
Malam hari pukul 9, sampai saat ini Nisa belum juga pulang ke rumah. Saat ini dia sedang berada di sebuah klub malam, yaitu DG Club. Suara alunan musik yang meriah memenuhi tempat hiburan malam itu, orang-orang berjoget kegirangan di tengah-tengah lantai dansa.
Nisa dan kedua rekannya saat ini sedang duduk di area bar. Di meja mereka terdapat beberapa gelas alkohol dan juga camilan. Nisa yang saat ini sedang mengisap rokok tiba-tiba berinisiatif untuk melihat ponselnya.
"Sudah jam 9, sebentar lagi aku harus pulang." Nisa kemudian menyimpan kembali ponselnya.
"Heh, serius mau pulang? Biasanya kalau belum dijemput juga belum mau pulang," ucap Ivan yang sedang asyik memakan kacang tanah. Terlihat banyak sekali kulit kacang yang berserakan di mejanya.
"Aku sudah bilang dari awal kalau suamiku sakit, tentu saja aku harus pulang tepat waktu," jawab Nisa dengan santai.
"Ckck, suami sedang sakit, tapi nyatanya sekarang main-main di club," ucap David yang kemudian meneguk segelas minuman beralkohol.
"Sakitnya sudah mendingan kok. Demamnya sudah turun, jadi tidak masalah aku tinggal sebentar."
Aneh juga, tumben sekali Keyran tak meneleponku ataupun mengirim pesan.
"Pffttt ... sebentar dari mana? Padahal dari pagi sampai sekarang belum pulang juga! Berhentilah mencari pembelaan!" David terkekeh.
"Humph!" Nisa memalingkan wajahnya, dia beralih menatap Ivan. "Oh iya, bagaimana perusahaan suamiku harus membayarmu? Kau mau tunai atau kredit?"
"Serius aku dibayar?! Biasanya bos menyuruhku cuma bermodal tarikan napas!" Ivan langsung bersemangat.
"Iya, aku serius! Kau melakukan sesuatu pada perusahaan suamiku, akan jadi hal yang mencurigakan jika kau tidak dibayar. Jadi kau mau tunai atau kredit? Kalau kredit maka akan aku transfer sekarang!"
"Wah ... bos benar-benar cantik, bos pantas jadi ratu iblis! Ah salah, yang benar ratu sejagat! Soal pembayaran aku mau tunai, jika kredit maka perusahaan suamimu bisa melacakku lewat nomor rekeningku. Atur saja seseorang untuk bertemu denganku besok."
"Baiklah, akan kuatur."
"Bos!" panggil David.
"Apa?" tanya Nisa dengan nada malas.
"Ngomong-ngomong ... bukannya tadi kau sudah melihat anak-anak baru? Bagaimana menurutmu?" tanya David.
"Bagiku mereka masih bayi polos, tapi beberapa di antara mereka punya potensi untuk tetap bertahan. Selama mereka belum pernah membunuh orang, mereka sama saja tak punya talenta."
"Wah wah ... kejam sekali~" ucap David seakan ketakutan.
"Memangnya kalimat itu pantas diucapkan olehmu? Kita semua sama saja, dasar aktor sejuta umat!"
"Hahaha! Aku suka saat membayangkan bagaimana para fans mu itu akan kecewa jika mereka tahu kau aslinya seperti ini," celetuk Ivan.
David menyeringai, dia menatap bayangan dirinya sendiri pada pantulan permukaan air alkohol. "Biar saja mereka kecewa. Memangnya mereka berarti bagiku? Dengan mudahnya luluh pada ekspresi dan kalimat manis seseorang yang jelas-jelas mereka tahu bahwa itu akting. Bagiku mereka semua cuma babi bodoh."
"Haha, keterlaluan! Harusnya yang barusan itu aku rekam lalu upload agar jadi trending topik. Lalu para fans mu yang terdiri dari remaja, tante-tante, bahkan lansia yang memimpikan bisa menikah denganmu akan patah hati! Dan hari itu akan diperingati sebagai hari patah hati nasional!"
"Hei, sudahlah. Jangan mengejeknya lagi." Nisa terkekeh.
"Cih, aku masih bertahan di dunia hiburan juga karena misiku belum tercapai."
Mendadak seorang pria datang mendekati mereka, dia tidak lain adalah sang pemilik klub malam tersebut. Nisa kemudian melirik orang itu dengan tatapan sininya.
"Dari mana saja kau, Damar? Kenapa baru datang sekarang? Aku sudah harus pulang tapi kita belum berbincang banyak."
