Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Bab 11. Berhasil


Nisa berekspresi gugup saat menyadari tatapan sinis Keyran. "Sebelum itu, bolehkah saya bertanya sesuatu kepada Bapak?"


"Tentang apa?" Keyran merespons dingin.


Oh, gadis ini rupanya ingin mengawali dengan sopan. Akan aku tunggu sampai mana kau bisa mempertahankan sifat sok sopanmu itu. Aku ingin melihat bagaimana kau akan bertingkah kurang ajar nantinya.


"Menurut bapak selama saya di sini, saya bekerja dengan baik dan jujur, kan?"


"Lantas ...?"


Cukup pintar, gadis ini menyanjung diri sendiri dan menunjukkan kalau dia orang yang jujur. Langkah awal yang bagus untuk menjilat seseorang. Tapi dia ada benarnya, dia memang melakukan pekerjaan dengan baik.


"Apa boleh saya meminta suatu hal yang agak memalukan pada Bapak?"


"Hal memalukan?"


Ini dia! Akhirnya dia mulai bertindak kurang ajar. Memangnya kau menginginkan hal memalukan seperti apa?


"I-ini ... sebagian orang menganggap hal itu biasa, tapi bagi saya itu merupakan hal yang sangat memalukan. Dan ini juga merupakan pertama kali bagi saya. Saya sebenarnya tidak ingin, tapi saya terpaksa."


"Apa yang membuatmu terpaksa?"


Gadis ini tanpa malu mengatakan kalau itu pertama kali baginya. Apa yang membuat gadis ini terpaksa sampai-sampai nekat melakukan hal serendah itu?


"...." Tiba-tiba Nisa terdiam.


Bagaimana ini? Apa aku jujur saja? Siapa tahu dia kasihan terhadap nasibku. Lalu dia setuju dengan apa yang akan aku minta.


"Kenapa diam?" tanya Keyran sambil menatap Nisa dengan tatapan mata yang sinis.


Gadis ini tidak menjawab rupanya. Apa jangan-jangan dia berbohong kalau dia terpaksa? Tapi sebaliknya, dia memang menginginkan hal itu. Padahal kalau dinilai dari penampilannya dia terlihat seperti gadis alim yang polos. Tidak disangka kalau dia ternyata gadis licik dan busuk!


"Pak, hal ini berhubungan dengan masa depan saya. Saya dipaksa untuk menikahi seorang pria tua. Jadi saya mohon, tolong bapak membantu saya! Saya akan sangat berterima kasih jika bapak dapat membantu saya!" pinta Nisa dengan tampang memelas.


"Heh! Membantumu?" Keyran menatap dengan tatapan merendahkan.


"Iya! Ini merupakan pertama kalinya saya meminjam uang. Saya pasti akan melunasi hutang saya, bahkan saya rela bekerja di perusahaan bapak sampai hutang saya lunas. Saya pasti akan melunasi hutang saya secepatnya! Jadi tolong, bisakah bapak membantu saya?"


"...." Keyran terdiam.


Apa!? Jadi hal yang dia maksud memalukan dan pertama kali itu hutang! Ternyata aku salah sangka, aku pikir dia akan menjual dirinya seperti perempuan murahan lainnya. Sepertinya gadis ini memang orang yang polos.


"...." Nisa juga ikut diam dan menatap Keyran dengan tatapan bingung.


Kenapa Pak CEO diam? Apa dia tidak mau meminjamkan uang padaku? Kalau dipikir-pikir masuk akal juga sih, aku kan baru mulai bekerja beberapa hari. Tapi, dia kan orang kaya. Pelit banget sih? Aku sumpahin kamu jomblo seumur hidup!


"Berapa uang yang kau minta?" tanya Keyran tiba-tiba yang mengagetkan Nisa.


"Eh? Y-yang saya butuhkan sejumlah dua miliar ..." ucap Nisa dengan suara lirih.


Kaget aku! Aku pikir akan langsung dipecat, untunglah Pak CEO baik hati. Maaf ya Pak, tadi aku sudah mengutukmu diam-diam. Tapi kalau dipikir-pikir mustahil kutukan jomblo akan bekerja, kamu kan kaya dan good looking, pasti banyak perempuan yang mau.


"Dua milyar, ya? Tunggu sebentar!"


Keyran kemudian mengambil setumpuk kertas cek yang masih kosong dari laci meja. Dia kemudian menulis di cek tersebut lalu menyodorkan kertas itu pada Nisa.


"Ambil ini!" ucap Keyran dengan nada dingin.


"Eh!? Bapak benar-benar bersedia membantu saya?" tanya Nisa dengan tatapan linglung.


