Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Kebahagiaan Denio


Satu Bulan Kemudian


"Nio, lepas!" Fera merengek kesal, pasalnya Denio memeluknya dengan sangat erat.


Denio akhirnya tinggal bersama dengan keluarga Felix Barbara dan kedua orang tuanya tidak sekalipun mencarinya.


Ia meminta untuk tidur satu kamar bersama Fera dan karena masih kecil jadi Felix dan Barbara mengijinkan.


Denio bahkan memanggil Felix dan Barbara dengan sebutan Papa dan Mama.


"Ih..Nio lepas!" Fera kembali merengek.


Walaupun masih kecil, namun kekuatan Denio cukup besar.


"Em.." Denio mengerang pelan dan perlahan membuka matanya.


"Ada apa?" Denio bertanya bingung.


"Tangan kamu lepas! Aku mau pipis ini." Fera mengomel.


Denio langsung melepaskan tangannya.


"Huuh..selalu aja suka banget meluk Fera." Fera menggerutu sambil turun dari ranjang dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Denio kecil hanya tersenyum mendengar ocehan sahabatnya itu.


Setelah Fera keluar dari kamar mandi, giliran Denio yang masuk ke dalam.


Tak lama kemudian Denio keluar dan melihat Fera tengah sibuk memilih pakaian di lemari.


Denio mendekati Fera.


"Baa..." Denio menepuk bahu Fera dengan tiba-tiba membuat Fera berjingkrak ketakutan.


"Niooo..." Fera berteriak kesal.


Denio hanya tertawa lepas.


"Uh..suka banget deh bikin Fera takut." Fera kembali menggerutu kesal.


"Maaf." Denio kecil memeluk Fera.


"Iya Fera maafin. Ini pake." Fera memberikan sehelai kemeja yang berwarna senada dengan dress yang ia pilih pada Denio.


"Kita mau kemana?" Denio bertanya bingung.


"Nio lupa? Papa sama Mama kan mau ajak kita main-main ke taman permainan." Fera menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


"Hehe..iya Nio lupa." Denio menggaruk tengkuknya.


"Ya udah, Nio mandi dulu habis itu Fera." Fera mendorong pelan tubuh Denio ke arah kamar mandi.


Denio menurut dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi lalu segera membersihkan dirinya.


Selesai mandi, Denio keluar dengan mengenakan kemeja yang Fera berikan padanya namun ia melilit pinggangnya dengan handuk.


Denio memilih celana yang cocok untuk nya sedangkan Fera langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya tanpa perlu diperintah.


Semakin hari Fera semakin terlihat tidak menyukai sesuatu yang kotor. Sedikit saja sampah di depannya ia akan segera mengambil dan membuangnya.


Selesai mandi Fera pun keluar dari kamar mandi dengan dress terbalut sempurna di tubuh mungilnya.


Barbara memang mengajarkan kepadanya dan Denio agar mengenakan pakaian sebelum keluar dari kamar mandi. Felix bahkan menambah ruangan khusus didalam kamar mandi untuk mereka berganti pakaian agar tidak basah.


Denio juga sudah rapi dengan pakaiannya.


Fera pun menggandeng tangan Denio dan berjalan keluar kamar lalu turun ke bawah.


Para orang dewasa ternyata sudah berkumpul di ruang makan.


"Wow..anak Papa sama Mama udah cantik dan ganteng ya." Felix menggoda kedua anak kecil yang terlihat sangat serasi itu.


Denio langsung saja berlari dan bermanja pada Felix.


Fera tidak cemburu karena ia sudah diberi pengertian oleh kedua orang tuanya.


Fera naik ke tempat duduknya dan menyantap sarapannya dengan ceria sedangkan Denio bermanja meminta disuapi.


Seisi rumah itu pun mengerti mengapa Denio seperti itu dan mereka mencoba membantu Denio untuk membuang rasa sakit hatinya dengan memberikan ia kasih sayang yang belum pernah dirasakan sebelumnya.


"Ma, Pa nanti kita ke pantai lagi ya.." Fera meminta dengan suara imutnya.


"Iya, nanti kita ke pantai." Barbara menjawab lembut.


Kehamilan Barbara dan Tasya sudah memasuki usia lima bulan dan jenis kelamin anak mereka sama-sama adalah laki-laki.


"Nio, ini. Makan yang banyak biar Nio sehat." Fera kembali memberikan sepotong sandwich untuk Denio dan Denio menerimanya dengan senang hati.


Selesai sarapan mereka pun segera bersiap kemudian berangkat menuju salah satu taman permainan yang dipilih oleh Denio beberapa waktu lalu.


Sepanjang perjalanan Denio bersenandung bahagia namun entah kenapa rasanya itu menakutkan bagi yang mendengarnya.


Barbara dan Felix mencoba membuang jauh pikiran buruknya, mereka berempat satu mobil sedangkan Frans dan Tasya terpisah.


Mereka kini sampai di taman permainan.


Denio langsung turun dari mobil dan berjingkrak bahagia karena memang ini pertama kalinya ia dibawa bermain di luar seperti ini. Selama ini ia hanya di kurung di dalam rumah.


Bermain ke rumah Fera pun hanya anugerah baginya karena saat kembali ia pasti mendapatkan siksaan dari orang tuanya.


Fera memilih berjalan bersama Barbara. Tasya dan Frans ikut dari belakang.


Denio langsung meminta untuk menjajal satu persatu wahana permainan yang ada di taman permainan itu tanpa rasa malu seakan Felix dan Barbara benar-benar orang tua kandungnya.


