Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Orang Susah


Tik.. tik.. tik.. tik..


Malam ini adalah malam yang sunyi, hanya terdengar suara dentingan jarum jam yang menunjukkan pukul 00:05. Di tengah kesunyian malam itu, tiba-tiba Nisa terbangun dari tidurnya.


"Hmmm..." Nisa membuka matanya perlahan.


Begitu Nisa membuka matanya, hal yang dia lihat pertama kali adalah wajahnya Keyran yang sedang tertidur pulas. Keyran tidur dengan posisi miring dan tangannya juga memeluk tubuh Nisa. Menyadari hal itu Nisa lalu panik dan mulai memperhatikan seluruh keadaan disekitarnya.


"Huft..." Nisa kembali tenang lalu kembali menatap wajahnya Keyran tanpa melepas pelukan dari Keyran.


Ternyata ini sudah tengah malam, dan syukurlah semua pakaianku masih utuh, aku pikir Keyran akan mengikatku lagi. Aku juga sedikit kaget, padahal tadi rasanya masih di mobil dan masih sore, tapi ternyata aku ketiduran.


Lalu... pasti Keyran juga yang menggendongku, dan entah kenapa rasanya seperti ayah sendiri yang menggendongku, rasanya sangat nyaman. Bahkan sejujurnya aku ingin sekali digendong lagi, tapi permintaanku ini terkesan seperti anak kecil, ditambah... aku pasti juga terasa berat.


Aku sudah menyusahkan Keyran, padahal sebenarnya dia ini baik kepadaku. Orang sebaik ini tapi aku berencana untuk menghancurkannya. Terlebih lagi Keyran juga suamiku, meskipun... aku menikah dengannya karena terpaksa, tapi tetap saja kebaikannya harus aku hargai, mungkin sebaiknya aku melunak sedikit.


"Key..." jari telunjuk Nisa lalu menyentuh ujung hidup Keyran.


Jika aku perhatikan... sebenarnya Keyran ini ganteng juga. Tunggu sebentar, kenapa aku bisa punya pikiran seperti ini!? Apa aku sudah gila? Aahh nggak tau ah, aku bangun juga bukan tanpa alasan, aku lapar, aku harus ke dapur sekarang. Pertama-tama aku harus menyingkirkan tangan Keyran dariku dulu.


Nisa lalu memindahkan tangan Keyran yang memeluk tubuhnya, dan tiba-tiba saja Keyran juga terbangun. Keyran lalu mengucek matanya sambil berkata, "Nisa, ada apa? Kenapa kau bangun?"


"Itu bukan apa-apa kok, kau kembalilah tidur..." Nisa tersenyum canggung lalu menepuk-nepuk pipi Keyran. Namun tiba-tiba saja Keyran menahan tangan Nisa. "Kenapa menahan tanganku?"


"Kau jangan membodohiku, apa kau berniat ingin pergi ke club? Jika kau benar-benar ingin pergi, aku tidak mengizinkanmu!"


"Siapa juga yang mau ke club? Aku cuma mau ambil air putih di dapur, tenggorokanku sedikit kering."


"Oh baiklah," Keyran tiba-tiba bangun lalu turun dari ranjang. "Akan aku ambilkan, jadi kau di sini saja." Keyran tersenyum lembut lalu menepuk kepala Nisa. "Aku segera kembali..."


"Tunggu dulu!" Nisa langsung menahan tangan Keyran. "Aku mau ikut..."


"Hm? Apa kau takut sendirian di kamar?"


"S-sebenarnya... aku bukan cuma haus, tapi juga lapar, makanya aku terbangun di tengah malam."


"Oh, aku lupa kalau kau belum makan malam. Aku akan memanggil bibi Rinn untuk memasak makanan untukmu."


"Jangan! Bibi Rinn juga butuh istirahat, aku bisa memasak sendiri. Jadi kau kembali tidur saja..."


"Tidak mau, aku ingin menemanimu!"


"Hah..." Nisa lalu turun dari ranjang. "Terserah kalau kau mau ikut."


Sikap Keyran semakin mengkhawatirkan, dia terlalu peduli padaku. Tapi terserah, aku nggak peduli.


Mereka berdua akhirnya pergi ke dapur bersama. Dan selama di dapur, Keyran terus memperhatikan Nisa yang sibuk mencari sesuatu di segala tempat dalam dapur. Lama-kelamaan Nisa mulai terlihat frustrasi karena tidak bisa menemukan benda yang dia inginkan.


"Dimana dimana dimana...? Kenapa nggak ada?" gerutu Nisa sambil terus menggeledah dapur.


Sialan, padahal ini rumahnya orang kaya, tapi bisa-bisanya nggak ada mie instan. Sebenarnya di kulkas banyak bahan makanan, tapi ini sudah larut malam, aku malas jika harus masak yang ribet-ribet.