"Maaf, tadi ada VIP yang ingin bertemu denganku. Oh iya, pakaian yang tadi kau minta juga sudah aku siapkan. Tapi yang membuatku bingung kenapa harus sama dengan pakaianmu yang sekarang?"
"Sebelum pulang aku mau mandi, aku tak mau bau rokok dan alkohol menempel di bajuku. Jadi aku minta baju yang sama persis agar suamiku tidak curiga."
"Suamiku, suamiku, suamiku! Dari tadi dia jadi alasanmu terus, kenapa tidak sekalian jujur saja padanya? Jadinya hidupmu tidak akan repot begini," ucap David.
"Kau tak tahu apa-apa soal rumah tangga, dasar bodoh! Memangnya kau sendiri mau bagaimana jika nanti kau punya istri sepertiku?"
"Akan aku perlakukan seperti ratu, punya istri sepertimu itu sangat keren, bos!" jawab David secara spontan
"Haiss ... pada dasarnya kau itu tidak normal, percuma aku minta pendapatmu." Nisa langsung mematikan rokoknya yang memang sudah pendek. Dia segera pergi dari sana dan menuju ke kamar yang sudah disiapkan oleh Damar.
***
Nisa sampai di rumah ketika sudah memasuki pukul 10 malam. Dia masuk ke kamar dengan hati-hati karena dia pikir Keyran sudah tidur. Tetapi, saat dia masuk ke kamar, dia justru melihat Keyran yang masih terjaga sedang menonton televisi.
"Kau belum tidur?" tanya Nisa.
"Belum, aku mau menunggumu baru setelah itu tidur."
Nisa tersenyum tipis, dia mendekati Keyran yang berada di sofa lalu ikut duduk bersamanya.
"Apa urusanmu sangat banyak sampai harus pulang selarut ini?" tanya Keyran.
"Ya begitulah ..." Nisa lalu menggenggam sebelah tangan Keyran. "Maaf, aku pulang terlambat. Aku tak tahu jika kau menungguku, jadinya sekarang kau terlambat beristirahat."
Keyran mematikan televisi, tiba-tiba dia bergeser lebih dekat dan memeluk erat tubuh Nisa.
"Kau sudah melakukan yang terbaik, terima kasih sudah menggantikan aku mengurus perusahaan. Terima kasih sudah merawatku sewaktu aku sakit, aku berhutang banyak hal padamu."
Nisa lalu membalas pelukan Keyran. "Hei ... aku ini istrimu, tidak ada yang namanya hutang di antara kita. Lagi pula aku melakukannya dengan senang hati."
"Kalau begitu ... bolehkah aku meminta satu hal lagi?"
"Hm?"
Keyran melepaskan pelukannya, kedua tangannya membelai wajah Nisa. Dia menatap lekat-lekat sosok yang membuatnya terpana. Wajah yang rupawan, manik mata berwarna cokelat yang menatapnya dengan polos, serta bibir manis yang selalu membuatnya tergoda.
Tiba-tiba Keyran mendaratkan bibirnya ke bibir mungil milik Nisa. Ciuman yang semula terasa lembut itu berubah menjadi lebih agresif, lidahnya ikut andil menikmati betapa manisnya itu.
"Uhmm ...?!" Nisa membelalak, dia terkejut dengan serangan mendadak yang dilakukan suaminya itu. Perlahan dia mencoba mendorong Keyran agar ciuman itu terlepas darinya.
"Ada apa, darling?" tanya Keyran tanpa rasa bersalah.
"Humph, kau bodoh! Kau itu masih sakit. Apa kau berencana membuatku tertular demam?!" Nisa lalu menyentuh wajah Keyran. "Lihat ini, tubuhmu panas!"
Keyran tertawa kecil, kemudian dia mendekat dan berbisik, "Tubuhku memang panas, dan itu bukan karena aku masih sakit. Tetapi karena reaksi lain~"
Jadi, yang dia maksud dengan meminta satu hal lagi adalah minta jatah! Tapi ini sedikit aneh.
"Key, apa benar kau sudah benar-benar sembuh? "
"Iya, lihatlah aku sekarang! Kondisiku sudah prima!" ucap Keyran yang berusaha meyakinkan Nisa.
"Aku hanya sedikit heran ... tadi pagi memang benar demam mu sudah turun, tapi aku tak menyangka sekarang kau sudah sembuh total."
"Kau merawatku dengan penuh cinta, tentu saja aku bisa cepat sembuh! Jadi kau tak perlu heran, karena ini yang dinamakan keajaiban cinta!"
