Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Bab 10. Tidak Mengenali Aku?


Setelah tahu bahwa wanita tersebut adalah teman dari atasannya, Nisa lalu berkata, "Owh ..." ucapnya dengan nada enteng seolah-olah tidak peduli.


"..." Amanda hanya ternganga saat mendengar ucapan dari Nisa.


Apa?! Dia cuma bilang begitu! Siapa sebenarnya gadis sialan ini? Dari mana datangnya dia? Padahal cuma karyawan kantor, berani-beraninya tidak menghiraukan aku. Awas kamu, akan aku buat kamu menyesal!


"Hei kamu, buatkan aku secangkir teh!" pinta Amanda dengan nada kasar.


"...." Nisa hanya diam dan melirik sekilas, dia sama sekali tidak menghiraukan permintaan wanita itu.


Namun, di sisi lain Amanda salah mengartikan diamnya Nisa. Dia menyeringai dengan ekspresi puasnya.


Ckck, sekarang kamu hanya bisa diam dan mematuhiku! Setelah kamu membuatkan aku teh, aku akan terus menolaknya sampai puluhan kali! Akan aku buat kamu mati kelelahan membuat teh!


"Pak, apakah ada perintah lain untuk saya?" tanya Nisa seakan sedang mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Hmmm ... buatkan aku secangkir kopi!"


"Baik Pak," ucap Nisa dengan senyum terpaksa.


Setelah mendengar perintah dari Keyran, Nisa langsung bergegas pergi untuk membuat kopi.


"Key, terima kasih ya!" ucap Amanda dengan senyum berseri.


Bahkan Keyran juga membantuku untuk menyiksa gadis ini. Meskipun kamu terkadang tidak menghiraukan aku dan bersikap dingin, tapi ternyata sebenarnya kamu juga peduli padaku.


"...." Keyran tidak berkata apa pun dan masih fokus memeriksa laporan yang dikerjakan oleh Nisa.


Dasar wanita naif. Kenapa berterima kasih? Aku memang ingin kopi, sekalian memanfaatkanmu untuk mengetahui seperti apa sifat sekretaris baru itu yang sebenarnya.


"Key, ngomong-ngomong ... siapa gadis yang tadi?" tanya Amanda penasaran.


"Dia sekretaris baru," jawab Keyran tanpa memandang Amanda.


"Apa?! Sekretaris? Bukannya kamu sudah punya Valen sebagai asisten? Apakah sekretaris masih diperlukan?"


"Sebenarnya aku tidak menginginkannya, tapi Valen yang sengaja mengatur untukku agar dia bisa melakukan tanggung jawabnya di semua departemen secara optimal."


"Tapi, apakah dia itu-"


"Diam!" potong Keyran. "Aku sedang sibuk, jadi berhentilah bicara!"


Selain berprofesi sebagai artis, Anastasia Amanda dulunya adalah teman kuliah Keyran. Dia sudah cukup lama memendam rasa kepada Keyran, tetapi dia pernah mendapat penolakan saat menyatakan perasaannya.


Sekarang dia masih bisa berada di sini hanya karena satu alasan, yaitu dia adalah artis yang membintangi iklan dari perusahaan HW Group. Sampai saat ini juga dia masih belum menyerah tentang perasaannya. Dia melakukan segala cara agar bisa bertemu dengan Keyran, meskipun Keyran sendiri menganggapnya hanya sebagai lalat yang mengganggu.


Tak berselan lama kemudian Nisa datang dengan membawa kopi yang diminta oleh CEO Keyran.


"Pak, ini kopi yang anda minta. Silakan diminum," ucap Nisa sambil menyuguhkan secangkir kopi ke atas meja.


"Ya," jawab Keyran yang segera mengambil kopi tersebut.


"Hei sekretaris! Di mana teh yang aku minta? Kenapa kamu hanya membuat kopi untuk Keyran dan tidak membuatkan teh untukku? Bisa kerja atau tidak?!" tanya Amanda dengan nada kasar.


"Kamu bukan atasanku," jawab Nisa secara spontan.


"A-apa?!" Amanda terkesiap.


