
Kehidupan pernikahan bahagia, itulah yang dirasakan oleh Nisa sekarang. Dia yang masih tak punya kesibukan khusus, saat ini hanya berjalan mondar-mandir di kamarnya.
"Arghh ... kenapa susah sekali?! Ulang tahun pernikahanku sebentar lagi, pokoknya aku harus memikirkan ide yang paling berkesan!"
Tiba-tiba Nisa berhenti melangkah, terbesit sebuah rencana yang tidak biasa di pikirannya. Dia langsung mengemasi tas dan turun ke bawah. Saat berpapasan dengan Bibi Rinn dia pun berkata, "Kebetulan Bibi di sini, aku mau pergi dan mungkin baru akan pulang saat makan malam nanti!"
"Baiklah, tapi Nyonya mau ke mana? Takutnya nanti tuan bertanya pada saya ..."
"Bilang saja aku ada urusan! Sampai jumpa malam nanti, Bibi~" Nisa langsung berlalu begitu saja.
Heh, aku mau mempersiapkan kejutan ulang tahun pernikahan. Mana mungkin aku beritahu, masih 15 hari lagi dan semoga waktunya cukup!
Benar saja, hari pertama Nisa mempersiapkan rencana kejutan anniversary berlangsung lebih lama. Dia baru pulang ketika sudah lewat saatnya makan malam. Keyran yang mengetahui hal itu tentu saja marah, tetapi dia masih memberikan toleransi untuk satu kali ini.
Hari-hari berikutnya Nisa juga sibuk mempersiapkan kejutan, bahkan selama beberapa hari ini dia tidak mengantarkan makan siang ke kantor seperti biasanya. Dan ketika Keyran pulang, Nisa juga hanya bercakap sedikit, tidak seperti biasanya yang selalu cerewet membicarakan hal remeh.
Keyran mulai merasa ada sesuatu yang aneh, dia melirik ke arah Nisa yang tengah asyik bermain ponsel sedang berbaring memunggungi dirinya. "Nisa," panggilnya sambil mencolek punggung istrinya itu.
"Ada apa, hm?" sahut Nisa tanpa menoleh.
Kesabaran Keyran sudah berada di batasnya, dengan cepat dia merebut ponsel Nisa lalu mengurungnya di bawah tubuhnya.
"Akhir-akhir ini kau kenapa? Kau selalu sibuk sendiri dan mengabaikan aku!" Keyran menatap tajam, seperti sedang menuntut sebuah keadilan untuknya.
"Menurutmu kenapa?" Nisa bertanya balik, hal itu membuat Keyran semakin tidak senang.
"Aku tidak suka, kau selalu keluar tanpa alasan yang jelas. Saat aku bertanya kau menjawab seperti menyembunyikan sesuatu dariku, bahkan barusan kau juga sibuk dengan ponselmu. Bukan cuma kali ini, hari-hari sebelumnya pun sama. Sebenarnya apa yang kau lakukan di belakangku?! Jangan bilang kalau kau sudah bosan denganku lalu mencari pria lain!"
"Tidak ada pria lain selain kau, lagi pula aku sibuk dengan ponselku hanya untuk mencari beberapa inspirasi membuat kue. Kalau kau tidak percaya silakan cek saja."
"...." Keyran membisu, dia lega jika tidak ada hal buruk yang dia pikirkan. Namun dia masih merasa kesal karena sikap Nisa yang terus-terusan mengabaikannya. "Apa resep kue lebih penting daripada aku?"
Nisa tersenyum kecil, lalu merangkul leher Keyran dan memberikan sebuah kecupan di bibirnya. "Bagiku kau yang terpenting. Belakangan ini aku memang sedikit sibuk, maaf jika aku terkesan mengabaikanmu. Aku tidak bermaksud begitu ..."
Dia kembali mendekat, membisikkan sesuatu di telinga suaminya. "Aku telah membuatmu merasa terabaikan, sebagai bentuk penyesalanku ... Aku akan bersikap patuh, aku siap menanggung apa saja asalkan kau tidak marah lagi."
