
"Ssttt..anak Papa jangan nangis." Felix berusaha mendiamkan putrinya yang sedang menangis.
Ia terbangun saat mendengar rengekan Fera, sedangkan Barbara masih terlelap sambil memeluk dirinya saat ia terbangun.
Felix memutuskan untuk bangun perlahan dan mencoba menggendong serta menenangkan putrinya.
Oekk oeekk
Tangisan Fera semakin kuat membuat Barbara tersentak dan tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
"Astaga kamu ngapain Fera sampe dia nangis kayak gitu?" Barbara bertanya kesal sambil mengambil Fera dari gendongan Felix.
"Tadi dia rengek kecil, terus aku terbangun dan liat kamu masih nyenyak jadi aku gendong dia doang, nenangin dia. Gak taunya dia malah makin nangis." Felix mencoba menjelaskan takut jika Barbara marah padanya dan salah paham.
Barbara mencoba menyusui Fera dan ternyata baby Fera langsung menghisap dengan rakus payudara Barbara.
"Dia laper Fel." Barbara berucap lembut.
Felix tersenyum kaku dan merasa bersalah.
"Maaf, aku nggak tau." Felix berucap sambil menggaruk tengkuknya.
"Lain kali kalo dia udah nangis gitu langsung bangunin aku. Takutnya dia laper atau haus. Dia masih belum boleh yang lain selain ASI." Barbara berpesan tanpa sadar.
Felix tersenyum ceria.
"Jadi masih ada lain kali Bar?" Felix menggoda Barbara.
Barbara baru tersadar dengan ucapan nya.
"Udah sana, mandi dulu. Pakaian kamu ada dilemari, lengkap semua." Barbara mengalihkan topik pembicaraan.
Felix mencoba mengerti dan menurut.
Ia pun segera meraih handuk dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi ia pun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggangnya.
Ia melihat Fera masih asyik menyusu membuatnya menggeleng kepalanya.
"Untung ASI Mama kamu lancar. Dan kalopun Formula, untung Mama Papa kamu kaya." Felix membatin dalam hati sambil mengenakan pakaian dan terus menatap Barbara dan bayi mereka.
Tak lama setelah ia selesai berpakaian rapi, baby Fera pun selesai menyusu namun tidak tidur.
"Jagain, aku mau nyiapin air buat dia mandi. Jangan sampe nangis." Barbara bertitah sedikit ketus.
Felix mengangguk dan mendekati bayi mereka sedangkan Barbara masuk kedalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.
Saat Barbara didalam kamar mandi, Felix dengan penuh keberanian kembali menggendong Fera.
"Anak Papa cantik kayak Mama ya." Felix berbicara pada bayi mereka. Baby Fera pun tersenyum pada Ayahnya.
Felix merasa hatinya menghangat saat melihat bayi mungil itu tersenyum padanya.
"Maafin Papa ya sayang, Papa sempet nggak menginginkan kamu. Papa udah jahatin kamu sama Mama dulu. Jangan benci Papa ya sayang. Papa janji bakal perbaiki kesalahan dan kekacauan yang udah Papa buat." Felix meminta maaf pada bayi mungil tersebut.
Felix tidak sadar Barbara sedang melihat semua yang ia ucapkan dan katakan.
Barbara cukup tersentuh dengan apa yang Felix ucapkan pada bayi mungil nya.
Ia menghampiri Felix dan mengambil alih bayinya dengan lembut.
Felix menurut.
Barbara dengan telaten membuka pakaian bayi mungilnya lalu membungkus tubuhnya dengan handuk.
Barbara pun membawa bayinya kedalam kamar mandi dan memandikan nya.
Felix sedikit mengintip dan tersenyum.
Saat Barbara hendak keluar, dengan cepat ia berlari dan duduk diatas ranjang.
"Bawain itu Fel, tolong." Barbara menunjuk sebuah kotak yang berisi pakaian bayinya dan beberapa perlengkapan lain seperti minyak telon dan lainnya.
"Bajunya bawa satu pasang aja." Barbara kembali berucap.
Felix menurut, saat seperti ini mereka tampak seperti sepasang suami-istri yang sedang mengurus buah hati mereka.
Dengan telaten Barbara memakaikan pakaian pada bayinya.
"Itu apaan Bar? Kok serem?" Felix menunjuk pada tali pusar baby Fera.
"Itu tali pusar nya. Entar juga lepas sendiri." Barbara menjelaskan dan diangguki Felix.
"Udah selesai. Kamu liatin ya. Aku mandi dulu." Barbara memberi pesan lalu beranjak masuk kedalam kamar mandi.
Felix kembali berdua dengan bayinya.
Ia terus menatap putrinya dengan penuh sayang. Putri mungilnya pun seolah membalas tatapannya lalu perlahan tertidur.
Felix memasukkan baby Fera kembali kedalam box bayi dengan hati-hati.
Ia terus menatap bayinya yang sedang terlelap.
