
"Nisa, bangunlah! Aku malas menggendongmu!" teriak Keyran sambil menepuk-nepuk pipi Nisa agar terbangun dari tidur.
"Emmm.. 5 menit lagi... zzzz..." Nisa lalu merubah posisi tidurnya menjadi miring menyamping.
"Hng! Lihat yang akan aku lakukan..." Keyran lalu memencet hidung Nisa agar dia tidak bisa bernafas. Dan seketika Nisa langsung terbangun, namun dia masih terlihat linglung. "Kau ini... bisa-bisanya ketiduran. Untung saja yang melihat kelakuanmu ini cuma aku."
"Hoamm..." Nisa menguap dan menutup mulutnya menggunakan tangannya sendiri. "Ternyata ini masih di kantor. Ngomong-ngomong apa kau sudah selesai bekerja?"
"Sudah, ayo pulang! Ayahku pasti sudah menunggu kita."
"Oke, tapi rencananya kita akan menginap berapa hari?"
"Entahlah, kita lihat saja nanti. Selama ayahku belum merasa puas, kita tidak bisa pergi dari rumahnya. Dan aku ingatkan sekali lagi, selama disana kau harus terus berpura-pura!"
"Iyaa.. aku tahu, ayo berangkat!"
Nisa langsung beranjak dari sofa dan menarik tangan Keyran dengan semangat. Namun, Keyran yang berjalan mengikuti Nisa dari belakang sedikit bingung dengan hal itu. "Kenapa kau semangat sekali?"
"Tentu saja, ayahmu pasti sudah menyiapkan makan malam yang enak untuk kita. Jadi jangan menunda lagi, jangan biarkan makanan menjadi dingin!"
"Huft..."
Isi otakmu hanya tentang makan, tidur, game dan membuat masalah. Aku penasaran apakah orang sepertimu punya tujuan hidup. Dan ironisnya aku malah menikahi orang seperti ini, sepertinya semua keberuntunganku sudah aku habiskan di kehidupan sebelumnya. Sekarang aku hanya bisa pasrah...
**
Setelah Keyran dan Nisa sampai di kediaman utama, mereka berdua mendapat sambutan hangat dari semua orang, mulai dari para pelayan, Tuan Muchtar, Nyonya Ratna, dan juga Daniel.
Benar tebakan dari Nisa, setelah sampai mereka kemudian segera diajak untuk makan malam. Namun makan malam itu tidak sesuai dengan yang dia bayangkan. Nisa membayangkan sebuah makan malam yang harmonis bersama keluarga suaminya, dan kenyataannya suasana makan malam itu sama sekali tidak harmonis, hanya ada suasana tegang yang sekali-kali diselingi oleh basa-basi tidak berguna.
Tentu saja dengan suasana seperti itu Nisa kehilangan selera, dia yang biasanya memakan hidangan mewah dengan lahap sekarang hanya memakan sedikit saja. Sama halnya dengan yang lain, mereka semua juga tidak menghabiskan makanan mereka.
Setelah acara makan malam selesai, Keyran langsung mengajak Nisa untuk segera pergi ke kamarnya. Dan saat mereka berdua memasuki kamar, Nisa sedikit dikejutkan oleh keadaan kamar yang terlihat cukup berdebu seperti jarang dibersihkan. Seketika Nisa mulai berpikir kalau selama ini suaminya tidak diperlakukan dengan adil.
"Key, apa selama ini kau dapat perlakuan seperti ini?" Nisa lalu mengusap debu di meja yang berada di dekatnya menggunakan jari telunjuk, kemudian dia menunjukkan jarinya itu pada Keyran.
"Ini bukan seperti yang kau pikirkan. Kamarku sedikit kotor karena aku tidak memperbolehkan siapa pun masuk kecuali aku sendiri, jadi tidak ada seorangpun pelayan yang membersihkan kamarku. Sekarang kamarku terlihat seperti ini karena aku jarang menginap disini."
"Owh... begitu toh," Nisa lalu menggulung rambutnya dan melipat lengan bajunya ke atas. "Sekarang kamarmu adalah kamarku juga, ayo kita bersihkan!"
