
"Arghhh! Pokoknya harus 3 kali!" teriak Reihan tidak terima.
"Mana ada 3 kali?! Kalah ya kalah! Hohoho, ayo segera mulai permainannya wahai calon babu~" ejek Dimas yang segera kembali duduk di karpet.
Reihan masih tak terima dengan hasil hompimpa, dia kemudian menarik-narik tangan Nisa dan memohon kepadanya, "Kakak jangan egois dong, kakak harus temani suami kakak! Kakak harus jadi istri yang berbakti!"
"Diamlah bodoh! Apa hubungannya main PS dengan istri berbakti? Kau ajari dulu kakak iparmu itu~ buat dia paham bagaimana cara bermain dengan benar~"
Nisa segera menyusul Dimas, bahkan mereka berdua melakukan tos yang sengaja agar membuat Reihan semakin kalah mental. Sedangkan Reihan, dengan berat hati dia juga segera menyusul, duduk tepat di sebelah Keyran lalu mengambil konsol game dengan keadaan pasrah.
"Kau sepertinya terpaksa satu tim denganku," ucap Keyran yang merasa dirinya seakan berbeda sendiri dan kurang cocok dengan orang-orang itu.
"Yah ... memang," gumam Reihan.
"Sebaiknya kalian main saja tanpaku." Keyran hendak berdiri namun dia ditahan oleh Reihan untuk tetap duduk.
"Hahahah ... kakak ipar santai saja, aku siap kok mengajarimu. B-bahkan sampai kakak yang semula newbie jadi pro!" Reihan tersenyum canggung.
"Cih, butuh waktu lama untuk melatih skill sampai jadi pro. Kita mana punya waktu persiapan sebanyak itu cuma buat tanding PS?" ucap Dimas dengan nada remeh.
"Memangnya kenapa?! Aku percaya kok kalau kakak ipar berbakat, aku ajari satu kali pasti langsung paham!" Reihan membantah.
"Heh, seorang babu sedang menghibur diri sebelum kekalahannya tiba~" Nisa terkekeh.
"Sialan, yang ada kakak yang terlalu percaya diri! Awas saja kalau nanti sampai kalah, ku suruh cosplay jadi hamster baru tahu rasa!"
"Mimpi."
Tatapan sengit penuh kekesalan pun terjadi, Nisa dan Dimas kompak menatap Reihan dan tatapan itu mengisyaratkan agar Reihan mengalah sejak awal dibanding harus menanggung malu nantinya. Sedangkan Reihan, dia masih bersikeras dan tak mau kalah. Akhirnya pun dengan semangat membara dia melotot ke arah Keyran.
"Kakak ipar lihat kan?! Mereka meremehkan kita! Pokoknya kita harus buktikan kalau kita bisa menang dan buat mereka jadi babu! Aku ajarkan sekali dan kakak perhatikan baik-baik!"
"Baiklah!" jawab Keyran yang mulai bersemangat, tentu saja dia termotivasi karena jika menang maka Nisa sudah pasti akan menjadi babu nya.
Reihan pun mulai menjelaskan satu per satu fungsi tiap tombol pada konsol game, lalu dilanjutkan dengan cara memilih karakter, cara merakit senjata, juga booster lainnya yang meningkatkan kemampuan di dalam permainan.
Peraturan bermain secara tim juga sederhana, siapa yang bertahan hidup sampai akhir ialah pemenangnya. Ketika Reihan selesai menjelaskan dasar-dasar permainan pada Keyran, Nisa dan Dimas yang sudah agak jenuh menunggu pun sudah tidak sabar lagi ingin memulai permainan.
Namun sesaat sebelum tombol play ditekan, tiba-tiba seseorang dari belakang mereka berempat berkata, "Wah wah ... anak-anak ibu semuanya pada akur ya~"
Secara spontan mereka berempat menoleh ke belakang.
"Tumben rapi, ibu mau ke mana?" tanya Nisa.
"Apa? Tumben rapi katamu?! Ini yang pertama kali kau katakan saat baru saja bertemu ibumu?! Setidaknya puji ibumu atau tanyakan kabarnya dulu!"
"... Hehe, momsky yang cantik bak bidadari Nawang Wulan ini mau ke mana?"
