
"Huh!"
Keyran mendengus kesal, dia tampak tidak begitu berselera meskipun di hadapannya ada bermacam-macam hidangan. Bahkan dia juga mengunyah dengan terburu-buru, sama sekali tidak menggubris rasa dari hidangan yang dia makan.
Belakangan ini Nisa selalu menghindari makan malam bersamaku, dia juga terkesan jadi lebih cuek. Bahkan saat tidur ... dia menolak untuk dipeluk, padahal biasanya dia selalu memintanya. Apa aku ada berbuat salah kepadanya?
"Ck, pokoknya malam ini juga aku harus minta penjelasan!"
Keyran segera menyelesaikan makannya. Lalu meminta Bibi Rinn untuk membereskan meja makan, dan setelah itu seperti biasa Bibi Rinn langsung kembali ke paviliun.
Keyran bertekad untuk meminta penjelasan atas perlakuan Nisa yang berubah menjadi dingin. Saat dia memasuki kamar, dia menemui Nisa yang sedang duduk melamun di depan meja rias. Keyran berjalan mendekat, dia lalu menyentuh pundak kiri Nisa, saat itu juga Nisa tersadar dan langsung menengok ke arah Keyran.
"...." Nisa diam seribu bahasa. Perlahan tapi pasti tangan Nisa meraih tangan Keyran yang berada di pundaknya. Lalu tiba-tiba saja dia menyingkirkan tangan Keyran dari tubuhnya.
"Kenapa sikapmu berubah seperti ini? Kau terkesan seperti menghindariku, apa aku ada berbuat salah?" tanya Keyran dengan ekspresi kecewa.
"Hah ..." Nisa menghela napas, dia berdiri lalu melangkah ke samping untuk lebih dekat dengan Keyran. Sekali lagi dia meraih tangan Keyran lalu menyerahkan sesuatu di telapak tangannya.
"Ini ... kenapa kau mengembalikan kartu kredit yang aku berikan?" tanya Keyran dengan wajah bingung.
"Oh, aku lupa satu hal." Nisa tiba-tiba melepaskan cincin pernikahan dari jarinya lalu juga menyerahkan cincin itu ke telapak tangan Keyran.
"Tunggu dulu, apa kau ingin mengganti cincin dengan yang baru? Katamu meskipun terlalu besar tapi kau tetap suka dengan cincin ini ..."
"Bukan, aku bermaksud mengembalikan semua itu ..."
"Apa?!"
TRAK!
Keyran terkejut dan langsung menaruh kartu kredit beserta cincin pernikahan itu di atas meja rias. Sejenak dia masih terdiam untuk mencerna keadaan. Saat itu juga Nisa membuka laci meja rias untuk mengambil sesuatu barang berupa kertas, dan tanpa berkata apa pun dia menyerahkan kertas itu pada Keyran.
"S-surat gugatan cerai?!!" Keyran semakin terkejut, tangannya bergetar mencengkeram kertas itu hingga sedikit kusut. Dia berdiam diri cukup lama, dia masih belum bisa mempercayai apa yang sedang dilihatnya. "Nisa ... i-ini apa maksudnya?"
"Maksudnya sudah jelas, aku sudah menandatangani surat itu, kau hanya tinggal tanda tangan. Setelah itu kita bertemu di pengadilan lalu semuanya beres. Akan aku ambilkan pulpen untukmu ..."
Saat Nisa hampir melangkah tiba-tiba tangannya ditahan oleh Keyran dengan erat. Keyran lalu meletakkan kertas itu di atas meja rias, setelah itu dia mendekat dan tiba-tiba mencengkeram pundak Nisa.
Keyran menatap mata Nisa lekat-lekat, ekspresinya tampak begitu kacau, perasaan marah, bingung, kecewa, tidak terima, semuanya bertumpuk jadi satu.
"Ada apa denganmu?! Kenapa kau tiba-tiba ingin bercerai?!"
"Karena aku menikahimu hanya sebatas karena terpaksa oleh keadaan, tapi sekarang tak ada orang yang dapat memaksa kita untuk terus bersama. Lebih baik kau lepaskan saja aku, jadi kita berpisah baik-baik."
"J-jadi sampai sekarang kau masih menganggap kalau pernikahan kita adalah pernikahan terpaksa. Tapi ... setelah semua yang terjadi, bukankah kita saling mencintai?"
"Heh," Nisa menyeringai. "Ternyata kau berpikir kalau aku mencintaimu, memangnya aku pernah mengatakannya?"