"Iya, kinerja kamu bagus dan kamu juga jujur. Tidak ada ruginya terus memperkerjakan kamu di perusahaan ini."


Jika aku meminjamkan uang padamu nantinya kau pasti akan merasa mempunyai hutang budi. Setelah itu kau pasti akan bekerja dengan keras untuk membayar hutangmu. Lagipula uang yang kau minta itu tidak ada apa-apanya bagiku.


"Saya sangat berterima kasih kepada Bapak atas bantuannya. Tapi bunganya berapa persen?"


"Tidak ada bunga," jawab Keyran secara spontan.


"...." Seketika Nisa terdiam dan mengingat sesuatu.


Ada sesuatu yang salah, aku bisa merasakannya! Ini seperti kasus ayah, pasti ada syarat aneh! Mana mungkin ada orang yang sembarangan memberi cek dalam jumlah banyak begitu aja! Kecuali kalau dia terlalu kaya. Ngomong-ngomong, tulisannya bagus juga, jadi insecure aku.


"Apakah ada syarat lain, Pak?" tanya Nisa yang berusaha memastikan lagi.


"Tidak ada."


"Sungguh?"


"Iya!"


"Serius nih?"


"...." Keyran tak menjawab.


Gadis ini apa maunya? Apa dia sedang menguji kesabaranku?


"Ah, anu ... Maaf pak, maafkan saya. Saya hanya terlalu senang!" Nisa tersenyum canggung.


Aku sulit mempercayai ini, ternyata rencana gila yang aku buat berhasil! Ini seperti mimpi, akhirnya aku bisa lepas dari perjanjian sialan itu!


"Baiklah, aku maklumi. Tapi sebagai gantinya ada tugas tambahan untukmu!" pinta Keyran.


"Tugas? Tugas seperti apa itu, Pak?"


"Kau hanya perlu menghalangi semua wanita yang bukan karyawan perusahaan ini yang mencoba masuk ke ruanganku!"


"Itu saja?" tanya Nisa.


"Ya, itu saja."


"Itu mudah! Saya pasti akan menjalankan dengan baik!" jawab Nisa tanpa ragu.


"Baiklah, semangat seperti ini yang aku inginkan. Kau boleh pergi!"


"Baik, saya undur diri."


KLAP


Nisa yang berada di balik pintu itu hanya tersenyum sambil terus memandangi cek tersebut.


Yes! Sekarang tinggal transfer uang ini ke ayah. Tapi nanti waktu pulang kerja saja deh, sekarang ayah pasti sibuk. Lalu setelah hutang lunas aku bisa terus bersama Ricky! Indahnya hidupku~


Kalau selama ini aku salah! Aku kira dia orang brengsek, tapi dengan memberikan tugas seperti itu tandanya dia bukan orang yang mata keranjang. Aku tidak perlu khawatir kalau aku akan dilecehkan seperti yang selama ini aku takutkan.


"Lanjut kerja saja deh!" ucapnya penuh semangat.


***


Ketika siang hari tiba, Nisa telah selesai mengerjakan tugas-tugasnya. Dan saat ini juga waktu sudah menunjukkan jam istirahat.


Hmm ... sudah masuk waktunya istirahat, aku lapar tapi malas ke pantry. Aku nggak mau ketemu sama orang-orang yang suka membicarakanku dari belakang. Sebaiknya aku makan saja di kafetaria dekat kantor.


DRRTT DRRTT ...


Ponsel Nisa yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar, dia lalu melihat siapa yang meneleponnya. Saat tahu bahwa itu dari pacarnya, dia langsung mengangkatnya.


"Halo Ricky? Ada apa?" tanya Nisa.


"Maaf, salah sambung!" teriak Ricky.


"Apa sih? Aku tutup nih!" kesal Nisa.


"Jangan! Jangan ditutup dong. Cuma becanda, jangan marah, ya?"


"Nggak marah kok, memangnya ada apa? Soalnya tumben kamu jam segini telpon."


"Ayo ketemuan! Kamu nggak sibuk, kan?"


"Nggak sibuk kok, memangnya nanti mau membahas soal apa?"


"Ada deh, kamu di kampus nggak? Aku nggak mau kalau disuruh muter-muter mencarimu lagi!"


"Aku nggak di kampus. Kita ketemuan di Racy Park saja, soalnya aku sedang di luar."


"Racy Park? Bukannya itu taman kota yang jadi tempat langgananmu buat bolos! Kamu bolos kuliah lagi ya!"


"B-bukan ... tapi aku sedang mengerjakan tugas di luar!" ucap Nisa berusaha meyakinkan Ricky.


"Kamu nggak bohong, kan?" tanya Ricky yang terdengar seperti curiga.