"Nisa, kau sampai seperti ini, memangnya apa yang kau cari? Mungkin aku bisa membantumu."


"Apa di rumah ini ada mie instan?"


"Tidak ada, mie instan bukanlah makanan yang sehat, jadi tidak diperbolehkan ada mie instan di rumah ini."


"Ohh begitu toh..." Nisa langsung berhenti mencari lalu berjalan menuju ke arah kulkas.


Omongan Keyran barusan membuatku teringat pada Ricky. Ricky juga selalu bilang begitu, dia selalu melarangku untuk makan mie instan terlalu banyak. Hah... sudahlah, jangan lagi berpikir tentang Ricky! Sebaiknya aku segera masak saja.


"Hmm..." Keyran lalu berjalan mendekat ke arah Nisa. "Apa kau butuh bantuanku?"


"Nggak usah, aku bisa sendiri. Ngomong-ngomong... apa kau juga mau makan?"


"Aku tidak lapar. Kau bilang tidak butuh bantuanku, kalau begitu aku akan menunggumu di meja makan." Keyran tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkan dapur.


Setelah Keyran meninggalkannya, Nisa langsung mulai memasak. Tak butuh waktu lama bagi Nisa beserta makanan yang dia bawa akhirnya menuju ke ruang makan. Nisa juga mendapati Keyran yang masih menunggunya. Dan begitu menyadari kehadiran Nisa, Keyran langsung meminta Nisa untuk duduk tepat di sebelahnya.


"Nisa, kemarilah..."


"Iya." Nisa kemudian menurut dan duduk di sebelah Keyran.


"Apa kau mau aku menyuapimu?" tanya Keyran dengan tatapan berharap.


"N-nggak... nggak usah, kedua tanganku baik-baik saja, aku bisa makan sendiri." Nisa langsung mulai makan dengan lahap.


"Eh!? Makanan ini..." Keyran lalu termenung dan mengerutkan dahi begitu menyadari makanan yang dibuat oleh Nisa.


Nisa, padahal kau adalah istriku, istri dari seorang milyuner dan CEO HW Group. Tapi sebagai istriku kau hanya memakan telur dadar dengan kecap, harusnya kau pantas mendapatkan yang lebih dari ini. Harga diriku sebagai suamimu telah ternodai.


"Nisa, berhentilah makan!"


"Hmm!?" Nisa langsung berhenti mengunyah dan menoleh ke arah Keyran. "Kenapa?"


"Ayo makan di luar, aku akan mengajakmu ke restoran!"


"Nggak mau ah, ini sudah tengah malam, aku malas keluar rumah."


"Baiklah, kalau begitu aku akan memanggil beberapa koki untuk datang kemari dan memasak untukmu." Keyran lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan kemudian bersiap untuk menelepon.


"Woii woi, nggak usah! Jangan panggil koki, aku makan ini saja!"


"Tapi... aku kasihan padamu, kau hanya makan telur dengan kecap, kau terlihat seperti orang susah."


"Key, tolong jangan bersikap berlebihan. Lagi pula aku suka makan telur dengan kecap, rasanya juga enak. Kalau nggak percaya..." Nisa lalu menyodok makanan itu kemudian mengarahkannya ke mulut Keyran. "Cobalah, kau pasti juga suka. Ayo buka mulutmu, aaaa..."


"Oke..." Keyran lalu membuka mulutnya dan menerima suapan dari Nisa. Saat Keyran mengunyah, dia tersenyum dan wajahnya juga memerah.


"Enak kan? Apa kau menyukainya?" tanya Nisa sambil meringis.


"Iya, aku sangat menyukainya."


Rasanya tidak buruk, tapi yang membuatku menyukainya adalah karena kau sendiri yang menyuapiku.


"Baguslah kalau kau menyukainya." Nisa tersenyum lalu kembali melanjutkan makan.


Cih, tadi kau mengejekku orang susah, sekarang kau juga sudah makan, ini artinya kau sendiri juga orang susah.


"Nisa, sekarang aku merasa sedikit lapar. Bolehkah aku meminta lagi?"


"Emmm..." untuk sejenak Nisa terdiam melihat ke arah piring. "Boleh, lagi pula ini juga cukup untuk kita berdua." Nisa lalu mengarahkan sendoknya ke mulut Keyran lagi. "Nah, ayo aaaa..."


Ya ampun, makan sepiring untuk berdua, sekarang aku dan Keyran benar-benar seperti orang susah.


"Aammm..." Keyran juga dengan senang hati menerima suapan dari Nisa.