"Tapi kita sama-sama tersenyum, kita bahagia saat menghabiskan waktu bersama. Itu artinya kita saling mencintai, aku mencintaimu dan kau tahu itu! Jadi bukankah semua perlakuanmu itu adalah cinta?!"
"Cih, kau pikir aku tulus melakukan semua itu?! Asal kau tahu, jangan pernah mengharapkan ketulusan dalam hal yang dipaksakan! Aku saja menikahimu karena terpaksa, mustahil jika aku mencintaimu! Dari awal aku sama sekali tidak pernah mencintaimu!"
"Lalu kenapa?!!" Keyran lalu mengguncangkan tubuh Nisa. "Kenapa kau melakukan semua itu jika bukan karena mencintaiku?! Apakah bagimu menyenangkan mempermainkan perasaanku?! Padahal aku berusaha yang terbaik untukmu, tapi ternyata balasanmu malah menghancurkan aku seperti ini!!!"
"Terus kenapa? Merasa tidak terima?!"
"Ya! Aku tidak terima! Aku suamimu dan aku mencintaimu! Bagaimana bisa sebagai istriku tapi sikapmu malah seperti ini?!"
Keyran perlahan mencoba meraih wajah Nisa, tapi Nisa langsung menghindar dengan memalingkan wajahnya. Menyadari hal itu, Keyran tanpa ragu menghadapkan wajah Nisa mengarah kepadanya secara paksa.
"Nisa ... sebenarnya ada apa denganmu? Ini bukan Nisa yang aku kenal, Nisa yang aku kenal selalu membuatku tersenyum bahagia, bukan mematahkan hati seseorang sampai hancur seperti ini. Aku mohon ... tolong katakan kalau kau mencintaiku, tolong pikirkanlah semuanya lagi, tolong berhenti bersikap seperti ini. Jika ada masalah, kita bisa memperbaikinya bersama-sama, kita bicarakan baik-baik. Jika aku ada berbuat salah, tolong beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Aku mencintaimu, jadi tolong jangan seperti ini ..."
"Cukup! Meskipun kau mau ribuan kali bilang kalau kau mencintaiku, itu tetap bukan urusanku! Sekarang kau tahu apa itu rasa sakit kan?! Rasa sakit yang pernah aku rasakan jauh lebih sakit dari yang kau rasakan! Kau yang terlebih dulu menyakitiku, aku hanya membalas apa yang telah kau lakukan! Tapi ini masih belum impas, masih ada satu orang lagi yang merasa hancur karenamu! Dan orang itu adalah orang yang sangat aku cintai ..."
"Jadi sampai sekarang di hatimu hanya ada dia. Lalu apa aku pernah kau anggap? Apa sampai sekarang kau masih mencintainya?!"
"Oh, untuk yang satu ini aku harus berterima kasih kepadamu. Berkatmu sekarang aku sudah bisa melupakannya, jadi intinya kau juga aku manfaatkan. Suka atau tidak, itulah kenyataannya!"
"K-kau ... bagaimana bisa kau setega ini? Aku pikir kau juga mencintaiku ..."
"Buang jauh-jauh pemikiranmu itu! Yang aku lakukan selama ini cuma sandiwara! Aku melakukannya karena memang ingin melihatmu hancur sekaligus memanfaatkanmu! Bahkan jika mungkin aku mau kau merasa hancur sampai merasa mati pun jauh lebih baik! Aku melakukan semua ini demi membalaskan dendamku padamu!"
Tiba-tiba saja Nisa melepaskan tangan Keyran dari wajahnya lalu mendorong Keyran untuk menjauh. Keyran yang telah mundur sejauh dua langkah hanya diam, tatapan mata yang dia tujukan kepada Nisa terlihat begitu kecewa. Sedangkan Nisa, dia juga tidak bicara sepatah kata pun, tapi tatapan mata yang dia perlihatkan sama sekali tidak tergambar rasa bersalah.
Kenyataan pahit macam apa ini? Istriku sendiri yang selama ini aku kira juga mencintaiku, ternyata semua yang dia lakukan cuma berpura-pura demi membalaskan dendamnya. Padahal aku sudah berusaha yang terbaik untuknya, tapi kenapa dia malah membenciku sampai seperti ini?
Bahkan dia juga memanfaatkan aku sebagai pelarian untuk melupakan mantan kekasihnya. Padahal selama ini aku pikir dia tulus menginginkanku, ternyata selama ini hanya aku yang menginginkannya.
