
"Nisa ..." ucap Keyran dengan suara lirih. Dia duduk di pinggir ranjang kamar dan tangannya membelai kepala Nisa. Ekspresinya masih sangat khawatir melihat Nisa yang tak kunjung bangun. Dia juga telaten mengompres dahi Nisa dengan air hangat yang diletakkan di meja samping ranjang.
Untunglah dokter bilang kalau kau baik-baik saja, meskipun luka di lehermu menyebabkan demam, tapi untungnya tidak terlalu tinggi. Hasil pemeriksaan MRI juga menunjukkan bahwa kau baik-baik saja. Dokter bilang kondisimu aman jika dirawat di rumah. Tapi tetap saja ini kasus penculikan, aku harap tidak akan sampai menimbulkan trauma.
(MRI atau Magnetic Resonance Imaging adalah pemeriksaan yang memanfaatkan medan magnet dan energi gelombang radio untuk menampilkan gambar struktur dan organ dalam tubuh)
"Uhmm ..." Nisa perlahan membuka mata, dia melihat langit-langit yang tampak tak asing baginya. Dia menemui lehernya yang telah diperban rapi serta bajunya telah diganti dengan yang bersih. Saat dia melirik ke samping, dia melihat Keyran yang tersenyum dan matanya yang berkaca-kaca.
Nisa lalu melepas kain kompres yang masih menempel di dahinya, lalu dia berusaha untuk bangkit. Menyadari hal itu, Keyran langsung membantu Nisa dan mengambil sebuah bantal untuk digunakan Nisa bersandar.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Keyran sambil membelai pipi Nisa.
"Aku baik-baik saja." Nisa tersenyum lalu tiba-tiba menggenggam tangan Keyran yang ada di pipinya. "Tanganmu hangat ..."
"Hmm ... aku tahu," Keyran mengangguk pelan. Mendadak dia menarik tangannya lalu memeluk Nisa dengan lembut. "Aku khawatir sekali ... kupikir selamanya tidak akan bisa melihatmu lagi ..." ucapnya dengan nada gemetar.
"Key ... aku baik-baik saja, jadi tena .. uhuk .. uhuk ..."
"Eh?" Seketika Keyran melepas pelukannya. "Ada apa? Bagian mana yang tidak nyaman?"
"Semuanya oke, hanya saja tenggorokanku sedikit kering ..."
"Oh, aku lupa sesuatu." Keyran lalu mengambil napas panjang dan berteriak, "Bibi Rinn!"
Tak lama kemudian datanglah bibi Rinn dengan membawa sebuah nampan yang berisi semangkuk sup hangat dan segelas air hangat. Bibi Rinn juga tampak bahagia saat melihat Nisa sudah bangun. Dia lalu meletakkan nampan itu di meja yang berada di samping ranjang.
"Saya akan menyuapi nyonya," ucap bibi Rinn dengan senyum lembut.
"Biar aku saja, bibi Rinn bisa pergi." Keyran lalu mengambil sup itu dari nampan.
"Baik tuan, saya undur diri." Bibi Rinn langsung berjalan pergi meninggalkan kamar. Tapi saat di depan pintu dia berhenti sejenak dan tersenyum melihat majikannya.
Syukurlah nyonya telah sadar, tadi itu untuk pertama kalinya aku melihat tuan begitu khawatir. Semoga saja hubungan mereka selalu baik-baik saja.
Keyran menyuapi Nisa dengan hati-hati, di sisi lain Nisa juga menurut dan tingkahnya menunjukkan kalau dia memang baik-baik saja, dia sama sekali tidak mengeluh kesakitan.
"Cukup, aku sudah kenyang." Nisa lalu memalingkan wajahnya.
"Tapi kau baru makan setengahnya, ayo habiskan, setelah ini masih harus minum obat." Keyran menyodorkan sesendok sup ke mulut Nisa, tapi Nisa bersikeras tidak mau membuka mulutnya. "Haiss ... kalau begitu langsung minum obat saja."
