Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Keluarga Sederhana (3)


Tanpa terasa waktu dengan cepat berlalu, Keyran bersama dengan ibu mertuanya juga sudah menyelesaikan pekerjaan mereka di halaman. Mereka berdua berdiri berdampingan, menatap sekeliling dan tersenyum puas.


Halaman itu kini telah sepenuhnya menjadi lebih cantik, bunga-bunga anggrek yang beragam jenis tersusun rapi, dan tidak sedikit juga ada yang digantung yang seakan membuat pemandangan kian mengagumkan. Bahkan saking banyaknya anggrek yang berada di halaman itu, halaman itu kini terlihat seperti taman bunga anggrek.


Namun tiba-tiba saja Bu Rika berhenti tersenyum, tangannya menunjuk ke arah wajah Keyran. "Ada tanah di wajahmu. Bersihkan sendiri, jangan manja!"


"E-eh?!" Keyran kelabakan dan segera mengusap kedua pipinya.


Memangnya siapa juga yang minta dibersihkan? Aku ini memang bukan anak manja, tapi ... suami yang manja.


"Oh iya, terima kasih sudah membantu. Jika ingin masuk rumah jangan lupa cuci tangan dan kakimu dulu. Dan ... satu hal lagi, jika nanti ada yang mencariku bilang saja aku ada urusan, aku harus ke rumah bu kades membahas masalah anggaran desa."


"Dahh ... sekarang kau bebas melakukan apa saja saat rumah sepi~ Tidak akan ada lagi yang mengganggumu~" ucapnya sambil melambaikan tangan dan berjalan pergi meninggalkan Keyran seorang diri.


Keyran yang masih berdiam diri di tempat mulai tersenyum, dia berkacak pinggang lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Haahhh ... dasar, semua orang terkesan sengaja membiarkan aku dan Nisa berduaan. Hehe, tentu saja kesempatan seperti ini tidak bisa dilewatkan."


Tak berselang lama kemudian, Keyran yang telah selesai membersihkan diri akhirnya kembali menuju ke kamar. Sesampainya di kamar dia melihat Nisa yang masih tertidur pulas, bahkan posisi tidurnya sama sekali tidak berubah.


Keyran menyeringai, rasa ingin mengganggu istrinya tiba-tiba muncul dari dalam dirinya. Dia segera naik ke atas ranjang, tangannya dengan lembut membelai wajah Nisa dan kemudian mencubit pipi yang chubby itu.


"Nisaaa ... ayo bangun! Tidak boleh tidur siang terlalu lama!"


"Uuhhmmm!!" secara refleks Nisa menepis tangan Keyran yang mencubit pipinya, dengan mata yang masih tertutup dia kemudian memalingkan wajah ke sisi yang lainnya.


"Cih, masih belum bangun juga!"


Keyran yang agak kesal segera merubah posisi tidur Nisa yang semula tengkurap menjadi terlentang, namun Nisa masih belum bangun juga. Mendadak Keyran tersenyum lalu berbaring di samping Nisa, bahkan dia juga mendekapnya ke dalam pelukannya.


Tak lama setelah didekap, Nisa pun membuka mata dan mengerutkan dahinya. Dia yang masih setengah sadar langsung berteriak, "Ihhh ... Kenapa mengapitku di bawah ketiakmu?! Basah pula ... kalau berkeringat banyak mandi sana!"


Nisa meronta dan mencoba untuk lepas dari dekapan Keyran namun percuma, Keyran yang tertawa puas terus menahan Nisa untuk tetap menempel padanya.


"Hummhhh ... cepat lepaskan bodoh! Mengapa menggangguku?! Dan kenapa tumben sekali jam segini sudah berkeringat banyak?!"


"Hohoho, kau tanya mengapa~ Tentu saja ini karenamu! Kau pantas mendapatkannya, karena kau ketiduran jadinya aku yang menggantikan tugasmu membereskan halaman. Kau juga masih berhutang jasa pijat plus-plus dariku. Tadi kau mengeluh dan menyuruhku mandi, dan sebenarnya memang itulah tujuanku membangunkanmu! Mandikan aku!"