Setelah berdiam diri cukup lama untuk memahami semuanya, tiba-tiba saja Keyran memasang senyum pahit, bahkan bibirnya juga terlihat bergetar, seakan-akan tidak sanggup untuk berkata apa-apa.
"Bagus ... bagus Nisa! Kini, akhirnya aku menyadari semua ini. Bahwa kau tak pernah benar-benar menginginkanku. Kau hanya ingin sembuh dari masa lalumu, dan dengan berpura-pura mencintaiku adalah satu-satunya cara yang kau pilih ..." ucap Keyran dengan senyuman, senyum kehancuran.
Tiba-tiba saja Keyran mengambil surat gugatan cerai dari meja. Perlahan dia berjalan mendekat ke arah Nisa sambil merobek-robek surat itu sekecil-kecilnya. Saat dia berhenti tepat di hadapan Nisa, dia menghamburkan potongan-potongan surat itu hingga seluruhnya berserakan di lantai.
Nisa hanya diam membisu, dia menunduk melihat potongan kertas surat gugatan cerai yang telah berserakan. Namun tiba-tiba dia mendongak, menatap Keyran dengan tatapan mata seakan tidak terima.
"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau merobeknya?!"
"Jika kau ingin bercerai, maka jawabanku adalah tidak! Selamanya tidak akan pernah! Meskipun aku harus jadi suami yang dibenci, tapi aku tetap suamimu! Dan kau selamanya akan jadi istriku, selamanya kau akan hidup dengan status sebagai istriku! Suka atau tidak, inilah keputusanku!"
BRAAK!!!
Bantingan pintu yang dilakukan Keyran begitu keras. Tapi Nisa masih terpaku dan tak berkata apa pun. Dan tak lama setelah itu terdengar suara mesin mobil yang dihidupkan.
Ya! Tentu saja Keyran marah, dia pergi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan tak tentu arah. Dia mengabaikan semua klakson yang memperingatkan dirinya karena mengendarai dengan ugal-ugalan. Perasaannya teramat sangat kacau, hubungan yang selama ini dia bina dan terasa baik-baik saja, tapi tanpa sebab yang jelas tiba-tiba dihancurkan.
Sialan! Aku tidak sanggup jika harus berhadapan denganmu, rasanya aku seperti mencintai orang yang salah! Rasanya sakit, rasanya sangat sakit ketika mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulutmu. Aku hancur mengetahui ternyata cintaku digunakan hanya demi melupakan seseorang.
Padahal aku kira kau juga mencintaiku, semua perlakuanmu padaku terkesan begitu nyata dan begitu tulus. Bahkan justru hal itulah yang membuatku mencintaimu, tapi ternyata semua itu cuma sandiwara. Perhatian, senyuman, dan ciuman yang kau berikan ternyata cuma sandiwara.
Tapi sayangnya ... meskipun aku merasa dikhianati dan disakiti, entah kenapa aku sangat tidak rela jika harus melepasmu. Rasanya aku ingin sekali mengikatmu dan mengurungmu agar selamanya bersamaku.
"Aaahhh ... sialan! Apa yang sedang aku lakukan?! Aku harus cepat kembali, jangan sampai dia pergi!" Keyran langsung bergegas memutar balik mobilnya untuk kembali menuju ke villa.
***
Sementara itu di villa, Nisa masih berdiam diri dan tak berkata apa pun meski telah mendengar suara mesin mobil yang dihidupkan. Namun begitu dia sadar kalau Keyran telah pergi, tiba-tiba dia merasa lemas dan tanpa disadari dia terjatuh ke lantai yang dingin.
"A-aku ini kenapa?"
Kenapa aku seperti ini? Harusnya aku senang karena dendamku akhirnya terbalas. Tapi kenapa saat dia pergi aku merasa sakit? Kenapa ... kenapa di antara senang dan sakit yang lebih dominan adalah sakit? Kenapa perasaanku begitu rumit seperti ini?
Perlahan Nisa melihat-lihat seluruh isi kamar, dan terakhir dia melihat ke arah potongan kertas yang berserakan di sekitarnya cukup lama.
"Hah ... sudahlah, masalah surat bisa dibuat lagi. Ini terakhir kalinya aku menginjakkan kaki di kamar ini, lebih baik aku segera pergi dari sini."
Nisa lalu bangkit, dia mengambil jaket miliknya dari dalam lemari lalu memakainya. Terakhir dia mengambil ponselnya lalu menyimpannya di saku jaket yang dia pakai. Namun setelah dia keluar dari kamar, dia tiba-tiba berhenti sejenak untuk memandangi pintu kamar tersebut.