"Papa sayang kamu." Ucapnya kini dengan sadar, bukan lagi tanpa sadar atau keceplosan.
Barbara yang sudah selesai pun keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalutkan handuk.
"Bar, jangan godain gitu." Felix berniat bercanda namun tidak ditanggapi hingga akhirnya Felix memilih diam kembali.
Felix kembali memeluk Barbara.
"Bar, please kasih aku satu kesempatan terakhir. Kalo akhirnya aku belum bisa juga bahagiain kamu, udah aku nggak akan lakuin apapun lagi. Aku ikhlas lihat kamu sama yang lain." Felix meminta dengan tulus.
Barbara membalas pelukan Felix.
"Lakukan buat diri kamu sendiri dan juga anak kita Fel. Aku bisa terima keadaan kamu apapun itu. Tapi yang paling kamu sakiti adalah putri kita." Barbara akhirnya mencoba membuka kembali hatinya.
Felix mengangguk. Ia kemudian melepaskan pelukan nya dan menatap dalam mata Barbara.
"Bar, aku beneran nggak bunuh Papa sama Mama kamu." Felix mencoba mengatakan kebenaran.
Barbara tidak bereaksi menunggu Felix melanjutkan perkataannya.
"Aku emang sempat melukai Papa kamu karena dia maki-maki aku. Aku juga sempat cekik dia sampe dia cakar tangan aku. Tapi sumpah aku nggak bunuh mereka. Aku bahkan nggak nyentuh Mama kamu. Aku pergi dari rumah mereka dalam keadaan menahan sakit dan bahkan ngalamin kecelakaan ringan dijalan." Felix menjelaskan secara garis besar.
"Aku mohon percaya sama aku Bar. Aku ... "
Barbara menghentikan perkataan Felix dengan menyatukan bibir mereka.
"Aku percaya sama kamu." Barbara akhirnya memilih percaya pada Felix.
"Aku bakal tunggu kamu sambil nyari pembunuh sebenarnya." Barbara kembali memeluk Felix.
Felix mengangguk pelan.
"Satu lagi Bar, selama kamu nungguin aku, please jangan dekat sama pria lain lagi." Felix meminta.
Barbara mengangguk.
"Tapi nggak dengan Harvest dan Mario. Aku rasa ada yang gak beres sama mereka." Barbara berucap sambil melepaskan pelukan nya.
Felix ingin melarang, tapi juga tak ingin.
"Janji jangan bertindak sendiri sayang." Pinta Felix.
Barbara mengangguk.
"Kita sarapan yuk. Laper." Barbara mengajak Felix.
Mereka pun turun ke bawah untuk sarapan bersama.
Tasya yang melihat mereka bersama merasa senang.
"Nyonya, saya lihatin Fera yah." Tasya meminta ijin.
Barbara mengangguk.
Barbara dan Felix pun menikmati sarapan bersama dan Tasya kedalam kamar Barbara untuk menjaga Fera.
Barbara dan Felix menikmati sarapan mereka sesekali bercanda kecil dan bercerita sesuatu yang mereka alami saat sedang tidak bersama.
Selesai sarapan, Felix memutuskan untuk pamit.
"Sayang, aku harus pergi. Aku udah janji sama psikiater buat nanganin sakit aku. Mungkin nggak akan sembuh total, tapi seenggaknya bisa ditekan." Felix meminta ijin.
"Em." Barbara berdehem lembut dan memeluk Felix.
"Aku janji aku sama Fera bakal nungguin kamu. Kamu harus kuat pokoknya. Kalo capek, pulang dulu dan istirahat." Ucap Barbara.
"Makasih sayang. Makasih udah mau kasih aku satu kesempatan lagi. Aku janji kali ini nggak bakal sia-siain kesempatan ini." Ucap Felix.
Mereka saling melepaskan pelukan mereka.
Felix meraih tengkuk leher Barbara dan mencium bibirnya dengan penuh cinta dan kerinduan.
"Aku janji bakal balik sayang." Ucap Felix setelah melepaskan ciumannya.
Barbara mengangguk dan mengantarkan Felix keluar dari rumahnya.
"Hati-hati Fel." Barbara berpesan saat Felix sudah didalam mobil.
Felix mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Barbara.
Sepeninggal Felix, Frans muncul.
"Bar, itu tadi Felix?" Frans bertanya memastikan.
Barbara mengangguk santai.
"Kamu ngapain masih sama dia? Kamu lupa gimana dia udah nyakitin kamu?" Frans berusaha memprovokasi Barbara
"Itu urusan aku Frans. Aku yang menjalani, jadi aku yang tau baik buruknya dia." Barbara menolak provokasi dari Frans.
"Tapi Bar dia itu ... "
"Cukup. Jangan atur aku!" Barbara berucap tegas dan langsung beranjak meninggalkan Frans.
Sepeninggal Barbara, Frans mau tak mau pun memilih pergi dari rumah Barbara.
...~ To Be Continue ~...
######
Ayo dong, like dan komentar nya jangan pelit.