Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Pria Romantis


Nisa langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Lucas, dia gugup dan masih tak percaya dengan kedatangan suaminya itu yang sangat tiba-tiba dan terlebih lagi di waktu yang salah. Bahkan Lucas sendiri pun kaget dengan kedatangan Keyran.


Valen yang juga datang bersama Keyran lalu geleng-geleng kepala sambil berkata, "Ckck ... kebiasaan buruk Nyonya tak berubah."


Di sisi lain Keyran masih tak berkata sepatah kata pun, dia kemudian bersedekap seakan-akan menunggu penjelasan dari istrinya itu.


"I-ini bukan seperti yang kau kira! Aku bisa jelaskan!" teriak Nisa dengan ekspresi panik.


"Baiklah, kalau begitu cepat jelaskan!" ucap Keyran dengan sorot mata yang sinis.


Nisa menelan ludah, kemudian menoleh ke arah Lucas. "Aku bisa mengatasi ini, kau cepatlah pergi, ayahmu membutuhkanmu!"


Lucas mengangguk. "Baiklah, terima kasih Nisa." tanpa basa-basi apa pun lagi Lucas langsung berlari dan pergi dari acara event itu.


Namun kepergian Lucas membuat raut wajah Keyran menjadi semakin tidak senang. Lalu dengan nada yang menusuk dan alis terangkat sebelah dia berkata, "Oh, kau menyuruhnya pergi agar kau dapat lebih mudah mengucapkan kata-kata untuk membohongiku, benar begitu?"


"Bukan begitu Key! Aku mohon dengarkan penjelasanku dulu!"


Nisa kemudian menjelaskan semuanya kepada suaminya yang sedang termakan api cemburu itu. Dia menjelaskan tentang kondisi Lucas dan keadaan buruk yang menimpanya. Nisa menjelaskan alasannya kenapa memeluk Lucas, dia berdalih bahwa dia hanya sekadar merasa iba dan ingin menenangkannya.


Keyran terdiam saat mendengar penjelasan istrinya itu. Namun sesaat kemudian dia kembali menatap Nisa dengan tatapan sinis. "Baiklah, aku maklum jika kau kasihan padanya. Tapi kenapa kau tidak bilang kalau kau mengikuti event ini bersamanya?"


Nisa lalu memalingkan pandangannya ke samping. "Ahaha, i-itu ... sebenarnya aku tahu tentang event ini karena Lucas. Aku kan baru mengikuti kursus pastry selama sebulan, kemampuanku masih kurang jika dibandingkan dengannya. Jadi aku setuju mengikuti event ini untuk mencari pengalaman dan belajar lebih banyak lagi."


Nisa lalu mengubah nada bicaranya menjadi pelan, "Soal kenapa aku tidak bilang padamu ... kau itu kan tukang cemburu tidak jelas. Seandainya aku bilang kalau aku akan mengikuti event ini dengan pria lain bisa-bisa kau tidak memberiku izin."


"Apa kau bilang?! Aku tukang cemburu tidak jelas?! Apa menurutmu tidak pantas jika aku cemburu saat melihat istriku berpelukan dengan pria lain?!"


"Tetap saja cemburu mu itu salah, kau langsung marah tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau itu memang tukang cemburu tidak jelas! Bahkan Valen pun juga bisa menyadarinya!"


Sontak saja Keyran dan Nisa bersamaan melihat ke arah Valen. Namun Valen yang enggan terlibat dalam pertengkaran itu langsung memilih untuk membuang muka. "Ahaha ... penyakit mata langka saya tiba-tiba kambuh, biasanya ini terjadi hanya jika ada adegan mesra atau pertengkaran suami istri yang terjadi di dekat saya."


Aku tak mau terlibat, Nyonya setiap kali dalam posisi terpojok selalu saja mempersulitku.


Pertengkaran Nisa dan Keyran itu tentu saja tak luput dari perhatian orang-orang yang berada di sana. Tetapi dengan tatapan mata Valen yang sinis orang-orang itu pun akhirnya menjauh dan berhenti berbisik di sekitar mereka.