"Mau ke mal belanja keperluan bulanan. Biasanya kau akan marah kalau tak diberitahu. Nah, mau titip apa?"
"Emm ... titip ... titip ice cream cokelat! Yang cup jumbo!"
"Aku juga, aku yang rasa vanila!" ucap Reihan.
"Oke, kalau Dimas?"
"Titip akhlak sebungkus, buat Kak Nisa." jawab Dimas sambil mengorek salah satu telinganya.
"Sembarangan, akhlakmu juga minus dasar cebong kurang ajar!!" bentak Nisa sambil menabok bahu Dimas.
"Haha, kau ini ada-ada saja. Jika akhlak memang dijual maka sudah ibu jadikan makanan pokok untuk kakakmu sedari balita, dan makanan pendamping asi untuk kau dan Reihan."
"Lah? Aku diam kok aku kena juga," gumam Reihan.
"Hah ... ya sudah, kau juga ibu belikan ice cream sama seperti kakak-kakakmu." sejenak terdiam lalu menoleh ke arah Keyran. "Kau titip apa?"
"A-aku ... tidak usah," Keyran tergagap sambil tersenyum canggung.
"Ayolah, sudah kubilang berkali-kali agar jangan sungkan, kau sudah kuanggap sebagai anak sendiri. Nah, apa ada sesuatu yang kau inginkan?"
"Ehmm ... sungguh, tidak usah."
"Dia suka keju, belikan saja yang rasa cream cheese." sahut Nisa.
"Ohh baiklah, padahal tinggal bilang begitu saja sudah cukup."
"Oh iya, apa ibu mau belanja ke mal sendirian?" tanya Reihan.
"Kata siapa? Lihat di sana!"
Mereka bertiga langsung melihat ke arah ibunya menunjuk, dan benar saja yang mereka lihat adalah ayahnya yang tampak lesu sedang memutar-mutar kunci mobil di jarinya.
Ya, tepat! Ialah seseorang yang sudah menjadi babu tanpa jalur taruhan terlebih dulu. Ketiga bersaudara itu hanya mengerutkan dahi ketika memandang sang ayah.
Tiba-tiba saja Reihan berkata, "Ayah, biar aku saja yang temani ibu belanja! Ayah gantikan aku main PS, aku dengan senang hati jadi babu ... m-maksudku membantu ibu membawa barang belanjaan!"
Reihan hendak berdiri namun dia ditahan oleh Nisa untuk tetap duduk. "Hoho ... jangan coba-coba kabur dari taruhan~ Duduk tenang, dan mulailah bermain!"
Usaha Reihan untuk diam-diam kabur dari taruhan terbaca oleh Nisa, memang tidak dapat dipungkiri bahwa dia masih kurang percaya diri. Dan tanpa basa basi lagi akhirnya permainan pun dimulai.
Permainan dimulai dengan lokasi berkumpul tiap tim yang berbeda yang telah diatur oleh sistem, permainan tak hanya soal menembak dan bertahan hidup sampai akhir, tapi juga menyelesaikan misi yang diberikan oleh sistem guna untuk mendapatkan poin yang nantinya bisa ditukar dengan item seperti senjata baru dan alat pelindung yang lebih berguna.
Sistem juga menyediakan karakter tambahan di dalam game, yaitu zombie. Membunuh zombie bisa menghasilkan poin dan juga mengasah skill bermain, dan itulah hal yang dilakukan oleh Keyran sepanjang waktu selama bermain, seakan-akan sama sekali tidak ada niatan untuk memburu atau membunuh karakter dari tim lawan.
Berbeda halnya dengan Nisa dan Dimas, mereka yang sudah mahir memiliki taktiknya sendiri. Mereka memutuskan untuk berpencar, sembari menyelesaikan misi mereka berdua dari arah yang berbeda berusaha untuk memburu Reihan. Satu-satunya ancaman bagi mereka adalah Reihan. Membunuh Reihan terlebih dulu dan menyisakan Keyran yang masih awam adalah rencana mereka.
Reihan yang menyadari hal itu merasa panik dan berteriak, "Kakak ipar jangan cuma bunuh zombie dong! Cukup kaya di dunia nyata saja, jangan kaya poin di game juga! Bantu aku, kita kan satu tim!"
