
"Hah?!" Jonathan ternganga, dia masih sulit mempercayai bahwa dia diajak menikah oleh seorang anak kecil.
Dan tentu saja bukan cuma Jonathan yang terkejut, Nisa dan Ricky juga sedikit syok. Namun setelahnya mereka berdua malah kompak tertawa.
"Hahaha! Dilamar anak kecil, gagal dapat Nisa terus jadi pedofil!"
"Haha! Terima saja Joe! Jarang loh ada orang sebaik Yuna mau melamarmu!"
Jonathan semakin kesal karena ditertawakan oleh Nisa dan Ricky. Tapi masih ada satu orang lagi yang ikut kesal, dia adalah Keyran. Keyran langsung beranjak dari bangku, dia berlari ke arah Yuna lalu berjongkok di sebelahnya dan memegangi kedua pundak Yuna.
"Yuna, cepat tarik kembali kata-katamu! Tadi katanya mau buktikan bahwa mereka adalah orang baik, kenapa malah jadinya mengajak orang jahat ini menikah?!"
"Kata mama, orang yang baik itu mau menerima segala kekurangan pada diri orang lain. Papa juga begitu, mau menerima mama apa adanya. Makanya papa mau menikah dengan mama. Dan jika Om Nathan mau menikah dengan Yuna, maka dia adalah orang yang paling baik!" ucap Yuna dengan senyumannya yang polos.
"Bukan begitu juga konsepnya Yuna! Dia ini orang yang paling jahat, dia itu harusnya dipenjara selama sejuta abad!" Keyran menunjuk pada Jonathan, namun karena tersinggung akhirnya Jonathan menepis tangannya.
"Ya, aku jahat! Memang apa urusanmu?! Kau sepertinya dekat bocah tengik ini, jauhkan dia dariku!"
"Nah, Yuna sudah percaya kan? Dia bahkan berkata kasar pada Yuna, jadi sebaiknya Yuna bermain saja dengan Om Key, jangan dekat-dekat dengan orang sesat ini!"
"Tidak mau! Yuna tetap ingin bersama Om Nathan, Om Key main sendiri saja!"
"A-apa?!" Keyran sulit percaya dengan yang dia dengar.
Apa-apaan ini?! Pertama istriku lebih senang bersama bajing*n ini, lalu sekarang Yuna juga lebih suka dengannya ketimbang denganku. Sebenarnya apa yang dia punya sedangkan aku tidak punya?
Lagi-lagi Keyran merasa hatinya hancur, satu-satunya pelipur lara yang menghiburnya kini beralih ke orang lain.
"Om Nathan, om setuju kan menikah dengan Yuna kalau sudah besar? Kalau setuju, cepat terima bola ini! Ini mahar sebagai tanda cinta Yuna!"
"Pffttt ... hahaha! Tanda cinta katanya!" Nisa dan Ricky tertawa bersamaan, mereka berdua menganggap bahwa tingkah Yuna sebagai tontonan yang menghibur.
"Kenapa kalian berdua tertawa?! Ini tidak lucu!" Jonathan lalu memasang tampang seperti ingin membunuh kepada Yuna. "Pergi! Main saja sama Om Key mu! Main jauh-jauh! Ke luar galaksi saja sekalian, mandi bola di black hole sana!"
Bisa-bisanya bocah tengik ini bilang cinta padaku, aku saja belum pernah bilang cinta pada Nisa. Tapi Nisa justru malah tertawa karenanya, ini benar-benar menyebalkan! Rasanya ingin sekali mengubur bocah ini hidup-hidup.
"Tidak mau! Yuna tidak mau pergi kecuali Om Nathan setuju untuk menikah dengan Yuna dulu!"
Apa itu black hole? Apakah itu empang dengan air berwarna hitam? Sebaiknya nanti tanya ke mama saja.
"Cukup Yuna! Sebenarnya apa alasan Yuna bersikeras ingin menikah dengan dia?" tanya Keyran sambil melirik ke arah Jonathan dengan penuh kebencian.
"Pertama, karena Yuna percaya bahwa Om Nathan adalah orang baik. Kata mama, setiap orang itu bisa berubah. Jadi meskipun Om Key bilang kalau Om Nathan jahat, pasti suatu saat dia akan berubah. Dan yang kedua, Yuna sudah jatuh cinta kepadanya!"
