Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Bermuka Dua


Selang beberapa saat kemudian. Saat ini Keyran dan Nisa masih berada dalam dunia mesra mereka. Nisa duduk di depan meja rias dengan nyaman, sedangkan Keyran memegang hair dryer untuk mengeringkan rambut Nisa.


TOK TOK TOK!


"Permisi Tuan, Nyonya ... apakah saya mengganggu waktunya?" tanya Bibi Rinn di balik pintu.


"Tidak, Bibi bisa katakan saja ada urusan apa!" sahut Keyran.


"Ada tamu yang datang, Tuan. Keluarga Nyonya Nisa datang berkunjung."


"Sial, untuk apa mereka kemari?" ucap Nisa spontan dengan suara lirih, tetapi dapat dipastikan jika Keyran mendengarnya.


"Hei, keluargamu datang berkunjung tapi kenapa kau malah mengumpat?"


"Aku malas bertemu mereka, habisnya mereka itu aneh."


"...." Keyran membisu.


Padahal sebenarnya kau itu juga sama anehnya.


"Beritahu mereka untuk menunggu, sebentar lagi aku akan turun dan menemui mereka!" pinta Nisa.


"Baik Nyonya, akan saya sampaikan. Saya permisi."


***


Tak lama kemudian Nisa dan Keyran turun dan menuju ke ruang tamu. Setibanya di sana, mereka melihat semua keluarga Nisa tengah menunggu kedatangan mereka. Mereka berdua duduk bersebelahan di sofa yang sama.


Sekilas Nisa memandang ke arah minuman yang telah disuguhkan di atas meja, dia memperhatikan minuman itu dan menyadari jika belum ada satu pun dari keluarganya yang minum. Dengan ekspresi datar Nisa pun berkata, "Ada urusan apa kalian kemari tanpa mengabariku dulu?"


Semuanya terdiam dengan kepala yang tertunduk, lalu ayahnya Nisa pun berkata, "Kami datang kemari karena ingin bertemu denganmu, kami bermaksud meminta maaf."


Rika pun mengangkat kepala. "Apa yang dibilang ayah benar, Nisa. Kami semua ingin meminta maaf, tolong maafkan kami karena sebelumnya tak mempercayaimu. Sejujurnya, ibu sangat malu. Padahal aku ibumu, tetapi aku seakan-akan tak ada bedanya dengan orang lain. Ibu malu karena baru sekarang meminta maaf padamu."


"Aku juga minta maaf, harusnya aku tahu kalau Kakak dijebak," ucap Dimas tanpa berani menatap wajah Nisa.


"Aku pun, Kak Nisa pasti mengalami banyak kesulitan karena banyak yang kecewa pada Kakak. Ini salah kami karena meragukan Kakak ..." imbuh Reihan.


Nisa tak bereaksi apa-apa untuk menanggapi permintaan maaf dari seluruh keluarganya. Di sisi lain Keyran juga diam, dia tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya. Ayah dan ibu Nisa kembali menundukkan kepala, mereka berdua beranggapan jika putrinya tak memaafkan mereka, karena mereka pikir kesalahan mereka sebagai orang tua memang buruk sebab tak mempercayai anaknya.


Nisa lalu mengubah posisi dengan menyilangkan kakinya sambil berkata, "Minumlah!"


"Eh?!" Sontak saja semuanya kaget.


"Perjalanan kalian dari rumah sampai ke sini lumayan jauh, ditambah juga sedang hujan. Minumlah selagi masih hangat agar kalian tidak kedinginan."


"J-jadi ... Kak Nisa sudah memaafkan kami?!" tanya Reihan.


"Siapa bilang? Kau pikir semudah itu memaafkan kesalahan kalian?!"


"Kalau Kakak belum memaafkan kami kenapa Kakak peduli?" tanya Dimas.


"Huh, itu dua hal yang berbeda. Lagi pula aku juga paham jika bukan aku saja yang sempat berada dalam kesulitan. Ayah dan ibu pasti juga merasa malu karena rumor itu, bahkan mungkin saja ada yang mencaci maki kalian jika tidak becus dalam mendidikku."