"Memangnya bagaimana caranya membantumu? Lokasi kita saja berbeda," jawab Keyran yang terus fokus menembaki para zombie.
"Kakak yang keluyuran nggak jelas kejar koloni zombie, dasar buta map!"
"Memangnya di peta kau titik warna apa?"
"Warnaku sama dengan punyamu, yang warna lain itu tim musuh! Arghhh ... sialan, mereka berdua semakin mendekat!"
"Hehehehe," Nisa dan Dimas tertawa puas.
Reihan semakin panik, meskipun Keyran sudah lumayan paham tapi tetap saja tidak bisa diandalkan. Reihan hanya bisa melarikan diri masuk ke dalam hutan sambil terus membunuh para zombie, dan tentu saja jaraknya dari Keyran semakin jauh. Namun dia tak kekurangan cara, poin yang didapatkan dari membunuh zombie dia tukar menjadi item jebakan. Dia memasang banyak ranjau tersembunyi dan berharap akan meledak jika Nisa atau Dimas tak sengaja menjumpainya.
Memakan waktu yang cukup lama demi memburu Reihan, dan ada Dimas yang mulai merasa tidak sabaran. Dia nekat memburu Reihan tanpa memedulikan jebakan ranjau yang dipasang, alhasil HP atau Health Point yaitu status darah atau kesehatannya terus berkurang.
Berbeda halnya dengan Nisa, dia cukup sabar dan terus berhati-hati pada jebakan yang bisa saja meledak. Dan tak lama kemudian tibalah saatnya bagi Dimas berhadapan dengan Reihan, begitu melihatnya Dimas langsung menghujani Reihan dengan peluru yang membuat Reihan terpaksa menembak balik sembari terus mundur.
Ketika nyawa hampir habis, Reihan masih sempat memakai 1 item kotak medis yang tersisa, namun sial bagi Dimas, meskipun nyawanya terhitung masih lebih banyak, secara tidak sengaja menginjak ranjau yang dipasang oleh Reihan, ranjau meledak dan dia terbunuh lebih awal.
"Ck, sial!!" teriak Dimas penuh kekesalan.
"Hahaha, siapa sangka kau yang mati lebih awal!" ejek Reihan penuh kepuasan.
DORR!!!
"Mampuss," Nisa menyeringai.
"W-what ...???"
Reihan masih tak percaya bahwa dirinya telah mati karena Nisa yang tiba-tiba menembaknya dengan senapan runduk dari kejauhan.
"Haha, sekarang seri." Dimas terkekeh.
"Gawat! Kabur kakak ipar! Sekarang tinggal kau seorang! Kak Nisa sudah pasti akan memburumu! Cepat sembunyi atau gali tanah sekalian! Pokoknya jangan sampai mati!" Teriak Reihan sangat panik.
"I-iya!" Keyran kelabakan.
"Wah wah ... jangan menghindar dari istrimu~ hatiku sakit loh~" Nisa tersenyum puas.
"Masa bodoh!"
"Hehe ... darling kejam~"
Mereka terus kejar-kejaran tanpa henti, bahkan Reihan dan Dimas juga tak henti-hentinya berteriak memberi arahan pada masing-masing harapan terakhirnya. Namun beberapa saat kemudian Keyran tiba-tiba berhenti berlari.
"Ini bagaimana?" Keyran kebingungan.
"Lah iya, di depan ada kawanan zombie elite, di belakang ada Kak Nisa. Coba kakak ipar ke samping lalu masuk hutan!" ucap Reihan.
"Masuk ke hutan sama saja, malah jauh lebih sulit karena zombie bisa saja terhalang pepohonan. Hei Nisa, ayo kita berdamai saja lalu bersama-sama membantai kawanan zombie itu!"
"Damai pantatmu! Salah sendiri lari ke arah situ, toh setelah membantai zombie kau pasti akan memanfaatkan celah untuk membunuhku! Lalu aku menjadi babu!"
"Lupakan soal taruhan, kita berdamai untuk seterusnya saja!"
"Nah, iya. Jadi di antara kita nggak ada yang perlu jadi babu!" sahut Reihan.
"Mana bisa begitu?!!" teriak Nisa dan Dimas bersamaan.
"Huh, kalian saja yang enggan karena kekalahan sudah di depan mata!" lanjut Dimas.