"Haha, sungguh?" Nisa terkekeh.
"Iya, harus berapa kali aku mengatakannya? Tapi kau selalu saja bertanya, apa kau keberatan? Aku tahu kau baru pulang dan kelelahan, sebenarnya aku juga tak apa-apa jika tidak hari ini ..." ucap Keyran dengan wajah cemberut.
Nisa tersenyum tipis, dia meraih kedua tangan Keyran lalu menggenggamnya. Tiba-tiba saja dia memberikan kecupan di tangan itu. "Maaf ... aku hanya menggodamu, aku sama sekali tidak keberatan. Malam ini kau bebas mendapatkan apa pun yang kau mau."
Keyran menyeringai, dia berbalik menggenggam tangan Nisa lalu menariknya hingga membuat tubuh Nisa begitu dekat dengannya. Keyran mengulurkan sebelah tangannya, membelai pipi Nisa dan memberikan sensasi sentuhan lembut, nyaman nan hangat.
"Aku tidak mengizinkanmu menarik kata-katamu," ucap Keyran dengan suara maskulinnya yang khas.
Nisa mengangguk pelan, dia memejamkan mata karena terbuai oleh sentuhan itu. Wajah Keyran perlahan mendekat, kembali mencium bibir ranum itu dengan penuh kelembutan. Jari-jemari tangannya menyelusup di antara telinga dan rambut yang terurai itu.
Tanpa melepaskan ciuman itu, Keyran diam-diam membuka kancing blazer yang di pakai Nisa. Di sisi lain Nisa hanya patuh saat Keyran melepaskan blazer dari tubuhnya dan melemparkan blazer itu ke lantai begitu saja. Yang kini menyisakan sebuah kemeja berwarna biru muda yang masih terpasang rapi.
Keyran semakin mendominasi, dengan tekanan yang ia berikan, Nisa kini semakin merendah hingga kepalanya bersandar pada bantalan pinggir sofa. Sebelah tangan Keyran mulai bergerilya dari bawah, dia menyentuh paha mulus itu dan perlahan merayap ke atas.
Ciuman itu diakhiri secara sepihak oleh Keyran. Menciptakan sisa benang saliva terurai yang menjembatani bibir keduanya. Sebelah tangannya yang masih bebas secara perlahan bergerak, menggeser ibu jarinya untuk mengusap bibir milik wanita tercintanya.
"Rok mu sedikit mengganggu," keluh Keyran seakan tidak puas.
Nisa tersenyum lembut, kemudian dia berkata, "Lepas saja jika mengganggu."
"Hehe, kau sendiri yang memintanya." Keyran langsung melepaskan rok span pendek dari tubuh Nisa. Dia juga melepaskan pakaian dalam yang menutupi apa yang sangat dia sukai. Tanpa basa-basi lagi dia langsung menyelipkan tangannya di antara kedua kaki Nisa.
"Eumm ...."
Keyran tak berhenti sampai situ, dia langsung membuka kancing kemeja hingga tubuh bagian atas Nisa terlihat semua. Untuk sejenak Keyran tertegun, dia memandangi tubuh yang sangat menggoda untuk dinikmati itu.
"Apa kau hanya akan melihatnya saja?" tanya Nisa sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Aku tidak bisa mengalihkan mataku karena kau terlalu cantik. Tapi, aku tak akan melihat saja."
Keyran menunduk, dia memberikan kecupan di leher Nisa dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Kecupan yang dia lakukan kian menjalar ke mana-mana, semakin turun dan terus menyusuri semua area yang dia sukai. Suara kenikmatan tak henti-hentinya keluar dari mulut Nisa saat sentuhan lembut Keyran membuatnya jadi lemas.
"Ehnn ... Key." Napas Nisa kian bertambah cepat, dia menggeliat saat merasakan sensasi yang tak tertahankan di bawah sana.
Seketika Keyran menghentikan tindakannya, dia lalu mendongak dan memperhatikan raut wajah Nisa. "Ah, maafkan aku. Sepertinya jika di sini memang membuatmu kurang merasa nyaman."
Keyran langsung bangkit dan membopong Nisa yang sudah setengah telanjang. Kemudian dia tersenyum sambil berkata, "Bagaimana sekarang wahai tuan putri? Kau sudah percaya kalau suamimu ini benar-benar sembuh, kan?"
"Haha ... iya, aku percaya." Nisa merangkul leher Keyran lalu mencium pipinya.
"Nah, harusnya sejak awal kau percaya kalau suamimu ini adalah pria yang perkasa!"
