
Nisa langsung meraih test pack yang ada di depan wajahnya. "Kau memberiku test pack untuk apa?"
"Tentu saja untuk mengetahui apakah kau hamil atau tidak, itu kan memang gunanya test pack."
"Aku tahu gunanya test pack. Tapi ... kenapa kau ingin aku menggunakan test pack ini?"
"Aku ingin memastikan kehamilanmu."
"Memastikan?" untuk sejenak Nisa terdiam. "Ha Ha Ha Ha Ha Ha!! Ternyata kau berpikir kalau aku hamil! Ha Ha Ha Ha! Masa aku hamil!?"
"Memangnya apa yang lucu? Tentu saja kau hamil!"
"Kenapa kau sampai punya pikiran kalau aku hamil?"
"Karena ... pertama kau mengidam bakso beranak, lalu tadi pagi kau muntah-muntah, aku juga mendengar kalau kau mengeluh pusing, ditambah ... indra penciumanmu sepertinya juga sensitif. Dan semua itu adalah tanda-tanda hamil muda, makanya aku berpikir kalau kau hamil."
"..."
Ya ampun, ternyata Keyran memperhatikan aku sampai seperti ini, padahal bakso beranak itu kan cuma pengalihan.
"Ayo cepat gunakan! Kalau kau merasa kesusahan, aku juga bersedia membantumu."
"Key, aku ingin jujur padamu. Percuma saja aku menggunakan test pack ini, aku sudah tahu hasilnya akan seperti apa."
"Benarkah!? Jadi hasilnya pasti akan positif! Ternyata kau benar-benar hamil! Sebelumnya kau belum memberitahuku, apa kau bermaksud memberiku kejutan!?" ucap Keyran dengan penuh semangat.
"Hei, tenanglah! Yang aku maksud itu justru sebaliknya, hasilnya 100% akan negatif!"
"Bagaimana mungkin akan negatif? Apa kau mengabaikan gejala-gejala kehamilan yang terjadi pada tubuhmu? Bahkan kau mengalami morning sickness yang menjadi ciri khas orang hamil."
"Huft ... kalau begitu aku akan mengklarifikasi semua gejala itu. Mungkin tadi pagi kau mendengar suaraku yang sedang muntah-muntah, itu bukan morning sickness, tapi aku cuma keselak pasta gigi, makanya kau mendengar suara muntah-muntah."
"Keselak pasta gigi? Lalu soal ngidam bakso itu ...?"
"Aku juga sudah bilang kalau kau bisa mengabaikannya. Bakso itu cuma ... cuma permintaan iseng, bukan ngidam. Kau saja yang terlalu menganggap serius. Toh kita juga baru melakukannya sekali, mana mungkin sekali langsung jadi?"
"Tentu saja mungkin! Banyak kok yang sekali langsung jadi. Bahkan tadi saat di supermarket kau bilang kalau kau telat datang bulan, memangnya kau sudah telat berapa hari?"
"Telat 5 hari. Tapi sekitar jam 8 tadi ... sudah keluar, darahnya sudah keluar. Sekarang a-aku sedang datang bulan, makanya aku bilang kalau hasilnya pasti negatif." ucap Nisa dengan suara lirih.
"Aku tidak percaya, coba lihat! Perlihatkan padaku!"
"Hei!!" Nisa langsung bergeser sedikit menjauh dari Keyran. "Kau gila ya!? Masa yang seperti itu mau lihat!? Aku ini benar-benar datang bulan!!"
"Jadi kau tidak hamil?" tanya Keyran dengan ekspresi kecewa.
"Iya, ini cuma kesalahpahaman."
"Tsk! Sial ..." Keyran langsung menundukkan kepalanya dan tubuhnya juga ikut lemas.
Sialan, aku terlalu berharap! Ternyata Nisa tidak hamil. Padahal aku sudah berencana untuk mengadakan pesta, bahkan aku juga berniat memberi bonus cuti untuk semua karyawan.