Keyran menaruh kembali sup itu ke nampan dengan terpaksa. Dia lalu membantu Nisa meminum obat yang telah diresepkan oleh dokter. Setelah selesai minum obat, Nisa lalu tersenyum pada Keyran.
"Key, kau bau ... cepat mandi sana! Setelah itu peluk aku dan temani aku tidur ..." ucap Nisa sambil memanyunkan bibirnya.
"Oke, toh ini juga karena aku mengurusmu sampai aku lupa mengurus diri sendiri. Harusnya kau tidak keberatan jika aku bau ..."
"Iya iya ... wangi kok, kalau mandi pasti lebih wangi lagi. Cepat mandi ya darling~"
"Iya, aku akan cepat."
Keyran lalu bergegas menuju ke kamar mandi. Dan selagi Keyran masih mandi, bibi Rinn kembali masuk ke kamar untuk mengambil gelas dan mangkuk yang sudah digunakan. Sebelum bibi Rinn pergi dia mendoakan semoga Nisa cepat sembuh. Namun saat itu tiba-tiba saja Nisa memintanya untuk menyalakan televisi.
"Emm ... tolong ganti ke saluran berita." pinta Nisa dengan senyuman.
"Baik nyonya."
--
BERITA UTAMA MALAM INI >>>>
Sebuah pabrik tekstil yang sudah lama terbengkalai mendadak terbakar. Diduga kuat kebakaran terjadi karena unsur kesengajaan. Sejumlah unit mobil pemadam kebakaran telah ...
"Cukup, matikan! Bibi Rinn bisa pergi."
"I-iya nyonya."
Aneh sekali, masa menonton TV cuma sekejap itu? Hmm ... mungkin nyonya merasa pusing, makanya dia tidak nyaman menonton terlalu lama.
"Nanti sekalian tutup pintunya ya?" pinta Nisa dengan senyuman.
"Baik nyonya, saya permisi ..." bibi Rinn mengambil nampan dan segera pergi meninggalkan kamar.
"..."
Bagus, Ivan dan Dika melakukannya dengan baik. Tujuanku yang berhubungan dengan Keyran juga tercapai, sekarang aku bisa memastikan kalau dia benar-benar mencintaiku. Dia percaya pada pesan anonim itu adalah buktinya. Dan ... Humble Dog, awas saja kalian para anjing! Tunggulah pembalasanku, akan aku hancurkan kalian! Cepat atau lambat kalian akan melihat Trouble Lady yang sesungguhnya.
Tak lama kemudian Keyran telah selesai membersihkan diri. Dia segera berganti pakaian dan sehabis itu langsung naik ke ranjang.
"Nah, ini baru suamiku!" ucap Nisa sambil tersenyum.
"Jadi aku yang tadi itu bukan suamimu?" tanya Keyran dengan wajah cemberut.
"Hei ... aku cuma menggodamu, jangan terlalu ditanggapi~" tiba-tiba Nisa mencubit pipi Keyran. "Kau ini terbilang imut loh ... aku penasaran seperti apa tampangmu saat masih kecil. Apa kau ada fotonya?"
"Huh!" Keyran lalu menahan tangan Nisa yang mencubit pipinya. "Ada, tapi tidak mau aku perlihatkan. Kalau kau sangat penasaran ... kita tinggal buat anak saja, nanti pasti akan mirip denganku~"
"Iya ... nanti setelah lulus. Sekarang ayo tidur, obatnya mulai membuatku mengantuk."
"Oke."
Keyran membantu Nisa untuk berbaring, dia memasangkan selimut untuk dirinya dan istrinya. Kemudian dia menarik tangan Nisa dan dilingkarkan di pinggangnya, sementara tangannya merangkul pundak Nisa hingga mereka berdua saling menempel satu sama lain.
"Key ..." ucap Nisa sambil membenamkan wajahnya di dada Keyran yang terasa hangat dan nyaman.
"Hm?"
"Dokter bilang apa?"