"Kau mau sampai kapan diam saja? Setelah aku menyusulmu aku akan langsung menembakmu~"
"Haha ... sudah kubilang berdamai saja, kita ini suami istri loh, masa kau tega menembak suamimu sendiri?"
"Jangan bawa-bawa status dalam game! Dengar ya, sebentar lagi aku sampai di tempatmu, terserah kau mau sembunyi atau bunuh diri, yang jelas tiada ampun bagimu!"
"..."
Jika soal skill tentu saja lebih unggul Nisa. Tapi poinku masih banyak, lebih baik aku tukar dengan item pertahanan saja.
Keyran segera menukar semua poinnya untuk item pertahanan juga memperkuat baju tempur nya. Tentu saja dia kelabakan, namun dia mengabaikan arahan dari Reihan, dan lebih memilih untuk memasuki sebuah gedung terlantar dengan niatan bersembunyi di sana.
Dan tak lama setelah itu Nisa juga turut memasuki gedung sambil bersiap-siap untuk menembak, bahkan setiap benda yang berpotensi menjadi tempat bersembunyi juga dia tembaki.
"Darling, where are you~ sembunyi di lantai berapa kau?"
"Bodoh jika aku memberitahumu!"
"O-oke aku tukar!"
"Heh," Nisa menyeringai.
Bagus, sesuai dengan rencanaku.
Nisa terus menyusuri lantai demi lantai, dan tepat saat dia sampai di lantai ke-14 dia menemukan keberadaan Keyran.
DOR! DOOR! DOORR!!
"Hadapi aku, jangan kabur seperti pengecut!"
"Aku kabur demi harga diriku, sebuah penghinaan jika orang sepertiku jadi babu!"
"Kau kan bisa menembak balik!"
Pengejaran itu terus terjadi hingga Keyran sampai di atap gedung, dan tentu saja ketika Nisa menyusulnya dia segera dalam posisi siaga untuk menembak.
"Mau lari ke mana lagi hah? Lompat saja kalau masih mau kabur!"
"..." Keyran terdiam lalu menatap Reihan, tapi Reihan malah membisu dan menggelengkan kepala.
"Ayo kak tembak kepalanya! Headshot! Headshot!" teriak Dimas.
"Diamlah, aku tahu apa yang kulakukan!"
DORR!!
Nisa melepaskan satu tembakan yang tepat di kepala Keyran, namun yang terjadi adalah Keyran masih hidup.
"Wah wah ... ternyata kau upgrade semua baju tempur, habis berapa poin?"
"Hitung saja sendiri."
"Haha baiklah, kau mengupgrade baju tempur, tapi yang ku upgrade karakter. Lihat saja, HP-ku jauh lebih banyak darimu. Mari kita lihat siapa yang akan mati duluan~"
Tidak ada pilihan lain kecuali saling tembak-menembak. Nisa selalu akurat menembak di titik vital, berbeda dengan Keyran yang meskipun mempunyai banyak amunisi terkadang dia masih meleset.
Tidak hanya mereka berdua yang tegang, justru Reihan dan Dimas yang tidak berhenti berteriak panik karena inilah babak penentuan.
Tak butuh waktu lama HP keduanya terlihat berkurang drastis, untuk sesaat tiba-tiba saja Nisa berhenti menembak dalam kondisi kritis ini.
"Lempar granat sekarang!!" teriak Reihan yg kemudian menutup mata dengan tangannya.
"I-iya!"
BOOMMM!!!
Granat meledak tepat setelah dilempar, meskipun lemparan Keyran meleset tapi berkat area ledakan serta status darah Nisa yang sedikit akhirnya pun Nisa mati.
"A-aku menang ...??" Keyran tak percaya dan tangan yang masih memegang konsol bergetar.
"Menang!? Masa ....??" Reihan perlahan mengintip, begitu memastikan bahwa benar-benar menang dia langsung berdiri lalu berteriak, "Yey! Akhirnya nggak jadi babu!"
Berbeda halnya dengan Dimas yang ternganga, dia yang awalnya sangat percaya diri akan menang namun kenyataannya justru sebaliknya. Dimas langsung merebut konsol yang dipegang oleh Nisa lalu berteriak kepadanya.