"Kau jangan seenaknya mengambil hak kepemilikan barang orang, kamar ini tetap milikku, bukan kamar kita. Meskipun kau adalah istriku tapi kau hanya menumpang di rumah ini. Kamar kita berada di rumah kita sendiri, paham kan?" Keyran lalu berjalan pergi meninggalkan Nisa.
"Kau mau kemana? Ayo bersihkan kamar ini bersama!"
"Aku mau mandi, kau bersihkan saja sendiri!"
"Kenapa begitu!? Kau bilang ini cuma kamarmu, bukan kamar kita. Terus kenapa harus aku yang membersihkan kamar ini sendirian?"
"Ini adalah karmamu sendiri. Hari ini kau membolos, dan kau juga tidur di kantor, ini hukuman yang aku berikan padamu! Dan... satu lagi, setelah aku selesai mandi kau harus sudah selesai membersihkan kamar ini. Semangat ya istriku yang tekun dan rajin~" Keyran lalu bergegas pergi ke kamar mandi dan meninggalkan Nisa seorang diri untuk membersihkan kamarnya.
"Huh! Mentang-mentang ini rumah keluargamu kau bisa seenaknya, tunggu saja pembalasanku! Saat aku mengajakmu ke rumah keluargaku, aku akan menjadikanmu seorang budak!" gerutu Nisa yang terpaksa membersihkan kamar.
**
Beberapa saat kemudian Nisa telah selesai membersihkan kamar. Tak lama setelah itu, tiba-tiba Keyran keluar dari kamar mandi dalam keadaan berbalutkan handuk yang hanya menutupi bagian bawah tubuhnya. Saat Keyran melihat kamarnya sudah bersih dan rapi, dia lalu tersenyum pada Nisa sambil berkata. "Akhirnya kau berguna..."
"Tentu saja aku berguna, aku ini bukan beban. Sekarang dimana aku harus membuang sampah ini?" tanya Nisa sambil menunjukkan kantong plastik yang berisikan sampah.
"Buang saja di tempat sampah yang berada di luar. Jika kau malas, kau juga bisa menyuruh pelayan untuk membuangnya. Terserah kau mau pilih yang mana," ucap Keyran acuh tak acuh.
"Aku membuangnya sendiri," Nisa lalu bergegas keluar dari kamar.
Lagipula jika aku masih di dalam kamar, aku harus menyaksikanmu ganti baju. Cobaan macam apa ini Tuhan... kuatkan imanku...
**
Setelah Nisa selesai membuang sampah, ketika di perjalanan kembali menuju kamar, dia tidak sengaja berpapasan dengan ayah mertuanya. Secara spontan Nisa langsung menyapa ayah mertuanya dengan senyum terpaksa. Di lubuk hatinya dia merasa sedikit kesal karena terus diharuskan untuk berpura-pura.
"Ternyata ayah mertua belum tidur, karena ini sudah larut aku sarankan sebaiknya segera tidur, tidak baik jika begadang." ucap Nisa dengan nada sopan.
"Wah... wah... menantuku perhatian sekali, tapi kau sendiri juga belum tidur. Habis dari mana?" tanya tuan Muchtar dengan senyuman.
"Aku habis membuang sampah. Emmm.. sekarang aku harus segera kembali ke kamar, pasti Keyran sudah lama menungguku."
"Yaa.. ya.. cepat kembalilah ke kamar, jangan biarkan suamimu menunggu."
"Baik, permisi ayah mertua..." Nisa tersenyum dan langsung berjalan melewati tuan Muchtar lalu bergegas menuju ke kamar.
Tuan Muchtar masih berdiam diri di tempat sambil terus memperhatikan Nisa yang sedang berjalan meninggalkannya. Dia lalu mengerutkan dahi sambil bergumam, "Jangan harap kalian bisa menipuku!"
Setelah Nisa sudah berjarak agak jauh darinya, dia lalu berjalan mengendap-endap membuntuti Nisa dari belakang. Dia bertingkah seperti itu karena tidak ingin Nisa menyadari kalau sedang diikuti olehnya. Saat Nisa memasuki kamar, Tuan Muchtar langsung berjalan mendekat dan kemudian mendekatkan telinganya di pintu kamar.
