
Sore hari tiba. Nisa saat ini tengah berada di balkon kamar sambil menikmati indahnya pemandangan pantai. Rambutnya yang panjang terurai berkibar ditiup oleh hembusan angin. Suara burung-burung laut yang berkicau juga menambah syahdu nya suasana.
Nisa tersenyum dan melambaikan tangannya, dia melambai pada Keyran yang tengah berada di pinggir pantai sedang mempersiapkan diri untuk snorkeling. Sebelumnya Keyran sempat mengajak Nisa untuk menyelam bersama serta mengajarinya, tetapi Nisa menolak dengan alasan dia tidak bisa berenang.
Dari kejauhan tampaklah Keyran yang membalas lambaian tangan Nisa. Lalu dia mengangkat sebuah kamera, sebelumnya dia juga mengatakan akan memotret pemandangan bawah laut yang tidak bisa dilihat langsung oleh Nisa.
Namun sebelum menyelam, Keyran juga diam-diam memotret Nisa, baginya saat ini istri tercintanya itu terlihat sangat cantik. Bagaikan seorang putri yang sedang menanti kekasihnya di balkon kastil. Tentu saja terlihat begitu, karena mansion yang dia miliki punya gaya arsitektur victorian.
Senyuman di wajah Nisa menghilang, lalu dia bergumam, "Cih, gaya!" (Seseorang yang iri karena tidak bisa berenang)
Nisa lalu melihat ke atas, dia melihat pemandangan burung-burung yang beterbangan simpang-siur. "Hahh ... jadi ini rasanya hidup di pulau."
Cukup menyenangkan juga tur keliling mansion, untung saja Louise mudah diajak bicara saat menjelaskan semuanya. Ternyata di mansion ini ada kolam renang, lapangan tenis, ballroom, ruang billiard, indoor mini golf, rumah kaca, perpustakaan, gym, bioskop mini, area bar bergaya klasik, terlebih lagi dengan smart home system.
Hehe, suamiku sangat kaya. Tapi aku menyukainya bukan karena ini, dia bisa mengerti dan sangat memperhatikan segalanya tentangku, yahh ... meskipun kadang caranya berlebihan.
Tiba-tiba seseorang datang dari belakang, yaitu Louise. "Permisi Nyonya, saya sudah membawakan laptop seperti yang Nyonya minta."
Nisa segera berbalik badan dan masuk ke kamar. "Terima kasih ya, sekarang kau boleh pergi."
Begitu Louise pergi, Nisa langsung mengambil laptop itu dan memangkunya sambil duduk di sofa. Saat laptop itu sudah menyala, aplikasi yang pertama kali dibuka adalah email.
"Ck, ini gara-gara ponselku ketinggalan di rumah jadinya repot begini! Semoga saja jika ada panggilan masuk bukan dari orang penting, lagi pula pasti baterai nya juga habis."
Nisa segera mengetik sesuatu dengan panjang lebar. Setelah pesan itu terkirim yang dilakukan olehnya adalah terus memandangi layar laptop sambil menggigit kuku jari tangannya.
"Ayolah ... cepat balas kalau baca! Dasar Ivan streamer loli!"
Untuk sementara hanya bisa begini, kalau aku meminjam ponselnya Keyran pasti dia akan curiga. Meskipun aku percaya sepenuhnya pada mereka, tapi tetap saja aku harus mengikuti setiap perkembangan apa pun.
Terlebih lagi beberapa kelompok lain yang awalnya agak redup sekarang mulai aktif lagi. Tapi itu bukan masalah, jika para amatir itu menyinggungku maka aku bisa bereskan mereka kapan pun aku mau. Jadi untuk sementara biarkan dulu, siapa tahu mereka sadar diri dan langsung tunduk pada kelompok yang lebih besar.
TING!
Sebuah pesan masuk, pesan itu tidak lain adalah balasan email dari Ivan. Nisa segera membaca email itu, dia tampak sangat serius. Bahkan tanpa sadar sudah banyak waktu yang dihabiskan untuk saling berbalas email.
Tiba-tiba seseorang masuk kamar yang tidak lain adalah Keyran, sontak saja Nisa langsung menutup laptop dalam keadaan hidup alias tanpa shutdown.
Keyran terlihat membawa sebuah kamera, dia tampak kegirangan dan langsung duduk di sebelah Nisa serta bersandar pada bahunya. Dia ingin mengatakan sesuatu namun seketika terdiam saat menyadari ada sebuah laptop di pangkuan Nisa.