"Kalian berdua pun juga sama, tanpa kalian beritahu aku sudah tahu jika kalian berdua sempat tidak datang ke sekolah berhari-hari. Kalian itu adikku, pastinya banyak orang-orang yang ingin mengorek lebih dalam tentangku lewat kalian. Demi menghindari hinaan atau pertanyaan yang membuat kalian terpojok, jadinya kalian lebih memilih tidak masuk sekolah."


"Aku paham betul kita ini hidup di lingkungan seperti apa, orang-orang yang tak punya hubungan denganku juga menghinaku. Dan sekarang setelah faktanya terbongkar, mereka berbalik menghina orang lain. Sungguh sekumpulan babi bodoh, masalah ini membuat kalian pun terkena imbasnya. Tapi meskipun aku tahu kalian juga kesusahan, jangan harap aku akan memaafkan kalian dengan mudah!" ucap Nisa penuh penekanan.


"Lalu bagaimana agar kau mau memaafkan kami?" tanya Ibu.


"Mudah, dengan satu syarat!"


"Apa syaratnya?" tanya Ayah.


Nisa langsung menyeringai. "Heh, syaratnya adalah ... Alihkan 10 persen dari seluruh jatah warisan yang ayah punya padaku!"


"A-apa?!" Semuanya melongo, bahkan Keyran merasa tidak habis pikir dengan permintaan istrinya itu.


"Tunggu Nisa, apa kau menginginkan sesuatu? Kau bisa langsung katakan saja padaku," bujuk Keyran.


"Diamlah, yang aku incar kali ini tidak bisa kau penuhi." Nisa lalu beralih menatap ayahnya dengan tatapan tidak sabar. "Jadi bagaimana? Ayah setuju, kan?"


"...." Gilang membisu.


"Nisa, bukankah saat ini kau sudah keterlaluan? Ayahmu masih sangat sehat, kenapa kau buru-buru soal warisan?" tanya Rika dengan nada lembut.


"Haiss ... Ibu tidak mengerti. Aku memintanya sekarang karena demi menjamin masa tuaku. Aku tak perlu memikirkan bagaimana karierku karena aku punya suami yang bisa diandalkan seperti Keyran. Teman, keluarga, intinya apa pun sebutannya itu. Yang namanya manusia tetap bisa mengkhianatiku, tapi uang tidak."


"Lagi pula jika dipikir-pikir aku sudah tidak butuh kalian. Aku tak perlu ayah, karena sekarang aku punya suami yang punya banyak uang. Aku juga tidak perlu ibu karena setiap hari sudah ada Bibi Rinn yang menjamin makananku. Dan untuk kedua adikku ini ... sebenarnya aku juga tidak butuh kalian, sejak awal yang aku inginkan adalah adik perempuan."


"Nisa, sepertinya ucapanmu ini sudah keterlaluan," bisik Keyran sambil mencubit pelan pinggang Nisa.


"Masa bodoh, aku cuma bilang soal kenyataan!"


"Tetap saja itu tidak baik!" Keyran lalu melirik canggung ke arah keluarga Nisa.


"Jadi bagaimana keputusan ayah? Permintaanku simpel loh, kalian tak perlu berlutut ataupun menangis supaya mendapat maaf dariku. Setidaknya harga diri kalian tidak terluka."


"Ehem!" Keyran memalingkan wajahnya, dia tak lagi membantah karena merasa tersindir oleh ucapan Nisa barusan.


Sial, kenapa malah mengungkitnya sekarang? Memang benar jika aku melakukan itu, aku membuang harga diriku demi mendapatkan maaf darimu. Untung saja kau kembali, setidaknya harga yang kubayar sepadan dengan apa yang kuperoleh.


Di satu sisi seluruh keluarga Nisa masih bungkam, tak bisa disangkal jika di lubuk hati mereka terdapat keinginan untuk mengumpat Nisa saat ini juga.


Gilang menghela napas lalu menatap Nisa tajam. "10 persen, sebenarnya apa yang kau incar?"


"Villa di puncak yang semula milik kakek sudah jadi milikku. Tapi tanah di belakang villa masih milik ayah, aku menginginkan tanah itu! Dan sisa dari 10 persen dikurangi nilai tanah, aku menginginkan setengahnya dalam bentuk uang tunai, lalu setengahnya lagi dalam bentuk saham Moon Department Store."


"Kenapa kau menginginkan saham perusahaan sekarang? Saat tiba waktunya nanti maka sudah pasti saham perusahaan akan dibagikan sesuai jatahmu."


