
...NOTE : Sedikit Adegan 21+...
...Bijak Bijaklah Memilih Bacaan!...
.
.
.
.
.
Barbara dan Frans kini sedang berada di dalam jet pribadi yang sudah terbang hampir dua jam diatas awan.
Frans sengaja menyewa jet pribadi untuk penerbangan nya kali ini.
Bukan tanpa alasan, ia ingin lebih mempunyai waktu yang privasi dengan Barbara.
Barbara sedang berada di dalam kamar tidur didalam jet pribadi itu, dan Frans masih berada di ruangan utama jet pribadi itu.
Frans sedang membaca beberapa dokumen yang berisi informasi tentang orang-orang yang akan ia tugaskan dihabisi oleh anak buah nya.
Sesuai pesanan klien nya.
"Hah, lelah banget." Frans menghela nafas kasar.
Ia menyimpan kembali dokumen yang ia baca tadi kedalam tas yang ia bawa, lalu ia berdiri dan merenggangkan otot nya sejenak.
Ia memutuskan untuk masuk kedalam kamar dimana Barbara sedang beristirahat.
Perlahan ia berjalan masuk kedalam kamar itu.
Ia tersenyum ketika melihat Barbara sedang terlelap.
Perlahan ia berjalan agar tidak menimbulkan suara, lalu mendekati ranjang Barbara dan naik bergabung bersama Barbara didalam selimut.
Ia menurunkan hingga ke perut Barbara, selimut yang menutupi tubuh Barbara.
Ia menatap lekat wajah teduh Barbara yang sedang terlelap.
Jari telunjuk nya bergerak perlahan menelusuri wajah Barbara.
"Kamu cantik banget sayang." Frans kagum.
Jari telunjuk nya terus bergerak menelusuri setiap inci wajah Barbara hingga akhirnya berhenti tepat di bibir Barbara.
"Eng." Barbara melenguh pelan.
Entah karena merasakan sentuhan Frans, atau sekedar merasa kurang nyaman.
Frans kembali tersenyum.
Ia kemudian bergerak lebih mendekat pada Barbara.
Tangan jahil nya bergerak membuka kancing piyama Babara dengan perlahan.
"Sayang, bangun bentar." Frans berbisik sensual dengan suara berat nya tepat di telinga Barbara.
"Em." Barbara hanya berdehem singkat.
"Sayang, bangun bentar please." Frans kembali meminta.
Frans telah berhasil membuka semua kancing piyama Barbara, hingga tampak dua bola kenyal Barbara terpampang indah tanpa penutup, karena Barbara memang terbiasa tidur tanpa bra.
Birahi Frans semakin terpancing.
Ia mulai menggosok wajahnya pada dada Barbara.
Perlahan Barbara mulai tersadar.
Barbara tersentak kaget melihat Frans yang asyik bermain pada dada nya, bahkan kini Frans menggunakan mulutnya.
"Um..Frans jangan." Pinta Barbara menahan bibir nya untuk bersuara.
Frans tidak mendengar nya dan malah terus menghayati permainan nya.
"Sayang, please boleh yah. Sekali aja sebelum kita nikah." Frans meminta untuk berhubungan dengan Barbara dengan suara berat nya.
"Umh..jangan Frans. Aku nggak mau." Ucap Barbara berusaha menahan diri sekuat tenaga.
"Bentar aja sayang. Aku janji bakal pelan. Nggak akan nyakitin dia." Frans kembali meminta.
"Nggak. Aku nggak bisa Frans. Aku nggak siap sekarang." Barbara tetap menolak dan berusaha melepaskan diri dari Frans.
Frans akhirnya berhenti.
"Maaf sayang." Frans berucap lirih.
"Ya udah, kita lanjut tidur nya." Frans mendekap erat tubuh Barbara.
"Ih, lepasin. Aku mau ngancingin baju aku dulu." Barbara protes karena Frans tidak mengancingi kembali piyama nya.
"Nggak perlu di tutup sayang. Itu kan milik aku. Biarin aja gitu." Frans mencegah pergerakan tangan Barbara.
Barbara tentu saja merasa sangat risih, Frans bukan suaminya yang sesungguhnya. Walau memang Frans berulang kali mengklaim Barbara adalah miliknya, tapi tetap saja saat ini status mereka masih sama-sama orang asing yang tidak dalam hubungan yang jelas.
Frans memegang tangan Barbara agar tidak menutup kancing piyama nya dan tetap membiarkan piyamanya terbuka.
Barbara pasrah, Frans tetaplah Frans yang tidak bisa dibantah.
Frans tersenyum melihat Barbara menurut.
Tangannya memeluk pinggang Barbara dan wajahnya ia benamkan di antara bola kenyal Barbara.
