Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Frans


"Fel, angkat telfon ku." Barbara menggerutu sambil menekan tombol lift dan satu tangannya memegang ponsel pada telinganya.


"Jangan gila lagi Fel, aku emang bilang nggak akan larang kamu ngebunuh tapi bukan berarti kamu bisa terus-terusan ngebunuh." Barbara benar benar kalang-kabut dibuatnya.


Ting


Pintu lift baru terbuka.


Barbara yang tadi nya berada di lantai sepuluh, tempat ruangan pemotretan berada langsung menekan angka yang membawanya pada ruangan Felix.


Felix tidak menjawab panggilan nya sama sekali.


Ting


Pintu lift terbuka.


Barbara segera melangkah ke ruang kerja Felix.


"Fel.." Barbara memanggil Felix sambil membuka pintu.


Namun nihil.


Tidak tampak keberadaan Felix diruangan itu.


"Ya ampun, kemana sih dia?" Barbara benar-benar mulai panik.


Ia kembali masuk ke lift dan menekan angka yang membawanya kembali ke tempat pemotretan tadi.


"Frans, apa kamu tau Felix kemana?" Barbara bertanya pada Frans yang menurutnya lebih memungkinkan untuk mengetahui keberadaan Felix.


"Kamu ada ngomong apa aja sama dia dari tadi?" Frans bertanya menyelidik.


Frans sudah merasa curiga saat Felix meninggalkan tempat itu tergesa-gesa.


"Aku cuma sempat bilang ke dia tentang kelakuan Jay yang gak sopan." Barbara menjawab sejujurnya.


"Pilihan nya cuma dua, gedung tua gak jauh dari sini dan ruang bawah tanah di gedung ini." Frans menjawab santai.


"Gimana caranya ke keruang bawah tanah? Sedangkan nggak ada dari tadi tombol didalam lift yang nunjukin keberadaan ruang itu." Barbara bertanya panik.


"Lift khusus diparkiran." Frans kembali menjawab


Barbara segera berlari keluar namun kembali dihentikan oleh Frans.


"Kalo kamu berniat hentiin dia buat nyabut nyawa, kamu nggak akan berhasil." Frans meremehkan kekuatan Barbara.


Barbara tidak menjawab dan langsung keluar dari ruangan itu.


Tujuan Barbara adalah gedung tua.


Barbara segera menekan tombol lift yang langsung akan membawa nya keparkiran.


Saat sudah sampai, Barbara segera berlari keluar dari parkiran, tapi kembali pikiran nya lebih tertuju pada ruang bawah tanah.


Akhirnya dia memutuskan untuk menemukan keberadaan lift khususnya yang akan membawanya pada ruang bawah tanah.


"Fel aku mohon jangan gila." Barbara menggerutu sambil panik mencari dimana letak lift itu.


"Ini lift nya mana lagi ih." Barbara menggerutu kesal karena dari tadi tidak menemukan keberadaan lift tersebut.


"Ikut aku." Tangan nya ditarik oleh seseorang menuju ke salah satu sudut ruangan.


"Frans?" Barbara bertanya kesal.


"Ini lift nya." Frans menunjukkan lift itu pada Barbara.


Pintu lift tersebut tampak usang dan seperti menyatu dengan dinding, pantas saja Barbara susah menemukan nya.


Frans segera menekan tombol lift agar mereka bisa masuk, Frans santai saja, tapi Barbara panik.


"Santai Bar. Felix nggak bakal kenapa-napa." Frans berucap santai saat melihat kegelisahan Barbara.


Barbara tidak ingin menanggapi karena juga merasa ada yang tidak benar dalam diri Frans.


Ting


Pintu lift terbuka.


Barbara segera keluar, sedangkan Frans berjalan santai di belakang Barbara.


"Fel..Felix." Barbara memanggil Felix sambil menyusuri ruangan yang tampak menakutkan dan berbau anyir itu.


"Gimana ada?" Frans bertanya menyeringai sambil mengayunkan pisau ditangan nya.


Barbara menoleh dan sedikit terkejut.


"Tuh kan bener." Barbara membenarkan dugaan nya.


Barbara segera melangkah hendak kembali ke lift karena merasa ini jebakan dari Frans, tapi Frans menarik tangannya dan menyudutkan nya hingga punggung nya menempel pada dinding dingin ruangan itu.


"Kamu pikir kamu bisa menghentikan Felix?" Frans bertanya dengan nada menakutkan sambil menyusuri wajah Barbara dengan ujung pisau yang tidak menempel pada wajah nya.