"Eh? Bagaimana bisa kau tahu kalau aku membawamu ke dokter?"
"Tentu saja tahu, obat yang aku minum kan berdasarkan resep dokter. Jadi ... dia bilang aku kenapa?"
"Kau baik-baik saja, hanya demam dan itu pun tidak terlalu tinggi. Kau juga sudah diperiksa dengan MRI scan, dan hasilnya tidak ada yang salah pada tubuhmu."
"Oh, syukurlah ..."
Om anjing itu bilang organ dalamku akan rusak. Sepertinya racun saraf yang masuk ke tubuhku dosisnya sangat sedikit, toh penawar racun atropin juga sudah diberikan, aku bisa tenang.
"Nisa, apa kau merasa tubuhmu baik-baik saja?"
"Iya ... aku hanya merasa sedikit kebas karena sengatan listrik, orang yang menculikku menyiksaku dengan stun gun. Tapi di dekapmu seperti ini, sekarang aku merasa aman ..."
"..." Keyran lalu mengeratkan rangkulan tangannya. "Jika bersamaku merasa aman, maka setelah ini kau harus selalu di dekatku! Tapi kenapa kau mematikan GPS yang aku pasang di ponselmu?"
"Aku melakukannya karena merasa kurang nyaman, itu terkesan seperti terus diawasi, aku juga punya privasi sendiri. Key ... aku mohon pengertianmu, setelah ini aku janji ke mana pun aku pergi, aku akan selalu mengabarimu dulu."
"Hmm ... aku mengerti. Tapi mungkin ini pelajaran untukmu agar tidak terlalu sering keluyuran. Lalu, apa kau ketakutan saat masih berada di tangan penculik itu?"
"Untuk apa takut? Jika seseorang takut maka dia akan panik, bingung dan sulit berpikir, jadi aku berusaha setenang mungkin. Aku percaya kalau aku pasti akan selamat."
"Ya, istriku memang pemberani. Jangankan pada penculik, pada suaminya sendiri juga berani~"
Untunglah, sekarang aku bisa tenang kalau Nisa tidak akan trauma.
"Huh ... kau mengejekku. Tentu saja aku harus berani, memangnya ada yang mau jadi istri yang tertindas?" Nisa merasa kesal dan tiba-tiba mencubit pinggangnya Keyran.
"A-awww ... hentikan, ternyata kau masih punya tenaga ya untuk mencubitku. Kau memang bukan istri yang tertindas, justru aku inilah suami yang tertindas~"
"Humph! Berhenti bicara tentang hal konyol," Nisa berhenti mencubit lalu mengeratkan rangkulan tangannya. "Aku ini tak selemah yang kau bayangkan. Untuk mencubitmu aku juga tak pernah kekurangan tenaga."
"Iya aku tahu, istriku pemberani dan kuat. Emm ... tapi, apa yang penculik itu inginkan darimu?" tanya Keyran penasaran.
"I-itu ..." untuk sejenak Nisa terdiam. "Itu karena dirimu, penculik itu pikir karena aku adalah istrimu maka aku tahu semua informasi penting tentangmu dan perusahaan. Tapi kau tenang saja, mulutku tertutup rapat kok."
Maaf, aku membohongimu ... sekarang belum saatnya untuk kau tahu.
"Jadi yang penculik itu inginkan adalah semuanya tentangku, pantas saja dia tidak meminta tebusan. Tapi ... ada yang janggal, kenapa aku bisa menerima pesan anonim yang mengatakan kalau kau diculik? Bahkan si pengirim pesan itu juga melampirkan lokasi yang akurat."
"Emm ... mungkin salah satu dari penculik itu kasihan kepadaku, makanya dia berkhianat. Jika kau tidak bilang, aku juga tidak tahu."
Uuhh .. ini gawat, aku harus segera mengalihkan topik pembicaraan.
"Yaa .. itu mungkin saja, untunglah salah satu di antara mereka masih punya hati nurani. Lalu ... aku minta maaf ..."