Nisa sedikit merasa iba saat melihat Keyran yang seperti tidak bernyawa. Dia lalu bergeser lebih dekat dengan Keyran dan kemudian menyentuh pundak Keyran. "Key ... apa kau kecewa padaku?"
"Hmm ..." Keyran lalu menoleh ke arah Nisa dan tiba-tiba memeluknya. "Iya, aku kecewa. Tapi bukan kepadamu, aku kecewa karena harapanku tidak terwujud. Aku tahu kau tidak pernah bermaksud untuk membuatku berharap. Hanya saja ... padahal aku sudah memikirkan nama anak kita, bahkan sampai terbawa ke mimpi."
"Memangnya kau mau memberi nama seperti apa?"
"Keisha, aku ingin memberi nama itu untuk anak kita."
"Keisha? Menurutku itu nama yang jelek!"
"Jelek!?" Keyran langsung melepaskan pelukannya. "Kenapa bisa jelek?"
"Tentu saja jelek, orang-orang yang mendengar nama ini akan langsung tahu kalau dia adalah anakmu dan anakku."
"Memang itu tujuanku! Aku ingin semua orang tahu kalau dia adalah anakku dan anakmu. Pokoknya jika nanti kita punya anak namanya harus Keisha!"
"Jelek, terlalu mencolok! Dengarkan aku ya, nama yang terlalu mencolok itu tidak baik! Bisa-bisa dia dapat diculik oleh musuhmu dengan mudah gara-gara nama yang mencolok! Lalu kerugian lagi adalah ... #%^*₩£€"
***
15 menit kemudian Nisa telah selesai bercerita tentang hal yang tidak penting. Sedangkan Keyran, sedari tadi dia hanya memakan snack sambil berpura-pura mendengarkan cerita Nisa.
Begitu menyadari Nisa selesai bercerita, Keyran langsung berhenti makan lalu berkata, "Apa kau sudah selesai bercerita?"
"Iya, sudah. Sekarang kau mengerti, kan?"
"Yaa ... aku mengerti. Sekarang giliranku bicara, dan ini adalah masalah yang penting."
"Oke, tapi perhatikan durasi. Sebentar lagi filmnya akan dimulai."
"Emmm ... ini masih seputar tentang anak. Apa kau setuju jika dalam waktu dekat ini untuk memiliki anak? Atau ... lebih tepatnya berencana memiliki dengan cara praktik membuat." ucap Keyran dengan senyum canggung dan tatapan berharap.
"Aku keberatan." jawab Nisa secara spontan.
"Kenapa?"
Nisa tidak lagi melawan saat berciuman denganku. Tapi ... sepertinya dia masih enggan untuk bersentuhan yang lebih.
"Aku sibuk. Aku belum bisa jika harus membagi waktu dengan hal yang disebut dengan anak. Kau sendiri paham jika kuliah saja sudah membuatku merasa lelah. Bahkan saat aku baru bangun di pagi hari, pikiranku sudah disambut dengan kuliah pagi, rencana kuis, tugas dosen, laporan praktik, UTS seminggu lagi. Intinya aku akan semakin tertekan jika punya anak."
"Jadi kau baru bersedia punya anak setelah wisuda?"
"Iya, waktu itu aku juga serius menjelaskan tentang ini kepada ayahmu. Kau bertanya seperti ini apakah karena ayahmu mendesak lagi?"
"Tidak juga ..."
Cih, ini pertama kalinya aku menyesali keputusanku. Seharusnya aku tidak mengizinkan Nisa untuk tetap kuliah. Jika dari awal seperti itu, sudah pasti sekarang waktunya Nisa hanya untukku.
"Jika bukan karena ayahmu, apakah mungkin ... kau sendiri ingin cepat-cepat punya anak!?"
"I-itu ..." wajah Keyran lalu memerah. "S-sebenarnya untuk masalah anak, aku pikir juga tidak perlu tergesa-gesa. Tapi sejujurnya ... yang aku inginkan adalah dirimu."
"A-apa!?" wajah Nisa tiba-tiba memerah.
