
Setelah Nisa membersihkan diri, dia kemudian mengenakan sehelai handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya. Dan begitu dia keluar dari kamar mandi, dia langsung dikejutkan oleh kehadiran seseorang.
"Bibi Rinn!? A-apa yang bibi lakukan disini?" tanya Nisa terheran-heran.
"Saya hanya melakukan tugas saja," bibi Rinn menjawab dengan senyuman. Setelah itu dia kembali melanjutkan pekerjaannya, yaitu membersihkan kamar sekaligus mencopot sprei yang terpasang.
"....." Nisa mematung dengan ekspresi panik.
Habislah aku, bibi Rinn dari tadi senyum-senyum sendiri. Dia pasti sudah melihat bekas noda kejadian semalam di sprei yang dia lepas. Parahnya lagi, dia juga melihat bekas kecupannya Keyran di tubuhku. Tahu begini, seharusnya tadi aku pakai handuk kimono. Hiks... memalukan sekali.
Nisa hanya bisa menahan semua rasa malunya. Dia kemudian berjalan tertatih-tatih mendekat ke arah lemari. Menyadari hal itu, bibi Rinn secara spontan berkata, "Nyonya, apakah perlu saya bantu?"
"B-boleh, tolong ambilkan baju untukku..." pinta Nisa dengan senyum canggung.
"Baik..." bibi Rinn bergegas untuk mengambilkan baju untuk Nisa. Setelah itu dia juga membantu untuk memakaikannya. Nisa masih terus menahan semua rasa malunya, ketika dia duduk di depan meja rias, bibi Rinn juga membantunya untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Bahkan bibi Rinn melakukan semua hal itu dengan senyuman. "Nyonya tidak perlu malu, saya juga seorang wanita~"
"B-bukan begitu, hanya saja bibi Rinn mengurusku sampai seperti ini... rasanya bibi seperti ibuku sendiri. Terima kasih bibi..." ucap Nisa dengan senyum lembut.
"Nyonya Nisa terlalu memuji saya, saya jadi terharu..." bibi Rinn terus mengeringkan rambut Nisa, dan tiba-tiba saja dia berkata, "Nyonya, apakah masih terasa sakit?"
"Yaa.. begitulah, memang masih terasa sedikit perih..." jawab Nisa dengan wajah yang memerah.
Lebih baik aku jujur, lagipula bibi Rinn sudah tahu semuanya, ditambah dia sendiri juga seorang wanita.
"Haha, itu normal kok, dulu saat pertama kali saya juga seperti itu..."
"Lalu sekarang suami bibi?"
"Suami saya sudah meninggal, saya seorang janda." jawab bibi Rinn dengan ekspresi sedikit murung.
"Maaf... b-bukan maksudku membuat bibi sedih..." ucap Nisa dengan tampang bersalah.
"Nyonya tidak perlu meminta maaf, saya tidak merasa sedih. Lagipula saya juga tidak seorang diri, saya masih memiliki seorang anak." Bibi Rinn langsung tersenyum kembali.
"Aku baru tahu kalau bibi punya anak, dimana dia sekarang?"
"Dia tinggal di asrama, sekarang dia sedang sibuk kuliah. Dan dia juga kuliah di universitas yang sama dengan nyonya, bahkan satu angkatan dengan nyonya."
"Benarkah? Siapa namanya?" tanya Nisa penasaran.
"Namanya Anthony. Dan selama ini pendidikan anak saya juga dibiayai oleh tuan, tuan juga tidak pernah memotong gaji saya. Bagi saya tuan Keyran adalah orang yang sangat baik." ucap bibi Rinn dengan senyum lembut.
"Ohh begitu..."
Ternyata anaknya bibi Rinn adalah Anthony, sepengetahuanku Anthony itu teman akrabnya Terry. Meskipun begitu, Anthony nggak keterlaluan sama seperti Terry. Aku dan Terry selamanya adalah musuh abadi! Sedangkan Anthony, sekarang aku tahu kenapa dia sedikit enggan bicara denganku, karena ibunya adalah pelayanku.
"Oh iya! Tuan Keyran sudah berpesan kepada saya, jika nyonya kesulitan untuk berjalan, tuan juga sudah menyiapkan kursi roda untuk nyonya. Sekarang kursi roda itu sudah saya taruh di luar kamar."