Nisa yang masih menatap Keyran dengan tatapan kesal akhirnya menundukkan kepala dan menghela napas. Dia lalu mengambil butter cream dan melanjutkan menghiasi cupcake yang tadinya dia tinggalkan.


"Kau mengabaikan aku?" tanya Keyran seakan tidak terima.


"Terus kau mau aku melakukan apa? Meladeni rasa cemburu mu itu? Jika kau di sini cuma mau marah-marah, lebih baik kau pergi saja." ucap Nisa tanpa memandang ke arah Keyran.


"Kenapa malah kau yang merajuk?" tanya Keyran yang kemudian tak mendapatkan respons apa pun dari Nisa.


Valen yang tak mau suasana semakin runyam kemudian mendekat ke arah Keyran dan membisikkan sesuatu kepadanya. "Tuan, sebaiknya jangan ajukan pertanyaan apa pun lagi. Suasana hati Nyonya sedang buruk, terlebih lagi beliau juga kelihatan kelelahan. Orang kelelahan kalau merasa terganggu tidak akan membawa hal baik."


"Benar juga, jadi apakah sekarang aku yang harus membujuknya?"


"Iya," jawab Valen sambil mengangguk.


Tentu saja harus dibujuk, wanita kan selalu merasa paling benar.


Keyran menuruti saran dari Valen dan mencoba untuk menurunkan gengsi nya. Dia mendekati Nisa lalu bicara dengan nada yang lembut, "Aku akui kalau aku cemburu berlebihan, tapi aku melakukannya karena aku mencintaimu. Lagi pula suami mana yang tidak cemburu jika istrinya berpelukan dengan pria lain? Maaf karena tadi aku bicara kasar dan berteriak padamu, jangan marah lagi, oke?"


"Habisnya kau menuduhku berbohong, padahal tadinya aku sangat mengharapkan kedatanganmu, tapi begitu kau datang, kau malah berteriak dan menuduhku yang tidak-tidak."


Tiba-tiba saja Keyran memeluk Nisa dari belakang, sontak saja Nisa yang kaget langsung berteriak, "Apa yang kau lakukan?! Apa kau sudah gila?! Ini tempat umum dan banyak orang yang melihat kita! Cepat lepaskan aku!"


"Maafkan aku dulu baru setelah itu aku akan melepasmu!"


"Iya-iya ... aku maafkan! Sekarang lepas!" pinta Nisa sambil meronta.


"Tidak mau! Kau tidak tulus!" Keyran semakin mengeratkan pelukannya.


"Lalu bagaimana agar kelihatan tulus?!"


"Bicara dengan lembut, baru aku melepasmu."


Nisa lalu mengambil napas panjang. "Huft ... Darling~ Keyran sayangku, aku memaafkanmu. Lain kali kau jangan berteriak dan menuduhku lagi, oke?"


"Oke," Keyran mengangguk namun masih belum melepaskan pelukannya.


"Kenapa belum lepas?"


"Hehe, aku hanya ingin memelukmu saja."


"Darling, darling, darling! Aku mohon!" Keyran langsung melepaskan pelukannya, namun setelah itu Nisa kembali berteriak. "Ck, lihat ini! Gara-gara kau memelukku tiba-tiba sekarang cupcake yang aku hias jadi rusak! Bentuknya jadi jelek!"


"Maaf ..." ucap Keyran dengan tampang memelas.


Nisa menghela napas dan kembali melanjutkan menghias cupcake yang lain. Tetapi Keyran yang tidak mau diabaikan lagi tiba-tiba berkata. "Darling, sekarang aku di sini, apa kau merasa melupakan sesuatu?"


"Apa?" tanya Nisa dengan nada malas.


"Kejutan untukku yang kau maksud mana?"


"Ah, sebentar! Kau duduklah di sana dulu!" pinta Nisa sambil menunjuk ke arah kursi dan meja berukuran kecil yang memang ditujukan untuk pengunjung.


"Baiklah," Keyran lalu duduk di kursi yang berada tidak jauh dari sana. Lalu tak lama kemudian Nisa mendekatinya dengan membawa sebuah kue souffle cokelat yang dihias dengan sangat cantik.