"Hahaha! Cepat terima Joe! Orang sepolos Yuna jangan sampai dilepas!"
Gila! Ini lebih menghibur ketimbang menonton Naruto.
"N-Nisa, kenapa kamu malah begitu? Apa kamu tidak lihat kalau aku muak dengan bocah ini?" tanya Jonathan seakan tidak percaya.
"Entahlah, rasanya gereget gitu lihatnya. Iya kan Rick?"
"Iya, baru pertama kali aku melihat hal seperti ini. Lagi pula Yuna cuma anak kecil yang polos, jadi terima saja lamarannya. Toh orang kan tidak ada yang tahu masa depan akan seperti apa. Mungkin saja saat dia besar nanti, justru kau yang akan mengejarnya~" ejek Ricky dengan muka minta dihajar.
"Iya om! Cepat terima Yuna! Kak Nisa dan dokter Ricky juga mendukung. Yuna janji, di masa depan Yuna akan jadi istri yang baik!"
"Tutup mulutmu! Apanya yang istri?! Kalau mau main rumah-rumahan maka ajak saja orang lain!" Jonathan lalu menatap ke arah Keyran. "Apa kau yang menghasutnya untuk mengatakan semua ini?!"
"Apa?!" Keyran langsung berdiri dan berkacak pinggang. "Justru aku yang paling kesal! Bahkan jika yang dibilang oleh Yuna semuanya adalah kenyataan, maka aku adalah orang pertama yang akan menentangnya! Jadi tolak saja Yuna, biarkan dia membencimu lalu menjauh darimu!"
"Hah?!" Jonathan ikut berdiri dan menyilangkan tangannya. "Memangnya siapa juga yang mau menerimanya?! Asal kau tahu, aku sangat tidak suka dengan anak kecil yang sok sepertinya!"
"Huuaaa ... Om Key jahat! Gara-gara om, jadinya sekarang Om Nathan semakin tidak suka kepada Yuna!" Yuna merengek sambil memukul-mukul kaki Keyran.
Semuanya langsung diam begitu melihat Yuna merengek, bahkan Nisa dan Ricky yang tadinya terus tertawa juga diam. Diamnya Keyran sebab dia tidak menyangka bahwa Yuna akan menyalahkannya. Sedangkan Jonathan, dia diam karena merasa puas melihat Yuna yang memukuli Keyran.
Yuna semakin menjadi-jadi, dan tiba-tiba saja Ricky maju dan menghampiri Yuna. Ricky bahkan juga menghentikan Yuna memukuli Keyran.
"Yuna ... jangan seperti ini, oke? Tidak ada yang tidak suka dengan Yuna kok, semuanya sayang pada Yuna. Ayo, ikut dokter Ricky saja!" bujuk Ricky sambil mengusap air mata di pipi Yuna.
Yuna mengangguk, kemudian dengan pasrah dia mengikuti Ricky. Ricky mengajak Yuna untuk menenangkan diri duduk di bangku. Sementara Nisa yang duduk di bangku bergeser ke samping, dan Yuna pun duduk di tengah-tengah Nisa dan Ricky.
"Ckck ... anak orang dibuat nangis," ucap Ricky sambil menatap Keyran dan Jonathan dengan tatapan tidak suka.
Nisa juga ikut berusaha menenangkan Yuna, dia mengusap-usap punggung Yuna dengan lembut. "Yuna jangan sedih, sekarang beritahu kakak, apa alasan Yuna yang sebenarnya ingin menikah dengan Om Nathan?"
"Tadi kan Yuna sudah bilang, Yuna jatuh cinta." jawab Yuna dengan wajah cemberut.
"..."
Anak ini, bisa-bisanya dengan mudah mengatakan hal itu. Untungnya dia masih kecil, masih belum tahu bagaimana rasanya orang menderita karena cinta.
"Huft ... baiklah, karena cinta. Lalu apa alasan Yuna bisa jatuh cinta? Padahal kan Yuna baru pertama kali bertemu dengan Om Nathan."
"Memangnya cinta butuh alasan?"
"I-itu ..."
