinggal sehelai kain yang menutupi tubuhnya. Saat ini juga pikiran Nisa mulai bergerak liar, dia meraih kancing piama lalu melepas atasan piama yang dipakai oleh Keyran. Menyadari hal itu membuat Keyran tersenyum puas karena istrinya memberikan umpan balik.
Tubuh sang suami yang terpampang di hadapannya begitu menggoda untuk disentuh. Dada yang bidang, bahu yang lebar, pinggang yang ramping, otot yang kekar namun tak berlebihan, ditambah perut yang six pack. Memang kalau diraba pasti sangat nyaman, tapi sayangnya Nisa masih ragu walaupun tangannya jelas-jelas sudah ingin meraihnya.
"Heh," Keyran menyeringai. Dia meraih tangan Nisa lalu meletakkannya di dadanya. "Sentuh saja, jangan sungkan. Aku suamimu ..."
Ucapan dari Keyran membuat seluruh keraguan Nisa menghilang. Nisa menelan ludah dengan kasar. Meskipun baru menyentuh dada suaminya, dia bisa merasakan suhu tubuh yang hangat, detak jantung yang cepat, serta deru napas yang beriringan dengan naik turunnya dada.
Nisa tak tahan lagi untuk menggapai tubuh atletis itu. Dia langsung memeluk erat, merayapi punggung yang kokoh itu, kemudian menyelusup di perut dan merasai otot-otot yang mengeras di sana. Dia menundukkan kepala lalu melakukan serangan balik, juga memberikan bekas kecupan di lehernya Keyran.
Gigitan manja yang dilakukan Nisa membuat Keyran kalang kabut. Dia segera mengganti posisi lalu menidurkan Nisa tepat di bawahnya, mengurungnya di antara kedua tangan di sisi kiri kanan yang bertumpu pada tempat tidur.
Keyran lalu bangkit, dia melepas helai kain terakhir yang masih terpasang di tubuh Nisa. Sejenak dia berhenti, dia memandangi tubuh polos itu. Wajah Nisa kian memerah, dia merasa malu ditatap seperti itu olehnya. Bahkan Nisa juga menyilangkan kedua tangan di depan dada dan menekuk kakinya, seakan-akan mampu menutupi apa yang sudah terpampang jelas di hadapan suaminya.
Nisa kembali menelan ludah. Dia menatap tubuh polos yang begitu menggoda di hadapannya, bahkan matanya tertuju pada bagian itu. Memang bukan pertama kali dia melihat tubuh pria yang menjamah dirinya, namun perasaan saat melihatnya tetap membuatnya takjub, begitu pula sebaliknya dengan Keyran.
Keyran lalu mendekatkan dirinya, dia menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya tanpa perlawanan. Tubuh Nisa semakin bergetar ketika hembusan napas yang begitu hangat menyapu kulitnya, juga sentuhan lembut yang menyusuri setiap jengkal tubuhnya.
Secara refleks kedua tangan Nisa merangkul punggung Keyran yang membuat tubuh mereka semakin merapat. Hawa panas mulai dirasakan keluar dari tubuhnya Keyran. Nisa terkejut saat merasakan sesuatu yang keras menempel di perutnya. Hal ini membuat mereka hingga benar-benar tak berjarak. Pandangan mata keduanya bertemu, kabut gairah yang pekat menjerat mereka berdua.
Keyran menundukkan wajahnya, dia menggapai bibir manis yang selalu menggiurkan untuk dicium itu. Dia menghisapnya dengan rakus dan disertai gigitan kecil. Dia kemudian mendekat pada telinga Nisa, meniup serta menggigit daun telinganya. Kemudian dia berbisik, "Nisa ... aku mau sekarang ..."
Nisa menganggukkan kepalanya pelan-pelan. Dia segera mempersiapkan dirinya, dia menutup mata rapat-rapat, menggigit bibirnya sendiri dan juga menahan napas.
"Aahh ... Key!!" desah Nisa saat Keyran berhasil memasukinya. Dadanya dengan cepat bergerak naik turun, napasnya memburu. Kedua tangannya semakin berpegangan erat pada punggung Keyran.
Keyran bergerak perlahan, dia berniat untuk tidak menggerakkan tubuhnya dengan keras dan berusaha selembut mungkin, namun gagal. Saat ini Keyran sudah tak mampu untuk mengendalikan diri lagi. Secara otomatis dia bergerak dengan intens dan menghentak dengan kerasnya.
"Ah .. ahh .. aahhh!!"
Nisa mendesah menerima hentakan demi hentakan yang berlangsung secara terus-menerus. Napas yang dihembuskan Keyran terasa panas. Dia menelusuri area leher hingga dada, semakin turun ke bawah hingga menemukan dua buah benda yang begitu lembut dan empuk milik Nisa.
"Aaahh ... ehnn ..."
Tangan Keyran mulai meremas dadanya. Sementara mulutnya terus mengisap juga di area sana. Lama-kelamaan sesapan itu semakin dalam. Sementara tubuhnya terus menghentak semakin liar dan tak terkendali.
๐น
๐น
๐น
๐น
๐น
๐น
Pagi hari tiba, namun pagi ini tak begitu cerah seperti biasanya. Matahari sudah terbit namun suasana sedikit berkabut. Rintik hujan yang tak begitu deras dibawa oleh hembusan angin. Titik-titik air juga terlihat menempel di kaca jendela.
Pasangan suami istri itu masih tertidur lelap. Keyran mulai merasakan suhu yang semakin dingin. Secara refleks tangannya menaikkan selimut yang dipakainya. Tiba-tiba tanpa sengaja tangannya terantuk sesuatu yang lembut.