"Kenapa hening sekali? Tadi siang kalian begitu tidak sabar, kenapa sekarang malah begini? Mungkin karena sudah tua jadi telingaku bermasalah." Tuan Muchtar lalu menempelkan telinganya di pintu kamar. "Cepat buat bayi! Cepat buat bayi!"
Aaahh~ aahh~ ummm~ ehnn~ darling... ahh~ sabar sedikit... aaahh~ ah ah ah~
"Ya Tuhan!" Seketika tuan Muchtar langsung menjauh dari pintu. "Putraku semangat sekali... Sebaiknya aku pergi, jangan ganggu kesenangan mereka."
Tuan Muchtar lalu memutuskan untuk pergi menjauh dari kamarnya Keyran, dan selama di perjalanan dia terus tersenyum semringah. Dia juga mulai membayangkan betapa imutnya cucu yang akan dia miliki di masa depan.
Tujuanku sudah tercapai, aku sudah memastikan bahwa putraku dan menantuku telah membuat kemajuan besar! Sekarang aku harus menyuruh para pelayan agar besok mereka membuat hidangan penambah stamina. Sekarang aku juga sudah mengerti alasan mereka menolak bulan madu, mereka pasti berpikir kalau mereka berdua bisa membuatnya dimana saja. Mereka berdua juga berencana memiliki anak kembar, semoga teknik yang mereka pakai benar.
...Pada saat yang sama, dalam kamar...
...•••••• ...
"Huft... akhirnya pergi juga," ucap Nisa yang berdiri di dekat pintu.
"Apa kau sudah tidak waras!? Kenapa mendesah di dekat pintu?" tanya Keyran dengan tatapan bingung, dan sekarang dia dalam keadaan berbaring di ranjang sambil memainkan ponsel miliknya.
"Bukannya kau juga mendengar apa yang ayahmu katakan, cepat buat bayi, cepat buat bayi. Tentu saja dengan suara desahan manja yang aku buat dia mau pergi. Memangnya kau terpikirkan cara lain?"
"Tidak, hanya saja..." ucap Keyran dengan nada ragu.
"Terserah, yang penting ayahmu sudah pergi. Aku masih mau mandi, kau cepatlah tidur, malam ini aku nggak mau perang bantal lagi!" Nisa langsung bergegas menuju ke kamar mandi.
"Heh, memangnya siapa yang mengajakmu perang bantal?" Keyran lalu meletakkan ponselnya dan setelah itu menutup kedua matanya.
Tadi itu, saat Nisa mendesah... kenapa aku merasa sedikit aneh? Aaahhh sudahlah, jangan dipikirkan! Simpan tenagamu Key, cepat tidur!
**
Saat Nisa keluar dari kamar mandi, dia melihat Keyran yang sudah tertidur lelap. Setelah berganti pakaian dia langsung berbaring di ranjang, dan tentu saja seperti biasa, Nisa belum juga tidur tapi malah masih sibuk bermain ponsel.
Namun kali ini ada yang berbeda, kali ini Nisa hanya memainkan ponselnya sebentar. Dia meletakkan ponselnya di meja kemudian mematikan lampu tidur. Nisa mengatur nafasnya dan segera menutup mata agar cepat tertidur.
Malam semakin larut, tapi Nisa masih belum bisa tidur. Dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar dan pergi menuju taman yang ada di kediaman utama. Ketika sampai, Nisa hanya duduk termenung di sebuah bangku yang tersedia di taman. Tak lama setelah itu Nisa mengambil rokok dari sakunya dan mulai menyalakan rokok itu.
Nisa terus menghisap batang demi batang rokok miliknya, namun ketika menghisap batang yang ke-4 dia tiba-tiba menangis. "Bangs*t, malah kepikiran..." Setelah itu Nisa mematikan rokoknya dan menghapus air mata di pipinya. "Streess... sumpah," ucap Nisa dengan nada putus asa.
Tadi aku cuma iseng stalking akun sosmednya Natasha, terus aku lihat ternyata dia nge-upload foto keluarganya yang ada Ricky di dalamnya. Bahkan dia juga nge-tag Ricky, tapi Ricky nggak komen apa pun. Artinya Ricky mengakui kalau itu foto real.