"Kau ada perlu apa dengan laptop?" tanya Keyran.
"Cuma tugas kuliah." jawab Nisa sambil memutar bola matanya.
"Libur pun dosenmu masih memberi tugas? Katakan siapa, berani-beraninya dia mengganggumu saat kita bulan madu!"
"B-bukan begitu, ini bukan tugas yang diberikan dosen. Aku cuma mencicil beberapa materi. Kau tahu sendiri kalau aku ikut program fast-track, dengan begitu aku bisa lulus lebih cepat. Liburan semester sebenarnya sampai 3 bulan, itu memudahkan peluang mahasiswa lain yang ingin berwirausaha. Dan aku, rencananya setelah kita selesai bulan madu, aku mau ambil semester pendek. Tentu saja sebenarnya tidak boleh seenaknya begitu, mahasiswa lain yang ambil semester pendek mungkin sudah mulai sejak hari pertama libur. Tapi kan aku punya kau, perusahaanmu adalah salah satu sponsor di kampus, dengan begitu ada perlakuan khusus untukku. Jadi aku bisa lulus lebih cepat lagi dan aku bisa memberikan seluruh waktuku hanya untukmu! Intinya aku melakukan semua ini untukmu." (Kemampuan membual 100% digunakan)
"Itu nepotisme, tapi mengingat tujuanmu yang ingin berbakti pada suamimu ini maka akan aku biarkan."
Keyran langsung percaya begitu saja tanpa menaruh curiga sedikit pun. Dia lalu menghidupkan kamera yang dia bawa dan memperlihatkan gambar-gambar pemandangan bawah air yang sebelumnya dia potret kepada Nisa.
"Lihat ini darling, cantik bukan?" Keyran tersenyum sambil menunjuk pada gambar.
"Iya, cantik ..." Nisa terpukau dan matanya berbinar, hasil jepretan Keyran sama bagusnya seperti gambar-gambar yang tersebar di internet. Terumbu karang yang masih terawat, ikan-ikan yang beragam jenisnya, dengan air yang jernih semakin menambah indahnya gambar itu.
"Hehe," Keyran tersenyum lalu sebelah tangannya merangkul Nisa. "Kau juga cantik, jauhhh lebih cantik!"
"A-apa sih?!" Nisa memegang telinganya yang barusan terkena hembusan napas Keyran. Wajahnya memerah, dia salah tingkah lalu merebut kamera dari tangan Keyran untuk melihat gambar-gambar itu sendiri.
Nisa terus memperhatikan gambar-gambar itu satu per satu, begitu tiba di slide terakhir dia terkejut saat melihat jepretan gambar dirinya yang sedang berada di balkon.
"Kau tadi memotretku?" tanya Nisa dengan tampang tidak percaya.
"Iya, aku memotret semua yang terlihat cantik."
"Gombal!" Nisa tersenyum lalu kembali melihat ke gambar dirinya. Tapi senyuman itu tak bertahan lama, Nisa meletakkan kamera dan laptop di meja kecil yang berada di sebelahnya.
"Hahhh ... andai saja tadi kau mau snorkeling bersama, pasti jauh lebih menyenangkan." ucap Keyran sambil memejamkan mata, dia sangat nyaman bersandar pada bahu Nisa.
"Kau sungguh ingin membunuhku? Di kolam renang saja aku pernah hampir mati."
"Tentu tidak! Meskipun kau tidak bisa berenang tapi aku akan pelan-pelan memandu dan melatihmu, toh perairan nya juga tidak sedalam yang kau kira."
"Tetap saja itu sulit." Nisa menggoyangkan bahunya yang bermaksud ingin Keyran berhenti bersandar padanya.
"Sshhh ... diamlah, aku sedikit lelah, biarkan aku bersandar lebih lama lagi."
"Hmmm ... kau bisa kelelahan juga?" tanya Nisa dengan nada menggoda.
"Aku juga manusia, tapi untuk sekedar bermain denganmu aku masih kuat." balas Keyran tak mau kalah.
"Darling." panggil Nisa dengan suara lirih.
"Hm?"
"Aku ingin bicara serius, waktu itu saat hari ulang tahunku kau bilang aku boleh meminta apa pun. Bolehkah aku meminta hadiahku sekarang?"
"Baiklah, kau minta apa? Meskipun sekarang kita berada di pulau, aku bisa memberimu apa pun itu."
