Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Ronald untuk Adela


Tiga Bulan Kemudian


"Wah, dedek nya Fera udah mulai gede yah.." Fera mengusap perut Barbara dan Tasya yang mulai buncit bergantian.


Hari ini kembali weekend jadi mereka bersantai di rumah.


Tak lupa Denio kecil yang sangat sering berkunjung ke rumah Barbara.


"Nio, nanti mau kan main sama dedek-dedek nya Fera?" Fera bertanya semangat.


Nio hanya mengangguk.


"Yeyy..kita bisa main rame-rame deh..asyik..." Fera bersorak gembira.


Frana dan Felix baru saja turun dan duduk disamping istri mereka masing-masing.


"Aku pengen kita foto bareng deh.." Fera memberi usul.


Denio hanya menunduk melihat kehangatan keluarga itu.


"Pak Jo tolong fotoin yah." Fera memberikan ponsel Barbara pada Pak Jo.


"Nio sini." Fera mengajak Denio untuk bergabung membuat Denio sekali lagi terharu.


Dirinya begitu diterima oleh keluarga yang bukan keluarga kandungnya.


Nio segera turun dari tempat duduknya dan duduk disamping Fera.


Mereka berfoto dengan posisi dua pasang suami istri itu mengapit Fera dan Denio.


Pak Jo memotret mereka dengan beberapa pose berbeda. Namun Denio selalu menatap pada Fera meski pak Jo sudah mengarahkan dia untuk berpose.


Selesai berfoto, Denio juga mengeluarkan ponselnya.


"Pak Jo, fotoin aku sama Fera!" Denio memberi perintah.


Pak Jo hanya menurut. Ia pun segera memotret kedua anak kecil itu dan lagi-lagi Denio selalu menatap pada Fera.


"Ada apa sama Denio?" Pak Jo membatin bingung.


Seketika ia merasa khawatir dengan tingkah aneh Denio, namun ia berusaha menepis pikiran buruknya.


Selesai memotret Pak Jo mengembalikan ponsel Denio padanya.


"Tante, Nio minta foto tadi." Denio menyerahkan ponselnya pada Barbara agar dikirimi foto mereka bersama tadi.


Barbara tersenyum menerima ponsel Denio dan mulai mengirim semua foto kebersamaan mereka tadi.


Selesai, Barbara mengembalikan ponsel Denio.


"Makasih tante." Denio tersenyum lebar namun senyumnya terbilang menakutkan.


Barbara pun menyadari hal itu, hanya saja ia mencoba untuk menepis pikiran buruknya.


"Aku punya keluarga." Denio komat kamit menyebutkan kalimat tersebut namun tidak bersuara sambil menatap foto kebersamaan mereka dilayar ponselnya.


"Fera sama Nio udah laper?" Frans bertanya perhatian.


Fera mengangguk antusias sedangkan Denio malu-malu.


"Ya udah, om Frans sama Papa Felix yang masakin ya. Kalian disini dan tunggu dengan manis." Kini Felix yang bersuara.


Felix dan Frans pun segera menuju kedapur untuk memasak.


Denio dan Fera kini becanda ria saling mengejek satu sama lain.


•••••••••••••


Jika ada keluarga kecil yang sedang berbahagia, maka ada juga dua orang sahabat yang sedang beradu mulut.


Harvest dan Mario.


Mario dibantu Harvest untuk kabur dari penjara dengan menyuap orang dalam dan kemudian membuat keadaan seolah Mario masih didalam penjara.


Kini Harvest sedang frustasi karena uang untuk mereka bertahan hidup sudah menipis.


Mereka juga tidak menemukan pekerjaan, apalagi Mario tidak mungkin mencari pekerjaan dengan statusnya yang seharusnya masih seorang tahanan.


"ARGHH.." Harvest menjambak rambutnya frustasi.


"Bukannya senang malah menderita. Bantuin orang yang udah nggak ada gunanya." Harvest menggerutu kesal.


"Loh Har, aku udah nggak minta kamu bantuin loh. Aku udah pasrah kalo harus dipenjara seumur hidup." Mario berdalih dengan santai.


"Sial." Harvest terus saja memaki.


Tok tok tok


Pintu rumah mereka diketuk dari luar.


Harvest melangkah untuk membuka pintu rumahnya.


Tampak seorang pria berumur sekitar tiga puluh tahun ke atas.


"Gimana? Udah siap?" Pria tersebut bertanya kepada Harvest dengan santai.


"Udah lagi didalam kamar." Harvest menunjuk kearah kamarnya dengan malas.


Pria tersebut langsung melangkah ke arah kamar yang ditunjuk Harvest.


Selama ini Harvest dengan tega menjajak tubuh Adela kepada pria-pria hidung belang.


"Hai sayang." Pria tersebut duduk di tepi ranjang tempat Adela sedang meringkuk dan tentu saja menangis.


Adela tidak ingin melihat wajah pria itu.


Pria tersebut dengan santai berbaring disamping Adela dan menarik Adela kedalam pelukannya.


Ingin memberontak pun Adela tahu itu tidak mungkin.


"Kenapa nangis?" Pria tersebut bertanya dengan santai.


Tidak ada jawaban dari Adela.


"Del, kamu mau gak ikut aku? Hidup bersama aku sebagai pasangan." Pria tersebut bertanya dengan serius.