"Kok bisa kalah?! Padahal tinggal tembak sekali lagi bisa menang, kenapa tiba-tiba berhenti?! Kakak sengaja kalah ya mentang-mentang lawan suami sendiri!"
"Peluruku mendadak habis," jawab Nisa dengan ekspresi muram.
"Poin kakak kan masih, tinggal tukar jadi amunisi! Kenapa bisa ceroboh begini sih?!"
"Perkiraanku meleset, kukira amunisinya cukup tapi tadi banyak terbuang saat masih di lantai bawah, harusnya aku tukar poin sebelum naik ke atap."
"Pokoknya ini salah kakak yang ceroboh! Jadi babu sendirian saja!"
"Hei, kau yang lebih ceroboh! Kau lupa yang mati duluan siapa?! Kau malah bukan hanya ceroboh, sudah tahu banyak ranjau tapi masih nekat! Gobl*k!"
"Kakak yang gobl*k! Tol*l!! Padahal di kehidupan nyata saja kakak lebih ..."
"Heii! Tutup mulutmu! Mau ditampar pakai raket nyamuk hah?!"
"Woo woo ... sudah cukup bertengkarnya para babu~" ucap Reihan yang tiba-tiba merangkul Nisa dan Dimas. "Menurut Undang-Undang No. 39 tentang perbudakan, sesama babu dilarang saling bergaduh dan saling melempar tanggung jawab, intinya sekali babu tetap babu."
"Ngarang, sekolah cuma sampai kantin sok-sokan paham hukum."
"Iya tuh, sampai mbak kantin juga dibuat baper biar dapat gratisan." sahut Dimas.
"Mending aku sampai kantin, ketimbang kau cuma sampai gerbang terus bolos ke warnet, absen cuma titip teman sekelas!"
"Biarin, bilang saja iri nggak bisa sering bolos karena kelas 3, aku yang kelas 2 santai ..."
"Ohhh ... kau nanti juga bakal tahu rasanya jadi kelas 3!"
"Cukup berdebatnya, sebaiknya bereskan dulu barang-barang ini." ucap Keyran.
Astaga, pantas Nisa sering bolos kuliah, ternyata sekeluarga sama saja.
Semua peralatan PS telah dibereskan, dan setelah itu dimulailah sesi pemilihan babu. Keyran dan Reihan duduk di sebuah sofa panjang, sedangkan Nisa dan Dimas duduk bersimpuh di bawah.
"Ehem, saya Reihan Raka Sutadharma, selaku dari pihak tim pemenang akan memilih terlebih dahulu siapa yang terpilih menjadi babu saya dari kedua kandidat di bawah ini~"
"Apa perlu kau bicara formal begitu? Tim kita menang itu berkat aku, kenapa kau yang pertama memilih?" tanya Keyran dengan tatapan tidak puas.
"Kakak ipar lupa yang mengajari main siapa? Aku ini mastermu loh, jadi harus hormat. Toh kakak ipar menang itu cuma kebetulan."
"Huh!"
"Ehmm ... siapa ya? Mungkin harus seleksi dulu," Reihan lalu menunjuk ke arah Dimas. "Kau, panggil aku Yang Mulia!"
"Bangs*t!"
"Wah ... babu kurang ajar," Reihan menunjuk ke arah Nisa. "Panggil aku Yang Mulia, sesuai kaidah kebahasaan yang benar!"
"Fu*k!" ucap Nisa sambil mengacungkan jari tengahnya.
"Kalian berdua ini babu tapi nggak paham perbabuan! Jadi babu harus ikhlas dong, kan sesuai taruhan!"
Ini seru tapi bahaya, mereka berdua sudah pasti akan menyimpan dendam, kalau Dimas balas dendam paling biasa saja, tapi kalau Kak Nisa ... Lebih baik pilih Dimas yang aman, terlebih lagi sepertinya kakak ipar juga menginginkan Kak Nisa jadi babu nya.
"Oke, aku pilih Dimas yang jadi babu-ku!"
"Sialan, nanti pasti permintaannya aneh-aneh." gumam Dimas.
"Nah, otomatis Nisa jadi babu-ku!" Keyran lalu mendekat ke arah Nisa dan memegang dagunya. "Cium aku!"
"Hah?!"