"Hah?!" Nisa tersentak dan seketika berhenti meronta. Keyran yang menyadari hal itu juga perlahan melepaskan dekapannya. Setelahnya mereka berdua hanya saling menatap dan diam seribu bahasa.


Nisa tersenyum canggung, pikirannya mulai membayangkan hal-hal liar jika dia sungguhan memenuhi permintaan Keyran. Sedangkan Keyran justru masih diam saja, tapi tangannya masih tetap menahan tubuh Nisa agar tidak menjauh barang se inci saja dari dirinya.


"D-darling ... sepertinya permintaanmu itu kurang pantas, kau itu kan bukan bayi ... jadi kau bisa mandi sendiri. Lepaskan aku dan biarkan aku melanjutkan tidurku, oke?" pinta Nisa sambil mengalihkan pandangannya.


"Kenapa?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.


"Hahah ... kenapa apanya?" tanya Nisa dengan senyum terpaksa.


"Kenapa kau pura-pura tidak paham dengan maksudku? Lagi pula sebelumnya kita sudah pernah mandi bersama, tapi kau menolak permintaanku yang cuma menginginkan agar punggungku digosok olehmu. Kita ini suami istri, jadi permintaanku itu sangat pantas!"


"Cuma menggosok punggung katamu?! Kau pikir aku bodoh?! Aku sangat paham bahwa itu caramu untuk modus! Ini masih siang, terlebih lagi sekarang di rumah orang tuaku, jadi jangan macam-macam!"


Keyran menyeringai dan semakin erat memegangi tubuh Nisa. "Hohoho ... berada di rumah orang tua bukan sebuah hambatan~ Nanti kita bisa nyalakan keran air agar menutupi suaramu yang selalu nyaring itu~"


"K-kau serius ...?"


"Toh di rumah ini sekarang hanya ada kita berdua!"


"Apa?! Memangnya ke mana perginya orang-orang sampai hanya tinggal kita berdua?"


"Ayahmu masih bersepeda dan sampai sekarang belum kembali, ibumu ada perlu di rumah kepala desa, lalu kedua adikmu sedang bertanding futsal. Dan kau ... kau pernah bilang kalau ingin merasakan yang namanya dunia serasa milik berdua, dan sekaranglah waktunya! Jadi duhai istriku, sayangku, kekasihku, pujaan hatiku ... buanglah keraguanmu!"


"Ehmm ..." tiba-tiba Nisa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "T-tapi ini masih siang ... Aku kurang mood melakukannya sekarang ..."


"Cih, jika itu alasanmu maka aku terpaksa menggunakan cara lain!"


Keyran tersenyum, kedua tangannya yang masih menempel pada tubuh Nisa tiba-tiba merayap dan menggelitik. Dia tahu betul di bagian mana yang merupakan area sensitif Nisa.


"Hahaha ... h-hentikan! Cara ini tak akan mempan haha!"


"Mempan tuh~"


Nisa masih bersikeras tidak mau mengalah meskipun merasa geli yang tak tertahankan di sekujur tubuhnya, bahkan suara tawanya semakin lama juga semakin keras. Tapi Keyran juga tak mau kalah, dia terus menggelitiki tubuh Nisa terutama di bagian perutnya.


"C-cukup haha ... hentikan atau hahaha ..."


"Bicara dulu yang jelas baru mengancam~"


"Hahaha ... a-aku bilang ..." Mendadak Nisa berhenti tertawa dan memegangi perutnya. "Ughh ..."


"Nisa ...??" Seketika Keyran berhenti melakukan tindakannya begitu menyadari bahwa ekspresi Nisa seperti sedang kesakitan. Setelahnya dia berinisiatif membantu Nisa untuk bangun dan turut memegangi perutnya.


"Apa aku berlebihan? Apa ini berdampak pada lukamu pasca operasi?" tanya Keyran dengan nada khawatir.


"S-sepertinya iya ..." jawab Nisa sambil meringis kesakitan.


"Kita ke rumah sakit sekarang, ya? Kau bisa jalan tidak? Ah lupakan! Kemarikan tanganmu, biar aku menggendongmu!"