Keyran menyeringai. "Heh, jadi kau bermaksud menggodaku. Apa kau pikir aku semudah itu untuk dirayu?"
"Memangnya tidak?" Nisa meniup telinga Keyran dan menggigit daun telinganya dengan manja. Lalu kedua kakinya pun Nisa dia kaitkan di pinggang suaminya.
"Kau sendiri yang memancingku! Sudah terlambat jika menyesal!"
***
Hari berganti, tetapi pagi ini Nisa bangun pagi-pagi buta untuk memulai menjalankan rencananya. Jam 4 pagi dia sudah bersiap untuk kabur dari rumah. Sebelum dia pergi, dia meninggalkan sebuah kecupan di kening suaminya yang masih tertidur lelap.
"Sampai jumpa 3 hari lagi. Semalam aku sudah memberikan yang terbaik untukmu, jadi jangan terlalu marah ya nanti."
Waktu terus berlalu dan seperti biasa alarm berbunyi pukul setengah enam pagi. Keyran terbangun, dia masih bersikap biasa saja ketika sadar istrinya sudah tidak ada di kamar.
Saat Keyran turun untuk sarapan, dia merasa heran karena masih belum melihat keberadaan Nisa. Akhirnya dia pun bertanya pada Bibi Rinn yang kini sedang menyajikan teh untuknya. "Apa Bibi lihat Nisa?"
"Saya belum melihat nyonya, tapi saya menemukan kertas catatan yang ditinggalkan nyonya. Beliau menuliskan saya tinggal menghangatkan sarapan untuk Tuan, jika sudah dingin. Lalu ... saya juga menemukan surat di sebelah catatan." Bibi Rinn lalu mengeluarkan sebuah amplop putih dan menyerahkannya pada Keyran.
"Ini Tuan, saya permisi."
Setelah Bibi Rinn pergi, Keyran langsung membuka amplop yang di luarnya telah bertuliskan 'Untuk suamiku tercinta'.
°°°
Kepada suamiku Keyran. Aku tahu jika pagi ini sampai kau membaca surat ini kau tidak melihatku. Alasannya hanya satu, tentu saja aku kabur! Aku berencana pergi untuk sementara waktu, alasannya bukan karena urusanku sebagai gangster, tetapi ada hal lain. Semalam aku sudah memberikan tenaga cinta untukmu, jadi jangan terlalu merindukan aku ya. Aku mencintaimu.
°°°
Tangan Keyran gemetar hingga kertas surat itu menjadi kusut, dia sangat marah ketika membaca tiap kata yang ditinggalkan oleh Nisa untuknya.
"NISAAAA!! Istri macam apa kau ini yang selalu kabur dari rumah!?"
Di hari pertama Nisa kabur, Keyran berusaha sekeras mungkin untuk melacak di mana istrinya itu berada. Mulai dari bertanya pada keluarga, rekan-rekan dan melacak lewat kamera pengawas yang terpasang di sekitar. Namun sayang karena semua hasilnya nihil, Nisa seolah-olah telah lenyap dari bumi.
Keyran semakin frustrasi. Dia berpikir mengapa Nisa harus kabur, apa tujuannya, bagaimana keadaannya, dia bersama siapa, semua pertanyaan itu terus menerus menghantui pikiran Keyran.
Hingga di hari ke-3 Nisa menghilang, tiba-tiba Bibi Rinn mendatangi Keyran sambil membawa paket misterius. "Tuan! Ada paket untuk Anda!" ucapnya dengan ekspresi panik.
"Taruh saja di sana, aku tidak merasa memesan sesuatu!" jawab Keyran acuh tak acuh.
"Tapi di sini bertuliskan jika pengirimnya adalah Nyonya!"
"Benarkah?!"
Keyran pun segera merebut paket tersebut. Dia sedikit gugup karena membayangkan hal buruk terjadi pada Nisa, seperti potongan bagian tubuh milik istrinya. Tetapi mau tak mau Keyran harus membuka paket itu, dia menghela napas lega ketika melihat isinya tidak seperti yang dia bayangan.