"Tadaaa! Ini kejutan untukmu, aku membuatnya sepenuh hati khusus untukmu! Kau cobalah!"


"Baiklah, akan aku coba." ucap Keyran dengan senyuman.


Valen tiba-tiba mendekat ke arah Nisa dan mencolek pundaknya. "Maaf mengganggu, tapi ada orang yang mau membeli kue Nyonya."


"Eh?!" Seketika Nisa menoleh dan ternyata benar bahwa ada seorang gadis yang sedang berdiri dan tengah menunggu.


Nisa langsung kembali ke pos dan tersenyum canggung kepada gadis itu. "Maaf membuat menunggu, mau kue yang mana?"


"Tidak apa-apa, emm ... aku mau macaroon dan cupcake masing-masing 10 buah. Untuk cupcake nya bisakah dihias seperti unicorn?"


"Bisa, mohon tunggu sebentar!"


Saat Nisa tengah sibuk menyiapkan pesanan cupcake, tiba-tiba saja lagi-lagi Keyran mendekatinya dan mengambil sebuah cupcake yang masih polos.


"Kau mau apa?!" bentak Nisa sambil merebut cupcake itu dari tangan Keyran.


"Memangnya apa lagi? Tentu saja aku mau membantumu." jawab Keyran dengan santainya.


"Aku tidak butuh bantuanmu!"


"Ayolah darling, biarkan aku membantumu. Aku kasihan melihatmu yang kelelahan, lagi pula ini juga termasuk hal romantis jika kita lakukan bersama."


"Persetan dengan romantis! Kau tak punya keahlian dan bisa mu cuma mengganggu! Ini juga bukan tentang romantis atau tidak! Kau itu bukan peserta event ini, aku bisa didiskualifikasi dan gagal dapat sertifikat jika kau membantuku!"


"Berani-beraninya melarang suami membantu istri, siapa yang buat aturan seperti itu?!"


"Tentu saja pendiri event ini!"


"Cih, cuma pendiri event! Kalau aku mau aku bisa mengubah aturan ini!" Keyran lalu melihat ke arah Valen. "Panggil orangnya ke sini! Aku mau protes!"


"Hah?!" Valen ternganga.


"Astaga, aku mohon berhentilah mengacau!" Nisa lalu melotot kepada Valen dan menunjuk ke arah Keyran. "Bawa Tuan mu ini pergi! Ajak dia kembali ke kantor, tempat ini tidak cocok untuknya!"


"Anu ... t-tapi Nyonya ..." Valen berkeringat dingin.


"Aku tidak akan kembali ke kantor! Padahal gedung ini milikku tapi bisa-bisanya kau mau mengusirku dari sini." ucap Keyran penuh penekanan.


"Lalu apa maumu?! Aku mohon jangan ganggu aku!!" teriak Nisa yang mulai frustrasi.


"Aku mau menetap di sini! Lagi pula aku juga tidak mengganggumu. Yang aku inginkan sederhana, aku cuma ingin melihat dan menemani istriku."


"Sudah aku selesaikan. Sekarang adalah waktunya pekerjaanku sebagai suami. Tentu saja aku harus mendampingi istriku. Kau harusnya bangga punya suami romantis sepertiku, Valen pun tahu kalau aku ini adalah pria yang romantis."


"Iya, Tuan memang pria romantis." ucap Valen dengan senyum terpaksa sambil menunjukkan jari jempol nya.


Tapi romantis dalam ukuran yang tidak normal.


"Baguslah, kau bisa kembali ke kantor! Aku akan menetap di sini sampai acara selesai."


"Baik Tuan," Valen pun pergi dengan riang hati karena akhirnya dia tidak lagi harus menyaksikan tindakan konyol kedua majikannya itu.


"Nah, jadi bagaimana darling? Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Keyran dengan senyuman.