"Eh?! Kenapa minta maaf?"
"Maaf ... karena kau istriku, musuhku dan orang yang membenciku terhitung banyak, aku minta maaf karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Tapi ke depannya aku pasti melindungimu dengan baik." ucap Keyran penuh penyesalan.
"Emm ... i-itu bukan apa-apa, jangan minta maaf. Ini juga diluar kemauanmu. Lalu ... tolong rahasiakan ini dari siapa pun terutama keluargaku."
"Oke, aku paham. Kau tidak ingin orang tuamu khawatir, toh ini juga berpengaruh terhadap nama baikku, aku tidak rela jika namaku tercemar karena gagal melindungi istri sendiri."
"Haha ... ribet ya jadi konglomerat. Terima kasih karena sudah mau merahasiakan."
"Kurasa cukup bicaranya, kau harus segera istirahat supaya demammu cepat turun. Ayo tidur, good night darling ..." Keyran mengusap kepala Nisa lalu mencium keningnya, dan setelah itu dia memejamkan mata.
"Hmm ... good night darling, have a beautiful dream ..." Nisa juga memejamkan matanya.
Untung saja Keyran setuju untuk merahasiakan kasus penculikanku. Masalah ini berhubungan dengan Grizzly Cat, yang aku takutkan adalah saat ayah mengetahuinya. Jika ayah tahu, sulit membayangkan hal apa yang akan dia lakukan.
Lalu untuk masalah Humble Dog, laptop milik budak anjing itu harusnya masih tertinggal di pabrik, ponselku yang baru juga tertinggal di sana. Ivan harusnya tahu apa yang harus dia lakukan. Aku harap di laptop itu tersimpan data-data penting yang berhubungan dengan Humble Dog. Semoga saja cepat membuahkan hasil, supaya dendamku cepat terbalas.
Sialan, berani-beraninya anjing itu melukai leherku! Jika sembuh pastinya akan meninggalkan bekas luka, jika aku ingin menghilangkannya dengan cepat terpaksa aku harus menggunakan salep dari Ricky. Tapi seingatku salep itu aku simpan di rumah ayah, aahhh .... sudahlah, kapan-kapan akan aku ambil. Sebaiknya sekarang cepat tidur, karena obat aku benar-benar sudah mengantuk.
***
"Aku sudah sehat, hari ini aku mau kuliah."
"Kau belum aku izinkan masuk kuliah! Kondisimu sekarang mudah terserang penyakit! Hari ini kau harus membolos!"
"Oke, suamiku suami idaman!" ucap Nisa sambil mengacungkan jempolnya.
"Tentu saja, pokoknya budayakan membolos!" (Sesat, jangan ditiru)
Ketika Nisa ingin mandi, Keyran juga tak ketinggalan untuk membantunya. Saat berganti pakaian, Keyran juga membantunya. Saat sarapan, Keyran juga menyuapi Nisa. Bahkan ke mana pun Nisa ingin pergi, selama ada Keyran maka dia akan menggendongnya.
Apa-apaan ini? Aku bukan orang lumpuh, kenapa aku mendapat perlakuan seperti ini? Sialan, aku mulai muak, dia ini menganggapku sebagai boneka barbie.
"Key, cepat turunkan aku! Aku cuma mau ke dapur ambil camilan, jadi berhenti menggendongku! Aku bisa jalan sendiri!"
"Tidak boleh! Lantai keramiknya dingin, nanti kau bisa sakit."
"Aku bisa pakai sandal! Jadi turunkan aku!"
Pasangan suami istri itu masih terus berdebat, dan hal itu disaksikan oleh bibi Rinn yang sedang menyapu lantai di dekat mereka.
"Haha ... sudahlah nyonya, jangan takut tangannya tuan akan pegal. Nyonya tidak gemuk kok, berat badan nyonya termasuk ringan." Bibi Rinn terkekeh.
"Siapa yang takut tangannya akan pegal?! Toh dia ini sangat kaya, dia bisa gonta-ganti tangan!"