"Tentu saja butuh!" Ricky menyela, dan seketika pandangan Nisa dan Yuna tertuju kepadanya. "Jika seseorang jatuh cinta tanpa alasan, maka dia bisa saja jatuh cinta ke siapa pun tanpa pengecualian. Orang jika jatuh cinta itu pasti setidaknya punya satu alasan khusus, yaitu alasan yang membuat orang yang dicintai itu jadi istimewa. Jadi ... apa alasanmu jatuh cinta?"
Yuna termenung, begitu juga dengan yang lainnya. Mungkin kata-kata yang dilontarkan oleh Ricky memang untuk Yuna, namun karena setelah mengatakannya Ricky malah melirik ke arah Keyran dan Jonathan, jadinya kedua pria itu juga ikut termenung.
PROK PROK PROK ...
Tiba-tiba saja di tengah kesunyian itu Jonathan bertepuk tangan. "Wah wah ... hei bocah! Kau ajak saja dokter sang ahli cinta ini menikah! Ajak dia main rumah-rumahan denganmu!"
"Apa maksudmu?! Kenapa malah melemparnya padaku?!" tanya Ricky yang tampak tidak terima.
"Karena kau lebih pantas, pria sok lembut dan romantis sepertimu paling cocok main rumah-rumahan!"
"Tidak mau!" teriak Yuna yang mengagetkan semua orang. "Sekarang Yuna sudah tahu alasan Yuna jatuh cinta sama Om Nathan!"
"What?! Seriously?!" Jonathan menatap Yuna dengan tatapan ilfeel.
"Apa? Apa? Ayo katakan!" ucap Nisa dengan antusias.
"Karena ... Om Nathan orangnya ganteng!"
"Hah?!"
Seketika semuanya terkejut, dan setelahnya semua orang mulai memperhatikan wajah Jonathan dengan saksama. Namun setelahnya Nisa dan Ricky malah kembali terlihat menahan tawa.
Hahaha! Padahal secara tidak langsung Yuna bilang kalau aku kalah ganteng dibanding Jonathan, tapi aku malah merasa senang.
Namun masih ada orang yang bertambah jengkel, yaitu Keyran. Dia bergegas pergi ke hadapan Yuna lalu memegangi kedua pundaknya.
"Yuna, itu alasan yang klise! Jika Yuna sudah besar nanti, saat itu dia sudah tua, dia sudah jelek melebihi babi keriput!"
"Cih, memangnya untuk apa menunggu sampai dia besar? Toh bocah tengik ini akan segera mati karena penyakitnya!" ucap Jonathan dengan enteng.
Seketika senyum polos Yuna hancur, wajahnya terlihat murung kemudian dia menunduk. Bahkan yang lain pun ikut merasa geram dengan perkataan Jonathan barusan.
"Joe!! Tolong jaga ucapanmu! Bisa tidak hargai perasaan Yuna sebagai anak kecil? Sedikit saja tolong hargai dia! Bahkan jika Yuna membuatmu merasa terganggu, setidaknya tolong bicara secara baik-baik, bukan dengan cara seperti ini!" ucap Nisa dengan nada tinggi.
"..." Jonathan lalu memalingkan wajahnya.
Kenapa sisi keibuan Nisa mendadak muncul? Bahkan dia berpihak penuh pada bocah yang baru saja dia temui.
Tiba-tiba saja Yuna mendongak, dia lalu menoleh ke arah Nisa sambil berkata, "Kak Nisa tolong bawa ini!" pintanya sambil menyodorkan bola tenis miliknya.
Nisa mengangguk dan menerima bola itu. Sedangkan Yuna, dia tiba-tiba beranjak dari bangku lalu menghampiri Jonathan.
"Om Nathan! Ayo taruhan!" ucap Yuna dengan suara lantang.
"Apa maksudmu?" tanya Jonathan kebingungan.
"Ayo bertaruh, tadi om bilang kalau Yuna akan segera mati. Tapi jika Yuna berhasil hidup sampai besar, maka saat itu Om Nathan harus setuju menikah dengan Yuna! Mulai sekarang Yuna akan terus hidup demi Om Nathan!"
Sontak saja semuanya kaget sekaligus kagum, mereka kagum karena anak kecil seperti Yuna mempunyai mental yang kuat, bahkan dia masih berani untuk menantang Jonathan.
