Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Keyran VS Jonathan VS Ricky


Nisa langsung menarik tangannya kembali begitu sadar kalau orang itu adalah Ricky. Lalu dengan senyum canggung dia berkata, "Anu ... i-itu kamu duluan saja."


Untuk sejenak Ricky masih terdiam, dan kemudian dia tersenyum lembut. "Oke, makasih." Tanpa basa-basi lagi Ricky langsung berjalan pergi.


"Huuuh ... ya ampun."


Nisa akhirnya menunggu dengan sabar pesanan sosisnya. Namun jauh di lubuk hatinya masih merasa tidak percaya dengan yang barusan dia temui.


Setelah pesanan sosisnya jadi, Nisa memutuskan kembali lagi ke mejanya. Saat dia kembali, dia sangat terkejut karena Ricky ternyata sudah ikut bergabung bersama Keyran dan Jonathan. Meja dengan 4 kursi itu sekarang sudah penuh.


Atmosfer yang dihasilkan oleh ketiga pria itu benar-benar terasa mencekam bagi Nisa. Yang bisa dilakukan oleh Nisa hanyalah pasrah akan keadaan, dia meletakkan sosis bakar pesanannya di atas meja dan duduk kembali dengan santainya.


Meskipun terlihat santai, sebenarnya batin Nisa sangat tertekan. Di sebelah kirinya ada sang suami posesif. Di sebelah kanannya ada teman berharga yang baru saja menyatakan perasaan tapi ditolak. Dan tepat di depannya, ada sang mantan tercinta yang tak pernah diharapkan untuk kembali bertemu.


Keyran masih merasa sangat kesal karena Jonathan, dan semakin kesal lagi karena Ricky juga ikut bergabung. Baginya saat ini persaingan untuk mendapatkan hati istrinya semakin berat.


Jonathan juga masih menatap Keyran dengan tatapan sinis. Tapi dia sedikit bingung dengan kehadiran Ricky, dia belum mengetahui bahwa Ricky adalah mantan yang selama ini tidak bisa dilupakan oleh Nisa.


Sedangkan Ricky, sedari tadi dia terus tersenyum kepada Nisa. Dia menganggap Keyran dan Jonathan hanya sebagai angin lalu. Baginya, di matanya hanya ada Nisa seorang.


"Hei pendatang baru! Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauh dari istriku! Kenapa kau ikut duduk di sini hah!?" tanya Keyran pada Ricky dengan tatapan sinis.


"Aku duduk di sini karena tempat yang lain sudah penuh, toh kau juga tidak berhak untuk mengusirku. Dan ... ada yang salah dari kata-katamu, aku bukanlah pendatang baru, tapi kau yang pendatang baru." Ricky lalu melirik ke arah Jonathan. "Yang satu ini juga pendatang baru." ucap Ricky seakan meremehkan.


"Hei! Memangnya kau siapa hah!?" tanya Jonathan seakan tidak terima.


"Untuk apa kau tahu siapa aku? Dasar pendatang baru!" Ricky lalu merubah ekspresinya dan tersenyum pada Nisa. "Iya kan Nisa? Mereka berdua pendatang baru~"


Nisa membisu, sedangkan Keyran mulai merasa geram, dan Jonathan pun akhirnya tersadar akan suatu hal.


"...." Jonathan terdiam dan mulai memperhatikan Ricky dari atas sampai bawah.


Ternyata begitu toh, orang ini ternyata adalah mantannya Nisa. Aku hanya tahu sebatas kalau orang ini adalah ketua asosiasi kedokteran. Dan ternyata sainganku bertambah, dan pastinya nanti akan semakin sulit. Jika aku perhatikan sebenarnya orang ini juga lumayan licik, dia terus tersenyum kepada Nisa, padahal Nisa saja begitu menderita karenanya.


Keempat orang itu tidak berkata apa pun. Di antara mereka tidak ada yang berniat mengawali pembicaraan. Namun tetap saja ketiga pria itu saling melotot satu sama lain. Terlebih lagi Nisa, dia tidak tahu harus berbuat dan berkata apa dalam situasi seperti ini.