***


Begitulah hari ini pasangan suami istri mengawali hari, mereka berdua makan bersama di jam 12 malam lewat beberapa menit. Makanan yang mereka makan juga sangat sederhana, yaitu nasi dengan lauk telur dadar dan kecap. Terlebih lagi, ini juga pertama kalinya bagi Keyran memakan makanan seperti itu. Dan setelah mereka selesai makan, mereka berdua langsung kembali melanjutkan tidur.


Saat pagi hari tiba, Keyran sudah bangun terlebih dulu, namun dia belum beranjak dari ranjang dan terus memandangi Nisa yang masih tertidur.


"Hmmm..." Dan begitu Nisa membuka matanya, tanpa peringatan apa pun Keyran langsung mencium keningnya.


"Selamat pagi~" ucap Keyran dengan senyum lembut.


"...." Nisa hanya diam dan matanya membelalak, jantungnya juga berdetak lebih cepat, dia tidak pernah menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu di pagi hari tepat setelah dia membuka mata. Nisa lalu mengucek matanya dan kemudian duduk, dia juga melihat Keyran dengan tatapan heran.


"Apa mimpimu indah?" tanya Keyran sambil menyelipkan rambut Nisa yang menutupi wajah pada telinganya.


"Aku bermimpi jadi seorang putri." jawab Nisa secara spontan.


"Memangnya kau jadi putri apa? Aku rasa kau pasti menjadi putri tidur~"


"Bukan, aku jadi putri duyung, lalu setelah itu berburu t-rex."


"Hahaha, mimpimu aneh sekali. Putri duyung berada di air, sedangkan t-rex berada di darat. Memangnya kau berburu pakai apa?"


"Naik helikopter."


"O-ooh..." untuk sejenak Keyran terdiam, dan kemudian dia tiba-tiba mengelus kepala Nisa. "Sepertinya nyawamu belum terkumpul semua, jadi kau kumpulkan saja sulu, baru setelah itu mandi, kau masih harus kuliah. Sekarang aku akan mandi dulu..." Keyran lalu turun dari ranjang dan bergegas menuju ke kamar mandi.


Sementara Nisa, dia terus ternganga dan tidak percaya dengan hal yang barusan Keyran lakukan kepadanya. "...."


Aneh, ini sangat aneh! Sepertinya Keyran sudah diganggu oleh penunggu villa ini. Mungkin aku harus memanggil ustad, dukun, ahli fengsui atau brahmana dan sebagainya. Ini sangat gawat jika dibiarkan.


***


Hari demi hari berlalu, dan sikap yang ditunjukkan oleh Keyran kepada Nisa masih sama. Dia selalu memenuhi semua keinginannya Nisa yang menurutnya dianggap benar, selama berhari-hari dia juga tidak lagi membentak Nisa, bahkan setiap kali melihat Nisa dia juga memperlihatkan senyuman yang lembut.


Saat pagi hari Keyran tidak pernah melewatkan memberi kecupan pada Nisa. Saat di siang hari Keyran juga tidak melewatkan untuk mengingatkan Nisa untuk makan. Dan ketika pulang kerja, Keyran juga selalu membawakan berbagai macam camilan untuk Nisa. Terkadang, Keyran juga bersedia untuk membantu Nisa belajar serta membantu dalam mengerjakan tugas kuliahnya.


Masih ada satu hal lagi yang paling mengejutkan Nisa, Keyran juga memberinya hadiah berupa ponsel keluaran terbaru dari perusahaannya. Keistimewaan utama dari ponsel tersebut adalah memiliki daya baterai sebesar 15.000 mAh. Dan tentu saja bagi Nisa yang merupakan pencinta game, hadiah itu sangat berharga baginya. Nisa begitu senang saat Keyran memberinya hadiah itu, tapi tujuan sebenarnya dari Keyran adalah memastikan agar Nisa bisa terus menerima panggilan darinya kapan saja, tanpa perlu khawatir akan kehabisan baterai.


Namun, selama berhari-hari Nisa juga terus dirundung oleh keraguan, dia masih ragu untuk mengundang ustad, ahli fengsui atau yang mana terlebih dulu. Dan setelah menimbang bahwa Keyran juga bersedia membantu mengerjakan tugas kuliahnya, akhirnya Nisa menyingkirkan keraguannya dan juga mulai terbiasa dengan perilaku Keyran yang menurutnya tidaklah biasa.


...Beberapa hari setelahnya, Universitas Grand SC...


...••••••...


Seperti biasa, setelah kelas selesai Nisa bersama kedua temannya yaitu Isma dan Jenny, mereka bertiga menghabiskan waktunya untuk berkumpul, bercerita serta bercanda di kantin. Dan tidak disangka ada seseorang yang tiba-tiba menghampiri Nisa dan mengganggu keseruan mereka bertiga, orang itu tidak lain adalah Terry.