Selamat tinggal ... mungkin villa ini memang nyaman, tapi aku telah mengisinya dengan begitu banyak kebohongan. Dan aku minta maaf, aku tidak bisa mengucapkan terima kasih ataupun selamat tinggal pada Bibi Rinn yang selama ini sangat baik kepadaku. Terakhir ... harapanku adalah jangan sampai aku merindukan villa ini.
"Ah sudahlah, aku harus cepat pergi."
Tiba-tiba Nisa mengeluarkan ponselnya dari saku dan bersiap untuk menelepon seseorang.
"Bos ...?"
"Jemput aku di perempatan! Sekarang juga!"
"B-baik ..."
TUT ... TUT ...
Begitu panggilan telepon berakhir, Nisa langsung berlari secepat mungkin meninggalkan villa. Namun tak berselang lama setelah Nisa pergi, Keyran kembali dan langsung bergegas menuju ke kamar.
BRAAK!!
Keyran membuka pintu kamarnya dengan panik, dia semakin kecewa saat mengetahui Nisa tidak ada.
"Ck, sial!"
Tiba-tiba dia berlari ke arah lemari, dia memeriksa semua baju-baju milik Nisa. Dia menjadi sedikit lebih tenang saat melihat bahwa semua baju istrinya masih utuh.
Syukurlah ... masih ada harapan untuk kau kembali, aku pikir kau mengambil semua barangmu lalu pergi entah kemana.
Keyran menutup pintu lemari, dia berjalan mendekat ke arah meja rias lalu duduk dan memandangi bayangan dirinya sendiri di cermin, sesekali dia juga melirik ke arah kartu kredit dan cincin pernikahan yang telah dilepas oleh Nisa.
Kenapa ... kenapa Nisa? Sebenarnya apa kurangnya diriku? Karena perbuatanmu, sekarang aku seperti orang gila, aku bingung harus berbuat apa. Bahkan jika aku mencarimu dan menemukanmu, pasti nanti kau akan mati-matian menolak kembali bersamaku.
Apakah cinta memang serumit ini? Padahal aku sudah kau sakiti, sudah kau lukai, tapi entah kenapa aku tidak rela jika kau pergi. Jujur, jika boleh berharap ... aku ingin besok pagi kau sudah kembali.
"Sial, aku benar-benar hancur!"
Keyran berdiri, dia semakin marah saat melihat bayangan dirinya meneteskan air mata. Emosinya kacau, tanpa pikir panjang dia memukul cermin di hadapannya dengan tangan kosong.
PRAAANG!!
Darah di tangannya mulai mengalir. Serpihan-serpihan cermin berjatuhan di atas meja. Dia memorak-porandakan semua benda yang berada di atas meja.
Hatinya teramat sangat hancur, dia merasa ingin menghancurkan seluruh barang yang bisa dihancurkan. Kamar yang tadinya sangat rapi kini seakan-akan berubah menjadi kapal pecah. Hingga pada akhirnya dia merasa kehabisan tenaga, tubuhnya lemas dan dia terjatuh ke lantai.
Dia perlahan memandangi seluruh isi kamar, pikirannya mulai mengingat semua kenangan-kenangan manis yang telah dia lalui bersama istrinya. Dia semakin terpuruk begitu menyadari bahwa semua kenangan itu adalah sandiwara yang hanya bertujuan demi balas dendam.
Padahal aku menganggap saat-saat bersamamu adalah saat-saat yang paling indah. Tapi kenyataannya ...
"Nisa!! Dasar perempuan jahat!!!"
***
Keesokan harinya. Matahari terbit memancarkan sinarnya yang hangat, suara kicauan burung yang merdu kian menambah cerahnya hari ini. Mungkin hari ini suasana terbilang indah, tapi tidak berlaku bagi Keyran.
Sepanjang malam Keyran tidak tidur, matanya terlihat merah, lingkaran matanya juga menghitam. Dia terus menanti datangnya keajaiban bahwa Nisa akan pulang, minta maaf kepadanya lalu memberikan penjelasan atas semua perlakuannya. Tapi kenyataannya tidak.
"Haha ..." Keyran tersenyum pahit.
Aku pikir ... semalaman menunggumu bisa meringankan rasa sakitku, tapi kenyataannya justru sebaliknya. Biasanya di pagi hari aku mendapatkan ciuman darimu, tapi sekarang ... aku tak mendapat apa pun. Meskipun cintamu pura-pura dan hanya kau anggap sebagai permainan, tapi aku tetap menginginkannya.
"Ironi, namun inilah kenyataannya ..."