Sedangkan Jonathan, untuk sejenak dia masih terdiam, namun tiba-tiba saja dia malah memalingkan wajahnya. "Pergi sana! Otakmu pasti sudah diracuni oleh mama mu yang sesat itu. Kau bahkan tidak tahu aku orang yang seperti apa. Dan aku benci semua anak kecil, kecuali satu."
"Siapa? Apakah om sudah punya anak?" tanya Yuna sedikit kecewa.
"Iya, anak yang aku maksud adalah anakku dengan Nisa nantinya!"
"Uhuk! Uhukk!" Nisa sangat terkejut sampai-sampai tersedak ludahnya sendiri.
Dan tentu saja Keyran dan Ricky yang mendengar itu langsung marah. Namun Ricky memilih berdiam di tempat dan menepuk-nepuk punggung Nisa. Sementara Keyran, dia langsung maju menghampiri Jonathan serta mendorongnya hingga mundur selangkah.
"Maksudmu apa hah?! Kau benar-benar sudah melewati batas! Bisa-bisanya kau bicara begitu saat masih ada aku yang merupakan suaminya, dan aku masih hidup, aku masih mampu untuk memukulmu!"
"Heh, kalau mau buat anak kan tinggal buat saja, tidak harus menunggumu mati terlebih dulu. Kalau mau pukul ayo silakan, aku ladeni!"
"Kau!!"
Keyran tersulut emosi, mendadak dia menarik kerah baju Jonathan sekuat mungkin. Dia lalu melayangkan tinjunya mengarah ke wajah Jonathan, namun Jonathan berhasil menangkap dan menahan tinju tersebut.
"Kalian berdua berhenti!!" teriak Ricky yang masih duduk di sebelah Nisa.
"Kenapa?! Kau ingin bergabung?!" tanya Keyran dengan tatapan sinis.
"Hei, kemana pandanganmu hah?! Tetap fokus jika ingin berkelahi denganku!"
Tiba-tiba saja Jonathan mendorong Keyran hingga terjatuh ke tanah, dia menempatkan dirinya di atas Keyran dan bersiap untuk memukul wajahnya.
"Aku bilang berhenti! Ini rumah sakit!" teriak Ricky sekeras mungkin yang membuat tinju yang dilayangkan Jonathan berhenti tepat di depan wajah Keyran.
"Bisa tidak kalian lihat situasi dan kondisi? Taati peraturan rumah sakit jika kalian tetap ingin menjenguk Nisa, peraturan ini juga berlaku bahkan untuk suami sekalipun!"
Heh, tidak peduli siapa kalian, daerah ini tetaplah area kekuasaanku.
"Tsk, menyingkir dariku!" Keyran langsung mendorong Jonathan untuk menyingkir dari atasnya.
Kedua orang itu pun segera bangun dan membersihkan pakaian mereka dari debu tanah. Namun tak dapat dipungkiri bahwa kebencian di antara mereka semakin membesar.
Pandangan kebencian di antara Keyran dan Jonathan masih berlanjut, dan di tengah-tengah itu Ricky berkata, "Kalau kalian berdua memang ingin berkelahi, maka berkelahi saja di tempat lain. Dan jangan lupa untuk menghubungiku, aku juga akan datang bersama dengan ambulans. Lebih bagus lagi kalau kalian berdua sama-sama tewas, jadi aku dan Nisa akhirnya bisa bersama dan bahagia selama-lamanya!"
"Ricky!!" teriak Nisa.
"Cih, bahagia sehalu-halunya baru benar!" ucap Jonathan dengan tatapan merendahkan.
"Namanya juga dokter gadungan!" ucap Keyran ekspresi malas.
"Kak Nisa!" Panggil Yuna yang tiba-tiba mendongak.
"Ada apa Yuna?" tanya Nisa dengan senyuman.
"Kakak ... ini namanya bukan lagi mendua, Kak Nisa kan sudah menikah, kasihan Om Key ..."
Sontak saja Nisa membisu, dia lalu melirik ke arah Keyran. Tapi Keyran yang menyadari hal itu justru memalingkan wajahnya untuk menghindari pandangan dari Nisa.