"Sembarangan! Kau pikir aku manusia bongkar pasang?! Aku menggendongmu karena aku peduli padamu! Kau ini istri yang tidak menghargai usaha suami!"
"Usaha macam apa ini?! Lukaku cuma di leher, bukan di kaki! Apa kau juga akan memasang pagar besi di leherku?!"
"Jika itu permintaanmu maka akan terkabul."
"Aahhh! Cukup, aku muak! Kau pergi kerja sana! Jadi suami juga harus mencari nafkah!"
"Aku ini seorang CEO paling kaya loh, tapi kau masih menyuruhku mencari nafkah?"
"Persetan dengan itu! Aku cuma mau kau cepat turunkan aku, kabulkan permintaanku atau kau selamanya tidak akan dapat jatah!!"
"Huh .. baiklah, kau menang." Keyran lalu menoleh ke arah bibi Rinn. "Cepat ambilkan sandal!"
"B-baik tuan."
Bibi Rinn langsung berhenti menyapu lalu bergegas pergi mengambilkan sandal untuk Nisa. Saat dia kembali, sandal itu dipasangkan di kakinya Nisa terlebih dulu baru Keyran mau menurunkannya.
Begitu turun, Nisa berjalan dengan angkuh menuju ke dapur. Dan tiba-tiba saja kakinya terantuk kaki meja.
BRAK!!
"Aaahh ... kakiku!!" teriak Nisa kesakitan, dia melihat jari kaki kelingkingnya berdarah. Melihat hal itu, dengan cekatan Keyran kembali membopong Nisa.
"Ini namanya kualat!! Bibi, cepat ambilkan kotak P3K!"
"I-iya tuan." bibi Rinn bergegas pergi.
Haiss ... majikanku ini ...
***
Keesokan harinya lagi sikap yang ditunjukkan Keyran masih sama. Tapi Nisa mati-matian menyuruhnya untuk pergi ke kantor. Hari ini lagi-lagi Nisa tidak diizinkan untuk masuk kuliah, dan hanya ini satu-satunya kesenangan Nisa.
Sebelum Keyran pergi, dia mengancam Nisa untuk tidak keluar rumah. Jika masih bersikeras, minimal harus ada 30 bodyguard yang pergi bersamanya. Tentu saja Nisa memilih untuk diam di rumah, namun masih ada bibi Rinn yang juga diminta Keyran untuk terus mengawasi Nisa.
"Lapor tuan, nyonya baru bangun tidur dan masih ileran."
*
"Lapor tuan, nyonya habis dari kamar mandi dan menghabiskan waktu 6 menit 47 detik."
*
"Lapor tuan, nyonya sedang menimbang berat badan, beratnya turun 1 kilogram, 4 ons, 28 gram."
*
"Lapor tuan, nyonya mau makan, dia mengambil 2 paha ayam, 5 sendok sambal, 3 lembar daun kemangi, dan 1 setengah centong nasi."
*
"Lapor tuan, nyonya sedang bermain game, membunuh sebanyak 5 kali dan mati 14 kali."
*
"Lapor tuan, nyonya sedang melamun di halaman belakang, dia membayangkan masa depan bersama anak-anak tuan."
"Cukup! Bibi Rinn ini kenapa sih?! Kalau mau mengawasi yang agak jauh sedikit lah! Toh siapa juga yang membayangkan masa depan bersama anak-anak?! Masa depanku sudah pasti di rumah sakit jiwa jika bibi terus seperti ini!" teriak Nisa.
"Lapor tuan, nyonya marah-marah, emosinya sangat labil."
"Stress aku!!" Nisa langsung berlari secepat mungkin untuk pergi meninggalkan rumah.
"Lapor tuan, nyonya kabur!"
"Cepat suruh orang untuk mengejarnya!"
"B-baik."
***
Nisa berhenti sejenak ketika berlari dan sampai di perempatan jalan yang jauhnya sekitar 400 meter dari rumah. Dia lalu memasang senyum penuh kepuasan.