"What!? Kursi roda?" tanya Nisa dengan ekspresi seakan tidak percaya.
"Iya, tuan juga berpesan seandainya nyonya masih merasa sangat kesakitan, tuan sendiri akan menemani nyonya untuk konsultasi ke dokter."
"Konsultasi!?"
Gila ya? Keyran sudah kerasukan setan jenis apa? Aku pikir dia akan menganggap kejadian semalam itu bukan apa-apa, tapi kenyataannya dia malah bertindak berlebihan begini. Kenapa semua ini diluar perkiraanku?
"Tuan sedari tadi masih menunggu nyonya. Beliau merasa tidak tega untuk membangunkan nyonya yang tertidur pulas, jadi tuan meminta saya untuk melihat apakah nyonya sudah bangun atau belum, sekaligus menyuruh saya untuk membersihkan kamar. Tuan juga mengerti kalau nyonya akan kesulitan. Melihat hal ini saya senang sekali, karena tuan sangat pengertian kepada nyonya."
"Pengertian yaa.." ucap Nisa dengan nada ragu.
Bibi Rinn yang merupakan orang luar, dia yakin sekali bahwa ini adalah wujud dari perhatian yang Keyran berikan. Jika mendapat perhatian, seharusnya aku merasa senang, tapi entah kenapa aku merasa sedikit ragu.
Mungkin saja ini memang bukan perhatian, tapi sebuah ejekan! Keyran mengejekku dan menganggap kalau aku ini lemah. Sialan, apa dia pikir karena aku kesakitan makanya di merasa kalau dirinya hebat!? Akan aku tunjukkan kalau aku nggak butuh semua perhatian darinya!
"Apa bibi sudah selesai mengeringkan rambutku?"
"Sudah nyonya," bibi Rinn lalu mematikan hair dryer dan kemudian menaruhnya di meja rias. "Apakah nyonya perlu sesuatu yang lainnya?"
"Sekarang juga bibi turun, bilang pada Keyran kalau aku nggak butuh semua perhatian darinya! Aku ini cewek kuat, aku juga nggak butuh konsultasi! Untuk kursi roda, bibi simpan saja di gudang! Yang terakhir, suruh Keyran untuk berangkat kerja dan jangan pedulikan aku!"
Mungkin di masa depan kursi roda itu akan ada gunanya, tapi bukan untukku, melainkan untuk si brengsek itu!
"I-iya nyonya, apakah ada yang lain?"
"Oh iya, tolong antarkan sarapanku kemari, buatkan aku susu dan sop buntut!"
"Baik, segera saya laksanakan." Bibi Rinn langsung bergegas pergi meninggalkan kamar.
Sop buntut? Tumben sekali nyonya menginginkannya, jangan-jangan nyonya sudah ngidam! Tapi, bukankah ini terlalu cepat?
Setelah ditinggal sendirian, Nisa masih memandangi bayangannya di cermin sambil terus menggerutu. "Sial, sial, sial! Awas saja nanti, tunggulah pembalasanku!"
***
Seharian ini Nisa terus berada di rumah karena belum bisa berjalan dengan benar. Dan tentu saja hal yang dia lakukan adalah bermalas-malasan. Ketika menjelang sore hari rasa sakit yang dia rasakan sudah berkurang, namun dia masih merasa sangat tidak terima atas hal yang terjadi kepadanya.
Saat Keyran sudah pulang, ketika bertemu dengannya Nisa hanya memberi perlakuan dingin dan tak bicara sepatah kata pun. Bahkan untuk makan malam bersama saja Nisa juga tidak mau. Di sisi lain Keyran juga tidak memberi tanggapan, dia berpikir bahwa Nisa sudah sangat membenci dirinya.
Dan saat menjelang tidur, mereka berdua tetap di ranjang yang sama, namun dalam selimut yang terpisah. Nisa yang biasanya selalu mengucapkan selamat malam, malam ini dia juga tidak mengucapkannya. Dan tentu saja posisi tidurnya membelakangi Keyran. Sementara itu, Keyran masih terjaga dan terus memandangi punggung Nisa.
"...."
Hari ini Nisa sama sekali tidak berbicara denganku, bahkan seolah-olah juga menganggapku seperti angin lalu. Sepertinya dia masih marah, apakah kemarin malam aku terlalu menyakitinya?