"Dokter Ricky juga, Kak Nisa itu miliknya Om Key, jadi dokter tidak boleh terlalu dekat dengan Kak Nisa. Dokter harus jaga perasaannya Om Key ..."
Ricky juga dibuat membisu, dia begitu karena bingung harus bagaimana menjawab Yuna. Tentu saja dijelaskan bagaimanapun tetap tidak akan paham.
"Terus ... Om Nathan, daripada om mengejar Kak Nisa yang sudah menikah, lebih baik menikah dengan Yuna saja!"
"Mimpi saja sana!" ucap Jonathan acuh tak acuh.
Bahkan jika nantinya aku gagal mendapatkan Nisa, aku juga tidak akan pernah mau menikah dengan bocah tengik ini sekalipun dia adalah perempuan terakhir di muka bumi.
"Huft ... cukup, kita sudahi saja ketidakjelasan ini!" Nisa lalu menoleh ke arah Yuna dan masih memaksakan untuk tersenyum. "Apa Yuna benar-benar ingin menikah dengan Om Nathan?"
"Nisa! Apa yang ..."
"Joe, cukup! Diam saja dan biarkan aku yang menangani ini. Aku mohon semuanya juga diam!" Nisa kembali menatap Yuna. "Ayo, jawab kakak ..."
"Iya, tapi Om Nathan terus menolak Yuna, padahal bukannya Yuna termasuk anak yang baik? Kata mama, keinginan anak baik itu selalu terkabul."
"Haha, Yuna memang anak baik kok. Bahkan sebenarnya ... waktu kecil kakak juga pernah melamar seseorang."
"Benarkah?! Siapa?!" tanya semua orang serentak.
"Iya, aku serius. Waktu itu kalau tidak salah umurku 6 tahun, dan konyolnya lagi yang aku ajak menikah adalah ayahku sendiri. Saat itu gara-gara aku sangat kesal pada ibuku, dia selalu saja melarang semua hal yang ingin aku lakukan, padahal kan yang aku lakukan paling cuma memukul atau membully anak tetangga."
"Itu katamu cuma?" tanya Ricky.
"Haha, waktu itu aku masih kecil dan belum tahu kalau itu salah. Nah, lalu kelanjutan cerita tadi ... aku meminta ayahku untuk menjadikan aku istri keduanya! Tapi penyebab sebenarnya juga ibuku sendiri, dia selalu saja mengajakku untuk menonton sinetron poligami indosihir. Jadinya aku ini termasuk korban sinetron. Kan kebanyakan di sinetron itu suami lebih sayang kepada istri keduanya. Jadi tujuanku adalah agar ayahku lebih sayang padaku ketimbang ibuku, dan ibuku diusir dari rumah, bahkan aku juga berharap kalau adik-adikku juga diusir. Sekarang setelah aku pikir-pikir, ternyata aku ini orang yang mengeringkan."
"Lah? Baru sadar!!" ucap Keyran, Ricky dan Jonathan di dalam hati secara bersamaan.
"Lalu ... apakah akhirnya lamaran kakak diterima?" tanya Yuna penasaran.
"Tentu saja diterima! Lalu ayahku memintaku untuk berlatih jadi seorang istri yang sempurna terlebih dulu. Dia memintaku menyapu, mengepel, membersihkan kaca, mencuci pakaian, memotong rumput, menyiram tanaman, pokoknya semua pekerjaan rumah yang dilakukan oleh ibuku dituntut harus bisa. Lalu pada akhirnya aku menyerah dengan sendirinya. Aku sadar kalau aku masih sangat butuh ibuku. Dan sekarang ... aku juga sadar kalau pernikahan itu tidaklah mudah, masalah tanggung jawab, tuntutan kewajiban, hak yang diperoleh, apalagi jika sudah menyangkut masalah perasaan, itu sangat rumit ..."
Nisa terdiam, bahkan untuk sejenak dia bertatapan dengan Keyran. Namun setelahnya dia malah tersenyum pahit lalu menundukkan kepalanya.
Arghh! Dasar bodoh! Tanpa sadar aku malah menceritakan tentang masalahku sendiri, bahkan aku mengatakannya di saat ada semua orang yang membuat perasaan ini jadi rumit. Entah apa yang mereka pikirkan sekarang? Tapi, sekarang masih ada Yuna, sebaiknya segera alihkan tentang hal ini.