"Enggak honey, sumpah! Nanti kamu akan lihat sendiri kalau aku nggak bolos!"


"O-oke baiklah, kalau begitu sampai ketemu nanti!" Ricky langsung luluh saat dipanggil honey.


"Iya, sampai ketemu nanti!"


TUT TUT ...


Panggilan telepon berakhir. Nisa langsung bergegas meninggalkan gedung kantor dan kemudian datang ke taman yang dijanjikan. Di sana dia menunggu Ricky di sebuah bangku taman, tetapi Ricky tidak kunjung datang juga dan lambat laun kesabaran Nisa pun mulai habis.


KRUKK ...


Tiba-tiba keluar suara daei perut Nisa. Dirinya yang sudah agak lemas pun memegangi perutnya.


Ricky mana sih? Kalau tahu bakalan lama seharusnya tadi aku makan dulu. Awas ya, nanti akan aku buat perhitungan sama kamu!


"Nisa! Kamu dimana?!" teriak Ricky dari kejauhan.


"Eh!? Ricky, aku di sini!" Nisa melambaikan tangannya, dia langsung semringah saat melihat kedatangan pacarnya.


Ricky mendekat lalu ikut duduk di sebelah Nisa. "Ini! Aku bawakan sesuatu untukmu!" ucap Ricky dengan wajah memerah sambil menyerahkan sebuah benda berbentuk kotak kepada Nisa.


"Isinya apa?" tanya Nisa sambil mengocok kotak tersebut.


"Tunggu, jangan dikocok! Ini makanan yang aku buat sendiri! Aku hias dengan bagus, kalau dikocok pasti sekarang sudah hancur," keluh Ricky dengan nada kecewa.


"Haha, maaf. Aku benar-benar nggak tahu. Tapi gapapa hancur, rasanya nggak akan berubah. Kok kamu tumben bawa makanan buat aku?" tanya Nisa dengan senyum canggung.


"Ehmm ... ya karena aku ingin. Nanti jangan lupa kasih penilaian untukku, ya!"


"Siap! Nanti akan aku kasih penilaian sejujur-jujurnnya!"


"Oh iya, ngomong-ngomong ... ayo kita kencan lagi! Lusa kan puncak acara ulang tahun taman hiburan. Kita bisa naik kincir ria juga, mau ya?" tanya Ricky dengan senyuman dan tatapan berharap.


"Ya, aku mau," jawab Nisa sambil mengangguk.


Cih, Pasti Ricky sudah ketagihan naik kincir ria karena ciuman itu. Tapi bukan masalah, berkat itu harapanku jadi kenyataan. Aku bisa menghabiskan waktu dengan orang yang aku suka itu merupakan kebahagiaan. Jadi terima saja ajakan dari Ricky.


Lagi pula sekarang aku bisa bersantai, ini berkat pak CEO juga yang meminjamkan uang padaku. Hehe, ternyata jalan keluar dari masalah bisa datang dari mana saja.


"Nisa, ngomong-ngomong ... kenapa bajumu formal seperti itu?" tanya Ricky penasaran.


"Ah, ini berhubungan dengan tugas proyek dari pak dekan yang pernah aku ceritakan. Emm ... bisa dibilang sekarang aku sedang melakukan pengamatan dan mengumpulkan informasi di lapangan!"


"Oh, begitu. Baguslah, sekarang aku harus pergi!"


"Eh? Kok cuma sebentar? Nggak mau makan bareng?" tanya Nisa dengan ekspresi sedikit kecewa.


"Jarak rumah sakit dari sini cukup jauh, jam istirahatku cuma sedikit. Mohon pengertiannya ya pacarku~" ucap Ricky yang kemudian mencium kening Nisa.


"Oke, hati-hati di jalan!" Wajah Nisa memerah.


Tenanglah ... masih ada banyak waktu yang bisa aku habiskan bersama Ricky. Uang penebus perjanjian juga sudah berada di tangan, akhirnya aku bisa mengakhiri kegelisahanku selama ini.


***


Sore harinya saat jam pulang kerja. Saat ini Nisa sedang dalam perjalan pulang, dia berjalan di trotoar yang ramai dilewati oleh orang-orang.


"Huft ..." Nisa menghela napas penuh kelegaan.


Akhirnya selesai, aku sudah mentransfer uangnya ke ayah. Beban hidupku akhirnya berkurang.


BUZZ BUZZ


BUZZ BUZZ


Ponsel Nisa berdering, saat dia memeriksanya, orang yang meneleponnya tidak lain adalah ayahnya sendiri.


"Halo, ayah?"


"Halo pantatmu! Dasar bocah gila! Apa yang sudah kau lakukan?!" teriaknya sekencang mungkin sampai membuat Nisa kaget.