"Uuhh ... sial." gumam Nisa.


Kenapa bisa begini sih!? Terlebih lagi Ricky, kenapa dia bersikap seperti ini? Kenapa dia bersikap seakan-akan masih menginginkan aku? Mungkinkah baginya belum cukup untuk membuatku terpuruk. Dan suasana ini membuatku stress, aku harus mencairkan suasana.


"A-anu ... ada saran bahas apa terlebih dulu?" tanya Nisa dengan senyum canggung.


"Ohh aku tahu, kita bahas etika suami istri!" ucap Keyran penuh penekanan.


"Itu buruk, lebih baik kita bahas tata cara perceraian!" ucap Jonathan sambil melotot pada Keyran.


"Aku punya ide yang lebih baik, kita bahas kenangan masa lalu yang indah saja!" ucap Ricky dengan senyuman.


BRAAK!!


Keyran menggebrak meja. "Kalian berdua ini tidak tahu diri! Nisa adalah istriku, kalian berdua harusnya sadar batasan kalian! Terlebih lagi kau!" Keyran menunjuk ke arah Jonathan. "Kau cuma orang yang numpang lewat di hidupnya Nisa! Toh kau juga belum lama mengenal Nisa, kau hanya sekedar teman yang tidak penting! Jadi bermimpilah jika kau ingin aku dan Nisa bercerai!"


"Heh, teman yang tidak penting katamu?" Jonathan lalu menyeringai. "Asal kau tahu, aku ini bukan sekedar teman, aku ini pacarnya Nisa!"


"Joe ... kamu jangan ngawur! Kita mana ada pacaran!?"


"Tentu saja kita pacaran, tadi kamu untuk sejenak terdiam, itu artinya jawabanmu adalah iya, kamu ini sekarang adalah pacarku. Padahal kita juga sudah berciuman loh~ masa kamu sudah lupa?"


"Sialan Kau! Kau berani mencium istriku!? Kau benar-benar bajing*n yang kelewat bajing*n!" ucap Keyran sambil menunjuk-nunjuk ke Jonathan.


"Ckck ... kau sepertinya tidak terima sekali, jangan-jangan meskipun kau adalah suaminya Nisa tapi kau belum pernah berciuman dengannya~" ejek Jonathan.


"Hei, jaga ucapanmu! Asal kau tahu ya, aku dan Nisa setiap hari berciuman! Kau tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganku!"


"Hehe ... terlalu percaya diri~" Ricky lalu memasang senyum meremehkan. "Kalian berdua justru masih belum ada apa-apanya dibanding aku. Aku sudah bertahun-tahun bersama Nisa, dan kami berciuman sudah tak terhitung lagi banyaknya~"


"Uuuhh ..." Nisa mengerutkan dahi.


Lebih baik aku berciuman saja dengan tembok.


"Memangnya kenapa jika kau berciuman lebih banyak!? Aku adalah suaminya, sedangkan kau cuma mantannya!"


"Siapa yang bilang kalau aku dan Nisa cuma mantan? Asal kau tahu, kami ini adalah sepasang kekasih. Iya kan honey~"


Seketika Keyran menoleh ke arah Nisa dan tersenyum kepadanya. "Aku ini adalah suamimu loh, darling~"


Jonathan juga ikut-ikutan tersenyum kepada Nisa. "Kita juga baru jadian loh, sweetie~"


"Uuhh ... sekalian saja panggil aku umi." ucap Nisa dengan nada putus asa.


Astaga, siksaan macam apa ini!? Harusnya aku ikut Isma meriang saja! Padahal yang aku inginkan cuma bersenang-senang dan melihat kembang api, tapi aku malah dapat pacar dan kekasih baru. Dan suamiku ini ... nantinya saat di rumah pasti akan lebih repot lagi menghadapinya. Terlebih lagi Ricky, kenapa sih kebetulan banget juga ke bazar?


"Ricky."


"Iya honey, ada apa?"


"I-itu ... kamu kok juga pergi ke bazar?"


"Tentu saja aku pergi, aku pergi karena ingin mengenang kembali masa lalu. Kita dulu juga sering pergi ke bazar, kita berdua, hanya berdua."