"Ini ..." Keyran menatap bingung. Isi dari paket tersebut adalah setelan tuxedo berwarna putih dan sebuah ponsel.
"Bibi boleh pergi," pinta Keyran.
"Baik Tuan, saya permisi."
Keyran lalu menghidupkan ponsel yang mati tersebut, saat ponsel itu menyala dia terkejut saat melihat wallpaper yang berupa tulisan.
"Aku telah memasang aplikasi GPS yang akan terhubung dengan lokasiku jam 10 malam nanti, jika kau berniat membawaku pulang maka jangan lupa kenakan tuxedo yang telah aku siapkan. Tertanda, istrimu tercinta," gumamnya membaca tulisan di wallpaper tersebut.
"Hahh ... hal aneh apa kali ini yang direncanakan Nisa? Setelah kabur malah mengirimkan benda seperti ini. Tapi baiklah, aku ingin melihat apa yang telah kau siapkan untukku nanti."
Jam 10 malam akhirnya tiba, Keyran melakukan semua instruksi dari Nisa. Dia menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi mengikuti arah ke mana GPS tersebut menuntunnya.
Muncul sedikit perasaan buruk, karena jalanan yang dia lewati cukup sepi dan cukup lama untuk sampai ke tempat tujuan. Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 1 jam, Keyran akhirnya sampai. Tempat yang dia datangi adalah sebuah villa besar bergaya klasik di area bukit.
"Apa Nisa sungguh ada di sini?" gumamnya dengan ragu.
Keyran pun memantapkan diri untuk melangkah, dia juga tidak menyangka di sebuah pohon telah dipasangi tanda anak panah dan sebuah tulisan. 'Ikuti tanda ini cintaku' begitulah tulisan yang membuat Keyran geleng-geleng kepala.
Keyran mengikuti arah sesuai dengan anak panah. Dia bahkan merasa aneh ketika dia begitu mudahnya masuk ke dalam villa besar yang tak terkunci itu. Dia merasa makin kesal karena seperti sengaja dibuat mengitari villa, hingga tanda anak panah terakhir menunjukkan tempat yang sebenarnya.
"I-ini ..."
Keyran melongo, melihat jika di hadapannya saat ini terdapat tempat yang sudah dihias dengan begitu indah. Cahaya lentera yang lembut berjejer di segala sisi. Terdapat sebuah serambi temu yang didekorasi dengan kain berwarna putih, ornamen lain seperti rangkaian bunga. Serambi itu tampak seperti didekor untuk pernikahan.
Sebuah jalan lurus yang di samping kiri dan kanannya terdapat lentera menjadi pemisah antara dirinya dengan serambi itu. Sedangkan di ujung jalan penghubung, terlihat punggung dari sosok wanita yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih.
Wanita itu berbalik badan, terlihat jelas senyuman yang begitu menawan dengan buket bunga di tangannya. "Akhirnya kau tiba, mempelai priaku."
"Nisa ..."
Semua kekesalan Keyran yang menumpuk tiba-tiba sirna. Dia langsung berlari ke ujung jalan dan memeluk erat istrinya.
"A-apa kau kabur untuk mempersiapkan semua ini?" tanyanya dengan nada gemetar.
"Iya, aku ingin merayakan ulang tahun pernikahan kita dan menjadikannya kenangan paling berkesan. Apa kau sudah lupa tanggal pernikahan kita?"
"Hmph, bagaimana aku bisa mengingatnya? Sedangkan pikiranku dipenuhi olehmu yang kabarnya tidak jelas!"
"Haha, berarti kejutanku berhasil. Maafkan aku karena kabur, butuh waktu yang tidak sedikit untuk mempersiapkan semua ini sendiri," ucap Nisa sambil menepuk-nepuk pelan punggung Keyran.
Nisa melepaskan pelukannya lalu mengajak Keyran untuk memasuki serambi, di tengah serambi itu sudah Nisa siapkan sebuah meja lengkap dengan beberapa hidangan. Tak lupa juga sebuah kue pernikahan yang cantik di tengah-tengahnya.