Nisa menggelengkan kepala, "T-tak apa ... nanti juga baikan sendiri ... "


"Apa maksudmu?! Justru hal seperti ini tidak boleh disepelekan! Pokoknya kau harus ke rumah sakit!"


"Tapi ini c-cuma ..."


"Cuma apa?! Apa kau sudah tidak peduli lagi pada nyawamu?!"


"Cuma ... cuma bohongan kok, hehe."


"Apa?!" Keyran ternganga.


"Iya, cuma bohongan. Luka di perutku itu sudah sepenuhnya sembuh, organ dalamku yang terluka juga sudah pulih, hanya saja tinggal bekasnya yang belum hilang. Jadi bagaimana aktingku barusan?"


"Jadi ... kau hanya menipuku?!"


"Iya, salah sendiri menggelitikiku sampai aku tertawa dan mengeluarkan air mata. Ngomong-ngomong ekspresimu tadi itu lucu juga, harusnya aku pasang kamera~"


"Ini tidak lucu!! Awas kau!" Tanpa peringatan apa pun Keyran langsung kembali menggelitiki Nisa, bahkan kali ini dia melakukannya jauh lebih bersemangat ketimbang tadi.


"Hahaha ... i-iya aku salah haha... aku mohon hentikan!!" Nisa meronta tapi Keyran masih belum puas melampiaskan kekesalannya. Bahkan setelahnya ketika Nisa berkali-kali memohon agar dilepaskan, Keyran tidak menggubrisnya dan terus menggelitiki Nisa.


"B-berhenti haha ... paru-paruku sakit karena capek tertawa ..." ucap Nisa dengan suara tawa yang melemah.


"Kau pikir aku akan tertipu untuk yang kedua kalinya? Jangan membodohiku dengan alasan paru-parumu sakit!"


"Hahah ..." sejenak Nisa terdiam dan menahan tangan Keyran, lalu dia menatap Keyran dengan tatapan memelas.


"Huh? Sekarang kau berharap aku merasa iba? Kau mau buat alasan bagian mana lagi yang sakit?" tanya Keyran dengan nada ketus.


"Lepaskan aku, ya? Kali ini perutku benar-benar sakit ..."


"Pembohong~ kau pembohong~" Keyran semakin erat memegangi tubuh Nisa.


"Cih, sial!!" Tiba-tiba Nisa mendorong Keyran sekuat tenaga hingga membuat dirinya sepenuhnya terlepas. Namun setelah mendorong Keyran dia langsung turun dari ranjang dan berlari secepat mungkin masuk ke kamar mandi.


BRAAKK!!!


Keyran hanya bisa ternganga saat melihat tingkah anehnya Nisa. Namun tak lama kemudian Nisa membuka pintu kamar mandi, dia membuka pintu itu sedikit, bahkan dengan wajah malu melambaikan tangannya dan dengan suara lirih meminta Keyran mendekat.


Keyran menghela napas, dia berjalan mendekat seperti permintaan Nisa. Saat posisinya sudah dekat dengan pintu kamar mandi dia berhenti, lalu menyeringai sambil menyilangkan tangannya.


"Hohoho, jadi kau berinisiatif menyiapkan air untukku terlebih dulu?"


"Bukan! Jangan ge-er! Justru aku butuh bantuanmu untuk mengambilkan m-menstrual cup untukku ..."


"Hah?!" Keyran ternganga.


"Ehmmm ... m-mungkin aku terkesan menghindari permintaanmu, tapi aku baru saja benar-benar datang bulan. Mungkin karena ... siklusnya tak teratur, jika dihitung sebenarnya ini lebih cepat seminggu dari tanggalnya ... Ini diluar kendaliku, j-jadi jangan marah, ya?"


"..."


"A-aku menaruhnya di cabinet dekat ranjang, laci nomor dua! Masih baru kok, jadi masih dalam kemasan. Hehe ... tolong ya, darling?"


"..."


"Uuhhh ... aku janji di lain kesempatan akan memberimu jatah dua kali lipat!"


"..."


"Tiga kali!"


"Sepakat." Keyran langsung melakukan apa yang diminta oleh Nisa. Dan ketika kembali dia menyerahkan benda itu pada Nisa, namun sesaat benda itu jatuh ke tangan Nisa Keyran menariknya kembali.