"Hei, jaga sikapmu! Nisa adalah istriku, apa aku harus terus mengingatkanmu!? Kau dan Nisa memang punya hubungan, dan itu sudah berakhir! Kau cuma masa lalunya, dan sekarang Nisa adalah istriku, dia milikku! Peringatan ini juga berlaku untukmu Jonathan! Kau juga menjauhlah dari istriku! Kembali sana ke Italia, pulang ke rumahmu!"


"Punya hak apa kau menyuruhku pulang hah!? Toh aku juga punya rumah di sini. Aku mau dimana itu terserahku, bukan urusanmu! Lagi pula cuma kau yang ingin aku pergi, bukan Nisa yang ingin aku pergi."


"Heh, kau punya rumah di sini? Bukankah kau adalah anak terbuang, anak terlantar. Orang yang tidak diajari sepertimu memang tidak punya tata krama, bisa-bisanya ingin merebut istri orang."


"Jaga bicaramu! Kau hanya sedikit lebih beruntung saja dibanding aku. Toh kau menikah dengan Nisa juga karena dijodohkan, Nisa menikahimu itu karena terpaksa! Harusnya kau sadar diri, bebaskan Nisa! Terus bersamamu hanya akan membuatnya menderita!"


"Wah wah ..." Ricky tersenyum kepada Jonathan. "Meskipun aku belum mengenalmu, tapi aku juga sependapat denganmu. Nisa pantas untuk bahagia, begitu Nisa bercerai dia akan langsung bahagia. Toh memangnya apa yang bisa dibanggakan dari pernikahan terpaksa?"


"Hei, apa kau pantas bicara begitu hah!?" Jonathan lalu menatap Ricky dengan tatapan membunuh. "Kau sendiri juga yang membuat Nisa menderita, kau tidak tahu berapa banyak air mata yang dia jatuhkan, berapa banyak luka yang coba dia pulihkan. Semua itu hanya agar bisa membunuh perasaan untuk seseorang yang tidak berperasaan sepertimu! Dia sudah belajar untuk merelakanmu, jadi jangan datang lagi di kehidupannya!"


"Heh," Ricky lalu tersenyum sinis. "Kau berkata seperti ini apakah karena memang peduli atau karena iri? Kau sendiri telah membuktikan kalau yang dicintai oleh Nisa tetaplah aku. Jika kau ingin Nisa bahagia, seharusnya kau biarkan dia bersama denganku, yaitu orang yang dicintainya."


"Cih, kalian berdua ini bodohnya minta ampun! Apa pun yang kalian katakan, kenyataannya Nisa adalah istriku dan aku adalah suaminya! Pernikahanku dengan Nisa akan baik-baik saja asalkan kalian berdua menghilang! Aku bisa jamin kalau Nisa bahagia bersamaku, kalian tidak perlu ..."


"Cukup!! Yang aku inginkan adalah bicara baik-baik, bukannya malah saling memaki seperti ini. Sebenarnya kalian ini anggap aku sebagai apa?"


"Sebagai istri." jawab Keyran secara spontan.


"Sebagai pacar." jawab Jonathan.


"Kekasih." jawab Ricky.


"...."


Ya ampun, ini sudah di luar kendali. Ketiga pria ini telah membuat kapasitas otakku penuh. Rasanya kepalaku sudah hampir meledak.


"Huft ... baiklah, terserah kalian menganggapku sebagai apa. Karena kalian bertiga bersikap terang-terangan seperti ini, maka aku juga akan melakukan hal yang sama." Nisa lalu memandang ke arah Keyran. "Key ..."


"Apa?"


"Keyran ... kau adalah suamiku, semua orang tahu itu dan memang itulah kenyataannya. Semua ini hanya kesalahpahaman, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membohongimu ataupun berselingkuh darimu."


Nisa menarik napas panjang lalu memandang ke arah Jonathan. "Joe ..."