"Sayang, elus kepala aku." Pinta Frans dengan suara manja.
Barbara hanya bisa menurut.
Ia mengelus kepala Frans dengan sangat lembut, hingga perlahan ia dapat mendengar suara dengkuran halus dari Frans.
Merasa Frans sudah terlelap, Barbara berusaha melepaskan tangan Frans dari pinggang Barbara.
Frans seakan sadar dengan pergerakan Barbara, hingga ia memutuskan untuk memeluk Barbara lebih erat.
Terpaksa Barbara akhirnya mengikuti saja kemauan Frans.
Perlahan Barbara pun kembali ikut terlelap.
·······················
Setelah hampir delapan belas jam penerbangan, akhirnya mereka sampai di Sydney, Australia.
Mereka kini sedang berada di dalam sebuah taxi yang akan mengantarkan mereka menuju ke kediaman orang tua Barbara.
Sepanjang perjalanan, Frans tampak antusias memperhatikan hiruk pikuk perkotaan yang masih belum terlalu ramai, karena memang hari masih pagi.
"Ternyata gini bentukan Sydney." Frans berucap kagum.
Satu tangannya setia merangkul pundak Barbara sesekali mengusap nya.
"Emang kamu belum pernah ke sini?" Barbara bertanya penasaran.
"Belum pernah. Nggak ada duit nya aku." Frans menjawab sambil berkelakar.
"Apaan sih." Barbara memukul pelan dada Frans.
"Eh, udah berani ya mukul aku." Frans berucap mengancam gemas.
"Kamu lebih berani lagi nyentuh aku dibagian yang nggak seharusnya." Barbara menggerutu.
Frans tersenyum mengingat kelakuan nya di atas pesawat belasan jam yang lalu.
"Bukan nggak seharusnya sayang. Semua yang ada di kamu itu punya aku." Frans mentoel gemas hidung Barbara.
"Nggak usah terlalu berharap Frans." Ucap Barbara sendu.
"Nggak kok. Aku bukan berharap, tapi aku yakin seyakin yakinnya." Frans menjawab semangat.
Barbara mencibirkan mulutnya.
"Kita nggak pernah tau garis takdir bakal bawa kita kemana dan sama siapa." Barbara berucap sendu lagi.
Ia kembali mengingat Felix, kenangan indah bersama Felix.
Apalagi tempat ia berada sekarang juga banyak menyimpan kenangan nya bersama Felix.
Pria pertama yang ia cintai dan ia serahkan hidupnya sepenuhnya pada nya.
Tapi pada akhirnya yang Barbara dapatkan hanyalah rasa sakit dan kekecewaan.
"Garis takdir? Aku yang bakal tulis takdir aku sendiri Bar. Aku yang bakal nentuin jalan hidup aku sendiri. Kalo kamu cuma pasrah ngikutin garis takdir, kamu selamanya nggak akan dapat kebahagiaan yang kamu mau sendiri. Hidup ini resiko Bar. Kalo kamu berani ambil resiko dan keluar dari garis takdir kamu, maka kamu pasti akan dapat kebahagiaan yang kamu mau." Frans berucap sudah seperti motivator.
Barbara tersenyum meremehkan.
"Sok memotivasi." Barbara meledek Frans.
Frans gemas.
Sigap ia menyambar bibir Barbara yang sudah mencibir nya.
Frans menuntut Barbara membalas nya, hingga akhirnya mereka berciuman panas mengabaikan sopir taxi yang sedang menelan air liur melihat adegan mereka.
"Maaf Tuan, tapi kita sudah sampai." Ucap sang sopir taxi tak enak hati karena harus mengganggu keromantisan mereka.
Mereka gelagapan melepas tautan bibir mereka.
"Ekhem." Barbara berdehem mengusir rasa gugup sambil memperbaiki penampilannya.
Barbara memilih turun terlebih dulu dari taxi.
Frans turun setelah melakukan transaksi dengan sang sopir taxi, diikuti sang sopir yang juga turun untuk menurunkan barang bawaan mereka dari bagasi mobil.
"Sudah semuanya Tuan." Ucap sang sopir taxi dan langsung bergegas masuk lagi kedalam mobil dan pergi dari sana.
Barbara menarik nafas panjang dan menghembuskan nya kasar.
Frans pun begitu, lebih tepatnya Frans gugup.
Barbara berjalan masuk duluan kedalam rumah nya yang kebetulan pagar nya sedang terbuka.
Frans mengikuti dari belakang.
Barbara melihat Fanco sedang berolahraga dihalaman rumah nya pun langsung menghampiri nya.
"Papa."
...~ To Be Continue ~...
######
What's next?
Like dan komentar jangan lupa. Makasih yang selalu setia menunggu. Loph yu oll so mat.