Nisa yang tangannya masih terulur hanya diam, dia menatap Keyran dengan tatapan kebingungan.


"Hei, kau serius memakai benda ini? Tidak mau model yang lainnya?"


"Tentu saja, aku sudah terbiasa memakainya. Kenapa kau bertanya?"


"Yahh ... bukan apa-apa, hanya saja memasukkan benda ini bukannya agak sakit?"


"Cih, dengar penjelasanku ya. Aku akui awalnya memang sempat ragu memakainya, membayangkan sebelumnya saja sudah sakit kalau jariku masuk, sebenarnya aku belum terlalu lama memakai itu. Aku mulai beralih memakainya saat ... s-saat kita sudah berhubungan ...  Jadi aku pikir, punyamu yang seukuran itu saja bisa masuk pasti cup yang berukuran lebih kecil dan elastis juga bisa!"


"Hei!!" bentak Keyran dengan muka memerah.


"Kenapa? Memang benar kok~ Lagi pula memakai cup itu lebih praktis, menampung lebih banyak, ramah lingkungan, bebas iritasi, tahan lama. Bahkan perawatannya juga sederhana, tinggal dicuci lalu ... Tunggu sebentar ... kenapa aku menjelaskan ini pada pria sepertimu?"


"Karena sudah jadi kebiasaanmu menjelaskan hal yang tidak penting."


"Huh! Cepat kemarikan!"


Keyran lalu menyerahkan benda itu pada Nisa dan setelahnya Nisa langsung menutup pintu kamar mandi. Tapi sekejap kemudian tiba-tiba Nisa kembali membuka pintu dan memasang senyuman bodohnya.


"Apa lagi?" tanya Keyran dengan nada malas.


"Yaaa ..."


Dengan penuh kesabaran yang dipaksakan Keyran akhirnya tetap memenuhi permintaan Nisa. Dia yang awalnya ingin bermesraan sekarang hanya bisa menunggu gilirannya untuk mandi.


Beberapa saat kemudian Nisa keluar dari kamar mandi dalam keadaan yang berbalutkan sehelai handuk. Sejenak dia melihat Keyran yang duduk di pinggir ranjang, kemudian dia berjalan ke arah lemari, mengambil sebuah handuk lain lalu memberikan handuk itu pada Keyran.


"Mandilah, nanti kalau sudah selesai cepat turun! Aku akan menyiapkan makan siang untukmu, sekarang kau pasti kelaparan."


Sesaat setelah Nisa berbalik dirinya dikejutkan oleh Keyran yang mendadak menariknya hingga jatuh tepat di atas pangkuan Keyran.


"Apa yang kau lakukan?! Cepat mandi lalu turun untuk makan!"


"Aku memang mau makan, tapi aku ingin memakanmu~"


"Hah? Kau lupa kalau aku sedang datang bulan?"


"Tidak kok, tapi ..." Keyran menarik salah satu tangan Nisa lalu tersenyum nakal kepadanya. "Perfect, kuku-mu pendek~"


Nisa tersentak dan wajahnya memerah, dia menunduk tersipu malu. "A-aku memang masih bisa memuaskanmu dengan tanganku dan lainnya ... T-tapi jika kita mengulas pengalaman sebelumnya ... kita selalu melanjutkan sampai *******. Sedangkan dengan kondisiku sekarang mustahil sampai *******, j-jadi apa kau yakin tetap ingin melakukannya?"


"100% yakin!"


"Hehe baiklah, gendong aku~"


"Nah, manja seperti ini yang kusuka~"


Tanpa basa-basi lagi Keyran langsung membopong Nisa dan membawanya kembali masuk ke kamar mandi. Tak perlu dijelaskan lagi apa yang mereka berdua lakukan, tentu saja hubungan suami istri yang wajar dilakukan.


***


Sore harinya, Keyran dan Nisa yang saat ini masih di kamar, sibuk dengan ponselnya masing-masing, namun tetap bermesraan dengan posisi Nisa yang tiduran di pangkuan Keyran.


TOK TOK TOK!!!