"Apa kau juga yang memasak semua ini?" tanya Keyran.
"Tentu." Nisa menuangkan wine ke gelas, lalu memberikan segelas pada suaminya sambil berkata, "Apa kau masih ingat kata-kataku waktu itu?"
Keyran termenung sejenak, lalu tersenyum ketika dia sudah ingat. "Tidak ada cinta di tempat yang tidak ada wine."
"Baguslah, ternyata kau mengingatnya. Bersulang!"
Mereka pun bersulang, meminum wine tersebut dengan cara saling menyilangkan lengan. Begitu wine dalam gelas tersebut habis, sambil menunggu tengah malam tiba, Nisa mengajak Keyran untuk menikmati hidangan yang telah dia persiapkan.
"Nisa," ucap Keyran di kala pertengahan makan.
"Hm?"
"Sebelumnya kau terkesan mengabaikan aku, mungkinkah juga demi mempersiapkan kejutan ini?"
"Iya, apalagi saat mempersiapkan gaun pengantin. Seharusnya aku memakai gaun yang sama saat menikahimu dulu, tapi gaun itu telah rusak."
"Lalu bagaimana dengan villa ini? Pasti sulit menyewa tempat bagus seperti ini."
"Pfftt ... mana ada menyewa? Villa ini milikku tahu! Kau pasti ingat jika aku selalu mengusik soal warisan pada orang tuaku. Warisan yang aku incar adalah villa ini, bukankah layak jika aku memperjuangkannya?"
"Sungguh wanita licik," Keyran terkekeh.
Belum lengkap rasanya jika menikmati hidangan tanpa makanan penutup. Makanan penutup kali ini adalah kue anniversary yang telah Nisa siapkan. Begitu waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, genap sudah 1 tahun pernikahan mereka.
Nisa lalu membawa kue tersebut dan mendekati Keyran. Dengan senyuman dia pun berkata, "Happy anniversary, darling."
Keyran tersenyum, lalu mendekat dan memberikan sebuah kecupan di pipi Nisa. "Selamat hari jadi untukmu, istriku."
"M-mari tiup lilin bersama!"
Keyran menyeringai, "Apa kau hanya akan mengucapkan selamat hari jadi untukku?"
"Memangnya ucapan selamat untuk apa lagi? Apa kau menang undian?" tanya Nisa dengan tatapan polosnya.
"Bukan! Apa kau tidak tahu tanggal ulang tahunku?"
"E-eh, jadi ... kau juga ulang tahun?! Maaf, aku terlalu sibuk mementingkan hari jadi sampai lupa ulang tahunmu. Harusnya aku membuat dua buah kue ...."
"Tidak apa-apa, satu kue sudah cukup bagi kita berdua. Tanggal ulang tahunku sama seperti tanggal pernikahan kita. Itulah mengapa aku pergi meninggalkanmu saat malam pertama dulu, aku pergi merayakannya bersama teman-temanku."
"Kau punya teman?" tanya Nisa dengan tatapan tidak percaya.
"Tentu saja punya! Meskipun mereka cuma teman bisnis tapi juga temanku."
"O-ohh ... aku mengerti. Kalau begitu ini ulang tahunmu yang ke-28, kan?"
"Iya, apa menurutmu aku sudah tua?"
"Haha, kau bercanda ... pria dewasa dan pria tua itu berbeda. Aku juga bukan orang yang memandang umur, lagi pula kau masih tampan! Sekali lagi aku ucapkan happy anniversary and happy birthday untukmu! Sekarang mari tiup lilin dan ucapkan permohonan!"
Mereka berdua pun menutup mata dan mengucapkan permohonan, setelah itu mereka saling bertatapan lalu meniup lilin bersama-sama.
"Apa harapanmu, Key?" tanya Nisa antusias.
"Rahasia~"
"Ayolah ... aku mohon, nanti aku juga akan mengatakan harapanku!"
"Baik-baik, harapanku adalah aku ingin terus merayakan hari jadi bersamamu. Lalu kau?"