Nisa kembali mendongak, dia memaksakan untuk tersenyum dan terlihat senatural mungkin. Dia lalu mengusap kepala Yuna sambil berkata, "Sekarang Yuna paham kan?"
"Belum, Yuna berbeda dengan kakak. Om Nathan itu kan orang asing, bukan papa nya Yuna."
"Haiss ... maksud kakak itu sederhana, Yuna ditolak bukan karena Yuna bukan anak baik, tapi karena Om Nathan tak punya alasan untuk menerima Yuna."
"Tapi ... Yuna tetap mau menikah dengan Om Nathan! Menikah itu kan artinya bisa terus bersama, masalah yang kakak ceritakan tadi tetap tidak bisa Yuna pahami. Kata mama, asalkan bersama maka masalah apa pun bisa terselesaikan."
"Bocah bandel! Kau sendiri adalah masalahnya!" bentak Jonathan.
"Astaga ... aku menyerah! Joe, terima saja Yuna!" teriak Nisa sambil mengangkat kedua tangannya.
"Tidak!" ucap Jonathan penuh penekanan.
"Joe, tolong ingat-ingat ceritaku yang tadi! Nantinya suatu saat Yuna juga akan sadar dengan sendirinya kalau hal ini kekanakan, anggap saja ini cuma omong kosong, lagi pula tidak mungkin kan bagimu untuk terus melajang dalam waktu yang lama?"
"Tentu saja tidak, nanti aku juga akan menikah, menikah denganmu."
"Hei!!!" teriak Keyran dan Ricky bersamaan.
"Kak Nisa, sekarang bagaimana? Bagaimana caranya agar Om Nathan menyukai Yuna?" tanya Yuna dengan tampang memelas.
"Oke, kakak akan bocorkan rahasia menaklukkan cowok dingin dan cuek! Itu mudah, menempel saja terus kepadanya, ganggu terus sampai dia mampuss!" ucap Nisa dengan senyum licik.
"Bukannya itu tidak benar?" tanya Yuna penuh keraguan.
"Percayalah, buktinya kakak dapat 3! Yuna lihat sendiri kan?"
"Benar-benar perempuan mengerikan!" ucap Keyran, Ricky dan Jonathan dalam hati.
***
Begitulah kejadiannya, semuanya terjadi di luar bayangan semua orang. Hari-hari selanjutnya yang dilalui Nisa selama pemulihan di rumah sakit mulai bertambah berwarna. Mulai dari kuliah online, tugas yang menumpuk, Keyran yang masih mengacuhkannya, Ricky yang memperlakukannya sebagai pasien khusus, serta Jonathan yang masih bersikeras datang setiap hari dengan membawa stroberi.
Meskipun tampak acuh, sebenarnya Keyran juga cemburu. Tapi dia lebih memilih untuk tetap diam, dan justru diamnya malah sebagai pertanda bahwa dia sangat tidak terima. Bahkan dia akhirnya memilih untuk memanfaatkan Yuna, dia setiap hari mengajak Yuna untuk bermain di ruang rawat Nisa. Tujuannya tidak lain adalah agar dapat mengganggu Jonathan.
Keadaan di sana hanya bisa tenang ketika ada keluarga Nisa yang secara bergantian datang menjenguk. Tanpa perlu diberi perintah, semuanya mendadak menjadi akur dan kalem. Terlebih lagi di luar dugaan, ternyata keluarga Nisa juga menyukai Yuna.
Namun tak seorang pun bisa memahami apa yang dirasakan oleh Nisa, kehidupannya di rumah sakit dapat diibaratkan seperti di kerajaan. Dia sendiri sebagai kaisar yang sibuk dengan masalah kuliah serta haremnya. Sedangkan Keyran, dia sebagai seorang berpangkat permaisuri namun diabaikan dan kehilangan kasih sayang. Lalu Ricky, dia sebagai seorang yang dulunya permaisuri namun sekarang pangkatnya diturunkan menjadi selir biasa. Dan Jonathan, dia sebagai seorang selir kesayangan. Yang terakhir Yuna, dia terkesan seperti putri dari Nisa dan Keyran, dia selalu menyebutkan hal-hal baik tentang Keyran di depan Nisa, dia seperti itu tentu saja untuk membuat Nisa dan Keyran cepat berbaikan.