"Jonathan ... kamu adalah temanku, temanku yang berharga. Aku minta maaf karena sebelumnya belum pernah bercerita kalau aku sudah menikah. Aku tersanjung jika kamu memiliki perasaan terhadapku, tapi aku hanya menganggapmu sebagai teman, tidak lebih dari itu. Maaf karena tidak bisa membalas perasaanmu. Tapi, jika kamu ingin mengakhiri pertemanan denganku, aku tidak keberatan, aku paham. Terima kasih karena telah menghiburku dan ada saat aku membutuhkanmu."


"Lalu aku? Bagaimana denganku?" tanya Ricky sambil tersenyum sekaligus menanti ucapan Nisa.


"Ricky, kamu ... kamu itu ... Entahlah, aku kehabisan kata-kata untukmu." Nisa lalu merubah ekspresinya menjadi lebih ceria. "Nah, aku sudah jelaskan semuanya. Sekarang salah paham ini terselesaikan. Kalian semua paham kan maksudku?"


"Paham darling ..." ucap Keyran dengan senyum terpaksa.


"Paham honey~" ucap Ricky dengan tampang polos.


"Aku juga paham sweetie." ucap Jonathan dengan nada lembut.


"Kenapa kalian masih seperti ini!? Kalian ini sedang mempermainkan aku ya!?"


"Aku mana tega mempermainkan istriku tercinta. Kau saja yang belum menyadari sesuatu." ucap Keyran dengan nada malas.


"Sesuatu seperti apa?" tanya Nisa dengan wajah bingung.


"Kau belum sadar kalau mereka berdua ini sedang menyatakan perang secara terang-terangan denganku! Mereka berdua masih ingin merebutmu dariku!"


"Dia benar Nisa. Aku, Jonathan Harrison bersumpah, aku bersumpah akan merebutmu, bahkan jika nyawaku yang jadi taruhannya!"


"Hehe ... mana bisa aku ketinggalan. Aku, Ardian Ricky Pamungkas, aku selaku mantan kekasihmu bersumpah, aku bersumpah jika kamu pasti akan kembali lagi padaku, bahkan jika harus melawan seluruh dunia!"


"K-kalian ..."


"Cih, ternyata menginginkan pernikahan yang damai sangat sulit. Aku peringatkan, segera cabut sumpah kalian! Kalian seperti ini hanya akan membuat Nisa tidak bahagia. Pikirkanlah Nisa terlebih dulu!"


"A-aku ..."


Ay iyaiyai i'm your little butterfly


Green, black and blue make the colours in the sky


Ay iyaiyai i'm your little butterfly ...


Seketika semuanya tertegun saat mendengar suara nada dering ponselnya Nisa. Dan Nisa pun segera mengangkat panggilan tersebut.


"Haha ... i-itu lagu ring tone khusus punyaku ..." ucap Nisa dengan senyum canggung.


Sialan! Kenapa sih harus sekarang!?


"Kampret! Ada apa sih!?" bentak Nisa pada orang di telepon.


"Wah wah ... memang ratu sarkas, aku di belakangmu kak!"


"Eh!?" Nisa langsung berdiri dan menengok ke belakang, dan ternyata Reihan sudah berada tepat di belakangnya. "R-Reihan!?"


"Kaget nggak? Kaget nggak? Kaget lah, masa nggak! Hehe ... hallo kakakku sayang, udah lama loh nggak ketemu~" Reihan lalu mendekat ke arah Nisa. "Kayaknya seru nih, nimbrung aaahh!"


Reihan menoleh ke kanan kiri untuk mencari sebuah kursi kosong. Namun semua kursi tersebut sudah ditempati. Dia akhirnya mendekati salah satu perempuan yang tidak dikenal untuk meminta kursinya.


"Kakak cantik~ minta dong kursinya ... nanti aku follow deh ensta kakak, yaa?"


Berkat ketampanan Reihan, perempuan itu tersipu dan menurut saja menyerahkan kursinya. "I-ini kursinya ... nama akun-ku ... barbie123syalala. Follow ya!"


"Iya, makasih~" Reihan langsung mengambil kursi yang diberikan oleh perempuan tersebut.


Njirr ... barbie syalala katanya, mukanya saja mirip kek pantatnya panci. Tapi gapapa deh, toh nanti juga bisa di unfollow.