"Kakak! Ini aku Reihan, aku masuk ya!"


"Masuklah!" teriak Nisa.


Reihan pun segera masuk, saat dia melihat Nisa dan Keyran yang terkesan mengabaikannya, dia pun berkacak pinggang sambil menggelengkan kepalanya.


"Ckck, kalian betah banget di kamar terus. Nggak mau keluar ketemu orang-orang apa?"


"Mager," jawab Nisa.


"Ihhh ... kakak sibuk main apa sih?"


"Game lah, makanya diamlah biar aku menang!"


"Kalau kakak ipar?"


"..." Keyran membisu namun menunjukkan layar ponselnya pada Reihan.


"Itu apa?"


"Website portal bisnis, aku sedang mengecek berapa jumlah traffic dan perkembangan terakhir."


"Owhh ..."


Apaan sih? Nggak paham anying.


"Kenapa kemari?" tanya Nisa.


"Oh iya, kakak udahan dong main game itu! Paling juga gagal naik rank. Aku kemari itu mau ajak kakak main PS!"


"Serius? Belum capek? Katanya habis futsal."


"Futsal mah nggak terlalu bikin capek, ayolah kak ... kakak jarang-jarang loh main ke sini!"


"Iya deh ... tapi Dimas ikut main, kan?"


"Dimas ikut kok, tambah orang kan tambah asik. Toh sekarang dia sudah stand by di sana."


"Oke sip!" Nisa langsung mematikan ponselnya dan beranjak dari pangkuan Keyran. Namun sesaat setelah turun dari ranjang dia tiba-tiba menatap Keyran. Keyran yang menyadari hal itu juga menatap Nisa balik dengan tatapan bingung.


"Ada apa?"


"Darling~ ayo ikut main PS!"


"Hah?!" Keyran dan Reihan terkejut secara bersamaan. Namun setelahnya Reihan tiba-tiba membungkam mulutnya dan langsung berlari keluar kamar. Setelah berada di luar, Reihan tetap membungkam mulutnya sambil mengintip keadaan di dalam kamar.


Apa yang barusan aku dengar tadi?! Masa kakakku yang bagaikan iblis itu bisa bilang darling dengan nada manja begitu?! Arghhh ... sialan! Paru-paruku sakit menahan tertawa. Pokoknya harus aku tahan biar nggak kena pukul sama Kak Nisa.


Reihan masih terus memantau keadaan sambil menahan tawa, dia sangat penasaran dengan bagaimana caranya Nisa membujuk Keyran agar mau bergabung bermain game bersama mereka.


Tak lama kemudian keluarlah Nisa dan Keyran, menyadari hal itu Reihan bergegas turun untuk menghampiri Dimas yang kemudian diikuti oleh Nisa dan Keyran.


Awalnya Dimas sedikit bingung karena Keyran ikut serta, namun kebingungan itu terpecahkan oleh penjelasan dari Keyran yang mengaku dipaksa oleh Nisa.


Mereka berempat duduk di karpet dan menghadap ke televisi, masing-masing memegang konsol game seakan sudah siap memulai permainan. Namun tiba-tiba saja Nisa bersuara, "Kita ini mau main apa sih?"


"Eh iya juga, mau yang RPG atau shooting?" tanya Dimas.


"Shooting aja lah, tembak-tembakan lebih seru! Tadinya mau battle royal kalau cuma bertiga, tapi sekarang kakak ipar ikut jadinya berempat, kita bagi jadi 2 tim. Aku sama kak Nisa!" ucap Reihan yang kemudian langsung berpindah tempat di samping Nisa.


"Curang! Enak aja langsung pilih tim sesukanya!" teriak Dimas.


"Lah? Memangnya kenapa? Takut kalah duluan ya~" ejek Reihan.


"Diamlah dua kecebong kampret! Tanya dulu pendapat suamiku," Nisa lalu menoleh ke arah Keyran. "Bagaimana menurutmu?"


"Apa tidak bisa aku satu tim denganmu? Lalu apa hadiahnya jika nanti menang?"


"Eh?! Iya juga ya ... kurang seru kalau tanpa taruhan," Nisa lalu menatap kedua adiknya. "Ada ide?"