Bodohnya aku! Sebelumnya aku terus menghibur diri dengan cara berpikir kalau cerita Isma itu bohong. Aku berpikir kalau foto yang diceritakan itu cuma editan, tapi kenyataannya itu foto sungguhan, itu sungguh Ricky!
Aku masih mengingatnya, saat itu kamu terus-terusan bilang kalau cuma aku yang kamu cintai. Bahkan semua kata-katamu masih terngiang jelas di otakku, kenapa... kenapa semuanya harus seperti ini!? Setiap kali aku mengingat tentangmu, aku terus merasa ditampar oleh kenyataan. Dan tamparan ini terasa sangat sakit, sakit sekali sampai aku pun tak tahu cara mengobatinya.
Mungkin satu-satunya cara adalah membunuh, aku harus membunuh perasaanku sendiri. Tapi untuk membunuhnya aku masih butuh senjata, nggak bisa dengan tangan kosong. Dan sampai sekarang senjata yang aku butuhkan belum aku dapatkan. Jangankan dapat, menemukan saja belum. Hatiku masih sekarat, aku harus segera membunuhnya.
Semenjak di danau waktu itu, aku sudah mempersiapkan diri jika semua akan jadi seperti ini. Kita tak lagi bersama, aku sudah menikah sementara kamu juga sudah menemukan penggantiku. Tapi kenapa aku masih belum bisa melupakanmu? Semua kenangan kita baik itu yang manis ataupun pahit, aku masih mengingatnya dengan jelas.
Dulu, ketika aku mengingat tentangmu, aku bisa dengan sendirinya tersenyum bodoh. Namun sekarang, senyum bodoh itu berubah menjadi tangisan. Kekosongan di hatiku mengingatkan bahwa kita telah berpisah, tapi bayang wajahmu masih tergambar jelas di benakku. Bahkan suaramu bagaikan lagu cinta yang berputar berulang kali dalam kepalaku. Jika terus membiarkannya tetap seperti ini, bukankah ini namanya menyiksa diri sendiri?
"Nggak tahu ah, rasanya ingin sekali amnesia total!" keluh Nisa sambil menengadah ke langit.
Ya Tuhan... tolong kabulkan permintaanku, jatuhkan benda dari langit untuk menimpa kepalaku! Hapuskan semua ingatanku tentang dia! Tolong bantulah aku...
Aku sudah memilih untuk melepaskan dia, aku sudah mematahkan seluruh hatiku, aku sudah berdebat hebat dengan diriku sendiri, aku juga sudah berdoa kepada-Mu. Sekarang tolong bantulah aku, bantu aku agar bisa menerima takdir yang Kamu berikan. Tolong bantulah aku agar bisa rela, rela menerima...
"Hah... Aku muak dengan semua ini!" Nisa kembali menyalakan rokok lalu mulai menghisapnya.
Nisa terus menghisap rokok tanpa memperhatikan keadaan sekitar, dia tidak menyadari kalau dia telah diperhatikan oleh seseorang. Tak lama kemudian orang itu akhirnya memberanikan diri untuk mendekati Nisa serta duduk di bangku yang sama dengannya, orang itu tidak lain adalah Daniel.
Setelah Nisa menyadari kehadiran Daniel, dia mengabaikannya dan tidak berkata sepatah kata pun. Melihat hal itu Daniel malah tersenyum dan berkata, "Apakah kak Keyran tahu jika kakak ipar adalah seorang perokok?"
"Entah, kalaupun dia tahu juga tidak ada efeknya bagiku. Apa kau mau?" tanya Nisa sambil mengulurkan sebungkus rokok yang sudah terbuka pada Daniel. "Ini rasa mentol."
"Terima kasih kakak ipar..." Daniel tersenyum lalu mengambil sebatang rokok milik Nisa, kemudian dia mengambil korek api dari saku celananya, dan setelah itu dia mulai menghisapnya. "Fyuuh... apa kakak ipar begadang setiap hari?"
"Tergantung, jika merasa lelah maka aku tidak begadang. Aku juga masih belum terbiasa berada di sini, mungkin karena inilah aku sulit untuk tidur."
"Yaa... aku sedikit paham bagaimana perasaan kakak ipar, pasti seumur hidup tak pernah terbayang akan menikahi kakakku. Meskipun begitu, aku pikir kalian terlihat mesra sekali." Daniel lalu menyeringai, "Itu semua pura-pura kan?"