Aku akui, kemarin malam itu aku memang bertindak kasar, sebenarnya itu juga merupakan pengalaman pertamaku. Saat melihat Nisa yang terus mengerang kesakitan, aku pikir itu karena salah posisi. Tapi aku juga sudah bertanya ke dokter, memang wajar jika sakit saat pertama kali melakukannya.
Nisa merasa sakit, tapi aku sebaliknya, entah kenapa mengingat kejadian itu... rasanya aku ingin melakukannya lagi. Sialan, bahkan saat bekerja aku juga terus memikirkannya. Nisa memang membawa pengaruh buruk! Dia telah membuatku menjadi orang yang berpikiran mesum.
Lalu... dari tadi aku sedikit penasaran apakah Nisa sudah tidur atau belum. Jangan-jangan dia masih trauma dengan kejadian kemarin malam, mungkin saja dia belum tidur dan terus berjaga-jaga. Apa dia takut kalau aku akan mengikat tangannya lagi? Labih baik aku jelaskan padanya kalau aku tidak akan pernah mengikatnya lagi.
"Nisa, apa kau belum tidur?" tanya Keyran sambil mencolek punggung Nisa.
"Y!!" jawab Nisa acuh tak acuh.
"O-ohh..." untuk sejenak Keyran terdiam, "Nisa, apa kau membenciku?"
"Yaa! Aku membencimu, cepat mati sana!"
"...."
Bahkan juga mengutukku agar cepat mati, padahal aku suaminya sendiri.
"Jika kau ingin aku mematahkan lehermu, maka hubungi dulu perusahaan asuransimu! Dan jangan ganggu aku lagi, aku mau tidur dengan tenang!" Nisa lalu menaikkan selimut hingga menutupi kepalanya.
"O-oke, selamat malam... mimpi indah..."
Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Istriku memang spesies yang langka, namun tidak disarankan untuk dilestarikan. Semoga saja jika aku punya anak sifatnya akan sepertiku, jika sifatnya seperti Nisa, pasti hidupku akan lebih sengsara.
***
Keesokan harinya Nisa telah kembali beraktivitas seperti biasa. Di pagi hari dia juga memulai balas dendamnya, dia memasak omelet untuk Keyran yang sudah ditambah dengan bumbu istimewa. Bumbu itu adalah ludahnya Nisa, bahkan bibi Rinn yang terus berada di dapur juga tidak mengetahuinya. Dan begitu omelet jadi, dengan perintah dari Nisa, bibi Rinn lalu menyuguhkannya kepada Keyran. Sementara Keyran, entah karena rasa bersalah atau memang mau akhirnya memakan omelet itu. Dan tak disangka-sangka, menurutnya rasa omelet itu semakin enak.
Saat di kampus, Nisa juga melakukan semua aktivitasnya seperti biasa. Namun menurutnya hari ini sedikit tenang, karena hari ini dia sama sekali tidak diejek ataupun bertemu dengan Natasha. Ditambah, hari ini Terry juga tidak mempersulit dirinya. Oleh karena itu, suasana hati Nisa kini semakin membaik.
Begitu kuliahnya selesai, Nisa langsung memenuhi janjinya dengan Aslan. Dia pergi ke rumah sakit untuk melakukan suatu hal yang menjadi rutinitasnya, yaitu mendonorkan darahnya setiap tiga bulan sekali. Dan tentu saja setelah darahnya diambil Nisa terlihat sedikit lemas.
Hal yang diharapkan Nisa juga terkabul, Nisa juga tidak berpapasan dengan Ricky. Ketika urusannya selesai, saat berjalan di lorong rumah sakit dia berpapasan dengan orang yang tidak pernah disangka-sangka. Orang itu adalah Natasha yang bersama dengan seorang gadis lainnya.
"Natasha!?" tanya Nisa dengan ekspresi terheran-heran.
"S-sania!?" ucap Natasha dengan tampang sedikit panik.
"Kakak... dia ini adalah teman kuliahku, memangnya siapa lagi?" tanya Natasha dengan wajah bingung. Dan di sisi lain Nisa juga ikut-ikutan bingung.
"Hah... sudahlah," gadis itu lalu menghadap ke arah Nisa dan bersikap anggun sambil berkata, "Nyonya Nisa, tolong maafkan ketidaksopanan adik saya." ucap gadis itu sambil tersenyum.