"Harapanku ... semoga tahun depan perayaan kita semakin ramai," ucap Nisa dengan wajah memerah.
Keyran mengerti apa maksud harapan itu, dia tersenyum bahagia dan memeluk Nisa dengan erat. "Hati-hati, Key! Aku akan marah kalau kuenya sampai jatuh!"
"Aku hanya terlalu senang, syukurlah jika sekarang kau sudah siap jadi ibu. Kalau begitu kita tidak memerlukan pengaman lagi!"
"Ehem! Jangan bahas lagi! Ayo potong kuenya!"
"Baiklah~" jawabnya dengan perasaan berbunga-bunga.
Mereka berdua lalu menggenggam pisau kue bersama, perlahan memotong kue yang cantik tersebut. Setelah itu mereka juga saling menyuapi dengan tatapan yang mendalam.
Begitu merasa kue yang dimakan cukup, tiba-tiba saja Keyran berkata, "Hari ini aku berulang tahun, aku ingin meminta sesuatu darimu."
"Apa itu tubuhku?" tanya Nisa spontan.
"Bukan, kenapa kau selalu menawarkan tubuhmu? Yang aku inginkan sederhana, aku ingin berdansa denganmu. Dansa kita yang pertama adalah saat pertunangan kita, aku ingin mengenang kembali saat-saat itu."
"Tapi di sini tidak ada alat pemutar musik. Ah, aku tahu! Kau bisa bernyanyi untuk mengiringi dansa!"
"Tidak mau!"
"Ayolah ... sekali ini saja, aku ingin mendengar kau bernyanyi untukku! Kau bebas bernyanyi lagu mana pun yang kau bisa!"
"Baiklah, asal bisa berdansa denganmu."
Nisa mengajak Keyran untuk beralih ke lahan rerumputan yang berada di sebelah serambi karena tempatnya lebih lapang. Tanpa basa-basi Keyran memegang pinggang Nisa dan merapatkan tubuhnya.
Nisa menatap Keyran dengan tatapan lembut, lalu meletakkan tangan kirinya di atas bahu suaminya. Sebelah tangannya lagi menggenggam tangan Keyran, tangan yang saling menggenggam itu diangkat setinggi sejajar dengan mata Nisa. Posisi awal dansa telah siap, hanya tinggal menunggu Keyran bernyanyi.
Keyran masih memikirkan lagu mana yang akan dia nyanyikan. Setelah memutuskan dia pun menarik napas dalam-dalam.
"I found a love, for me .. Darling, just dive right in and follow my lead .. I found a girl, beautiful and sweet .. I never knew you were the someone waiting for me ..."
^^^~Lirik lagu Perfect by Ed Sheeran ^^^
Begitu Keyran mulai bernyanyi, mereka berdua pun mulai menyesuaikan langkah kaki dengan irama nyanyian Keyran. Sesekali Nisa memutar tubuhnya sesuai dengan tempo dari lagu.
Berdansa dengan gaun pernikahan, diterpa oleh sejuknya angin malam, di bawah rembulan yang bersinar terang, sungguh momen dansa yang tak terlupakan.
Keduanya saling menatap lembut. Tak pernah menyangka jika mereka akan terus bersama hingga detik ini. Satu per satu kenangan manis yang telah mereka lalui tiba-tiba terlintas di benak mereka.
Mengingat bagaimana pertemuan pertama. Bagaimana pertama kalinya mereka melangkah menuju altar. Bagaimana janji suci yang diucapkan oleh satu sama lain. Hingga suka duka yang telah mereka lewati selama setahun pernikahan.
Kebersamaan mereka serasa begitu berharga. Di akhir dansa Nisa jatuh ke pelukan Keyran bertepatan saat dirinya selesai bernyanyi. Keduanya yang masih merasa tak puas pun saling berciuman.
Saat ciuman yang begitu dalam telah lepas, Keyran lalu berkata, "Aku mencintaimu, Nisa ..."