"Fyuuuhh..." Nisa juga ikut-ikutan menyeringai, "Kenapa yakin sekali? Kau bahkan sedikit pun tidak merasa sungkan saat menanyakannya, apa kau punya tujuan lain menghampiriku kemari?"
"Aku salut, kakak ipar sungguh cerdas, pantas saja ayahku memilihmu sebagai calon nyonya besar keluarga ini. Aku menghampirimu karena satu tujuan, aku ingin menghibur kakak ipar~"
"Apa aku terlihat seperti butuh dihibur?" tanya Nisa dengan tatapan sinis.
"Di awal tadi aku sudah bilang kalau aku memahami kakak ipar, aku melihatmu menangis, bahkan... aku juga tahu alasanmu menangis. Itu karena mantan kekasih kakak ipar kan?"
"...." Nisa hanya diam dan tatapannya semakin sinis.
"Seratus untukku," Daniel lalu tersenyum lebar. "Namanya Ricky, usia 23 tahun, dia adalah seorang dokter berkemampuan terbaik, bahkan juga cukup terkenal di kalangan orang-orang berpengaruh. Aku juga tahu akhir-akhir ini apa saja yang dia lakukan, apa kakak ipar ingin mendengarku bercerita tentangnya?"
"Aku peringatkan, jangan gunakan dia untuk mengancamku! Kau jangan berbuat macam-macam, sebenarnya apa tujuanmu hah!?" ucap Nisa dengan tatapan membunuh.
"Wah... wah... sebaiknya bercerminlah dulu, sekarang kakak ipar sendiri loh yang mengancamku. Dan tujuanku yang sebenarnya bukanlah ingin mengancammu, tapi mengajakmu bekerjasama. Apa kakak ipar tertarik?"
"Kerja sama dalam hal apa?"
"Mungkin kakak ipar bisa menipu semua orang, tapi tidak denganku. Aku melihat ada begitu banyak kebencian dalam dirimu, pasti rasanya seperti ingin menghancurkan sesuatu. Sesuatu seperti... kehidupan. Menurutku Ricky itu beruntung sekali, dia begitu dicintai olehmu. Kakak ipar pasti ingin membalas dendam karena dipaksa berpisah dengannya. Aku bisa membantu kakak ipar balas dendam, membantumu tanpa syarat apa pun..."
Untuk beberapa saat Nisa terdiam, dan setelah itu dia tersenyum. "Apa kau juga bisa menebak hidup siapa yang ingin aku hancurkan?"
"Keyran Kartawijaya, suamimu sendiri. Kakak ipar sangat membencinya dan ingin menghancurkan hidupnya. Rencana apa pun yang kakak ipar punya, aku pasti akan membantu dengan senang hati. Bahkan jika aku harus bertaruh, aku juga tetap akan membantumu."
"Aku cukup tertarik, jika berhasil maka akan membawa keuntungan untukku. Tapi, memangnya apa yang akan kau dapatkan dengan menghancurkan kakakmu sendiri?"
"Aku akan mendapat segalanya, jika kakakku tidak ada, sudah dipastikan bahwa aku yang akan menjadi pewaris selanjutnya keluargaku. Dengan begitu aku bisa mendapat apa pun yang aku mau!"
"Aku suka orang sepertimu, orang yang punya ambisi. Aku juga setuju untuk bekerjasama denganmu, tapi... aku tidak sama sepertimu. Aku punya syarat yang harus kau penuhi."
"Benarkah? Cepat katakan syarat apa yang kakak ipar minta."
Hehehe, dengan orang yang pintar dan juga dibutakan oleh dendam sepertimu, aku pasti akan segera mencapai tujuanku. Ini seperti aku mendapat kartu truf! Kakak iparku ini bukanlah orang yang sederhana.
"Syaratku mudah, nikahi aku!"
"Apa!?" Daniel terkejut hingga menjatuhkan rokoknya. "M-maksudnya aku harus menikahimu saat sudah menghancurkan kakakku? Jika begitu, aku bisa menerima syaratmu." Daniel lalu memandangi tubuh Nisa dari atas sampai bawah.