"Yang aku minta bukanlah benda, tapi kau melakukan sesuatu untukku. Dan mungkin saja itu sulit untuk kau lakukan ..." raut wajah Nisa berubah murung.
"Katakan saja, aku bisa melakukan apa saja kecuali jika yang kau minta adalah mengakhiri bulan madu sekarang."
"Baiklah, yang aku minta adalah ... Aku ingin membuat pengakuan, dan kau tidak boleh marah pada apa pun yang akan aku akui nanti!"
Sontak saja Keyran membuka mata dan berhenti bersandar pada Nisa, raut wajahnya langsung berubah menjadi serius. "Pengakuan soal apa?"
"Soal kesalahan dan tindakan buruk yang aku perbuat, jika aku tidak bilang sekarang ... mungkin kau akan sangat terlambat mengetahuinya di kemudian hari. Jadi jangan marah, oke?"
"Cepat katakan!"
"A-aku pernah mencuri!"
"Apa yang kau curi?!"
"Dulu saat kau ada urusan di Jerman ... kau tahu sendiri kalau aku masih membencimu, untuk mencegah kau mengambil tindakan untuk menekanku, aku mencuri data-data penting perusahaanmu. Tapi itu cuma sebatas pertahanan untuk perusahaan keluargaku, aku melakukan bukan untuk menghancurkan perusahaanmu. Aku masih menyimpan data itu, aku tidak menyebarkannya pada siapa pun kecuali ayahku."
"..." Keyran terlihat ingin mengatakan sesuatu namun dia memilih menahannya.
Pantas saja aku tidak sadar, lagi pula memang tidak ada pengaruh atau perubahan apa pun pada perusahaan selama Nisa tidak membocorkannya ke perusahaan pesaing.
"Key ... kau tidak marah, kan?"
"Haha, tidak, aku sama sekali tidak marah, cuma kesal. Setelah pulang dari bulan madu aku akan sangat sibuk, karena harus mengatur dan merubah data perencanaan selama setahun ke depan. Data itu bersifat rahasia, jadi nanti mohon pengertiannya ya jika aku lembur." ucap Keyran dengan senyum terpaksa.
"Baguslah kalau tidak marah, karena aku mau mengakui kalau aku mencuri sesuatu lagi ..."
"Masih ada?!"
"Iya, di hari ulang tahunku saat kau berangkat ke kantor ... A-aku diam-diam mencuri Chianti Classico, Lafite 1896, Lafite 1982, dan Romani Conti 1990. Kau belum sadar kalau koleksi wine mu berkurang?"
Keyran syok dan kemudian mengatur napasnya. "Huft ... apa kau menghabiskan semuanya?"
"Tentu saja paling enak! Itu wine langka! Aku berusaha keras mendapatkannya saat pelelangan di Hong Kong! Tapi kau malah seenaknya minum tanpa bertanya dulu!" teriak Keyran yang urat lehernya sampai terlihat.
"Namanya juga mencuri ... mana ada pencuri bertanya dulu." jawab Nisa dengan wajah cemberut.
Keyran menyentuh kepalanya yang terasa pening, dia lalu melirik Nisa dengan tatapan sinis. "Apa masih ada lagi yang mau kau akui?"
"Sebenarnya masih, tapi kau sudah terlanjur marah, jadi lupakan saja!" jawab Nisa dengan nada ketus.
"Aku tidak marah, cuma kesal." ucap Keyran penuh penekanan.
"Huh ... tapi yang satu ini mungkin akan membawa perubahan besar dan mungkin saja kau tak akan pernah mencintaiku seperti saat ini."
"Kau selingkuh?!" Keyran melotot.
"Bukan! Kesalahanku ini tepat aku lakukan di hari pernikahan. Saat itu aku sempat punya niatan ingin kabur."
"Yahh ... sudah tidak mengherankan lagi, kabur memang hobi anehmu."
"Tapi aku bukan cuma kabur, apa kau masih ingat kakak sepupuku? Yang pernah aku ajak makan malam di restoran bersama kita setelah kita bertunangan, tapi malah berakhir aku yang membuat keributan."
"Ya, aku ingat. Kau orang yang pertama kali membuatku malu, bisa-bisanya setelah buat keributan langsung pergi. Tapi apa hubungannya itu dengan kesalahanmu di hari pernikahan?"