"Ada satu hal yang bisa kau bantu. Kau kembalilah duduk di kursi tadi, habiskan souffle cokelat yang telah aku buat dan jangan mendekat ke sini lagi! Kalau kau lapar atau bosan menunggu karena diam saja di sana, aku akan bawakan lagi kue untukmu. Kau menurutlah dan jadilah suami yang baik. Mengerti darling?"


"Mengerti." Sesaat kemudian Keyran kembali berkata, "Apa syarat untuk jadi pemenang event ini?"


"Mudah saja, semua kue yang telah aku siapkan di sini harus habis. Peserta yang berhasil menjajakan dessert nya sampai habis dalam waktu tercepat adalah pemenangnya." jawab Nisa dengan senyum terpaksa.


Tapi sekarang kau malah mengacau di sini. Harapanku untuk menang telah kandas.


"Oh begitu. Baiklah, aku mengerti!" Keyran lalu menyingkir dari sana dan kembali duduk ke kursi semula. Dia juga kembali melanjutkan menyantap souffle cokelat yang baru sedikit dia makan.


Nisa bernapas lega lalu tersenyum. "Bagus, suami pintar~ istrimu pasti bangga~"


Seorang pengganggu telah berhasil Nisa bereskan, dia kemudian memasang senyuman kepada gadis yang tadi memesan kue nya. "Maaf atas gangguannya tadi, sebagai permintaan maaf akan saya berikan macaroon ekstra."


"Ah, tidak apa-apa. Terima kasih atas bonus nya." ucapnya dengan senyum canggung.


Nisa kemudian dengan cepat menyiapkan pesanan gadis itu. Saat menyerahkan pesanan itu dia tersenyum dan berkata, "Tolong nanti tuliskan review yang bagus di papan untuk membantu penilaian, terima kasih~"


"Iya."


Gadis itu pun pergi, sedangkan Nisa malah berekspresi lesu karena dessert miliknya masih tersisa cukup banyak. Orang-orang yang datang tidak seramai saat ada Lucas seperti tadi. Ditambah adanya kehadiran Keyran yang membuat orang-orang menjadi sungkan untuk datang, harapan Nisa untuk menang telah pupus.


Keyran yang menyadari ekspresi istrinya itu lalu mengeluarkan ponselnya. Dia mengetikkan pesan yang akan dia tujukan untuk Valen.


°°°


Aku punya tugas untukmu. Kau bagikan uang kepada karyawan bagian humas, suruh mereka gunakan uang itu untuk membeli dessert buatan istriku di acara event! Dan jangan lupa suruh mereka agar jangan berpakaian seragam kantor! [Keyran]


^^^Tapi bagaimana jika Nyonya curiga dan mengenali wajah mereka? [Valen]^^^


Suruh saja karyawan baru yang melakukannya! Kau aturlah agar jangan sampai ada kesalahan! Aku mau istriku menang! [Keyran]


^^^Baik Tuan, akan saya kerjakan. [Valen]^^^


°°°


Keyran menyimpan ponselnya dan tersenyum kepada Nisa. Tetapi Nisa justru membalasnya dengan tatapan malas, "Apa? Kau mau kue lagi?"


"Tidak, tapi apa kau butuh bantuan?"


"Memangnya apa yang bisa kau bantu?"


"Kau bilang kau akan menang jika semua dessert mu terjual habis. Bagaimana jika aku saja yang memborongnya?"


"Sembarangan! Juri acara ini tidak bodoh, kau mau membodohi siapa? Ulasan pelanggan di papan juga penting!"


"Cih, itu tidak menyalahi aturan. Kau saja yang gengsi meminta bantuan suamimu yang sempurna ini."


"Iyaa ... kau paling sempurna!!"


Tiba-tiba saja datanglah seseorang yang tidak asing, dia adalah Reihan yang datang bersama dengan pacarnya. "Yo~ Kakak benaran ikut event toh! Aku kira cuma omong kosong."


Nisa membisu dan menatap malas dengan kehadiran adiknya yang satu itu. Namun di sisi lain Reihan juga kaget dengan kehadiran Keyran di sana. "Kakak ipar juga di sini!"


"Iya, aku di sini untuk membantu." jawab Keyran dengan senyuman.