Jadi karena aku bukan atasannya, dia tidak melakukan apa yang aku minta. Dasar gadis busuk! Baiklah jika kau memang mengajakku berperang! Aku akan membuatmu malu dihadapan atasanmu!


"Meskipun aku bukan atasanmu, tapi aku ini teman atasan kamu! Apa kamu bermaksud tidak menghargai atasan kamu?" tanya Amanda dengan nada ketus.


"Kenapa? Kamu tidak membayarku, untuk apa aku menuruti perintahmu?" ucap Nisa dengan tampang polos.


Di dunia ini tidak ada satu pun yang gratis! Seenaknya saja menyuruh orang dan meminta ini itu! Toh aku juga bukan seorang pelayan ataupun pembantu.


"K-kamu! Apa kamu tidak mengenali aku?"


"Tidak!" jawab Nisa acuh tak acuh.


Pertanyaan macam apa itu? Memangnya kamu presiden yang wajib dikenal orang satu negara?


"Kau!!" Kesal Amanda.


Apa-apaan? Ternyata ada orang yang tidak mengenali aku. Tidak bisa dibiarkan, ini merupakan penghinaan!


"Aku beritahu padamu, aku ini seorang artis terkenal, papan atas! Apa kau tidak pernah melihatku di majalah atau di TV?" tanya Amanda dengan marah.


"...." Nisa menggeleng kepala.


Mana aku tahu. Aku menonton TV cuma untuk menonton film luar negeri dan berita saja. Aku juga nggak pernah mengikuti berita infotainment. Apalagi majalah, yang aku baca itu majalah kuliner. Mana mungkin orang sepertimu ada di majalah kuliner? Mau teh aja masih menyuruh orang lain yang buat. Dasar nggak tahu diri!


Di satu sisi Amanda hanya diam dan ternganga.


Jawaban macam apa ini? Mau marah pun aku tidak bisa. Tapi ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak mau dipermalukan dihadapan orang yang aku sukai.


"Kalian berdua hentikan! Sekretaris, kau bisa pergi. Untuk pekerjaanmu, aku sudah menitipkannya ke Valen. Kamu cari Valen saja!" ucap Keyran.


"Baik Pak, segera saya kerjakan," Nisa lalu berbalik berjalan pergi.


Bagus, kalau dia tidak pergi sekarang maka aku tidak bisa lagi menahan tawa. Gadis ini cukup menarik, bisa-bisanya dia membuat artis yang banyak gaya seperti Amanda terdiam.


Saat ingin membuka pintu untul keluar, tiba-tiba Nisa menoleh ke arah Amanda. "Hei, nona artis terkenal. Sebaiknya kamu jaga imagemu, tidak baik loh hal seperti ini sampai tersebar keluar. Orang sepertimu sangat memperhatikan pandangan publik, kan?" ucap Nisa dengan nada mengejek, setelahnya dia langsung cepat-cepat keluar dari ruangan.


"Kau!!" teriak Amanda seakan tidak terima.


"Iya, jika kau masih peduli dengan reputasimu itu, sebaiknya kau dengarkan saja ucapan sekretarisku!" ucap Keyran sambil tertawa kecil.


"Apa?!"


Bahkan Keyran sampai tertawa. Ini tidak bisa dibiarkan! Sekretaris itu nanti lama-lama akan menarik perhatian Keyran. Aku harus segera menyingkirkan sekretaris busuk itu dari perusahaan ini! Aku akan mengusir sekretaris itu pergi sebelum semuanya terlambat.


"Manda, kau pergilah! Aku tidak membutuhkan kehadiranmu disini," ucap Keyran tanpa memandang ke arah Amanda.


"Baik, aku pergi! Kamu memang tidak pernah menghargai aku sekali pun!" teriak Amanda dengan nada kesal sambil berjalan meninggalkan ruangan.


BRAKK!


Amanda merasa sangat marah karena sudah dipermainkan dan diusir pada waktu yang bersamaan. Dia berjalan dengan cepat dan akhirnya tiba di lobby, tapi saat di lobby dia berpapasan dengan Nisa yang tengah asik berbicara dengan Valen.


"Huh!!" Amanda berjalan sambil melotot ke arah Nisa.