"Bagaimana kalau taruhan uang jajan?" tanya Reihan.


"Ogah! Uang jajanku terlalu berharga buat jadi taruhan!" sahut Dimas.


"Yeee ... takut kalah~"


"Ck, itu kurang adil. Uang jajanku itu sama saja dengan jatah uang bulananku, dan coba kalian pikir berapa nominal uang jajan suamiku?!"


Nisa melirik ke arah Keyran, sedangkan Reihan dan Dimas langsung tersadar akan suatu hal.


"Hemm ... dasar CEO crazy rich, mau taruhan saham gimana?" tanya Dimas.


"Berapa persen?" tanya Keyran dengan wajah datar.


"Heii!!" Seketika Nisa membungkam mulut Dimas. "Dasar sinting! Kau mau keluarga kita bangkrut?!"


"Humphhh!" Dimas menepis tangan Nisa.


Cih, bilang saja enggan membongkar rahasiamu yang punya saham di kasino dan club. Padahal untung banyak kalau misalnya menang.


"Aku tahu!" teriak Reihan penuh semangat. "Kita taruhan diri sendiri, tim yang kalah harus jadi babu tim yang menang selama 24 jam! Permintaan apa pun pokoknya harus dituruti!"


"Hmm ... boleh juga," ucap Nisa sambil melirik ke arah Keyran.


"Aku setuju, tapi soal pembagian tim harus adil! Ngomong-ngomong ... apa sebelumnya kakak ipar pernah main game shooting di PS?" tanya Dimas.


"Belum, aku jarang bermain game. Bahkan ... terakhir kali bermain kurasa saat aku berusia 10 tahun, dan game yang aku mainkan saat itu ... game menyusun batu yang akan mendapatkan poin jika sudah sejajar."


"Maksudmu tetris?" tanya Nisa seakan tidak percaya.


"Ohh ... jadi namanya tetris!"


"Pffttt .... tetris dari 10 tahun!" Dimas terkekeh.


"Hahaha! Njirr ... mana ada orang main PS mainnya tetris!" Reihan menimpali.


"Huh, dasar noob!" Nisa memandang remeh.


*noob adalah pelesetan dari newb singkatan dari newbie atau orang baru yang belum berpengalaman. Terkadang, istilah noob meluas untuk mengejek pemain yang payah.


"Kenapa kau ikut-ikutan mengejekku? Tadi aku sudah menolak tapi kau tetap memaksaku!!" Keyran geram sekaligus malu.


"Hahaha, cuma game kok, jadi jangan marah~ lagi pula ini permainan tim, jadi mana mungkin kau bermain sendirian." Nisa tersenyum.


"Jadi kau satu tim denganku, kan?"


"Ehmmm ..." Nisa mengalihkan pandangannya, lalu menyeret kedua adiknya dengan paksa dan berkumpul membentuk lingkaran untuk berdiskusi.


"Pokoknya Kakak harus se-tim dengan suami kakak! Tanggung jawab dong, kan kakak sendiri yang ajak!" keluh Reihan.


"Iya tuh, se-tim dengannya sama saja dengan kalah sejak awal!" keluh Dimas.


"Hei-hei, kalian mau mati hah?! Aku juga baru tahu kalau dia beban, tapi taruhannya jadi babu buat yang kalah. Kalian mau kualat karena kakak-kakak kalian jadi babu?! Pokoknya harus pakai cara yang adil!"


"Yang adil itu bagaimana?! Diundi? Batu kertas gunting? Hompimpa?" tanya Dimas penuh kekesalan.


"Nah, kita hompimpa!"


"Huhh oke."


Mereka pun dengan kompak berkata, "Hompimpa alaium gambreng. Mpok Ijah pakai baju rombeng!"


Tepat saat kata "rombeng" ketiga bersaudara itu menunjukkan tangannya, Nisa menampakkan punggung tangan, Reihan menampakkan telapak tangan, sedangkan Dimas menampakkan punggung tangan. Sudah jelas di antara mereka siapa yang kalah.


"MWHEHEHE ..." Nisa dan Dimas dengan kompak tersenyum sambil menatap Reihan.