"Siapa kau?" tanya Nisa sambil memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah.
Oh, ternyata kakaknya Natasha. Dia juga memanggilku nyonya, ternyata dia tahu siapa aku.
"Saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu, nama saya Chelsea Almayra Adinata. Dan yang bersama saya adalah adik saya, namanya Natasha Faradila Adinata. Jadi, tolong nyonya Nisa untuk melupakan ketidaksopanan adik saya..." ucap Chelsea sambil tersenyum.
"Tidak masalah kok, lagipula aku dan Natasha adalah teman..." ucap Nisa dengan senyum terpaksa.
Aku ingat sekarang, Natasha juga berasal dari keluarga yang berpengaruh. Kakaknya yang bernama Chelsea ini sangat anggun, berbeda sekali dengan Natasha. Tapi, sepertinya aku pernah mendengar nama orang ini. Oh iya, orang ini juga mengirimkan hadiah pernikahan yang isinya lingerie warna pink yang pernah aku pakai.
"Huh! Siapa yang temanmu!? Kita ini selamanya musuh!" Natasha lalu menengok ke arah Chelsea, "Untuk apa kakak bersikap sopan kepadanya?"
"Tentu saja harus bersikap sopan, karena dia adalah menantu dari keluarga Kartawijaya. Dia adalah istrinya CEO dari Group HW, Keyran Kartawijaya. Jadi jaga sikapmu kepadanya!" ucap Chelsea penuh penekanan.
"Apa!? I-ini..." Natasha lalu menatap Nisa dengan tatapan seakan tidak percaya.
Aku sudah meremehkanmu, Sania ini ternyata adalah menantu dari keluarga Kartawijaya. Bodohnya aku, selama ini aku terus mengolok-ngoloknya. Semoga saja dia tidak membuat perhitungan dengan keluargaku.
"Nyonya, sekali lagi tolong maafkan ketidaksopanan adik saya. Saya permisi..." Chelsea lalu menarik tangan Natasha dan segera menyeretnya pergi.
"Hmmm..." Nisa masih berdiam diri di tempat. Dia juga mengerutkan dahi sambil terus memandangi Chelsea dan Natasha yang berjalan meninggalkan rumah sakit.
Chelsea... nona besar dari keluarga Adinata. Menurutku sih dia orangnya terlihat cerdas, anggun dan sopan. Sepengetahuanku dia juga pernah diajak oleh Keyran untuk dikenalkan pada ayah mertua, tapi ayah mertua menolaknya mentah-mentah. Dan malah memilihku yang barbar ini menjadi menantunya, menurutku sebenarnya Chelsea lebih pantas ketimbang aku. Aku tahu hal ini juga dari mulut ayah mertua sendiri.
Dan untuk Natasha... dia pasti datang ke rumah sakit hanya untuk menemui Ricky! Sialan, pantas saja aku nggak berpapasan dengan Ricky. Ternyata Ricky punya kesibukan sendiri...
Aaahh nggak tau ah, cepetan pulang! Aku sudah merasa cukup lemas, tapi ini sebanding, dengan darahku aku bisa membantu orang lain. Semoga saja malaikat mencatat amal baikku dan mengurangi dosa-dosaku.
...Pada saat yang sama, kantor HW Group...
...••••••...
Keyran terus membolak-balik halaman dokumen yang telah Valen serahkan. Namun Keyran melakukannya dengan tatapan yang terlihat kosong, seperti pikirannya sedang berada di tempat lain. Valen yang melihat keadaan itu merasa heran dengan tingkah laku tuannya yang tidak seperti biasanya.
"Tuan, bagaimana dengan laporannya?"
"Laporan apa?"
"Itu... yang sedang tuan pegang," ucap Valen sambil menunjuk.
"Eh!?" Keyran langsung kelabakan mengecek laporan yang dia pegang.
"Belakangan ini tuan terlihat seperti tidak fokus saat bekerja, apakah ada masalah yang mengganggu pikiran tuan?"
"Entahlah, terkadang aku juga merasa kalau pikiranku terpecah. Dan juga ada sedikit perasaan gundah, sebelumnya aku tidak pernah merasa seperti ini." Keyran lalu meletakkan laporan itu di atas meja.
"Tuan merasa seperti itu ketika sedang memikirkan apa?"