Jika saja tidak ada orang, maka aku pasti sudah menamparmu ratusan kali! Gara-gara kau, semua gara-gara kau hariku jadi berantakan! Akan aku balas penghinaan yang kau berikan, tapi itu tidak hari ini. Kau tunggu saja, akan aku buat kamu menyesal!


Setelah berhenti sejenak Amanda langsung pergi keluar kantor dengan terburu-buru.


"Eh, tumben sudah pergi?" tanya Valen terheran-heran.


"Memangnya dia sering datang ke kantor?" tanya Nisa.


"Ya, sangat sering. Bahkan tuan Keyran sampai muak melihatnya. Tapi, tadi dia terlihat sangat kesal padamu. Sebenarnya apa yang sudah kamu perbuat kepadanya?" tanya Valen penasaran.


"Haha, soal itu ... tadi aku sedikit bermain-main dengannya," ucap Nisa sambil memalingkan pandangan.


Ada apa? Apa jangan-jangan aku menyinggung orang yang salah?


"Ternyata begitu, entah cara apa yang kamu pakai sampai-sampai membuatnya kesal. Tapi itu bagus, tuan Keyran pasti akan memberimu bonus!" ucap Valen seolah merasa lega.


"Eh? Mengapa begitu? Apa pak CEO membenci wanita galak itu?"


"Kalau dibilang benci, aku tidak yakin. Tapi yang pasti tuan sangat merasa terganggu dengan kehadirannya," jelas Valen.


"Oh, begitu. Aku mau kembali ke ruangan dulu. Bye Valen!" Nisa lalu berjalan pergi.


"Iya, bekerjalah dengan baik. Semangat!"


Aku tidak tahu kalau Nisa bisa secepat itu kerjanya. Padahal tuan sudah bilang kalau laporan itu ditujukan untuk dewan direksi agar menekankan supaya laporan itu dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Apa jangan-jangan dia mengerjakan asal-asalan? Tapi tetap saja itu laporan penting. Untuk jaga-jaga sebaiknya aku buat satu laporan lagi saja.


***


Hari dengan cepat silih berganti, dan saat ini Nisa berada di ruangan kerjanya. Dia tampak bingung dan frustrasi karena memikirkan sesuatu.


Sudah berhari-hari aku bekerja di sini tapi belum ada kemajuan dalam rencanaku. Nggak bisa begini terus! Pokoknya hari ini aku harus membuat kemajuan. Aku harus mendekati CEO itu bagaimanapun caranya!


"Tapi ... apa aku bisa?" Seketika Nisa langsung kembali pesimis.


Untuk mendekati seseorang setidaknya harus memahami orang yang akan didekati. Selama ini yang aku pahami tentang pak CEO adalah kalau dia itu orangnya brengsek! Bagaimana tidak? Ruanganku berada tepat di sebelahnya, setiap hari aku melihat ada banyak wanita yang keluar masuk ruangannya. Entah apa yang mereka perbuat.


"Ah, aku nggak boleh berprasangka buruk begini!"


Aku tak boleh menuduh atasanku sendiri yang aneh-aneh. Selama ini pak CEO terlihat cukup puas dengan kinerjaku, mungkin masih ada kesempatan berhasil dalam rencanaku. Hari ini rencanaku nggak boleh gagal!


Setelah berusaha meyakinkan diri sendiri, Nisa langsung bergegas pergi ke ruangan CEO Keyran.


TOK TOK TOK!


"Pak, saya Nisa. Bolehkah saya masuk?"


"Ya, masuklah!"


"Huftt ..."


Tenanglah Nisa, percaya pada dirimu sendiri! Kamu pasti bisa!


Nisa lalu memasuki ruangan Keyran, tapi saat di dalam dia hanya diam karena sedikit merasa gugup.


"Ada apa? Kenapa datang mencariku?" tanya Keyran dengan tatapan curiga.


"I-itu ... ini tentang hal pribadi."


Ahhhh! Kenapa malah itu kalimat yang keluar dari mulutku? Padahal semalam aku sudah berlatih dialog.


"Lanjutkan!" pinta Keyran dengan tatapan sinis.


Huh, akhirnya kau menunjukkan sifat aslimu. Akan aku lihat, sebenarnya apa yang kau inginkan? Berani-beraninya memainkan trik di hadapanku!