"Hehe ... itu karena, aku ingin terlibat dan punya otoritas dalam perusahaan sekarang. Jadi, aku bisa ikut andil dalam setiap keputusan Ayah. Aku akan jujur saja, meskipun Ayah adalah ayah kandungku, tetapi aku tidak bisa sepenuhnya percaya karena mengingat betapa liciknya ayah. Perlu Ayah ingat jika ini adalah syaratku, bukan maksudku mau memeras Ayah~" ucap Nisa dengan senyum polos.


"Ckck ... kau memang putriku. Lalu sisa uang itu mau kau buat apa? Kau sendiri tadi yang bilang jika soal uang maka suamimu bisa diandalkan."


"Aku ingin mewujudkan keinginanku saat kecil. Sampai sekarang sebenarnya aku masih suka melihat bintang, uang itu rencananya akan aku buat sebagai dana untuk membangun observatorium di atas tanah yang aku inginkan tadi."


"Coba bayangkan saja. Punya villa di puncak, halaman depan penuh dengan kebun stroberi, lalu halaman belakang terdapat observatorium! Hidup sebagai gangster itu melelahkan, jadi aku ingin menghabiskan masa tuaku nantinya di sana! Haha, bagus bukan?" ucap Nisa dengan antusias.


"Yaa ... bagus, itu pun jika Kakak berumur panjang," celetuk Reihan.


"Pasti berumur panjang! Aku ini gangster, orang jahat, dan rata-rata orang jahat itu berumur panjang!"


"Sembarangan, riset dari mana?"


"Ada, tentu saja risetnya ada! Dan satu fakta menarik lagi, orang yang menyebalkan itu cenderung berumur pendek!" bentak Nisa sambil melotot.


"..." Reihan langsung membisu dan berkeringat dingin.


"Nah Ayah, lupakan gangguan dari hama barusan. Sekarang tolong katakan apa keputusan Ayah!" pinta Nisa dengan tatapan berbinar.


"Karena keinginanmu itu masih termasuk naif, ayah setuju. Besok ayah akan mengutus orang untuk mengurus surat-suratnya."


"Oke, dengan begini kita sepakat! Aku juga sudah memaafkan kalian, dengan hati yang ikhlas ...."


IKHLAS PANTATMU! (teriakkan batin semua orang)


"Oh iya Nisa, ngomong-ngomong ... kau terhitung sudah lama menghilang, bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Gilang dengan senyum kematian.


"K-kuliah yaa ..." Senyuman Nisa seketika menghilang.


"Iya, kuliah. Jangan bilang kau sudah lupa di universitas mana kau kuliah. Mungkin ayah ibumu ini tidak jadi malu karena isu yang beredar itu, tapi kau tidak berencana membuat kami malu dengan kau yang tidak menyelesaikan kuliahmu, kan?"


"Mana mungkin aku membuat kalian malu. Nanti aku akan konsultasi dengan dosenku dulu." Nisa lalu beralih menatap Keyran, memberi isyarat bahwa dirinya butuh bantuan.


"Kenapa menatapku? Aku kan bukan dosenmu," Keyran terkekeh.


"Huaaa ... aku mohon bantu aku, aku benar-benar lupa jika masih punya tanggung jawab kuliah ..."


Begitulah akhir dari perbincangan keluarga yang semula penuh emosi. Semuanya berakhir dengan mereka menertawakan Nisa yang merengek meminta bantuan dari Keyran.


Sekitar 2 jam kemudian hujan telah usai, tampak langit sore hari yang cerah. Keluarga Nisa yang telah menyelesaikan maksud kunjungan akhirnya pulang. Keyran dan Nisa juga mengantar kepulangan mereka sampai di teras depan.


Namun, belum sempat mereka berdua masuk kembali ke dalam. Datang sebuah mobil mewah berwarna hitam yang tidak asing lagi bagi mereka.


"Key, ayahmu benar-benar kemari?" tanya Nisa seakan tidak percaya.


"Bukankah ini hal bagus? Dia lebih kaya dariku, kau bisa memerasnya sepuasmu."


"Hei!"