Reihan pun bergabung dengan gerombolan kakaknya. Dia duduk di antara Nisa dan Jonathan, bahkan tanpa sungkan juga memakan sosisnya Nisa.


"Kak Nisa bahas apa sih? Kok rame-rame, ada kakak ipar, mantan kakak ipar juga ada. Tapi yang satu ini siapa?" tanya Reihan sambil melirik ke arah Jonathan.


"Dia temanku, namanya Jonathan."


"Ohh teman toh, emmm ... btw, ganteng juga. Kakak Jonathan kok mau sih temenan sama kakakku?"


"Nisa, dia benar-benar adikmu?" tanya Jonathan dengan senyum canggung.


"Ya iyalah, mana mungkin anak adopsi, toh kalaupun anak adopsi, ayah ibuku mana mungkin pilih dia buat diadopsi."


"Kalau begitu," Jonathan tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Reihan. "Aku Jonathan Harrison, kakak iparmu."


"What!?"


"Hei, kau lagi-lagi melewati batas! Kakak iparnya cuma aku, Keyran Kartawijaya! Apa kau mau mencuci otak adik iparku untuk merebut istriku!?"


"Cih, siapa juga yang mau mencuci otaknya? Ini namanya pendekatan kepada adik ipar, benar kan adik ipar?"


"Hehe ... pendekatan apanya? Jika dibilang ... Reihan sudah pasti paling dekat denganku." ucap Ricky dengan percaya diri.


"Heemmm ..." Reihan lalu menoleh ke arah Nisa. "Kak Nisa ada rencana mau buat harem ya?"


"Harem palamu! Punya suami satu saja aku kewalahan, apalagi tiga?"


"Weleh-weleh ... selalu ada jalan keluarnya kok, nanti dibuat bergiliran biar semua dapat jatah! Kalau kak Nisa kuat sih ... tiga sekaligus kan mantap."


"Stress nih bocah!"


"Adik ipar, tolong dijaga ya mulutnya." ucap Keyran dengan senyuman, senyum kematian.


Aku saja selama ini baru dapat jatah satu kali, aku tidak rela jika harus dibagi.


"Yaa maaf, ini kan perkumpulan satu wanita yang disukai tiga pria. Wajar saja jika aku punya pikiran kak Nisa mau buat harem."


"Adik ipar, kau salah. Ini bukan perkumpulan satu wanita, tiga pria. Tapi ..." Keyran lalu menyeringai dan melirik ke arah Jonathan. "Satu wanita, dua pria, dan satu waria~"


"Kenapa melirik ke arahku!? Apa maksudmu hah!?" ucap Jonathan seakan tidak terima.


"Heh, tanya saja pada Nisa."


"I-itu maaf! Aku cuma bercanda kok! Aku percaya kalau kamu pria normal!"


"Oh, tidak apa-apa jika kamu ragu. Nanti aku bisa buktikan secara langsung padamu. Aku jamin pasti nanti aku akan memuaskanmu~ lebih memuaskan dibanding dengan suamimu."


"Hei, aku juga bisa melakukannya! Pasti akan lebih menyenangkan jika bersamaku!" ucap Ricky dengan antusias.


"Jaga bicara kalian! Kalian sudah sangat keterlaluan membicarakan hal ini depanku! Nisa sudah sangat puas denganku, bahkan saat itu dia ..."


"Cukup!! Diam kalian! Apa kalian sudah gila membicarakan hal itu di sini? Terlebih lagi ada adikku yang mendengarnya!"


"Ya ampun, ternyata seperti ini pergaulan kakak. Nanti aku bilangin ke ayah loh ..."


"Jangan woi! Dasar tukang ngadu! Main sendiri sana sama cewekmu!"


"Kak Nisa tega banget sih, masa aku diusir? Lagian aku nggak punya cewek."


"Cuma hantu yang percaya! Mana mungkin Reihan si fakboy nggak punya cewek!?"


"Aku serius, cewekku yang aku ajak main ke sini sudah aku putusin. Aku putus gara-gara aku telah dinodai olehnya."


"Dinodai!?"