"Nisa." Keyran tiba-tiba meraih kedua tangan Nisa lalu menggenggamnya dengan lembut. "Tidak masalah jika untuk anak masih harus menunggumu wisuda. Tapi aku adalah suamimu, aku menginginkan dirimu. Aku ingin memulai hubungan suami istri yang sewajarnya denganmu. Dan aku juga ingin melakukannya tanpa membuatmu merasa terpaksa. Bahkan ... aku berharap agar kau bisa membuka hati untukku. Apa kau bersedia mengabulkan permohonanku yang sederhana ini?"
"Key ... s-sebenarnya permintaanmu ini tidak perlu kau diutarakan. Aku istrimu, melayanimu adalah kewajibanku, dan sebagai suamiku itu adalah hak yang kau miliki. Hanya saja ... a-aku belum siap, untuk sementara waktu aku masih belum siap. Meskipun kita sudah pernah melakukannya, tapi waktu itu bukan atas persetujuanku. Jadi, maukah kau menungguku hingga aku sepenuhnya siap?"
"Baiklah, aku akan menunggumu. Tapi jangan terlalu lama. Lalu ... biasanya berapa lama kau datang bulan?"
"Biasanya sih 5 hari. Tapi kadang juga 4 atau 6 hari." Nisa lalu tersenyum. "Apa kau berharap setelah aku selesai datang bulan maka aku langsung siap?"
"Hng! 5 hari itu kan waktu yang cukup lama, wajar saja jika aku berharap." Keyran tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Nisa. "Apa kau masih belum sadar kalau kau itu sangat menggoda? Bahkan tadi saat di kampus ada banyak laki-laki yang melirikmu. Apalagi sekarang, sekarang hanya ada kita berdua dan kau hanya memakai piama yang sebagian pahamu terlihat."
"Dasar ... ternyata matamu itu mesum juga." ucap Nisa dengan tampang cemberut.
"Jadi kau paham kan? Lebih cepat lebih baik, aku sangat berharap padamu."
"Iya iya .. aku sedang berusaha. Dan aku juga ingin jujur satu hal padamu."
"Soal apa?"
"Soal perasaanku. Tadinya aku merasa kalau kepedulianmu itu karena kau menganggap bahwa aku hamil, dan kenyataannya meskipun kau telah kecewa, tapi ternyata kau masih peduli padaku. Kau sudah banyak berubah Key, padahal dulu kau tega meninggalkan aku di jalan sendirian."
"Heh, itu kan permintaanmu sendiri! Kau sendiri yang bersikeras untuk turun dari mobil."
Sekarang jika aku memikirkan ini, aku menyesal. Sebelumnya aku tidak pernah menyangka kalau aku akan menyukaimu.
"Emmm .. aku juga ingin membuat pengakuan. Tapi setelah mendengar kau jangan marah ya?"
"Baiklah, aku tidak akan marah."
Pengakuan? Jangan-jangan ... pengakuan cinta.
"Sebenarnya aku ... sedikit kaget dengan perubahan sikapmu. A-aku pikir kau terkena pelet karena aku meludahi makananmu. T-tapi aku melakukannya cuma sekali kok! J-jangan marah ya darling?"
"Nisaaa! K-kau ..." tiba-tiba saja Keyran mencium Nisa. Saat Keyran melepaskannya, dia lalu berkata, "Nah, sekarang impas! Kau juga sudah merasakan ludahku. Lain kali jika ingin lagi kau tinggal bilang saja."
"...." Nisa langsung menarik tangannya kembali dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Ya ampun, orang ini perhitungan sekali. Tapi kalau aku pikir-pikir ... bukankah berciuman dengannya juga termasuk merasakan ludahnya? Jadi Keyran ini sebenarnya cuma modus ingin berciuman lagi denganku.
"Hei, dengar ya. Aku peduli padamu bukan karena pelet ataupun yang lainnya. Hal semacam itu tidak mungkin mempan untukku! Toh kau juga tidak mungkin punya ilmu pelet."