"Ada apa? Aku nggak buat masalah loh." ucap Nisa dengan nada malas.


"Nggak, kali ini kau buat masalah serius! Apa kau sadar kesalahanmu!?" bentak Terry.


"Dibilangin aku nggak buat masalah apa-apa! Kenapa kau selalu saja menggangguku hah!?" Nisa lalu berdiri dan menatap Terry dengan tatapan sinis.


"Bukan aku yang mengganggu, tapi kau yang telah mengganggu seseorang." ucap Terry penuh keyakinan.


"Seseorang? Siapa yang kau maksud?"


"Natasha, dia sudah 2 minggu nggak masuk kuliah. Semua dosen dan dekan juga menanyakannya, tapi semua orang juga tahu kalau kau bermusuhan dengannya. Jadi masalahnya Natasha pasti ada hubungannya denganmu!"


"Aku akui kalau aku bermusuhan dengannya, sebenarnya denganmu juga. Tapi, belakangan ini aku juga nggak ada masalah apa-apa tuh dengan Natasha. Kecuali..." Nisa tiba-tiba termenung.


"Kecuali apa?"


"Lupakan, itu nggak penting. Dan aku baru teringat satu hal, kira-kira 15 hari yang lalu, aku nggak sengaja berpapasan dengannya di rumah sakit. Toh dia juga bareng sama kakaknya, mungkin saja Natasha nggak masuk itu karena sakit."


"Benarkah? Jangan-jangan kau yang membuatnya sakit! Apa kau meracuninya?" Terry lalu menatap Nisa dengan tatapan curiga.


"Heh! Jika aku yang meracuninya, seharusnya sudah ada kabar bela sungkawa. Jadi intinya masalahnya Natasha itu nggak ada hubungannya denganku!"


"Huh! Baiklah, kali ini aku percaya. Tapi, aku akan tetap mengawasimu!" Terry lalu bergegas pergi.


"Cih, dasar petugas babi!" Nisa lalu kembali duduk dengan tenang. "Ini juga sedikit aneh, nggak biasanya Natasha absen berhari-hari." gumam Nisa.


"Sania." panggil Jenny.


"Hm, kenapa?"


"Soal Natasha... mungkin gue tahu alasannya nggak masuk, tapi nggak tau juga sih bener apa nggak nya."


"Emang apaan?" tanya Nisa dan Isma bersamaan.


"Jadi gini, aku juga tau nya dari Aslan. Tadi lo sendiri juga bilang kalau nggak sengaja papasan sama Natasha di rumah sakit, jadi mungkin cerita Aslan itu bener."


"Cepetan cerita woi! Jangan basa-basi, gue penasaran nih!" ucap Isma dengan tidak sabar.


"Sabar Is... toh cuma masalah Natasha." ucap Nisa seakan tidak tertarik.


"Nah, Aslan bilang kalau Natasha itu... habis periksa ke bagian kandungan, mungkin dia h-hamil."


"Hah!!?" teriak Nisa dan Isma bersamaan. Namun setelah berteriak, Nisa tiba-tiba termenung dan ekspresi wajahnya sangat masam.


Dan tak berselang lama kemudian Nisa tiba-tiba berdiri. "Gue mau pulang dulu." Nisa langsung bergegas pergi dan terlihat berjalan begitu lemas.


Jenny dan Isma hanya diam dan saling menatap satu sama lain begitu melihat Nisa berjalan pergi. Dan tiba-tiba saja Isma berkata, "Mungkin si trouble lady gagal move on."


"Yaa.. mungkin," jawab Jenny sambil menganggukkan kepalanya.


***


Nisa berniat ingin meninggalkan kampus, namun cara berjalannya terlihat seperti tidak bernyawa, di sepanjang perjalanan dia juga terus menundukkan kepalanya.


"Uuhh..." Nisa lalu menggigit bibirnya sendiri.


Sialan, kenapa semuanya jadi seperti ini? Baru beberapa minggu yang lalu aku mendengar kalau Natasha berkencan dengan Ricky, sekarang aku mendengar kalau Natasha hamil. Kemungkinan besar itu adalah ulahnya Ricky, itu anaknya Ricky!


Ricky bukan cuma sudah menemukan penggantiku, dia bahkan juga sudah membuat pencapaian yang begitu besar. Mungkin saja sebentar lagi aku akan menerima undangan pernikahan darinya.


Nisa terus berjalan sambil menunduk, dan tiba-tiba saja dia menabrak seseorang. Lalu seseorang itu berkata, "Kalau jalan lihat ke depan!"


"Maaf..." Nisa masih menunduk.


Tunggu sebentar, suara ini!!


Nisa langsung mengangkat kepalanya, dan begitu melihat siapa orang itu Nisa sangat terkejut. "Ri-Ricky!?"