Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Kalian memang harus binasa!


"Kak Nio mau kemana?" Dean yang sedang belajar di ruang keluarga bertanya penasaran melihat penampilan Denio yang sudah rapi.


Denio tersenyum manis pada anak remaja itu sambil menghampirinya.


"Kakak mau keluar bentar. Nanti kalo Papa sama Mama atau Fera nanya, bilang aja kakak keluar ada urusan." Denio mengacak pelan rambut Dean.


Denio juga menyayangi Dean dan Jacob seperti adik kandungnya sendiri.


"Oh. Iya kak. Hati-hati, jangan pulang kemaleman." Dean mengangguk paham.


Denio hanya mengangguk sebagai tanda jawaban sambil keluar dari rumah.


Denio sudah bersumpah dengan dirinya sendiri bahwa ia akan melindungi setiap anggota keluarga Fera dengan cara apapun.


Denio segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu.


Tujuannya hanya satu saat ini, bersenang-senang dengan para pengacau yang sudah mengganggu Fera tadi siang.


Sebelum berangkat tadi, Denio sudah mendapatkan lokasi tempat para pengacau itu berada dengan bantuan dari beberapa orang yang ia kenal.


Denio diam-diam membangun hubungan dengan sebuah aliansi gelap satu tahun lalu untuk membantunya agar mudah menyelesaikan misinya.


Satu jam kemudian, Denio sampai di sebuah lapangan basket yang letaknya cukup terpencil.


Denio turun dari mobilnya dan dapat melihat para mahasiswa yang tadi siang mengganggu Fera sedang bermain dengan beberapa wanita.


"Menjijikkan!" Denio tersenyum menakutkan.


FIWITT


Denio bersiul untuk mengganggu kegiatan panas para pengacau itu.


"Ada apa hah? Kamu mau gabung?" Seseorang bertanya dengan berteriak.


Denio sangat malas untuk mendekati orang-orang itu.


Alhasil, ia mengambil sebuah pistol dari dalam mobilnya. Pistol yang selalu ia bawa kemanapun namun selalu ia sembunyikan dari Fera dan anggota keluarga lainnya.


DORR DORR


Denio menembak ke empat mahasiswa itu tepat mengenai kepala mereka.


Para wanita yang tadi sedang bermain dengan mereka pun berteriak histeris.


DORR DORR


Denio kembali menembakkan pistolnya, kali ini sasarannya adalah para wanita itu, dan sekali lagi semuanya tepat mengenai kepala korbannya.


Denio tersenyum penuh kemenangan sekaligus menakutkan.


"Kalian memang harus binasa!" Denio bergumam dan langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu.


Tujuannya adalah kembali ke rumah untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Feranya.


Satu jam kemudian, Denio sampai di rumah.


Tampak sudah sepi karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan.


Ia segera naik ke atas menuju kamar Fera. Mereka sudah tidur di kamar yang berbeda sejak usia mereka menginjak sepuluh tahun, namun Denio selalu nakal dan sering mengendap masuk ke dalam kamar Fera.


Perlahan ia membuka pintu kamar Fera. Pandangannya langsung menangkap keberadaan Fera yang sedang duduk di balkon kamarnya ditemani beberapa buku gambar dan bolpoin serta pensil yang berantakan.


Posisi Fera membelakangi Denio sehingga Fera tidak tahu kalau Denio masuk ke dalam kamarnya.


"Sayang." Denio memeluk pundak Fera dari belakang membuat Fera tersentak kaget.


"Nio, ngagetin aja sih?" Fera menggerutu kesal.


"Maaf." Denio mengecup puncak kepala Fera penuh cinta.


"Kamu darimana?" Fera bertanya curiga.


"Tadi ada urusan bentar." Denio menjawab singkat.


"Ya udah. Tapi nggak nakal kan?" Fera mengelus lembut tangan kekar itu.


"Ya nggak lah. Hidup aku cuma ada kamu, jadi jangan pernah takut aku nakal." Denio tidak melepaskan pelukannya dari tadi dan Fera selalu merasa nyaman.


"Sayang, jadi gimana ajakan ku tadi pagi? Diterima kan?" Denio bertanya dengan harapan penuh.


Fera menengadah menatap wajah tampan namun dingin itu.


Fera mengangguk pelan sebagai jawaban dan Denio tersenyum bahagia.


"Makasih ya sayang." Denio kembali mengecup puncak kepala Fera.


Denio kini merubah posisi dan setengah berjongkok di samping Fera. Ia menatap dalam wajah cantik yang sedang menunduk malu itu.


Denio menangkup wajah Fera untuk menatap nya. Dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Fera.


Keduanya seketika salah tingkah dan gelagapan.