"Haha ... akhirnya aku keluar dari lubang neraka!"
"Lubang apa yang nyonya bicarakan?"
"Hah?!"
Nisa terkejut dan seketika menengok ke belakang. Dia lebih terkejut lagi saat melihat Valen sedang melipat tangannya yang berdiri di dekat rambu penyeberangan. Saat itu juga senyum Nisa hancur, dia putus asa sampai tak bisa berkata-kata.
"Sekedar informasi, seluruh CCTV dalam radius 20 kilometer dari rumah telah sepenuhnya dalam pengawasan tuan. Jika nyonya ingin berjalan-jalan, saya bisa menemani nyonya."
"Eeehmm ... terserah, ayo jalan."
Dengan langkah yang terasa penuh beban, Nisa mulai berjalan dan diikuti oleh Valen di belakangnya. Di sepanjang perjalanan, di antara mereka berdua sama sekali tidak ada percakapan.
Hingga pada akhirnya Nisa berbelok di sebuah minimarket, dia tergoda oleh minuman boba yang dijual di depan minimarket itu.
"Valen, belikan aku minuman itu! Yang rasa matcha!" ucap Nisa sambil menunjuk.
"Baik nyonya."
Tak lama kemudian Valen kembali bersama minuman yang diinginkan Nisa, dan Nisa langsung meraih minuman boba itu untuk segera diminum. Tepat sesaat sebelum minuman itu masuk ke mulut, tiba-tiba saja ada seorang pria asing yang menyenggolnya dengan keras hingga minumannya terjatuh.
PYARR ...
"Jambret! Copet! Maling! Tolong! Dompetku!" teriak seorang wanita dari kejauhan.
"Sialan! Orang yang menabrakku ternyata copet! Awas saja!" Nisa hendak berlari mengejar pencopet itu, namun tangannya ditahan oleh Valen. "Lepas woi! Aku mau kejar pencopet!"
"Tapi nyonya, ini berbahaya, tuan akan sangat marah!"
"Jika kau masih menahanku, maka sekarang aku yang akan marah!"
"Tapi ... tuan bilang harus menjaga nyonya, sehelai rambut pun tidak boleh jatuh!"
"Mana mungkin dia akan sadar kalau rambutku berkurang?!"
"Itu mungkin, bisa saja tuan diam-diam menghitungnya saat nyonya sedang tidur."
"Haa?" untuk sejenak Nisa terdiam. "Tapi ini hal mendesak! Kalau aku tidak boleh, maka kau yang kejar pencopet itu!"
"Tapi ... nanti nyonya kabur!"
"Aku janji akan tetap di sini! Cepat kejar sana!"
"Baik nyonya, jangan kabur loh!" Valen langsung berlari secepat mungkin mengejar pencopet itu.
"Cih!"
Berani-beraninya menjatuhkan minumanku! Awas saja nanti ...
Tak berselang lama kemudian tiba-tiba ada kerumunan orang-orang, orang-orang itu sedang menyaksikan pencopet yang dihakimi para warga. Nisa mencoba mendekat ke kerumunan itu. Dia tersenyum puas saat melihat pencopet itu babak belur.
Tiba-tiba ada sebuah mobil polisi lewat, para polisi membubarkan kerumunan itu dan langsung membawa si pencopet bersamaannya. Tapi dompet yang dicuri telah berada di tangannya Valen.
"Copet ... dompetku ..."
Si korban yang kelelahan berlari tiba-tiba datang. Dia menunduk dan mencoba mengatur napasnya. Saat itu juga Nisa dan Valen mendekati si korban.
"Ini dompetmu," Valen dengan senyumannya mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya.
"Haa ... haa ... makasih," si korban langsung mengambil dompetnya dari tangan Valen, lalu dia mendongak, "Sekali lagi terima ka ... eh?! Elo kan ... eh? S-sania ...?! "
"Isma?!"
"Temannya nyonya?!"