"Aku juga mencintaimu, Key!" jawab Nisa yang kemudian memeluk suaminya. "Suaramu bagus, cocok jadi vokalis!"
"Benarkah? Vokalis apa?"
"Vokalis tahu bulat!"
"Hmph, aku tidak mau bernyanyi lagi!"
"Haha, aku bercanda ... suaramu bagus, aku suka! Ini juga pertama kalinya ada orang yang menyanyikan lagu untukku. Lain kali kau bisa bernyanyi untukku jika aku kesulitan tidur."
Keyran membisu, sejurus kemudian tiba-tiba dia membopong Nisa. "Baiklah jika kau mau tidur, di mana kamarnya?"
Nisa tersenyum semringah. Merangkul Keyran lebih erat lalu menunjuk ke suatu arah. "Ke arah sana!"
"Izinkan aku memperbaiki kesalahanku. Dulu aku hanya membawamu ke kamar, sekarang aku akan menggendongmu ke kamar!"
"Haha, apakah malam pertama kita juga harus diulang?" Nisa terkekeh.
"Ide bagus!"
Jika dulunya mereka berdua sama-sama terpaksa saat menuju ke kamar, maka kali ini sebaliknya. Di setiap langkah yang Keyran ambil, terdapat rasa bahagia yang bahkan sulit diungkapkan lewat kata-kata.
Mereka berdua pun tiba di kamar. Lagi-lagi Keyran terkejut karena kamar itu sudah disiapkan dengan sedemikian rupa. Rangkaian bunga mawar merah memenuhi penjuru kamar, kelopak-kelopaknya bertebaran di atas kasur, serta cahaya lembut dari lilin-lilin kecil kian menambah suasana menggairahkan.
Keyran tersenyum puas, lalu berjalan ke arah kasur dan duduk di pinggir sambil memangku Nisa. "Terima kasih, aku menyukainya."
"Baguslah jika kau suka." Nisa tersenyum nakal, tanpa peringatan apa pun langsung mendorong Keyran hingga terbaring lalu memeluknya dengan erat.
"Hei-hei ... pengantin wanita agresif sekali."
"Diamlah, aku hanya ingin memelukmu lebih lama."
Keyran lalu memiringkan tubuhnya dan membalas pelukan Nisa. "Baiklah jika seperti ini yang kau mau."
Untuk beberapa saat sama sekali tidak ada percakapan di antara mereka. Keyran terus memandangi wajah manis perempuan yang sangat dia cintai itu. Membelai pipinya dengan lembut serta mencium keningnya dengan manja.
"Nisa, maukah kau mengabulkan satu permintaanku? Ini bukan tubuhmu!"
"Haha baiklah, katakan saja apa permintaanmu."
Sekali lagi Keyran membelai pipi chubby itu dan menatapnya dengan tatapan tidak rela. "Tolong jangan pernah kabur ataupun lari dariku lagi. Aku serius, aku sangat khawatir jika kau tiba-tiba pergi."
"Baiklah."
"Apa pun alasannya kau tidak boleh kabur. Aku mohon berjanjilah padaku!"
"Aku berjanji tidak akan kabur lagi. Setelah semua ini tidak ada alasan bagiku untuk kabur. Aku selalu ingin bersama denganmu, setiap saat, setiap waktu. Apa pun yang terjadi nanti, aku tak akan pernah meninggalkanmu."
"Orang bilang tahun pertama pernikahan itu sulit. Memang benar jika selama ini kita telah melalui berbagai kesulitan. Aku senang akhirnya kita saling memahami, meskipun kadang kala masih ada pertengkaran kecil, tapi percayalah jika berpisah denganmu itu tidak mungkin."
Keyran hanya tersenyum, mendekap Nisa lebih erat lalu berkata, "Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu ..." ucap Nisa yang terlihat sangat nyaman mendekap di dada suaminya.
"Oh iya, ini kan villa milikmu. Mari kita menginap beberapa hari lagi!"
"Heh, jadi kau mau kabur dari pekerjaanmu?"
"Haha, aku belajar darimu! Kabur bersama itu menyenangkan!"