"Nio, tidur sekarang. Udah malam." Nada bicara Barbara tidak terdengar marah.


Denio bangkit dari posisinya dan berjalan menunduk menghampiri Barbara.


Ia menampilkan nyengir kuda saat berhadapan dengan Barbara.


Tanpa berkata. secepat kilat ia berlari keluar dari kamar Fera dan langsung masuk kedalam kamarnya seolah Barbara akan memukulnya.


Barbara hanya tersenyum melihat tingkah Denio.


"Fera, kamu juga tidur. Udah malam. Dan besok Mama butuh penjelasan." Barbara berbicara dengan lembut kepada Fera.


Fera hanya mengangguk tanpa menatap Mamanya.


Fera pun segera naik ke atas ranjangnya dan beristirahat setelah Barbara pergi dari kamarnya.


••••••••••••


"Jangan! Jangan pukul aku! Aku mohon!" Denio mengigau dalam tidurnya.


"Nio, bangun!" Barbara membangunkan Denio yang sedang mengalami mimpi buruk.


"Sakit Ma! Jangan!" Denio kembali meracau dan meringkuk memeluk tubuhnya.


"Nio, Denio!" Barbara mengguncang pelan tubuh Denio dan sedikit meninggikan suaranya.


"Jangan!" Denio terbangun dari mimpi buruknya dengan teriakan yang memilukan hati.


"Mama." Denio langsung memeluk erat Barbara.


Barbara sedih melihat keadaan Denio. Bukan kali pertama ia mendapati Denio mimpi buruk seperti ini, tapi sudah sangat sering.


"Udah, Nio aman kok." Barbara menenangkan Denio.


Setelah merasa lebih tenang, Denio pun melepas pelukannya.


"Udah, cepetan mandi dan siap-siap. Semuanya udah nunggu di ruang makan." Barbara bangkit dari duduknya dan mengacak pelan rambut Denio.


Ia kemudian keluar dari kamar Denio.


Denio segera melakukan perintah dari Barbara. Ia juga mengingat kejadian semalam dan pasti keluarga angkatnya itu butuh penjelasan.


Setelah selesai dengan semuanya, ia segera turun dan bergabung dengan keluarga besar itu di ruang makan.


Denio menyantap makanannya terlebih dulu, kemudian ia menghentikan kegiatannya.


"Pa, Ma, dan semuanya, ada yang mau aku kasih tau sama kalian. Aku sangat berharap kalian bisa menerima ini." Denio sedikit menunduk.


Seketika ia merasa tidak percaya diri mengingat ia hanyalah anak angkat di rumah itu.


"Ngomong aja!" Felix bertitah lembut sambil mengunyah makanannya. Ia sudah mendengar cerita versi Barbara.


"Aku dan Fera pacaran. Tapi aku mohon, jangan marah sama Fera! Kalo mau marah sama aku aja." Denio menggenggam erat tangan Fera di bawah meja.


Felix kini menghentikan pergerakannya dan menatap Denio.


"Apa yang membuat kalian yakin untuk menjalin hubungan lebih dari pertemanan kalian selama ini?" Felix menyelidiki.


"Aku sayang Fera Pa. Aku butuh dia. Aku nggak bisa tanpa Fera." Denio menjawab dengan tegas.


Felix dan Barbara ataupun Frans dan Tasya sebenarnya pun sudah merasakan sikap posesif Denio yang cenderung lebih seperti seorang kekasih pada Fera.


Felix tersenyum.


"Papa nggak akan larang kalian, Papa juga pernah muda. Tapi Papa minta sama kalian, jangan jadikan hubungan asmara kalian sebagai alasan untuk mengabaikan pendidikan dan masa depan kalian! Jalani hubungan asmara kalian dengan hal-hal yang positif!" Felix memilih memberi nasehat pada Denio dan Fera daripada harus menentang mereka.


Denio langsung tersenyum bahagia.


"Makasihh Pa, Ma, dan semuanya. Aku janji, aku bakal berjuang bersama Fera." Denio benar-benar bahagia.


"Ya udah, habiskan makanannya." Barbara kini bersuara.


Denio pun melanjutkan makannya.


"Kak Nio, aku sama Jacob ikut kak Nio hari ini yah." Dean meminta ijin.


"Siap bos kecil." Denio menjawab semangat.


Selesai sarapan, mereka pun satu persatu meninggalkan rumah kecuali Barbara dan Tasya. Barbara sudah tidak ikut campur lagi dalam urusan perusahaan peninggalan Papanya dan semua diserahkan penuh kepada Felix.


...~ TO BE CONTINUE ~...


#######


yang mau gabung grup Chat whatsapp, tinggalkan nomor kalian di kolom komentar ya..makasih