"Hei, kalimatmu itu membuatku berpikir liar!" ucap Nisa malu-malu sambil memukul pelan dada suaminya yang bidang.
Keyran menyeringai. "Baiklah, berpikirlah seliar yang kau mau! Akan aku buktikan jika aku benar-benar perkasa!"
"Wah-wah ... setelah sembuh, kau jadi mesum ya~"
"Apa kau tidak suka?"
"Hehe, aku jauh lebih suka kau mesum seperti ini daripada saat kau sakit. Ini baru darling-ku!"
Keyran tersenyum, dia lalu berjalan mendekati ranjang sambil membopong Nisa. Dia merebahkan tubuh Nisa di atas kasur dengan penuh kelembutan. Satu per satu dia juga melepaskan semua pakaian yang tersisa di tubuh Nisa.
Di satu sisi Nisa juga membantu Keyran untuk melepaskan piama yang dia pakai. Tangan kurusnya menyentuh setiap jengkal tubuh dari pria berbadan atletis itu. Keyran memejamkan mata, dia menikmati setiap belaian lembut dari istrinya.
Hanya mengikuti naluri, secara spontan dia langsung membuat Nisa berbaring tepat di bawahnya. Mengurung istrinya di antara kedua tangan yang bertumpu pada tempat tidur. Kemudian dia menunduk, kembali melanjutkan pergulatan manis di bibir hingga suara decapan erotis keluar dari kedua bibir itu.
Hawa panas mulai dirasakan keluar dari tubuh keduanya. Nisa sempat terkejut ketika merasakan sesuatu yang keras telah menabrak dirinya. Sekejap kemudian ciuman yang serasa tiada akhir itu berhenti. Pandangan mata keduanya saling bertemu. Meskipun tanpa adanya kata-kata yang terucap, mereka berdua seakan-akan mampu saling memahami lewat tatapan mata itu.
Mendadak Nisa mengulurkan sebelah tangannya, membelai wajah merona dari pria tampan di hadapannya. "Sebelum mulai, bolehkah aku mengajukan permohonan?"
"Hm? Apa itu?"
"Perlakukan aku dengan lembut ..." pinta Nisa dengan suara lirih.
Keyran tersenyum, dia mendekat lalu berbisik, "Akan aku usahakan, tapi aku tidak bisa menjamin. Bisakah aku mulai sekarang?"
Nisa mengangguk pelan, dia segera mempersiapkan posisi tubuhnya dan bersiap untuk menerima serangan dari Keyran.
"Aahhh ...!" pekik Nisa saat Keyran berhasil memasukinya. Kedua tangannya seketika berpegangan erat pada bahu Keyran.
Keyran tersenyum puas melihat ekspresi istrinya saat ini, dia menunduk dan membungkam mulut Nisa yang cukup berisik dengan mulutnya sendiri. Kemudian dia mulai bergerak secara perlahan, persis seperti apa yang Nisa minta kepadanya.
Namun, Keyran sulit untuk mengendalikan diri lagi. Semakin lama tubuh bagian bawahnya bergerak semakin intens dan semakin dalam. Hingga membuat tubuh Nisa bergetar untuk yang ke sekian kalinya.
Semakin lama percintaan yang panas itu membuat Nisa makin merasa lemas, dia kelelahan karena memang belakangan ini kurang beristirahat. Mulai dari mengurus Keyran yang sakit hingga mengurus masalah perusahaan, semua itu membuat tenaganya seolah-olah habis tak bersisa. Permainan malam yang panjang ini sudah dipastikan bahwa Keyran lah pemenangnya.
🌹🌹🌹
Pagi hari tiba, karena kelelahan akibat pertarungan semalam, alhasil pagi ini Nisa masih tertidur pulas. Berbeda halnya dengan Keyran, saat ini Keyran sudah berpakaian rapi dan siap untuk berangkat ke kantor.
"Manisnya," gumam Keyran dengan senyuman saat melihat istrinya itu. Dia kemudian mendekat dan memberikan sebuah kecupan di keningnya.
"Maaf karena telah mengganggumu sepanjang malam. Kau memang obat yang paling manjur, Nisa. Meskipun kemarin aku sudah sembuh, tapi aku masih merasa kaku dan nyeri di sekujur tubuhku. Tapi berkatmu, sekarang aku merasa seperti terlahir kembali!"
"Aku berangkat ke kantor dulu, ya. Aku harus membereskan para tikus di perusahaan. Terima kasih sudah membantuku melewati masa-masa sulit, sekarang tidur dan istirahatlah sepuasmu. Aku mencintaimu."