"Ehmm ... sebelum upacara pernikahan, aku memaksa kakak sepupuku untuk menggantikan posisiku. Tapi gagal karena ayahku yang muncul mendadak. Bayangkan saja jika kau benar-benar menikah dengannya, kau pasti jatuh cinta kepadanya dan bukan aku."
"Dari mana kau punya pikiran seperti itu?"
"Banyak kok contohnya, tidak sedikit juga yang seperti itu. Pengantin pengganti, mungkin itu julukan yang akan kakak sepupuku dapat. Tapi jika dipikir-pikir ... kakakku juga punya perasaan terhadapmu, entah sekarang masih atau tidak. Jadi pertanyaanku, jika yang kau nikahi adalah kakakku apakah mungkin kau juga akan mencintainya?"
"Tidak."
"Sungguh?" tanya Nisa seakan tidak percaya.
"Iya, aku sungguh-sungguh."
"Haha, sulit dipercaya. Kak Tia itu seorang super model, dia terkenal, sangat cantik dan tubuhnya bagus. Sifatnya juga lembut dan sopan, berbanding terbalik denganku. Dia itu tipe istri idaman, tapi kau sangat yakin jika tidak akan tertarik padanya. Tapi ... perasaan kan sulit ditebak, kau mencintaiku karena aku istrimu, jika aku bukan istrimu mungkin saja kau bahkan tak akan melirikku."
"Kau pikir karena kau istriku maka itulah alasanku mencintaimu?"
"Iya, memangnya aku salah?" tanya Nisa kebingungan.
"Bukan karena itu Nisa, aku mungkin mengakui perasaanku ketika kita sudah menikah. Tapi sebenarnya ... jika dipikir-pikir aku sudah tertarik padamu sejak awal. Semenjak bertemu denganmu entah kenapa aku memikirkanmu saat senggang, sikapmu yang terkadang sulit ditebak itu membuatku semakin penasaran akan dirimu. Meskipun aku lebih banyak memakimu, tapi tetap saja aku terus-terusan memikirkanmu. Bahkan jika aku menikahi wanita lain yang lebih baik darimu, aku tetap tidak akan bisa mencintainya karena dia bukan kau. Lagi pula jika itu benar-benar terjadi, aku juga tidak akan tinggal diam."
Keyran mendekat, membelai wajah Nisa lalu menyelipkan rambut panjang terurai itu ke telinga.
"Ketika aku menjadi suamimu, hal pertama yang aku pikirkan bukan bagaimana caranya aku mencintaimu, tapi bagaimana caranya aku bertanggung jawab atas segala yang berhubungan tentangmu. Soal mengapa aku bisa mencintaimu, itu karena kau spesial. Meskipun kau terkadang bersikap seenaknya, tapi kau mengajarkan kepadaku apa artinya itu hidup. Sebelumnya aku seseorang yang hanya sibuk bekerja, tapi setelah mengenalmu aku jadi tahu banyak hal-hal menyenangkan yang selama ini aku lewatkan. Keluargamu juga, mereka sangat hangat, berbeda sekali dengan keluargaku. Aku beruntung bisa mengenalmu, menikahimu, dan dicintai olehmu."
"Key ..." Nisa tersenyum lalu memeluk erat Keyran. "Terima kasih, aku benar-benar berterima kasih ... Sebelumnya kupikir kau akan marah dan mendiamkan aku begitu kau tahu kalau aku mencuri wine mahal milikmu."
"Haha ... Aku tidak marah, lain kali jika ingin minum beritahu aku dulu." Keyran membalas pelukan dari Nisa lalu menepuk-nepuk pelan punggungnya.
Aku ingin sekali mengumpat! Aku sendiri saja merasa sayang meminum wine itu, tapi istriku tercinta ini malah tidak segan-segan meminumnya.
***
Malam harinya, sekitar pukul 7 malam lebih sedikit. Nisa yang baru saja selesai mandi merasa sedikit heran karena tidak melihat keberadaan Keyran di kamar. Padahal sekarang waktunya makan malam, tidak biasanya Keyran tidak menunggu Nisa.
Nisa lalu turun dan pergi ke ruang makan. Dia duduk dan hanya menatap bermacam-macam hidangan yang tersaji di meja. Dia belum mulai makan karena Keyran belum juga terlihat.
"Hahh ..." Nisa menghela napas.
Ternyata Keyran marah, dia menghindariku dengan cara ini gara-gara wine nya aku curi.
Louise yang juga berada di sana lalu mendekati Nisa. "Apakah makanan ini tidak cocok dengan selera Nyonya?" tanyanya dengan nada sopan.