"Ketika memikirkan tentang Nisa, entah kenapa aku merasa senang dan cemas di waktu bersamaan, juga merasa yakin dan ragu secara serempak. Dan... aku juga selalu merasa ingin tahu sedang apa dia sekarang. Menurutmu aku kenapa?"
"Ohh..." Valen lalu tersenyum, "Saya tahu yang sedang tuan alami, tuan terkena penyakit!" ucap Valen penuh keyakinan.
"Penyakit? Apakah itu mematikan!?" tanya Keyran dengan ekspresi panik.
"Iya, sangat mematikan! Penyakit itu dimulai dari huruf L..."
"Apakah leukemia?"
"Salah, yang lainnya."
"Liver? Ataukah mungkin lepra?"
"Bukan, ya ampun..." ucap Valen sambil geleng-geleng kepala.
"Cepat katakan! Atau... kau ingin gajimu dipotong!"
"Jangan, akan saya beritahu. Tuan itu terkena penyakit Love, yaitu cinta!!" teriak Valen dengan tangan yang membentuk hati di atas kepala.
"Itu mustahil, gajimu aku potong 2%!" ucap Keyran dengan wajah datar.
"Jangan! Saya tidak berbohong, kalau tuan tidak percaya, saya bisa membuktikannya!"
"Caranya?"
"Langkah pertama tuan harus meminta nyonya untuk kemari." ucap Valen sambil tersenyum.
"Kenapa harus begitu?"
Nisa mustahil datang kemari, dia masih marah kepadaku.
"Tentu saja harus! Jika nyonya bersikeras tidak mau, tuan bisa menipunya, bilang saja ada hal yang sangat mendesak, nyonya pasti akan cepat-cepat datang kemari."
"Hal mendesak..." untuk sejenak Keyran terdiam. "Apakah membuat kopi termasuk mendesak?"
"Tentu saja tidak! Saya ada ide, tuan bilang saja kalau tuan besar yang meminta agar nyonya kemari."
"Hmm boleh juga." Keyran lalu mengambil ponselnya dan bergegas untuk menelepon Nisa. Keyran menelepon berulang kali tapi tidak diangkat, saat menelepon untuk yang ke-9 kalinya, akhirnya Nisa mengangkatnya.
"Apa?" tanya Nisa yang terdengar sangat malas.
"Emm... sekarang juga kau harus ke kantor! Ayahku mencarimu, ini keadaan darurat! Kau dimana? Valen akan menjemputmu."
"Nggak perlu, aku akan naik taksi."
Tut... tut...
"...." ekspresi wajah Keyran berubah menjadi sedikit murung.
Ternyata Nisa masih marah, dia bahkan tidak mau bicara lama-lama denganku.
"Nah, sekarang tinggal menunggu kedatangan nyonya."
Karena belum bisa membuktikan, Keyran akhirnya tidak memperbolehkan Valen pergi meninggalkan ruangannya. Dan Valen pun akhirnya duduk di sofa lalu bermain ponselnya sembari menunggu kedatangan Nisa.
Beberapa saat telah berlalu, namun Nisa belum juga datang. Kesabaran Keyran sudah berada pada batasnya, dia juga berpikir bahwa Nisa sengaja berlama-lama supaya membuatnya semakin kesal.
"Hng! Kenapa belum datang juga, padahal sudah 45 menit."
"Bersabarlah tuan, mungkin saja macet..." ucap Valen yang masih bermain ponselnya.
"Mana mungkin jam segini macet? Nisa pasti sengaja mengulur waktu!"
"Huft..." Valen menghela napas lalu geleng-geleng kepala.
Akhir-akhir ini banyak sekali berita tentang kriminal, bahkan yang paling menggemparkan adalah berita tentang penjualan organ. Eh!? Berita i-ini... mungkinkah... Aku harus memberitahu tuan!
Valen langsung beranjak dari sofa dan mendekat ke arah Keyran, "Tuan, tolong lihat berita di internet sekarang!" ucap Valen dengan ekspresi panik.
"Memangnya ada apa?" Keyran lalu mengambil ponselnya, dan saat melihat berita ekspresinya langsung berubah, "I-ini..."
BREAKING NEWS 》》》
TERJADI KECELAKAAN BERUNTUN, MELIBATKAN 1 TRUK BERMUATAN DAN 3 MOBIL TAKSI, LALU LINTAS MACET.