"Bantu apa?" Reihan kebingungan.


"Yaa ... dia sangat membantu, anggap saja dia sebagai penglaris!" sahut Nisa dengan nada ketus.


"Pffttt ... hahaha! Kasihan sekali nasibmu kakak ipar, kau dianggap sebagai bentuk ilmu hitam oleh istrimu yang tidak tahu diri ini~" ejek Reihan dengan muka minta dihajar.


"Pergi sana! Lagi pula untuk apa kau di sini?"


Reihan tidak menjawab pertanyaan dari Nisa, tapi dia malah memasang senyuman kepada pacarnya. "Maaf ya sayang, kakakku memang begini. Maklum ya."


"Gapapa kok sayang," ucap pacarnya itu sambil menggandeng tangan Reihan dengan manja.


"..." Nisa membisu, memperhatikan pacar adiknya itu dari atas sampai bawah.


Kasihan, padahal dia cantik tapi malah dapat adikku yang playboy sebagai pacarnya.


"Kak Nisa, aku mau dessert nya dong! Aku mau 2 pie ceri, satu untukku dan satunya lagi untuk pacarku."


"Oh, pacar yang mana?" tanya Nisa dengan alis terangkat sebelah.


"Sayang, apa maksudnya?! Kamu punya yang lain selain aku?"


"M-mana ada? Aku orangnya setia, di hatiku cuma kamu seorang Maya!"


"Dasar! Bahkan salah sebut namaku! Kita putus!"


Gadis itu berekspresi hampir menangis dan langsung berlari pergi dari sana.


"Diana tunggu!" teriak Reihan.


"Namaku Fayza! Dasar playboy sialan!"


Melihat pacarnya yang lari, Reihan justru tidak mengejarnya, tapi malah melotot kepada Nisa. "Kakak kenapa sih? Nggak suka lihat orang bahagia?"


"Kau ini keterlaluan, bahkan namanya saja sampai lupa gara-gara saking banyaknya pacar. Bertobatlah sebelum terlambat. Kecil-kecil jadi playboy, besar nanti mau jadi apa? Jadi casanova terus kena HIV baru tahu rasa!"


"Apa sih? Toh aku pacaran nggak main yang aneh-aneh. Sekarang kencanku gagal gara-gara Kakak. Bye, aku mau cari pacar lagi!"


"Tunggu dulu!" cegah Nisa sambil menahan tangan Reihan.


"Kakak mau apa?" tanya Reihan dengan nada malas.


"Bantu aku! Kau sudah di sini, setidaknya belilah sebuah dessert lalu tulislah ulasan yang bagus di papan!"


"Iya deh, nanti akan aku tulis ... Penjual tidak ramah, bintang satu!"


"Sialan, aku sungguh-sungguh! Tulis ulasan yang bagus! Atau begini saja, kau lihatlah sekitarmu!"


"Ya, terus?"


"Di sini banyak gadis cantik yang berkunjung, kau bisa berburu di sini! Carilah pacar sebanyak mungkin, lalu setiap kau dapat pacar ajaklah ke sini untuk membeli dessert ku dan menulis ulasan yang bagus! Kalau kau mau membantuku, maka ..." Nisa tiba-tiba mendekat dan berbisik. "Saat ujian tiba nanti, aku akan suruh Ivan agar mencuri data bocoran soal ujian dari dinas pendidikan. Bagaimana? Setuju, kan?"


"Kakak sesat! Tapi aku suka cara Kakak, Kak Ivan memang cuma mau bekerja tanpa dibayar jika Kakak yang minta."


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Keyran penasaran.


"Haha, bukan hal yang penting!" jawab Nisa dengan senyum canggung.


"Oke, kalau begitu doakan aku agar berjaya!" ucap Reihan penuh semangat.


"Semoga berhasil adikku sayang~" ucap Nisa sambil melambaikan tangannya.


Maafkan aku Lucas, aku menggunakan cara yang curang untuk menang. Tapi aku janji kalau aku akan menyimpan sertifikatmu nanti sebaik mungkin.