Adela kini memberanikan diri menatap pria yang sedang memeluk dirinya.


Pria tersebut tersenyum pada Adela. Ia juga merupakan salah satu pelanggan Adela yang lama kelamaan malah jatuh hati pada Adela.


"Untuk apa Ronald? Aku udah nggak berharga. Aku kotor." Adela menghakimi dirinya sendiri.


"Nggak untuk aku. Del, kamu wanita yang baik. Aku bisa aja maksa kamu terima aku, tapi untuk apa kalau hanya menambah derita kamu. Aku ingin kamu terima aku tanpa keterpaksaan seperti aku tulus sama kamu." Ronald mengecup puncak kepala Adela dengan penuh kasih sayang.


"Tapi aku kotor." Adela kembali terisak.


"Stt..kamu begini bukan karena kamu mau. Jangan sedih. Aku nggak bisa Del lihat kamu sedih." Ronald bangkit dari posisinya.


"Bentar, kamu tunggu disini. Nggak, kamu siap-siap. Rapihin penampilan kamu, jangan kacau begini." Ronald merapikan rambut Adela yang berantakan.


Ia kemudian keluar dari kamar Adela dan menemui Harvest.


"Well bung, aku punya penawaran menarik buat kalian." Ronald mengeluarkan satu gulung kertas, satu gepok uang dan satu kartu hitam.


"Apaan ini?" Harvest bertanya bingung.


"Untuk kalian. Tandatangani surat perjanjian itu!" Ronald memerintah.


Harvest meraih gulungan kertas tersebut, membukanya dan membacanya.


"Kamu mau beli wanita itu? Nggak salah? Dia udah nggak ada harganya." Harvest meremehkan istrinya sendiri.


Ronald ingin sekali menghantam wajah Harvest, namun menebus Adela lebih penting baginya.


"Cukup tandatangani itu!" Ronald kembali memberi perintah.


Harvest yang memang membutuhkan uang pun segera menandatangani surat perjanjian yang juga terdapat surat cerai dibelakangnya.


"Ini." Harvest memberikan kembali surat-surat tersebut kepada Ronald dan langsung mengambil bayaran fantastis yang Ronald berikan tadi.


Ronald mengambil surat-surat tersebut dan kembali kedalam kamar Adela.


Adela ternyata menuruti perintah Ronald dan ia telah rapi dengan pakaian yang sopan.


"Ayo sayang." Ronald menggenggam tangan Adela dengan lembut dan membawa Adela keluar dari tempat itu.


Harvest masih melemparkan tatapan menghina kepada Adela namun Ronald menutup mata Adela agar ia tidak perlu melihat kedua pria brengsek itu lagi.


Ronald membawa Adela kembali kerumahnya dan sepanjang perjalanan ia menggenggam erat tangan Adela.


"Ayo sayang." Ronald mengulurkan tangannya untuk menyambut Adela turun dari mobilnya.


Rumah mewah Ronald tampak ramai oleh pelayan.


"Mereka semua pelayan yang akan melayani kamu nantinya dan para pengawal tentunya melindungi kamu." Ronald menjelaskan dengan lembut.


Ronald membawa Adela hingga masuk ke dalam kamarnya.


"Pokoknya sekarang kamu milik aku seutuhnya. Kamu dan pria brengsek itu udah nggak ada hubungan lagi." Ronald menuntun Adela duduk di tepi ranjangnya.


Adela tersenyum kaku dan hendak membuka pakaiannya.


"Apa yang mau kamu lakuin?" Ronald protes saat melihat Adela melucuti pakaiannya.


Yah, menurut Adela memang itulah pekerjaannya, memuaskan nafsu birahi para pria hidung belang. Namun bagi Ronald sudah tidak begitu. Adela adalah pasangan nya sekarang, bukan hanya pemuas nafsu nya.


Adela hanya menunduk.


Ronald mendekati Adela dan mendekap Adela erat.


"Sayang, buang jauh masa kelam mu mulai sekarang. Kita adalah pasangan sesungguhnya sekarang. Bukan hanya atas dasar nafsu birahi aja. Tapi aku ingin kamu membuka hati kamu, coba sekali lagi percaya sama aku dan mencintai aku. Untuk urusan lain kita bisa lakukan nanti." Ronald menenangkan Adela.


"Tapi aku nggak pantes dapet ini semua." Suara Adela bergetar.


"Yang menentukan siapa yang pantes untuk aku adalah aku sendiri, dan aku memilih kamu." Ronald mengusap lembut rambut Adela membuat Adela perlahan membalas pelukannya.


"Coba sekali lagi Del. Jangan terburu-buru, aku akan nunggu kamu. Sekarang kita istirahat, besok malam aku mau kenalin kamu sama teman-teman aku. Nggak ada penolakan!" Ronald melepaskan pelukannya dan menuntun Adela merapikan kembali pakaiannya.


Setelah itu ia mengajak Adela naik ke atas ranjang dan berbaring.


Adela terlelap lebih dulu. Ronald hanya tersenyum melihat wajah damai Adela yang sangat cantik dimatanya.


"I love you Adela." Ronald mengecup lembut kening Adela dan mempererat pelukannya.


...~ TO BE CONTINUE ~...