Frans melotot tidak percaya dengan keberanian Barbara dan kalimat yang Barbara ucapkan. Nyawanya terancam tapi dia menganggap ini permainan.


Frans mendekatkan wajahnya pada Barbara hingga Barbara mampu merasakan deru nafas berat dari Frans


"Mau kita bermain yang lebih seru?" Frans bertanya menyeringai.


Ia kemudian mengecup lembut bibir Barbara membuat Barbara melotot.


"Astaga Frans, nyawa orang dalam bahaya." Barbara kembali membentak Frans saat Frans melepaskan kecupan nya. Barbara meronta untuk dilepaskan karena tubuhnya dihimpit kuat oleh Frans.


Lagi-lagi Frans dibuat tak percaya, Barbara lebih mementingkan nyawa orang lain dibandingkan nyawanya sendiri.


"Be my girl, Bar." Frans meminta.


Frans tidak jauh tampan dari Felix, tapi tetap saja perjanjian Barbara adalah dengan Felix.


"Nggak mau." Barbara menolak dan terus berusaha mendorong tubuh Frans menjauh walaupun tidak berhasil.


"Menarik. Baru kali ini aku ketemu sama perempuan yang berani menolak ku dan nggak ada takutnya sedikit pun." Frans menatap dalam mata Barbara mencari setitik ketakutan dari sana namun nyatanya nihil.


"Aku akan mendapatkan kamu dengan cara ku. Meskipun itu harus saling bunuh sama Felix." Frans mengancam.


Kembali ia mengecup bibir Barbara dan memaksa Barbara untuk membalasnya.


Barbara dengan berani meraih tengkuk leher Frans dan membalas ciuman nya.


"Sial. Ni perempuan benar-benar nggak ada takutnya." Batin Frans.


Secepat mungkin ia melepaskan tautan bibir mereka, takut terbawa lebih jauh.


"Udah? Puas?" Barbara bertanya kesal dan melotot pada Frans.


"Sekarang bisa lepasin aku?" Barbara bertanya.


Frans menjauhkan tubuhnya dari Barbara dan mempersilahkan Barbara untuk pergi.


Barbara segera pergi.


"Arghh ampun." Ditengah langkah nya, Barbara mendengar teriakan seorang pria yang masih berada di dalam ruangan itu.


Segera Barbara mencoba mencari walaupun sulit karena penerangan yang minim.


"Aku mohon, maafkan aku. Aku nggak sengaja." Suara pria itu semakin dekat di telinga nya.


Barbara kembali melangkah mengikuti arah suara tersebut.


"Felix." Barbara menggumam saat sudah bisa menangkap bayangan punggung Felix.


Segera ia berlari dan memeluk Felix dari belakang.


"Fel, stop." Barbara meminta dengan lembut.


"Jangan ganggu aku Bar." Felix menjawab dengan suara datar.


Tampak Jay sudah sekarat, pergelangan tangannya sudah hampir putus.


"Cukup Fel." Barbara kembali meminta.


"Nggak akan Bar." Felix menolak. Felix tidak akan membiarkan siapapun mempengaruhi keputusan nya, apalagi sudah hampir selesai.


"Ini nggak akan lama sayang." Felix berucap lalu ia melepaskan tangan Barbara dari perutnya.


Kemudian ia berbalik dan meraih sapu tangan dari saku nya kemudian melipat sapu tangan itu hingga kecil memanjang, lalu ia menutup mata Barbara menggunakan sapu tangan itu.


"Sebentar aja." Felix berucap lalu mengecup sekilas pipi Barbara.


Segera ia melangkah ke arah Jay untuk menyelesaikan pekerjaan nya.


Ia menancapkan pisau pada perut Jay dan merobek hingga ke leher. Jay tidak mampu berteriak lagi karena mulut nya sudah disumpal batu oleh Felix sebelum Felix melancarkan aksinya.


Barbara hanya diam mematung mendengar samar-samar bunyi sobekan pada perut Jay akibat ulah Felix.


"Ayo sayang." Felix menuntun Barbara pergi dari ruangan itu.


Frans yang melihat semua kejadian itu hanya tersenyum sinis.


"Sepertinya bakal menarik. Barbara." Frans membatin.


...~ **To Be Continue ~...


*********


Like dan komentar jangan lupa.


Makasih.


Selamat berpuasa hari ini, yang semangat ya.


Semoga lancar sampai berbuka**.