"Lalu sikapmu berubah karena apa?"
"Karena ... aku m-mendapat pencerahan! Aku mendapat pencerahan jika aku harus memperlakukanmu dengan baik, harusnya kau senang jika diperlakukan dengan baik, bukannya malah merasa aneh seperti ini."
"Pencerahan? Apa kau mendapat pencerahan dengan cara menyalakan senter di depan wajahmu?"
"Mana ada pencerahan seperti itu!?"
"Haha ... baik-baik, sekarang sudah bicaranya. Filmnya sudah mau dimulai." ucap Nisa sambil menunjuk ke arah tv.
"Huft ..." Keyran tiba-tiba berdiri dan menepuk kepala Nisa. "Kau tontonlah sendiri dulu, aku ada urusan sebentar, nanti aku menyusul."
"Baik, tapi cepatlah! Jangan sampai tertinggal terlalu banyak."
"Oke."
Keyran lalu segera keluar dari kamar dan berjalan sedikit lebih jauh dari kamar. Dia mengeluarkan ponselnya dan bersiap untuk menelepon seseorang.
"Valen, batalkan semua rencana pesta!"
"Hah!? Jadi hasilnya negatif, nyonya tidak hamil?"
"Iya, Nisa tidak hamil. Semuanya cuma kesalahpahaman. Kau belum menyebarkan berita ini kan? Gawat jika sampai terdengar oleh ayahku."
"Belum, saya belum mengatakan apa pun kepada tuan besar."
"Lalu ... untuk masalah lain, apa sudah ada hasilnya?"
"Maaf tuan, CCTV yang paling dekat dengan tempat mobil lamborghini itu berhenti kebetulan rusak. Jadi orang itu tidak terlihat saat keluar atau masuk dari mobil. Tapi saat mobil itu berjalan, CCTV lain berhasil menangkapnya. Saya sudah mendapatkan nomor plat dari mobil itu."
"Apa kau sudah tahu siapa pemilik mobil itu?"
"Sudah, tapi ... itu sedikit mengejutkan."
"Katakan!"
"Mobil itu milik ... Tuan Arie Cakrakumala."
"Apa!?"
Ini sama sekali tidak pernah aku sangka. Ternyata Nisa punya hubungan dengan keluarga besar lainnya. Tapi menurut pengakuan dari orang itu saat di kampus, dia bilang kalau yang menjemput Nisa seumuran denganku.
Mungkinkah salah satu tuan muda dari keluarga Cakrakumala adalah temannya Nisa. Tapi yang seumuran denganku ada beberapa. Terlebih lagi di antara mereka tidak ada satu pun yang namanya Jaki ataupun Jeki. Ternyata memang benar jika Nisa membohongiku.
"Valen, jangan biarkan berita ini sampai bocor!"
"Baik tuan."
Tut tut ....
"Nisa .. Nisa .."
Jika memang benar Nisa punya hubungan dengan keluarga Cakrakumala, seharusnya sangat mudah baginya untuk melunasi hutang. Tapi Nisa bersikap seakan-akan sangat terdesak saat meminjam uang padaku. Tapi akhirnya dia juga setuju untuk menikah denganku.
Sekarang aku semakin penasaran apa yang direncanakan oleh Nisa. Dia pasti punya tujuan tertentu karena setuju untuk menikah denganku. Tapi, selama ini selain suka keluyuran, tingkahnya Nisa sama sekali tidak ada yang mencurigakan. Bahkan dia terkesan selalu melakukan hal bodoh.
"Tsk, sial!"
Padahal hubunganku dengan Nisa semakin membaik. Tapi ternyata Nisa terus-terusan tidak mau jujur dan terbuka padaku. Aku sangat ingin tahu sebenarnya Nisa itu orang yang seperti apa.
Mungkin saja jika Nisa akan jujur setelah jatuh cinta padaku. Aku harus membuatnya senyaman mungkin saat bersama denganku, aku ingin dia lengah lalu menceritakan semuanya.