Hari demi hari berlalu, tanpa terasa keadaan Nisa sudah cukup membaik, dia sudah bisa bergerak secara normal, bahkan kurang seminggu lagi dia sudah dapat keluar dari rumah sakit. Dan hari ini pun salah satu keluarga ada yang menjenguknya, yaitu Reihan.
Namun Nisa yang dijenguk merasa sedikit heran, karena Reihan sedari tadi tampak seperti tidak ada niatan untuk mengobrol dengannya ataupun mencari gara-gara dengannya. Sedari tadi Reihan terus sibuk memainkan ponselnya.
"Tumben kalem, memangnya ada apa sih?" tanya Nisa sambil mencolek pipi Reihan.
"Tumben peduli, memangnya ada apa sih?"
"Ck, serius dong! Kalau terpaksa ke sini mending pulang sana!"
"Huh!" Reihan lalu menyimpan ponselnya. "Bukan gitu kak, justru aku malah pengen ke sini. Tapi ... itu juga alasan sih," ucapnya dengan nada malas.
"Alasan apa?"
"Alasan menghindar, hari ini tuh ceritanya ... Claudia, Zahra, sama Nadia ulang tahun, lalu ketiga-tiganya mengundangku. Masa iya aku harus hadir terus yang dua lainnya ditelantarkan?"
"Lah? Curhat nih, tapi kalau begitu ... aku mana paham? Aku kan bukan orang sepertimu!"
"Heleh, kakak sama kok, kakak sadar nggak sih kalau kakak itu playgirl? Mana ketiga-tiganya badass lagi!"
"Apaan sih? Ngawur! Terus kenapa menghindarnya malah datang ke sini?"
Untunglah sekarang mereka semua di taman bersama Yuna.
"Yaa ... itu kan alasan, aku bilang ke mereka kalau kakakku sakit, makanya aku nggak bisa datang. Kak, ayo selfie!"
"Buat apa?!"
"Buat bukti kalau aku memang menemani kakak, jadi playboy itu juga harus profesional."
"Cih, memangnya tujuanmu jadi playboy sampai punya mantan segitu banyaknya buat apa sih? Sekolah sana yang benar!"
"Memangnya kakak pikir buat apa?"
"Ngumpulin dosa."
"Ya nggak lah, aku tuh jadi playboy cuma buat simulasi. Jadi ... nanti pas pacaran beneran sudah jago!"
"Huh, lupakan! Ayo foto sekarang!"
"Oke! Tapi kakak harus menjiwai, orang sakit nggak boleh kebanyakan gaya!"
"Iya, tahu!" Nisa langsung menata rambutnya, dia lalu berbaring dan bergaya seolah-olah lemas tak berdaya. "Begini cantik kan?"
"Iyaa ... kakak paling cantik!" Reihan kembali mengeluarkan ponselnya, dia mengambil foto selfie dirinya dengan Nisa.
CEKREK!
"Wihh, bagus juga!" ucap Reihan penuh kepuasan sambil memandangi hasil foto.
"Iya dong, ada aku pasti bagus!" ucap Nisa yang langsung bangun.
"Kak, aku punya ide bagus!"
"Apa?"
"Kakak gaya seolah-olah ... sakaratul maut dong! Nanti aku video, terus aku posting buat minta donasi! Hasilnya bisa sampai miliaran loh, nanti kita bagi setengah-setengah!"
"Bocah stress! Kau bergaya sendiri saja, buat seolah-olah korban bencana alam tertimpa meteor jatuh!"
"Memangnya aku dinosaurus punah apa?!"
"Orang sepertimu memang pantas punah!"
TING!
"Tuh, notif chat dari cewekmu!"
"Bukan kok, itu notif hp kakak!" ucap Reihan sambil menunjuk ke arah ponsel milik Nisa yang berada di atas meja.
"Ambilkan!"
"Iya, sabar!" Reihan lalu mengambil ponsel milik Nisa, namun setelahnya dia terlihat sedikit terkejut.
"Dari siapa, Rei?"
"Dari ... Streamer Loli!"
"Dari Ivan?!"