"Fera nggak mau?" Denio bertanya saat ia bersiap untuk menaiki wahana rollercoaster yang memang diperuntukkan untuk anak-anak.


"Nggak. Fera tunggu di sini aja. Nio semangat." Fera mengecup pipi Denio untuk memberi semangat.


Denio tersenyum lebar.


Frans dan Tasya entah menghilang kemana, sedangkan Felix dan Barbara setia menemani kedua anak kecil mereka.


Denio kini sudah berada di atas rollercoaster yang sudah berjalan dengan ritme tak beraturan.


Bahagia, itulah yang dirasakannya. Namun bukan berarti dia sudah melupakan sakit hati pada kedua orang tuanya.


Tidak sama sekali. Selama ini Denio menunjukkan kebahagiaan saat bersama keluarga Fera karena memang itu yang ia rasakan. Tapi jauh di dalam hatinya terdalam ia bahkan menyimpan rencana dan otak kecilnya selalu berpikir bagaimana harus membalas dendam.


Puas dengan semua permainan akhirnya mereka bersantai sejenak di tempat duduk yang tersedia.


"Ma, Fera ke toilet dulu." Fera meminta ijin dan segera berlari ke toilet.


Denio juga pamit ke toilet, niat hati untuk menjaga Fera.


Belum sempat sampai ke area toilet, Denio melihat Fera diganggu oleh seorang anak lelaki yang sedikit lebih besar dari mereka.


Denio menahan amarahnya dan siapa yang menyangka jika ia diam-diam membawa sebilah pisau lipat di dalam saku celananya dan sedang ia genggam erat sekarang.


Ia kemudian melihat Fera sudah masuk ke dalam toilet umum itu namun anak lelaki itu masih menunggu di luar.


Denio memutuskan untuk menghampiri anak lelaki itu.


•••••••••••


Fera di dalam kamar mandi sedang menuntaskan hajatnya membuang air kecil yang sudah sedari tadi ia pendam.


Selesai dengan semuanya, ia keluar dan mencuci tangannya hingga bersih.


Selesai mencuci tangan, ia pun keluar dari toilet umum itu.


"Nio?" Fera tiba-tiba terjerembab jatuh saat melihat Denio memegang pisau yang berlumuran darah dan anak lelaki yang tadi mengganggunya terbaring dengan perut terluka.


Fera ketakutan, namun sedikit banyak ia mencoba melawan ketakutannya.


Denio tersenyum menakutkan pada Fera. Ia kemudian masuk ke dalam toilet dan mencuci tangannya.


Setelah dirasa semua benar-benar bersih, ia pun keluar menghampiri Fera yang masih mematung menatap anak lelaki itu.


"Fera jangan ngomong sama Papa sama Mama! Nio cuma main-main kok sama dia. Dia bentar lagi juga sembuh." Denio menggenggam tangan Fera dan melangkah meninggalkan tempat itu.


Fera hanya menurut, karena ia belum tau banyak hal akhirnya ia memilih untuk tidak mengatakannya pada kedua orang tuanya.


Area toilet umum itu sangat sepi jadi tidak ada yang mengetahui perbuatan Denio.


Mereka kembali dan bergabung dengan kedua orang tua mereka namun Fera menjadi lebih diam sedangkan Denio berceloteh panjang lebar seolah tak ada apapun yang terjadi.


Puas bermain di taman permainan, mereka pun memutuskan untuk pergi ke pantai yang Fera inginkan, namun Fera menolak dan meminta untuk pulang.


Mau tak mau kedua orang tuanya pun menurut, Frans dan Tasya ditinggalkan oleh mereka karena menghilang entah kemana.


Sepanjang perjalanan Fera benar-benar diam bahkan ia memejamkan matanya. Denio selalu menggenggam erat tangannya.


Sampai di rumah mereka satu persatu turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


Felix dan Barbara memilih merebahkan sejenak tubuh mereka di sofa ruang keluarga mereka.


Fera mendekati Barbara perlahan.


"Ma, tadi Fera lihat ... "


"Fera, aku mau tunjukkin sesuatu sama kamu. Ayo." Denio kecil yang sudah tahu arah pembicaraan Fera pun segera memotong pembicaraannya dan menarik Fera ikut dengannya sampai masuk ke dalam kamar.


Fera menepis kasar tangan Denio, dan seketika Denio menatap Fera dengan penuh amarah.


"Jangan kasih tau Papa sama Mama!" Denio membentak Fera.


"Tapi Nio jahat. Nio tusuk kakak itu." Fera juga tak kalah memberontak.


Denio terdiam dengan tatapan sulit diartikan.


Ia kemudian menarik paksa Fera dan memeluknya erat.


"Aku cuma lindungi kamu. Aku nggak mau orang lain yang nyakitin kamu." Suara Denio terdengar datar dan menakutkan.


"Nio janji jangan ulangi?" Fera menuntut.


Denio mengangguk namun ia berbohong. Bisa melukai anak lelaki tadi, memberi sensasi tersendiri untuknya.


Denio melepas pelukan nya dan Fera sedikit tersenyum, namun dalam hatinya ia berjanji akan tetap menyampaikan apa yang terjadi pada Denio kepada kedua orang tuanya ketika Denio lengah.


...~ TO BE CONTINUE ~...


#######


Allo..ada yang mau ikutan Grup Chat WHATSAPP?


Kalo ada bisa tinggalkan nomor kalian atau PC aku bagi yang udah saling follow sama aku...