Meskipun merasa agak canggung, Nisa tetap menyambut kedatangan ayah mertuanya dengan baik. Berbeda halnya dengan Keyran, dia malah bersikap acuh tak acuh terhadap ayahnya sendiri. Suasana canggung itu berlanjut hingga ke ruang tamu, bahkan Bibi Rinn juga terkejut dengan kedatangan Tuan Muchtar yang tiba-tiba.


"Anu ... ada apa gerangan dengan kedatangan Ayah mertua yang tiba-tiba ini?" tanya Nisa dengan senyum canggung, dia berpura-pura tidak tahu.


"Ayo cepat katakan apa maksud Ayah!" ucap Keyran dengan tidak sabar, entah kenapa dia jadi kesal saat melihat wajah ayahnya.


"Kedatanganku ke sini untuk meminta maaf atas ketidakadilan yang terjadi padamu, Nisa. Aku juga meminta maaf sebesar-besarnya mewakili Daniel ..."


"Cih, kenapa Ayah harus mewakili dia? Apa dia tidak bisa meminta maaf dengan mulutnya sendiri?" celetuk Keyran.


"Haiss ... kau ini, tidak bisakah kau lebih lunak pada keluargamu sendiri? Aku sudah mengatakan padamu kalau Daniel baru selesai menjalani operasi, dia masih terbaring di rumah sakit. Bahkan Natasha ... dia tiba-tiba juga jatuh sakit. Mereka berdua memang bersalah, tapi tolong maklumi mereka jika tidak bisa datang kemari secara langsung untuk meminta maaf."


"Tidak apa-apa, aku sudah puas hanya dengan kedatangan Ayah mertua," ucap Nisa dengan senyuman palsu.


Heh, lagi pula sebenarnya itu juga ulahku. Aku memang sengaja mencelakai pasangan setan itu! Dan Natasha, otak dibalik semua ini. Aku juga mengatur agar hidupnya hancur sehancur-hancurnya.


"Oh iya Nisa, bisakah kau melakukan konferensi pers?"


"Tidak bisa, konferensi pers untuk apa? Membersihkan nama baik untuk Ayah?" Keyran menyela dan menatap sinis ayahnya.


"Astaga, ini bukan seperti yang kau kira. Aku tidak bermaksud memintanya demi tujuan pribadiku sendiri. Tapi cobalah lihat keadaannya sekarang, daripada semakin banyak beredar isu yang tidak-tidak, lebih baik jika pihak dari kita yang lebih dulu memberikan klarifikasi. Nisa adalah tokoh utama dalam permasalahan ini, publik akan lebih percaya jika dialah yang menjelaskan lewat pertemuan pers."


Nisa diam seribu bahasa, dia tak tahu harus menerima atau menolak permintaan dari ayah mertuanya. Keyran yang menyadari hal itu langsung menggenggam sebelah tangan Nisa, dengan nada lembut dia pun berkata, "Tidak usah memaksakan diri jika kau tidak mau."


"T-tapi Key ..." Nisa tak melanjutkan perkataannya dan langsung menundukkan kepala.


"Nah, sekarang Ayah sudah bisa lihat sendiri bukan? Meminta Nisa bicara di depan publik itu berlebihan, bayangkan saja dia harus berhadapan dengan para wartawan yang sebelumnya pernah menghinanya. Lagi pula kenapa mesti Nisa? Daniel yang harusnya bicara! Yang membuat Ayah jadi malu juga dia! Jika Ayah ingin menghindari isu lain, maka tunggu saja sampai Daniel sembuh total!"


"Lantas? Kenapa Daniel bisa terluka?" tanya Tuan Muchtar dengan tatapan curiga terhadap Nisa.


"Itu perbuatanku, akulah yang menyuruh orang untuk mencelakainya!" ucap Keyran tanpa ragu.


"..." Nisa melongo, dia menatap suaminya seakan tidak percaya.


Demi melindungiku Keyran rela mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dia lakukan.


Di sisi lain Tuan Muchtar juga terkejut dengan pengakuan putranya. Dia hanya bisa menghela napas kasar dan geleng-geleng kepala. "Kenapa kau bisa bertindak begitu kejam?"


"Cih, terserah Ayah mau bilang apa. Tapi Daniel yang menyulut api terlebih dulu! Aku akui tindakanku memang tidak benar, silakan saja jika Daniel mau melaporkanku lebih lanjut. Tindakan Daniel pada istriku juga kurang ajar, maka aku juga akan dengan senang hati melaporkannya balik!"