Hmmm... lumayan, sebenarnya dia ini cantik dan tubuhnya juga berisi. Yaahh.. meskipun nantinya aku akan mendapat bekas dari kakak bajing*n itu, tapi setidaknya kakak iparku ini pintar, semoga saja nanti ketika berhasil dia belum punya anak.
"Bukan, maksudku itu kau harus menikah denganku sebelum kita memulai kerja sama. Apa kau bisa melakukannya?"
"Itu mustahil, statusmu sekarang masih menjadi istri sahnya kakakku, bagaimana bisa aku menikahimu? Apa kau menginginkan poliandri?"
"Heh, kalau begitu jawabannya sudah jelas. Bekerjasama denganmu itu mustahil!"
"Tunggu dulu, tadi kakak ipar bilang cukup tertarik, kenapa sekarang malah menolaknya mentah-mentah?"
"Hahaha... Daniel.. Daniel.. Apa kau pikir aku akan mengkhianati suamiku sendiri hanya demi dirimu? Bahkan tadi kau sempat bilang kalau kau memahami diriku, maka ketahuilah satu hal! Jangan menilaiku terlalu cepat, kau hanya melihat apa yang ingin kuperlihatkan saja. Jadi buanglah rasa sok tahumu itu!" Nisa lalu berdiri dan bergegas berjalan pergi meninggalkan taman. "Dadah adik ipar~" ucap Nisa sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Kau...!!" geram Daniel yang terus memandangi Nisa yang berjalan meninggalkannya. "Hebat... sungguh hebat, kau berulang kali mempermainkan aku. Awas saja nanti, akan aku balas perbuatanmu. Suatu hari nanti aku akan melihatmu menangis dan memohon kepadaku!"
**
Nisa yang telah selesai menenangkan diri akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar. Dan ketika dia memasuki kamar, dia dikejutkan oleh Keyran yang terbangun dari tidur. Keyran juga menatap Nisa dengan tatapan yang mengintimidasi. Kemudian dia berjalan mendekat ke arah Nisa lalu memojokkannya ke dinding.
"Habis dari mana? Kenapa larut malam seperti ini masih keluyuran?"
"Aku habis dari taman. Aku belum bisa tidur, makanya aku cari angin dulu. Padahal tadi kau pulas sekali tertidur. Terus kenapa kau tiba-tiba terbangun?"
"Bukan urusanmu aku terbangun gara-gara apa. Kau juga jangan membodohiku, aku tahu kalau kau bertemu dengan Daniel. Apa yang kalian berdua bicarakan!?"
"S-soal itu..." jawab Nisa terbata-bata.
Kok dia bisa tahu sih? Apa jangan-jangan tadi itu dia cuma pura-pura tidur, lalu setelah itu dia diam-diam membuntutiku. Kalau itu benar... artinya dia tahu kalau aku perokok, apa dia akan marah? Aaahhh nggak tau ah, cepat putar otak!! Cari alasan lain!
"Kenapa diam? Rencana kotor apa yang kalian buat hah!? Jawab dengan jujur!"
"Apaan sih? Mana ada rencana kotor, aku sama Daniel cuma ngobrol basa-basi nggak penting kok. Lalu... hoamm..." Nisa menguap dan menutup mulutnya. "Aku ngantuk, sekarang aku mau tidur. Jadi tolong minggirlah!"
"Hng! Kau yang memaksaku!" Keyran tiba-tiba menggendong Nisa dengan paksa lalu menjatuhkannya ke atas ranjang.
Bruugh!!
"Apa yang kau lakukan!?" teriak Nisa seakan tidak terima.
"Diamlah!" Keyran lalu naik ke atas ranjang dan kemudian berbaring di samping Nisa. "Seperti biasa, ayo kita mulai interogasi di ranjang! Kau tidak diperbolehkan tidur sebelum menjawab semua pertanyaanku!"
"Huft..." Nisa lalu ikut-ikutan berbaring, setelah itu dia memosisikan tubuhnya berhadapan dengan Keyran. "Cepat mulai, perhatikan durasi! Aku masih punya kesibukan."
"Kesibukan macam apa yang dilakukan malam-malam seperti ini?"
"Hehe... tentu saja..."