Seketika dia membuka mata, saat dia perlahan memeriksa sesuatu di balik selimut, dia melihat Nisa yang masih tertidur lelap sedang mendekap di dadanya. Perlahan tangannya mengelus kepala Nisa dengan lembut, dia tersenyum sambil membayangkan apa yang telah terjadi semalam.
Keyran lalu melihat keadaan sekitar, dia baru sadar kalau di luar sedang hujan. Dia kembali melihat ke arah Nisa dan kemudian mencium keningnya.
"Mmmm ..." Nisa terbangun, untuk beberapa saat dia tak berkedip dan hanya menatap Keyran yang sedang tersenyum kepadanya. Tapi kemudian dia kembali menutup mata, juga menaikkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih telanjang.
"Masih mengantuk?"
"Iya .. nyawaku belum terkumpul ..."
"Masih merasa lelah?"
"Ehmm ... diamlah ..."
Keyran lalu memeluk tubuh Nisa. Wajahnya berseri menyambut pagi hari yang tak cerah ini, dia terus tersenyum yang menggambarkan penuh kepuasan.
Aku terbangun, perlahan melihat sekitar, melihat segalanya baik-baik saja. Pertama kali dalam hidupku, perasaan ini adalah yang terbaik. Momen ini sempurna, begitu sempurna sampai aku berpikir kalau aku bermimpi. Andai saja bisa bertahan selamanya.
"Key ..."
"Ya?"
"Singkirkan tanganmu, aku mau bangun!"
"Oke." Keyran lalu melepas pelukannya.
Nisa yang masih dalam keadaan telanjang akhirnya bangun. Dia duduk dan melakukan sedikit peregangan.
Kraak!
"Uhh ... pinggangku ... " Nisa langsung menoleh ke arah Keyran yang masih berbaring. "Ini gara-gara ulahmu, gara-gara kau yang semalam terlalu bersemangat!"
"Bukan salahku, itu karena pinggangmu belum terbiasa. Makanya setelah ini lebih sering melakukannya, agar pinggangmu terbiasa~"
"Huh! Jadi kau sendiri sudah terbiasa, begitu?"
"Eh!?" Keyran langsung bangun. "Bukan begitu, maksudku adalah agar kita berdua lebih terbiasa. Percayalah, aku hanya pernah melakukannya denganmu."
"...." Nisa tiba-tiba tertegun.
"Hei, apa yang kau pikirkan?"
"Ah!? I-itu punggungmu ... maaf ..." Nisa menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah. "M-maaf ... aku mencakarnya, sampai merah begitu ... pasti sakit ya?"
"Hemm ..." Keyran lalu menyentuh punggungnya, kemudian dia tersenyum licik. "Iya, sangat sakit. Sampai aku mau menangis. Jadi potonglah kuku macan punyamu itu! Untung saja kau manusia, jadi tidak perlu khawatir kalau sampai terjadi infeksi."
"Bodohnya aku, tadinya aku merasa bersalah."
Seketika suasana menjadi hening. Untuk beberapa saat mereka hanya diam dan saling menatap satu sama lain. Namun tiba-tiba Nisa tersadar, dia baru sadar kalau mereka berdua sama-sama telanjang. Dia mulai gugup saat melihat ada yang berdiri di balik selimut.
"Emm ... mandi dulu deh!" Nisa berniat untuk segera beranjak dari ranjang, namun sayangnya tangannya ditahan oleh Keyran. Nisa lalu menoleh dan memasang senyum canggung pada Keyran. "Aku mau mandi Key ..."
"Aku tahu." Keyran mendekat, dia mendorong tubuh Nisa hingga terjatuh di atas kasur. Dia mengurungnya di antara kedua tangannya. "Ayo bermain! Kita main tebak-tebakan. Jika jawabanmu benar, ada hadiah untukmu. Jika jawabanmu salah, ada hukuman untukmu."
"Firasatku mengatakan keduanya hanya akan menguntungkan dirimu, bagaimana jika aku tidak menjawab?"
"Jika kau tidak menjawab, hukuman akan menjadi 2, maksudku ... 3 kali lipat. Nah, apa yang bulat, besarnya sama, gunung tapi tidak bisa didaki? Ayo darling, cepat jawab!"
"...."
"Untuk memotivasi dirimu, aku beri bocoran. Berhubung sekarang cuaca sedang dingin, jadi hadiahnya adalah aku yang menghangatkanmu, sedangkan hukumannya adalah kau yang menghangatkanku."
"Sialan, padahal kau sendiri sedang menyentuhnya! Aku ingatkan ya, ini masih pagi. Jadi jangan macam-macam!"
"Terus kenapa jika masih pagi? Mau pagi, siang, sore, malam, itu bukan masalah. Tapi ... karena jawabanmu melenceng, maka hukuman jadi 5 kali lipat!"
"Kuku macan punyaku belum dipotong loh ..."
"Kuku macan apanya? Kuku kucing juga masih lebih tajam, kau mencakarku sampai merah, biru, ungu, jadi pelangi pun aku tidak keberatan."
"K-kau serius? Bukannya kau masih ada rapat?"
"Wah ... istriku peduli sekali~ Soal itu tentu saja bisa diatur, Valen juga sudah kembali dari cuti. Jika para dewan direksi bertanya ... aku bilang saja kalau istriku rewel. Beres kan?"
"H-hari ini aku mulai UTS, aku bisa terlambat untuk ujian ... mohon pengertiannya ya?"
"UTS ditunda jadi besok! Akan ada yang mengaturnya. Jadi kau tenang saja, suamimu ini sangat pengertian ..."
"Kau ini orang yang berkuasa, tapi malah menyalahgunakan keku .. ahh!"