Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Wedding Party dan Tragedi


Barbara dan Felix masih bersiap didalam kamar mereka untuk pesta pernikahan yang sebentar lagi akan dimulai.


"Sayang, kok cantik banget sih?" Felix bertanya menggoda istrinya.


"Apaan? Nggak usah modus." Barbara pura-pura mengomeli suaminya itu.


Barbara sudah hafal dengan tingkah dan percakapan suaminya yang ujungnya menjurus kemana.


"Haha. Aku serius sayang." Felix berucap sambil merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


"Ya ampun sayang, kok malah baring sih? Ntar bajunya kusut." Barbara kini mengomel benar-benar.


Pasalnya Felix sudah berpakaian rapi.


Felix hanya tertawa kecil.


"Awas aja yah kalo ada yang nggak percaya kamu suami aku karna kamu kusut." Barbara mengancam.


Mau tak mau Felix pun duduk kembali.


"Ih, ini lipstik aku mana lagi?" Barbara bertanya kesal.


Dari tadi ia mencari lipstik nya namun tidak ada dimana-mana.


"Coba cari yang benar sayang." Ucap Felix.


Barbara pun menurut.


"Sayang ntar malam pertama kita gimana mulai nya?" Felix bertanya ngawur menggoda istrinya.


"Tau ah. Kamu sok-sok an nanya, padahal belum nikah aja udah sering." Barbara mengomel lagi.


Felix hanya bisa mengelus dada.


"Ternyata emang bener ya, cewek kalo udah nikah tuh beda. Dari kucing manis bisa langsung jadi singa betina." Felix menggerutu.


"Aku nyari Mama dulu ya sayang. Kamu tungguin aku." Barbara kemudian melenggang keluar dari kamar mereka.


"Cepetan." Felix berteriak sepeninggal Barbara.


Felix memilih merebahkan tubuhnya diatas ranjang kembali.


Biarlah jika harus dikatakan kusut.


Dari tadi ia merasa bosan menunggu Barbara bersiap, ingin membantu tapi tidak diijinkan oleh istrinya.


Ia memilih memejamkan sejenak mata nya, rasa lelah cukup menghantam tubuhnya.


Tiga puluh menit berlalu.


"Ya ampun, nyawa ku itu lama banget sih?" Felix menggerutu sebal.


Ia memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur nya dan keluar dari kamar hendak mencari istrinya namun langkahnya terhenti saat merasakan getaran pada ponsel nya.


Felix meraih ponselnya dan membuka pesan yang masuk.


"NAIK KEATAS ROOFTOP SEKARANG KALO MAU ISTRI MU SELAMAT." Isi pesan yang didapat Felix.


"Bangsat." Felix melempar ponselnya asal.


Tanpa berpikir panjang, Felix segera keluar dari kamar nya berlari menuju lift dan masuk kedalam serta menekan tombol pada panel lift yang akan membawa nya naik ke rooftop hotel bintang lima itu.


Sedangkan disisi lain,


Tampak Barbara masih sibuk bersama Mamanya. Barbara yang tadi niat nya hanya mencari lipstik nya malah terpaksa berlama-lama karena Mama nya mengikat nya untuk berkenalan dengan para teman sosialita Mamanya


"Ma, udah yah. Bar mesti balik lagi nih. Felix udah nunggu lama. Kasian." Barbara meminta dengan memelas pada Mama nya.


"Ya udah deh. Sana gih." Kimberly memberi ijin.


Saat keluar dari kamar Kimberly, Barbara sempat memandang kearah bawah, tampak lobi hotel itu sudah mulai padat dengan tamu undangan Papa dan Mama nya.


"Pasti ntar nih tangan bakal patah karena mesti nyalamin satu persatu. Terus ni bibir bakal melar karena mesti senyum sama mereka." Barbara menggerutu.


Setelah itu ia pun langsung melangkah kembali ke kamar nya.


"Fel, aku udah nih." Barbara berucap tanpa melihat sekitarnya sambil berjalan masuk kedalam kamarnya.


Merasa tidak ada jawaban, Barbara mengangkat kepalanya untuk melihat sekitar dan benar saja Felix tidak ada.


"Fel?" Barbara kembali memanggil suaminya sambil mencari kedalam kamar mandi, namun nihil.


Hingga pandangan Barbara menangkap ponsel Felix didekat salah satu kaki ranjang nya.


Barbara mengambil ponsel itu dan terbelalak melihat isi pesan yang didapat Felix.


Segera Barbara berlari keluar dari kamar nya dan masuk kedalam lift dan menekan tombol pada panel lift yang akan membawa nya naik ke rooftop.


"Fel, jangan gegabah please." Barbara meminta seolah berbicara pada Felix.


Hatinya tidak tenang.


Kimberly yang tadi sempat melihat putrinya berlari tergesa-gesa pun segera menyusul putrinya.


Barbara sampai diatas rooftop.


