Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Violent Zone (1)


Saat ini Keyran mencoba mengalihkan rasa curiga kepada Nisa dari pikirannya. Seketika dia menghabiskan segelas wine yang berada di tangannya dalam sekali teguk.


TAKK!


Keyran meletakkan gelas yang telah kosong itu di atas meja. Dia lalu beralih menatap sekeliling, dia melihat istrinya yang berada di kejauhan masih tampak sibuk dengan orang-orang. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Nisa masih tampak sangat segar dan aktif berbincang dengan orang-orang.


"Hahh ... masih kuat minum ternyata," gumamnya dengan kedua alis yang saling mengait.


Tidak bisa begini terus, aku mulai semakin tidak tenang jika itu menyangkut tentang Nisa.


Benar saja, Keyran masih belum bisa menyingkirkan rasa curiga yang menghantui pikirannya. Justru yang terjadi malah sebaliknya, dia semakin mencurigai Nisa, dan kecurigaan itu semakin bertambah besar ketika dia mulai mengingat apa saja perbuatan-perbuatan aneh yang telah dilakukan oleh Nisa di masa lalu.


Karena terus-terusan memikirkan tentang Nisa, alhasil selama pesta berlangsung, dia tak lagi menikmati pesta itu sampai acara mendekati usai. Akhirnya saat beberapa tamu sudah terlihat meninggalkan acara, dia pun juga meninggalkan ruangan pesta itu.


Keyran hendak menenangkan pikiran dan berjalan menuju ke kamarnya. Ketika dia berjalan di lorong yang menjadi penghubung ke bagian rumah utama, tanpa disangka-sangka dia berpapasan dengan Chelsea.


Kedua orang yang pada dasarnya memiliki sifat dingin itu tidak saling bertegur sapa. Namun tiba-tiba saja langkah kaki Keyran terhenti, dia juga menahan sebelah tangan Chelsea. "Tunggu sebentar! Ada yang perlu aku bicarakan denganmu!"


Chelsea menoleh dan Keyran pun melepaskan genggaman tangannya dari Chelsea. Gadis itu melihat ke kanan kiri, saat menyadari tidak ada orang selain dirinya dan Keyran, dia lalu berkata. "Apa yang perlu dibicarakan? Apakah itu sesuatu yang penting?"


"Ehmm ... ya, bisa dibilang begitu." jawab Keyran.


"Aku tidak mengharapkan jawaban ragu seperti itu darimu, Tuan. Jadi mohon langsung ke intinya saja."


"Violent Zone."


Deg!


Sontak saja Chelsea membelalak, dia amat sangat terkejut dengan jawaban Keyran. Lalu dengan senyuman yang dipaksakan dia berkata, "Kenapa? Ada perlu apa kau dengan tempat kotor itu?"


^^^*Note: Violent Zone sudah pernah dibahas sedikit di episode [Secara Rinci atau Garis Besar, bab 56] ^^^


Keyran tersenyum tipis. "Aku kira kau akan berpura-pura tidak tahu apa pun tentang tempat itu."


Syukurlah, setidaknya dengan begini aku dapat mengatasi rasa curigaku terhadap Nisa. Karena aku ingat jelas bahwa Nisa juga tahu tentang tempat itu, tapi aku ragu apakah Nisa juga ada hubungannya, mungkin aku bisa mendapatkan petunjuk dari sana.


Chelsea menghela napas. "Tidak ada gunanya aku pura-pura tak tahu. Karena sudah jadi rahasia umum di kalangan seperti kita bahwa dulunya tempat itu adalah milik keluargaku. Ah, salah ... lebih tepatnya seseorang dari keluargaku."


"Dulu? Apakah sekarang sudah berbeda? Lantas siapa yang mengelolanya saat ini jika bukan orang dari keluarga kalian?"


"Ya begitulah, saat ini keluargaku sudah tidak mengelola tempat itu lagi. Sekarang keluargaku hanya terdaftar sebagai anggota VIP, sama sepertimu. Jadi aku tidak tahu jika ada perubahan-perubahan ataupun aturan terbaru setelah keluargaku tidak lagi mengelola."


Tiba-tiba saja Chelsea membisu, lalu menatap Keyran dengan tatapan curiga. "Untuk apa kau bertanya tentang persoalan ini? Apakah ini berguna untukmu?"


"Tentu saja ini berguna untukku. Sekarang kedua keluarga kita sudah resmi menjalin hubungan, dan orang-orang di kota pun sudah tahu akan hal itu. Sekarang di antara kedua keluarga sudah seharusnya saling terbuka, entah itu bisnis yang bersih, maupun yang berhubungan dengan underground sekalipun. Karena jika salah satu dari keluarga kita ada yang terkena masalah, nantinya juga akan menyeret keluarga yang satunya lagi. Aku ingin mengetahui ini cuma demi pencegahan untuk hal-hal yang tidak diinginkan, aku harus memastikan kalau semuanya beres." ucap Keyran berusaha meyakinkan Chelsea.