"Bukan begitu ..." Nisa lalu menunduk dan wajahnya murung. "Key marah padaku, dia menghindari makan malam bersamaku."
"Ohh ... Soal itu, tadi Tuan pergi ke ruangan olahraga. Beliau berpesan kepada saya agar tetap menyiapkan makan malam untuk Nyonya. Saya tidak bilang karena mengira beliau sudah memberitahu Nyonya."
"Cih, aku akan menyusulnya!" Nisa langsung berdiri dan sesegera mungkin menyusul Keyran.
Tak lama kemudian Nisa telah sampai di ruangan olahraga, yang dia lihat adalah Keyran yang sedang berlatih tinju dengan samsak. Pukulan yang dilakukan oleh Keyran terlihat sangat bertenaga, dia hanya memakai celana pendek olahraga sehingga terlihat otot di lengan dan perutnya.
Meskipun Keyran terlihat seksi dan keren, tetapi Nisa justru merasa kesal. Dia berjalan mendekat seperti robot, bahkan juga berkacak pinggang dengan angkuhnya.
"Pukulanmu keras sekali, apa kau sedang membayangkan samsak itu adalah aku?" tanya Nisa dengan nada menyindir yang membuat Keyran menghentikan pukulannya.
"Kau ini kenapa? Baru datang langsung bicara begitu, memangnya aku melakukan apa sampai kau jadi kesal begini?"
"Hng! Bilang saja kalau kau marah soal tadi sore. Kau berolahraga saat ini karena ingin menghindari makan malam denganku, kan?!"
"Kau jangan asal menuduh, aku sama sekali tidak ada niatan seperti itu. Lagi pula aku kan sudah janji tidak akan marah. Kau saja yang salah paham. Aku sekarang melakukan ini memang karena ingin, kalau kau lapar makanlah duluan, jangan menungguku. Sekarang pergilah!"
Tiba-tiba Nisa mendekat lagi dan menahan samsak yang tergantung itu. "Tapi aku ingin makan bersamamu ..." ucap Nisa dengan tampang memelas.
"Hahh ... kalau begitu tunggulah aku sampai selesai. Aku ini pria sejati, olahraga ranjang bersamamu memang menyenangkan, tapi olahraga sungguhan seperti ini juga penting."
"Iya-iya ... dasar mesum!"
"Dasar manja!"
Nisa patuh untuk menyingkir lalu duduk di kursi panjang yang berada di dekat sana. Di sebelahnya terdapat sebuah botol yang berisi minuman isotonik milik Keyran, menyadari hal itu Nisa tanpa ragu langsung saja meminumnya.
"Itu minumanku." ucap Keyran dengan tatapan tidak rela.
"Haha, jangan salahkan aku jika aku kehausan~ Lihatlah penampilanmu sekarang ... hot~" goda Nisa sambil mengedipkan matanya.
"Terserah!"
Keyran kembali melanjutkan pukulannya tinju nya. Bermacam-macam pukulan tinju seperti jab, straight, hook, cross, dan uppercut dia lakukan dengan lebih cepat dibandingkan sebelum Nisa datang.
Sesekali Keyran juga melirik ke arah Nisa, dia ingin Nisa merasa kagum kepadanya. Tetapi reaksi Nisa dari awal masih saja sama, dia hanya tersenyum tanpa berkomentar apa pun tidak peduli sehebat apa kombinasi pukulan tinju Keyran.
Beberapa menit kemudian, Keyran mendadak berhenti lalu menahan samsak yang masih berayun. "Nisa, apa kau bosan?"
Nisa menggelengkan kepala dan tersenyum. "Ayo lanjutkan saja, semangat darling!"
"Bagaimana jika sekarang giliranmu menunjukkan kemampuanmu?" tanya Keyran sambil tersenyum.
"Hah?!" Nisa terkejut dan ekspresinya mulai panik.
Kemampuanku? Kemampuan membunuh orang? Apakah dia sudah tahu tentang identitasku dan ingin memastikannya sendiri?
"Kenapa kau seperti orang bingung? Waktu itu kau pernah bercerita kalau kau belajar taekwondo dari ibumu. Sekarang cobalah tunjukkan beberapa gerakan padaku, ayo sini!" Keyran melambaikan tangannya.
"Ohh ... taekwondo!"
Syukurlah, aku kira apa.
"Apa kau keberatan?"
"Heh," Nisa menyeringai lalu beranjak dari kursi.