Atmosfer di ruang tamu serasa menjadi lebih berat. Nisa yang tak tahan lagi dengan hal tersebut lalu menggenggam tangan Keyran, berusaha untuk membuatnya jadi lebih tenang.


"Sudahlah Key, tak perlu membuat masalah ini semakin berlarut-larut. Lagi pula aku sungguh tidak apa-apa, jadi kau tak usah melawan ayahmu lagi demi membelaku."


Keyran tertegun, lalu tiba-tiba mengusap kepala Nisa sambil berkata, "Aku selalu berada di pihakmu. Hanya ini yang sedang kulakukan."


"Hahh ..." Tuan Muchtar lagi-lagi menghela napas kasar. "Padahal kau dan Daniel sama-sama putraku, aku membesarkan kalian juga dengan cara yang sama. Tapi sekarang kalian berdua malah bertingkah terang-terangan ingin saling membunuh seperti ini."


"Aku minta maaf padamu, Key. Aku memang seorang ayah yang gagal. Aku juga ingin meminta maaf padamu sekali lagi, Nisa. Maaf telah membuatmu terseret dalam semua ini ..." ucapnya dengan tatapan sayu.


"Tidak perlu meminta maaf padaku, dan sebaiknya Ayah mertua istirahat saja," ucap Nisa dengan senyuman.


"Eh? Maksudmu?" tanya pria tua itu kebingungan.


"Maaf sebelumnya jika aku kurang sopan, tapi Ayah mertua sudah tidak muda lagi. Hubungan antara Keyran dan Daniel sudah terlanjur memburuk, mereka berdua memang tanggung jawab Ayah mertua, tapi mereka juga sudah sama-sama dewasa dan punya kehidupan masing-masing."


"Sejujurnya, hubunganku dengan Natasha juga terbilang tidak baik. Entah kebetulan atau takdir macam apa hingga aku sampai menjadi iparnya. Sudah terlambat jika menyesal sekarang, dan pastinya Ayah mertua juga tidak ingin menghabiskan masa tua dengan penyesalan, kan?"


"Saranku, Ayah mertua tak perlu terlalu memikirkan soal kehidupan kami. Entah hubungan ini nantinya jadi semakin buruk atau justru bisa membaik, semua itu bukan sepenuhnya kesalahan Ayah mertua, tapi memang itulah jalan yang kami pilih."


"Lalu ... Ayah mertua juga tidak perlu terlalu mencemaskan Keyran lagi. Aku kan menantu yang Ayah mertua pilih, aku pasti bisa mengurus putramu dengan baik. Aku janji akan mengingatkan dia kalau dia salah, aku juga tidak akan membiarkan dia menambah beban pikiran bagi Ayah mertua lagi. Intinya percayakan saja dia padaku!"


Untuk beberapa saat Tuan Muchtar masih dibuat ternganga oleh semua ucapan Nisa, kemudian dia tersenyum tipis, terlihat seperti perasaan kelegaan yang terdalam. "Syukurlah aku mendapatkanmu sebagai menantu. Aku berjanji padamu akan mendisiplinkan Daniel agar kelak dia tidak akan membuat masalah denganmu lagi."


"Dan yaa ... saranmu cukup bagus, aku memang berhak menikmati masa tuaku. Dan satu hal lagi ... aku akan sangat menikmati masa tuaku seandainya aku memiliki cucu. Tapi tak perlu terburu-buru."


Nisa langsung menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Ehmm ... akan kami usahakan."


"Ayah ...!!" teriak Keyran.


"Apa? Aku kan sudah bilang tidak perlu terburu-buru."


"Heh, kali ini aku setuju denganmu!"


"Sial," gumam Nisa yang langsung melirik ke arah Keyran serta mencubit pinggangnya dengan kuat.


Keyran mengernyit lalu membalas cubitan Nisa di tempat yang sama. "Haha, padahal baru tadi pagi kau bilang ingin anak kembar. Artinya kita harus bekerja lebih keras, iya kan darling?"


"B-benar darling..."


"Ayah lihat, kan? Menantu Ayah ini benar-benar baik ..."


Huh, rasakan ini Nisa! Kau memeras keluargamu sendiri, lalu bersikap sopan dan berbudi luhur di hadapan mertuamu. Inilah akibatnya jika kau bermuka dua.