Chelsea tertegun, sambil mengernyit dia pun berkata. "Baiklah, yang kau katakan ada benarnya juga. Dan mengingat kalau sekarang kita akan lebih terbuka, maka aku juga akan berhenti bicara formal. Sekarang katakan, apa yang ingin kau ketahui?"


"Kau bilang bahwa keluargamu sudah berhenti mengelola bisnis itu. Kapan itu tepatnya?"


"Sudah lama, kurang lebih sekitar 4 tahun yang lalu. Lebih jelasnya lagi ... adalah semenjak kakakku tiada."


"M-maksudmu ... satu-satunya Tuan Muda Adinata, William?!" tanya Keyran seakan tidak percaya.


"Benar, dia seumuran denganmu. Syukurlah masih ada yang mengingat dirinya selain keluarga kami." Chelsea mendadak memelankan suaranya. "Kak Liam, dia ... meninggal di usia muda. Ayahku memberikan kesaksian ke publik bahwa dia meninggal karena kecelakaan. Tapi, sebenarnya dia dibunuh. Dia tewas bersamaan dengan tragedi terbakarnya kapal pesiar 4 tahun yang lalu."


^^^*Note: Meninggalnya Tuan Muda keluarga Adinata pernah diungkit oleh Jonathan di episode [Kunjungan Dadakan (2), bab 99] ^^^


Keyran cukup terkejut dengan pernyataan Chelsea. Lalu dia berkata, "Aku ingat itu, itu bertepatan saat malam tahun baru! Saat itu aku mendapatkan undangan untuk hadir di kapal pesiar itu, di undangan itu tertulis akan diadakan final turnamen hidup dan mati. Tapi aku tidak menghadirinya, andai saja aku hadir mungkin aku sudah ikut terbakar di kapal itu."


"Oh, mengapa tidak hadir? Padahal undangan itu limited loh, banyak pebisnis asal Tiongkok yang berharap bisa mendapatkannya." ucap Chelsea asal.


"Aku melihat daftar tamu VIP lain yang diundang, dan ada salah satu musuhku juga yang ternyata juga diundang. Jadi aku tidak sudi hadir, aku pikir musuhku itu sudah mati, tapi siapa sangka dia masih hidup, bahkan sampai beberapa saat yang lalu berusaha merebut istriku." (musuh yang dimaksud adalah Jonathan)


"Hah? Tapi setahuku daftar para tamu itu dirahasiakan."


"Kau tahu sendiri lah, aku mengeluarkan sedikit uang untuk mendapatkan daftar itu. Tapi lupakan hal itu, bagaimana kelanjutan yang tadi? Jadi mendiang kakakmu William yang sepenuhnya mengelola bisnis itu?"


"Iya. Seperti yang diketahui orang-orang, mendiang kakakku tak terlalu suka berurusan dengan bisnis yang seperti keluargaku geluti. Jadi aku yang sejak dulu lebih sering menangani bisnis perusahaan keluarga kami. Tapi ... ternyata mendiang kakakku punya rahasia lain. Dia diam-diam membuat sebuah kelompok, bahkan bisa disebut kelompok mafia."


"Saat ayah mengetahui hal itu, beliau sangat marah. Tentu saja reputasi keluarga akan hancur di hadapan publik jika tersebar bahwa kakakku adalah mafia. Kak Liam yang keras kepala juga sempat tidak pulang ke rumah selama berbulan-bulan. Lalu soal Violent Zone ... awalnya aktivitas gelap itu adalah arena pertarungan liar yang berlokasi di basement tersembunyi. Dan orang-orang yang memiliki bayak uang bertaruh untuk jagoan mereka. Tapi popularitasnya semakin lama semakin naik, akhirnya dari basement berpindah ke kapal pesiar yang hanya diperuntukkan bagi kaum elite. Siapa yang menyangka bahwa pertarungan bawah tanah yang dimulai tanpa perencanaan yang matang, sekarang menjadi sebesar ini."


Sejenak Keyran tertegun, kemudian dia berkata, "Kau masih menjadi VIP, bukan? Aku perlu kau untuk membawaku ke sana!"


"Apa?!" Chelsea terkesiap. "Tidak bisa! Tempat itu tetap tidak berubah, Violent Zone masih berada di kapal pesiar yang sekarang sedang berada di tengah lautan! Aku tidak bisa bukan karena keterbatasan transportasi ke sana, tapi aku sudah memutuskan untuk tidak berurusan lagi! Lagi pula kau sendiri juga VIP, kau bisa pergi ke sana sendiri dengan helikopter milikmu!"


"Tolonglah, jika aku bisa maka sudah aku lakukan sejak dulu. Aku perlu kau, kau yang berasal dari keluarga Adinata. Aku membutuhkanmu untuk mendapatkan akses bicara dengan petinggi di sana saat ini. Yang aku inginkan adalah informasi lengkap, aku ingin tahu semuanya." Keyran bersikeras.