Seketika suasana menjadi hening, Nisa masih ternganga tapi kedua adiknya menatapnya sambil tersenyum nakal.
"Lumayan, berasa nonton drakor gratis." ejek Dimas.
"Mwhehehe ... ciuman! Ciuman! Tunggu sebentar! Dim, cepat ambil hp! Nanti kirim ke grup chat keluarga pasti bakal heboh!" ucap Reihan antusias.
"Awas kalian kalau berani!" Nisa beralih memandang Keyran lalu perlahan bergeser mundur sambil tersenyum canggung. "Haha, saya tidak berani Tuan ... kasta kita berbeda, hamba hanyalah seorang babu, mana bisa hamba melakukan itu dengan Tuan yang merupakan majikan. Terlebih lagi adik-adik hamba tidak buta dan banyak kurang ajar, tidak baik memperlihatkan di depan mereka yang belum cukup umur. Mohon permintaannya diganti saja ..."
"Nggak seru ah, sok-sokan malu, padahal tadi siang berisik begitu."
"Dasar babu nggak tahu sopan santun!" Reihan langsung membungkam mulut Dimas.
Keyran dan Nisa langsung memalingkan wajahnya yang memerah, mereka berdua salah mengira hal yang dimaksud Dimas adalah yang mereka lakukan di kamar mandi.
"Ehem, ya sudah lain kali saja." Keyran salah tingkah lalu kembali duduk di sofa.
"Haha ..." Reihan tersenyum canggung lalu melirik ke arah Dimas. "Emmm ... aku haus."
"Apa sih?"
"Majikanmu haus ya ambil minuman dong! Buatkan jus mangga! Pokoknya harus diblender sampai halus, sampai kalau diminum bisa langsung mengalir ke lambung!"
"Hhhh ... sendiko dawuh Gusti," Dimas langsung berdiri lalu menuju ke dapur.
"Ada perintah untukku?" tanya Nisa pada Keyran.
"Ehmm ... aku juga haus, kau bantu Dimas buat jus mangga!"
"M-mangga?"
"Ada masalah?"
"T-tidak, perintah majikan adalah mutlak. Hamba permisi ..."
Tinggal Keyran dan Reihan yang masih di sana, dan tiba-tiba saja Reihan menatap Keyran dengan tatapan kurang puas sambil berkata, "Bisa-bisanya kakak menyuruh Kak Nisa buat jus mangga."
"Memangnya ada yang salah tentang mangga?"
"Kakak belum tahu kalau Kak Nisa benci mangga?"
"Belum, yang aku tahu Nisa cuma benci anjing."
"Yahh ... keduanya memang berhubungan sih,"
"Bagaimana bisa buah dan hewan berhubungan? Coba jelaskan!"
"Itu cerita lama, saat Kak Nisa masih SD. Kejadiannya dimulai saat liburan semester, ayah selalu mengajak semuanya liburan ke rumah kakek di desa. Kakak sejak kecil sudah nakal, suatu hari dia tergoda oleh mangga milik Pak Kusnadi, tetangga kakekku. Kakak diam-diam memanjat pohon dan mencuri mangganya tanpa ketahuan si pemilik, tapi saat dia turun dia ketahuan oleh anjingnya. Alhasil dikejarlah Kak Nisa."
"Kakak sok melawan, dia melempari anjingnya Pak Kusnadi dengan mangga curian, anjing itu semakin marah lalu berhasil menggigit pantatnya! Kakak langsung menangis dan teriak-teriak, bahkan saat dokter bilang kalau bukan luka serius kakak masih menangis. Dia menangis karena takut kena rabies, sampai rumah juga masih menangis. Reputasi kakek juga sedikit ternodai, secara dia saat itu menjabat sebagai kepala desa. Dan sampai sekarang, dengan anjing chihuahua yang mungil saja takut, dia juga nggak doyan lagi buah mangga."
"Ohh ... begitu. Ngomong-ngomong ... ada yang ingin aku tanyakan padamu. Ini soal ulang tahun Nisa yang sebentar lagi, kira-kira hadiah apa yang cocok untuknya?"
"Hmm ... hadiah," sejenak Reihan terdiam lalu bicara pelan, "Ajak dia bulan madu!"
"B-bulan madu?!"