Alangkah terkejutnya, ia melihat Felix sedang duduk bersimpuh di samping seorang pria yang sudah tak bernyawa dan tubuh pria itu berlumuran darah.


FLASHBACK ON


Saat Felix baru sampai di atas rooftop.


"Mana Barbara?" Felix bertanya khawatir namun tidak menyentuh pria itu.


"Santai lah. Istri mu aman kok. Ternyata dia itu enak juga ya. Manis banget." Pria itu menjawab malah sengaja memancing amarah Felix.


Pria itu tidak membalas, karena memang tujuannya adalah memancing amarah Felix.


Setelah Felix puas, ia melempar keras tubuh pria itu hingga terjungkal keatas lantai rooftop tersebut, Felix duduk di atas tubuh pria itu mencengkeram kuat kerah baju nya.


"Katakan dimana Barbara?" Felix bertanya geram.


Bukan menjawab, pria itu malah meraih pisau dari saku celana nya dan menusuk brutal diri nya sendiri.


Felix tidak sadar ada yang sedang merekam kejadian itu dan bahkan menayangkan langsung pada layar monitor dilobi hotel dari arah sudut seolah Felix sedang membunuh pria itu.


FLASHBACK OFF


"Sayang?" Barbara memanggil pelan suaminya.


Felix sontak kaget mendengar suara istrinya.


Ia langsung berbalik, berlari dan memeluk erat istrinya.


Tangan Felix berlumuran darah namun bukan dia pembunuh pria itu.


"Bukan aku sayang. Bukan aku." Felix mengatakan yang sejujurnya dengan suara bergetar.


Barbara mengusap lembut punggung suaminya, memberikan ketenangan.


"Bukan aku. Aku mohon percaya sama aku. Aku nggak bunuh dia." Felix masih mengatakan kebenaran.


"Ssttt. Udah. Aku percaya sama kamu." Barbara terus berusaha menenangkan Felix.


#####


Sedangkan di lobi hotel tampak suasana sedang kacau dengan suguhan tontonan yang sama sekali tidak menarik dan malah menakutkan.


Bisikan-bisikan mulai terdengar.


"Nggak nyangka ya, menantu Tuan Fanco tu psikopat."


"Ya ampun, tampan tapi kok pembunuh sih?"


"Aduh, gimana nasib Barbara nanti? Hidup sama laki psikopat gitu?"


"Parah ih. Mau kali Barbara mati konyol di tangan dia."


Begitulah bisikan miring yang terdengar.


Fanco berusaha menahan diri.


Ia tidak akan percaya begitu saja dengan ala yang ditampilkan di layar tersebut.


"Urus semuanya. Kalo perlu bubarkan saja. Dan juga hubungi polisi." Fanco memberi perintah pada asisten nya.


Ia pun segera menuju lift untuk naik ke rooftop.


#####


Kimberly yang baru sampai di rooftop, terkejut bukan main melihat keadaan Felix yang kacau dan sedang memeluk putrinya dengan tangan berlumuran darah.


"Bar? Felix?" Kimberly berusaha untuk tenang.


"Mama?" Felix bersuara duluan.


"Ma bukan aku. Bukan aku yang bunuh dia." Felix melepaskan pelukan nya dari Barbara dan kini menghampiri Kimberly.


Kimberly menatap iba pada nya.


"Sini anak Mama." Kimberly merentangkan tangan nya menyambut Felix.


Felix masuk kedalam pelukan mertua nya.


"Bukan aku Ma. Aku mohon percaya sama aku." Felix kembali menyampaikan kebenaran pada mertuanya.


"Iya. Mama percaya kok." Kimberly berusaha menenangkan Felix.


Bagaimanapun juga satu bulan lebih mereka sudah bersama Felix.


Baik buruknya Felix sudah banyak mereka ketahui dan Felix selalu berkata jujur pada mereka.


"Felix." Suara Fanco terdengar dari belakang.


"Papa." Barbara berusaha menghalangi Papa nya agar tidak menyerang Felix.


"Pa, Felix nggak salah. Bukan Felix pelakunya." Barbara berusaha menyampaikan kebenaran yang ia percaya pada Papa nya.


Fanco tidak menghiraukan putrinya dan sigap memisahkan istrinya dari menantu nya.


"Kamu duduk di sini. Jangan kemana-mana sampai polisi datang." Fanco berucap tegas dan menyeret Felix untuk duduk di salah satu kursi yang memang tersedia di rooftop itu.


"Pa, Felix nggak salah. Kenapa mesti panggil polisi segala sih?" Barbara bertanya kesal pada Papa nya.


"Diam kamu. Papa nggak akan sudi punya menantu pembunuh. Ngerusak nama baik keluarga kita aja." Fanco berucap kesal dan menahan pundak Felix dengan tangannya agar Felix tidak lari.


"Papa." Barbara berteriak pada Papa nya.


...~ To Be Continue ~...


******


Siapa lagi yg mau rusak hari baik Barbar sama Fel?


Like dan komentar jangan lupa yah.


Makasih.