Chelsea mengepalkan tangan sekuat mungkin. "Tidak bisa, meskipun aku VIP dan mendiang kakakku mantan pemimpin di sana, aku tidak yakin bisa mendapatkan akses untuk bicara dengan pemimpin saat ini. Organisasi semacam itu sangat tertutup dan sangat menjaga kerahasiaan."


"Kita tidak akan tahu jika belum mencobanya! Mungkin saja dia tidak menolak jika dua orang VIP yang datang."


Chelsea menggigit bibirnya sendiri, lalu dia menatap Keyran lekat-lekat. "Baiklah, tapi aku punya syarat. Jika nanti kau dapat akses, tolong bantu aku mengungkapkan kasus kematian kakakku yang sebenarnya! Aku tidak akan tenang jika pembunuh kakakku masih berkeliaran dengan bebas!"


"Oke, kita sepakat. Kalau bisa kita berangkat ke sana malam ini."


"Baiklah, aku akan coba menghubungi seseorang yang bekerja di sana. Aku masih punya nomor kontak 1 orang." Chelsea lalu mengeluarkan ponselnya dan mencoba melakukan panggilan dengan orang yang dia maksud.


Di sisi lain dari lorong itu, tanpa sepengetahuan mereka berdua, ada seseorang yang sedang berjalan pelan di sana. Orang yang sedang berjalan dengan santai dan bahkan bersenandung itu tidak lain adalah Nisa.


"Hmm hmm hmm ..."


Aku sudah mengantar ayah dan ibu pulang, untung saja Reihan tidak ikut, jika dia ikut akan jadi apa pesta ini nanti. Lalu tadi para tamu juga sudah banyak yang pulang, ini artinya aku bebas berpesta sendiri! Aku akan memimpin band orkestra dan menyanyikan lagu Jepang, hahaha, mampuss kau Natasha! Pestamu akan jadi semakin meriah.


Tiba-tiba saja langkah kaki Nisa terhenti. "Eh, itu darling! Tapi apa yang dia bicarakan dengan Chelsea secara diam-diam begitu?" gumamnya.


"Oh, oke! Koordinat kapal pesiar sudah didapatkan!" ucap Chelsea yang saat ini terdengar jelas di telinga Nisa.


"Kapal pesiar ...? Koordinat?" tiba-tiba Nisa termenung. Sedetik kemudian dia berlari ke arah Keyran secepat mungkin.


Tidak boleh! Jangan sampai seperti yang aku bayangkan!


"DARLING!!" teriak Nisa sekeras mungkin sambil memeluk Keyran dari belakang.


"Eh?! Jangan mengagetkan aku!! Sejak kapan kau ada di sini?!"


"Hehe, baru saja~"


"Oh," Keyran lalu melepaskan pelukan Nisa dari tubuhnya.


Untung saja kau tidak mendengar semuanya.


"Aku sudah siap, lalu kau?" tanya Chelsea pada Keyran.


"Aku juga sudah siap, mari berangkat sekarang."


"Tunggu sebentar!" sahut Nisa. "Kalian mau ke mana malam-malam begini?"


"Kami ada urusan bisnis." jawab Chelsea.


"Hei, hari ini adalah hari resepsi pernikahan adikmu. Masa di hari seperti ini kau masih membicarakan bisnis?"


"Dia benar Nisa. Kami ada urusan bisnis yang sangat penting," ucap Keyran.


"Jadi malam ini kau akan meninggalkan aku sendiri? Apa urusan bisnis lebih penting dari istrimu?"


"Maaf sayang, tapi kali ini urusannya memang sangat penting. Mungkin aku tidak akan pulang malam ini, kau tidurlah yang nyenyak, oke?" Keyran lalu mengusap kepala Nisa dan segera pergi dari sana bersama dengan Chelsea.


TAP TAP TAP ...


Langkah kaki kedua orang itu kian menjauh dan kian mendekat ke ujung. Nisa yang saat ini sendirian berada di lorong pun hanya diam dan menundukkan kepala. Dia juga mengepalkan kedua tangannya seerat mungkin.


"Aku lengah ..." gumamnya dengan nada pasrah.


Kapal pesiar, koordinat, malam hari lalu marga Adinata. Aku tahu betul apa yang ingin kalian selidiki. Aku bisa saja membuat kalian kembali dengan tangan kosong. Ini mungkin memang sudah hukumanku karena aku lengah.


Tapi ... sampai kapan? Sampai kapan aku akan terus membohongi suamiku sendiri? Aku memang ingin memberitahu semuanya suatu saat nanti, ini masih terlalu cepat, aku harus menunggu saat yang tepat.


"Saat yang tepat itu kapan?" gumamnya, dia mulai bingung dan bertanya pada dirinya sendiri.


Sialan, berikan aku waktu lebih banyak untuk berpikir!